Pagi itu tiba tiba kau datang lagi
setelah sekian lama menghilang
lenyap tertelan cakrawala
berbekal sekarung entah penyesalan
entah kepalsuan yang kau gantung dipundakmu
nanar matamu menatapku
aku bertanya "untuk apa kau datang?"
kau berkata "aku membawa sekarung penyesalanku
untuk kupersembahkan padamu..."
aku bertanya lagi "untuk apa semua itu?"
dan matamu sayu...nanar...berkilau memerah...
"aku mau pamit" ujarmu lirih
buat apa? bathinku.
toh sebelumnya,saat peluh peluh birahiku belum mengering,
saat dinding dinding kamar memantulkan desahan desahan kita,
saat ranjang disisikupun belum benar benar dingin,
kau telah pergi....
tanpa kecupan selamat tinggal...
tanpa pamit...
toh sebelumnya,saat aku terkulai tak berdaya dipagi buta dikamar hotel itu,
saat genangan darah itu belum menjadi beku,
saat luka rajaman pada tubuhku belum mengering,
saat sprei putih bersih yang kini menjadi merah karna "prakarya"mu
belum sempat dicuci oleh cleaning service,
kau telah pergi...
tanpa menengok...
sekali lagi tanpa pamit...
lalu untuk apa saat ini kau datang?
terduduk disampingku dengan sekarung penyesalan katamu
yang didalamnya terselip tawa kebahagiaanmu,
lalu untuk apa saat ini kau datang?
menangis sesenggukan diatas pusara yang telah kering,
membuat peziarah lain terharu menatapmu,
untuk apa lagi kau datang?
apa kau benar benar membutuhkan ijin dariku?
Memuakkan!!
Munafiiiikkkk!!!!
03 Juni 2003
rendezvous
di kotamu aku menjadi layanglayang, menjelajahi cakrawala yang senandungnya
menggetarkan ombakombak parangtritis. di persimpangan itu, kutatap kembali
sosok hitammu yang semula hanya mimpi. seperti layaknya pertemuan
kau dan aku berjabat dalam bahasa paling sederhana
: seulas senyummu masih saja menyimpan luka - pemakluman akan rasa sakit
yang bersemayan sejak lama
menyusuri jalanan kotamu, ada rindu yang berebut ingin diucapkan. ada damai
yang menyelusup ke setiap pori, seperti matahari yang diamdiam menyimpan
gigitannya pada setiap inci tubuh. ada senandungmu yang membiarkan seluruh
letihku berdiam di punggung kesabaran
hanya engkau yang mampu memaknai resah ini. seperti juga telah kumaknai
sisa perjalananmu setelah kematian itu satu demi satu kau cecap, meski akhirnya
kau harus lahir kembali
inilah aku dalam usia senjamu
telah kau cipta rumah di mataku. agar kelak jika kau ingin pulang, akan ada tempat
untuk kembali merebahkan diri, mempersiapkan perjalanan baru
inilah aku dalam usia senjamu
menjadi rumah, menunggumu melangkahkan kaki
pulang dengan karungkarung ingatan yang suatu saat akan kau kisahkan padaku
dalam diam, dalam hening tanpa kata
pertemuan kita menjadi upacara kedua, tempat seluruh harapan dibakar api unggun
asapnya membumbung ke udara sebagai do`a.
yogya, 25 mei 2003
di kotamu aku menjadi layanglayang, menjelajahi cakrawala yang senandungnya
menggetarkan ombakombak parangtritis. di persimpangan itu, kutatap kembali
sosok hitammu yang semula hanya mimpi. seperti layaknya pertemuan
kau dan aku berjabat dalam bahasa paling sederhana
: seulas senyummu masih saja menyimpan luka - pemakluman akan rasa sakit
yang bersemayan sejak lama
menyusuri jalanan kotamu, ada rindu yang berebut ingin diucapkan. ada damai
yang menyelusup ke setiap pori, seperti matahari yang diamdiam menyimpan
gigitannya pada setiap inci tubuh. ada senandungmu yang membiarkan seluruh
letihku berdiam di punggung kesabaran
hanya engkau yang mampu memaknai resah ini. seperti juga telah kumaknai
sisa perjalananmu setelah kematian itu satu demi satu kau cecap, meski akhirnya
kau harus lahir kembali
inilah aku dalam usia senjamu
telah kau cipta rumah di mataku. agar kelak jika kau ingin pulang, akan ada tempat
untuk kembali merebahkan diri, mempersiapkan perjalanan baru
inilah aku dalam usia senjamu
menjadi rumah, menunggumu melangkahkan kaki
pulang dengan karungkarung ingatan yang suatu saat akan kau kisahkan padaku
dalam diam, dalam hening tanpa kata
pertemuan kita menjadi upacara kedua, tempat seluruh harapan dibakar api unggun
asapnya membumbung ke udara sebagai do`a.
