30 Juni 2003

Inong

Serambi kita tak lagi suci,
dedaunan runtuh, pijakan kaki melangkah.
Bukan oleh badai ada sunyi malam ini,
gelisah merambat membaui detik.
Sejenak terpekur untuk bisu.
Di sini. di sana. ada bisik tertahan
"gigi kita menjadi nisan"

Serambi kita tak lagi damai,
usah harap doa-doa menahan geram.
Menetes dengan lajunya,
menjemput kawan lama yang karam di benak duka.
Ada lautan tangis mengangkang lebar,
terlahir kepala-kepala merah tersenyum hingar
"mereka menitip topi-topi baja"

Kabar lama erat berjabat tangan.
Bukankah tuan sudah buat janji,
Seulawah mengangkasa menuju Jakarta.
Kita bangga berumpun sama.
Elok langkah bercerita, ada duri tertanam lama,
pusaka abadi di pelupuk mata.
Dikutuk menjadi tikus di lumbung sendiri
"siapa yang menanam benci?"

Inong menggelepar di belukar, merintih menatap jerit,
lenyap bersama mereka yang merayap.
Hidup menjadi rimba, bersembunyi di antara pepohonan
kala waktu tak sungkan menitip tangis
"di pipi menetes peluru-peluru"

Resah tak berujung petang, puan-puan menuai perih
membasuhnya menjadi lukisan abadi.
Inong mencari Tuhannya, di serambi
bersama peluru-peluru yang berkumandang

(semoga Tuhan tidak sedang tidur,
ataukah harus dibangunkan dengan tangis jutaan inong-inong?)

Malaikat Putih nan Kurus

Puntung kedelapan telah aku ludahi, sementara asap yang menari tak mampu jelmakanmu. Walau antara debar jantung dan nikotin sama ganasnya, rindu tak mampu jadi jantan. Nista berkutang harap-harap, menyembul bagai bisul berputing tiga. Dan nadi mencari kanal, menunggu tengkulak yang mengangkang. Benih-benih telah ditanam setelah tanah lama mematung diri.

Dan mentari tatap sela lubang berkarat, teropong bintangku. Mengukur petak-petak, yang kutanam di musim luka kini berbunga. Kusiangi menanti buntingnya. Bersama rindu yang merajam, bulir-bulirnya tertawa sumbang. Plong! Kosong melompong. Songsong amuk sungsang. Sanggahan tak berakal ketika mata membakar berjuta kata. Di atasnya terhampar kitab-kitab tua. Kayu bakar bagi galau yang pecah bersama malaikat-malaikat yang berhamburan keluar.

Peraduanku hanyalah kekal di kesunyian. Bunyi menjadi ayat-ayat setan, namun senyum tak mampu tepis luka. Bayangan itu menjadi pelangi setelah tangis melaburi doa. Atau pinta di ujungnya, di sebuah perigi. Akan kuculik kau setelah menelanjangi aku. Berlari di antara onak duri yang telah kita persiapkan. Menjilati luka, kita tiupkan desis.

Dan kembali aku hanya onani di sepi yang bugil.

Oh, peraduanku hanyalah kekal di kesunyian. Bersama puntung-puntung lain aku ciptakan sebuah padang. Berkabut di antara jejak-jejak yang datang dan berlalu. Dengarlah langkah-langkah yang ditimbulkannya, tak ada ragu berpaling. Menari sambil berlompatan, bersama amis yang sunyi. Dan terbang singgah di surga dihujani tatapan malaikat-malaikat gosong. Jangan takut, aku hanya akan berhembus menjadi mimpi di malam gadisku. Peraduan abadi. Dikutuk menjadi malaikat putih nan kurus.

29 Juni 2003

:sebuah ringkasan matamu

aku sedang memandangmu, setengah duduk dan tersenyum. kau sedang sibuk berkutat di depan komputermu, kotak monitor ajaib itu, kelahiran teknologi manusia yang kesekian kesekian. terkadang hal itu membuatmu begitu jauh, terutama matamu. menjauh dariku, dari ruangan ini dan segalanya.

aku sedikit menggeserkan bantal, membetulkan seprai yang kau betulkan tadi pagi, sudah kusut lagi, aku merasa sedikit bersalah. sedikit. tapi aku masih memandangmu, sedikit iri dengan apa-apa yang kau kerjakan, aku merasa menjadi mainan yang terlantar di suatu sudut kadang-kadang dan suasana seperti sering membuat setitik rasa nyeri di dadaku.

sudah nyaris setahun, kita bertukar nafas. saling memberi kehidupan satu dengan yang lainnya. aku tak ingat, sejak kapan kita sudah bergenggaman tangan. hanya beberapa kelebat malam yang kesepian dan kita berdua yang tidak tidur sampai pagi. lalu kita sudah sampai disini, bukan sekedar lagi berjabat tangan bila bertemu, tetapi berpelukan sampai pagi.

aku suka melihatmu setelah mandi, melihatmu berganti baju. kau sama sekali tidak seksi dalam ukuran standard dunia ini. lekuk tubuhmu nyaris seperti laki-laki, aku sempat berpikir mungkin aku sedikit homo karena aku menyukai tubuhmu. yang lebih seksi bila memakai pakaian dalam merah muda garis-garis dengan gambar kartun kucing. komikal, tetapi seksi bagiku daripada melihatmu dengan lingerie. aku berpikir lagi mungkin aku sedikit paedofil.

aku sedang membakar tungku siang tadi, tapi malam ini aku ingin membakarmu lagi. untuk kesekian kali...
metamorfosa jingga

sebelum matahari ke berapa usai sore ini
kubawa kepadamu desau angin lembah seperti
ruh perindu bergelombang di awan menari
lalu kicau burung
lalu ungu
dan waktu menghitung ulang metamorfosa

seorang perempuan pemungut kelopak bunga luruh
dan seorang peri penjalin lingkaran ilalang kering

sesudahnya adalah kelahiran kembara yang purba
kulipat seribu puisi sebagai sajadah dengan bunga
sepanjang cerita. seekor kupukupu mengabarkan cuaca
yang rontok menjadi sunyi dan tanda baca mati
lalu halimun
lalu nyanyian hamelin
dan alam berpesta-pora dengan gamang

tapi belum juga berhenti kuberi tanda di setiap pohon pinus
kita

27 Juni 2003

Ada lagi kumelihat
sebuah mimpi tersayat sayat digantungkan
pada dinding malam
gelap.....pekat......
hanya tersisa tetesan darah yang turun perlahan
merembet pada dinding malam
menyisakan genangan merah segar dilantai putih

Ada lagi kubertanya
dimana kau simpan sisa sisa sayatan itu?



24 Juni 2003

suatu tempat dimana aku kelak akan datang

aku mendengar deru deru pejalan yang jauh berjalan lambat
antara kota kota yang di tinggal
antara sepi ada bayangannnya kau lihat
menggigil sendiri diantara malam malam di kotamu
seakan akrab dengan bayang bayang mu yang entah dimana
entah seperti apa
kita bukan lah sebuah perjumpaan yang sadar
kita telah buka dengan percakapan yang gagal
dan kau masih mendengar sesuatu di serpih pasir
meninggalkan jejak jejak mengabarkan
tak ada hati di pantai kotamu
kekasih ku pernah singgah dan kini telah menjauh
kini hanya kenangan terhadap sajak dari sebuah pulau yang hiruk
aku telah mengutuk orang orang di dalamnya

tapi jangan kau jangan kotamu jangan pulaumu
suatu tempat dimana aku kelak datang dengan keterlanjuran yang gagah

juni 2003

23 Juni 2003

aku mulai percaya pada dongeng
dongeng sebelum tidur
dongeng masa kanak-kanak
yang dulu aku begitu yakin akan adanya negeri di atas khayalan
atau tentang dewa-dewa beserta segala tetek bengeknya
lalu aku mulai melupakannya saat aku mulai berpikir
bahwa itu semua cuma cerita
tak ada satu pun pembenaran atas itu semua

dan kini...
dongeng-dongeng itu mulai terlihat nyata kembali di mataku

apakah aku telah kehilangan pemikiranku?
janjiku pada otakku telah kulanggar
sudah gilakah aku sekarang?