yogya, 25 mei 2003
02 Juni 2003
menatap anak anak
aku terdiam seperti angin yang gamang dengan gaung di lembah
kemana ia mengembarakan remajanya menelusup kemanakah
ia berjanji sanggup memegang tatap kanaknya
aku cari ia dan aku jumpai cermin diri di wajahnya yang birahi
datang temui aku yang sepi
apa aku harus membunuh rusa untuk mengutarakan cinta
atau haruskah aku membuatmu cemburu
aku tersenggal di lempar angin yang kembali diam
hanya tisu yang kau lempar
hanya asap rokok yang kau semburkan
dapatkah aku tawar menawar denganmu
dapatkah aku bercengkerama dari waktu ke waktu
ia berjalan dengan cepat tak melewati jalanku
dagunya diangkat tidak seperti tundukku
aku bersembunyi dalam bising kata ini
ketika kau burung hantu yang menjerit jerit di dahan dahan
ketika kau kucing yang terus mengeong ngeong di pelataran
tapi suara suara ku mendapati dirinya pada batang batang batang tebu yang rubuh
seseorang yang mengepak akan menaruhnya dalam truk membawanya ke pabrik
mungkin kita akan berjumpa lagi ketika habis magrib mungkin juga tidak
mungkin kau orang yang kumintai api dan menolak
tapi di gelap itu jangan ancam aku dengan tatapan sekenanya
undang saja aku dengan denting tatap mata yang kocak
dengan gumam ku tawar dengan kata kata ku layu
dengan pengharapan yang tiada berbalas
usai perjalanan mei 2003
aku terdiam seperti angin yang gamang dengan gaung di lembah
kemana ia mengembarakan remajanya menelusup kemanakah
ia berjanji sanggup memegang tatap kanaknya
aku cari ia dan aku jumpai cermin diri di wajahnya yang birahi
datang temui aku yang sepi
apa aku harus membunuh rusa untuk mengutarakan cinta
atau haruskah aku membuatmu cemburu
aku tersenggal di lempar angin yang kembali diam
hanya tisu yang kau lempar
hanya asap rokok yang kau semburkan
dapatkah aku tawar menawar denganmu
dapatkah aku bercengkerama dari waktu ke waktu
ia berjalan dengan cepat tak melewati jalanku
dagunya diangkat tidak seperti tundukku
aku bersembunyi dalam bising kata ini
ketika kau burung hantu yang menjerit jerit di dahan dahan
ketika kau kucing yang terus mengeong ngeong di pelataran
tapi suara suara ku mendapati dirinya pada batang batang batang tebu yang rubuh
seseorang yang mengepak akan menaruhnya dalam truk membawanya ke pabrik
mungkin kita akan berjumpa lagi ketika habis magrib mungkin juga tidak
mungkin kau orang yang kumintai api dan menolak
tapi di gelap itu jangan ancam aku dengan tatapan sekenanya
undang saja aku dengan denting tatap mata yang kocak
dengan gumam ku tawar dengan kata kata ku layu
dengan pengharapan yang tiada berbalas
usai perjalanan mei 2003
01 Juni 2003
dimanakah kau letakkan kerinduanku,lelakiku...
saat pucuk pucuk bunga itu bermekaran
membentuk sebungkah tawa
dimanakah kau letakkan mimpiku,lelakiku....
saat jelaga jelaga memburamkan pandang mataku
membuyarkan selaksa jingga pada mimpiku
dimanakah kau letakkan hatiku,lelakiku....
saat darah darah itu mulai mengering
dan pecahannya kembali merekat
dimanakah kau letakkan aku,lelakiku....
saat tubuhku dingin membeku
menanti sentuhanmu
dimana.........??
saat pucuk pucuk bunga itu bermekaran
membentuk sebungkah tawa
dimanakah kau letakkan mimpiku,lelakiku....
saat jelaga jelaga memburamkan pandang mataku
membuyarkan selaksa jingga pada mimpiku
dimanakah kau letakkan hatiku,lelakiku....
saat darah darah itu mulai mengering
dan pecahannya kembali merekat
dimanakah kau letakkan aku,lelakiku....
saat tubuhku dingin membeku
menanti sentuhanmu
dimana.........??
28 Mei 2003
26 Mei 2003
RASA ITUKAH LAGI
percikan menuntut muram
mengeja setiap dusta manis
yah, digunung pinang itu
ikrar kesetiaan merangkai penantian
masih ingatkah lidah-lidah ombak
hamparan pasir dan raja siang
menyaksikan jalinan kita
walaupun hari mulai beralih tugas
menyisakan nan indah mega mega merah
yang seakan menyatu dengan dinginnya lautan
itu sulu dan terkubur sudah
walaupun berakhir dengan kobaran api
takdir membawaku beralih benua
menapaki dunia baru, namun
rasa itukah lagi yang menghantui ??
cairo, 020403
percikan menuntut muram
mengeja setiap dusta manis
yah, digunung pinang itu
ikrar kesetiaan merangkai penantian
masih ingatkah lidah-lidah ombak
hamparan pasir dan raja siang
menyaksikan jalinan kita
walaupun hari mulai beralih tugas
menyisakan nan indah mega mega merah
yang seakan menyatu dengan dinginnya lautan
itu sulu dan terkubur sudah
walaupun berakhir dengan kobaran api
takdir membawaku beralih benua
menapaki dunia baru, namun
rasa itukah lagi yang menghantui ??
cairo, 020403
25 Mei 2003
kelingking
setelah malam dengan bahasa usai. kutarikkan jemari
di alis yang gemetar oleh hujan dan puisi patah
setengah depa ke wajah yang mengirim airmata
di sini, kubakar peta ke jantung dengan api jatuh
menjadi doa mati
seperti pemberkatan, lolongan adalah mantra
tepukan seadanya tapi ingin kucabik-cabik
seluruh sungai dengan muara ke bilik
lukamu
sedang yang tergaris di jendela buram sebelum pamit hanyalah
kelingking tak tertaut..
setelah malam dengan bahasa usai. kutarikkan jemari
di alis yang gemetar oleh hujan dan puisi patah
setengah depa ke wajah yang mengirim airmata
di sini, kubakar peta ke jantung dengan api jatuh
menjadi doa mati
seperti pemberkatan, lolongan adalah mantra
tepukan seadanya tapi ingin kucabik-cabik
seluruh sungai dengan muara ke bilik
lukamu
sedang yang tergaris di jendela buram sebelum pamit hanyalah
kelingking tak tertaut..
24 Mei 2003
ajari aku bermimpi,
seperti mimpi kanak-kanakku tentang ksatria berbaju zirah mengendarai kuda putih,
yang kemudian datang membebaskanku dari belitan penyihir jahat
untuk kemudian terbang menuju pelangi keabadian
ajari aku bermimpi,
seperti mimpi masa remajaku tentang apa itu cinta sejati
sesosok lelaki tampan dengan senyum secerah matahari
yang mengenakan tudung kebaikan hati dan baju kerendahanhati
sosok lelaki dimana aku tau akan kuhabiskan masa tuaku bersamanya
ajari aku bermimpi ..
seperti mimpi kanak-kanakku tentang ksatria berbaju zirah mengendarai kuda putih,
yang kemudian datang membebaskanku dari belitan penyihir jahat
untuk kemudian terbang menuju pelangi keabadian
ajari aku bermimpi,
seperti mimpi masa remajaku tentang apa itu cinta sejati
sesosok lelaki tampan dengan senyum secerah matahari
yang mengenakan tudung kebaikan hati dan baju kerendahanhati
sosok lelaki dimana aku tau akan kuhabiskan masa tuaku bersamanya
ajari aku bermimpi ..
Langganan:
Postingan (Atom)