i'm not crazy, i'm just a little unwell...
("unwell" by matchbox twenty)

aku mulai mengering...
asaku benar-benar gersang
yang dahulu kukira sebuah danau luas
kini cuma sebuah genangan saja...
atau mungkin yang lebih parah...
itu semua hanyalah fatamorgana
yang nyata pun tidak
tragis sekali...

22 Juni 2003

kau merindukanku?

begitulah, beginilah, aku sama-sama merindukan sesuatu. kita semua sama-sama merindukan sesuatu. jadi marilah aku bercerita tentang sesuatu.

di titik jarum tepat pukul lima sore, aku baru sama menonton film perang tentang pembersihan etnis di nigeria. mengerikan. entahlah, sejak kapan dunia ini memang menjadi begitu mengerikan. apakah sebuah pembersihan menuntut dipotongnya payudara seorang ibu yang tengah menyusui agar bayinya mati dan habislah keturunan atau penerus etnisnya. ini perang saudara, ini cuma satu contoh, masih berjuta macam lagi kekerasan yang sampai saat ini tidak bisa terbayangkan.

kau pasti sedang membalikkan wajahmu, tetapi inilah kenyataan.

seperti nawal mendeskripsikan pada sebuah bukunya tentang mutilasi kelamin perempuan di negara-negara afrika. atau tentang nasib vagina-vagina lainnya di berbagai tempat.

waktu itu akupun membalikkan wajahku, tidak meneruskan membaca. ini terlalu mengerikan, apalagi jika divisualisasikan, dirasakan, karena aku juga perempuan.

ini baru beberapa contoh, beberapa kekerasan, khususnya pada sebagian kaum perempuan.

waktu bergulir kembali ke titik jarum jam sembilan pagi, kawan-kawan sedang mementaskan sesuatu. kami sedang menggalang solidaritas porsea. kau membayangkan demonstrasi? oh tidak, itu tidak kami lakukan, telinga-telinga sudah berupa batu sekarang, harus dengan hiburan. udah nggak ngetrend orang-orang bilang.

lalu apa? kekerasan hanya sebuah trend? tuhanku, anda pasti sedang bercanda.

yah, telinga-telinga sudah berupa batu. apa yang kami lakukan sekarang. kami menghibur orang-orang dan orasi dengan musik techno? canggih bukan? menghibur bukan? tetapi mereka tidak membutuhkan rasa kasihan, mereka membutuhkan dukungan.

tiap hari berupa perang di kota porsea, dengan pemilik-pemilik pabrik, modal-modal asing, juga tentunya militer dan pemerintah. semua golongan maju, semua lapisan maju, kakek nenek, bapa ibu, kakak adik, islam kristen, pedagang, mahasiswa, pelajar, anak tk, pekerja dan orang-orang biasa. terlalu kiri? tidak! ini kenyataan karena kekerasan sudah menjadi makan pagi, siang dan malam, juga cemilan.

konflik ini sudah sepuluh tahun, dan kita baru saja menyadarinya. kau tersedak? matamu membulat? membulatlah, karena sarapanmu sudah berubah menjadi kekerasan.

inilah sebuah bentuk rindu yang kumasak untukmu.

21 Juni 2003

_{21.7.01}
test
nongol gak neh?
astrid reza | 6:35 PM |

=)
asyik juga baca posting pertama di /kata. ditulis astrid.
ehm, saya bisa membayangkan bagaimana deg-degannya astrid waktu itu di depan kompie-nya.
deg-degan yang segera saja berubah menjadi senyum manis di wajahnya.
itu dua tahun lalu, dia masih di aussie. sekarang dia justru ada di yk.
hei, astrid, kamu sekarang lebih dekat khan?!
lihat, ini semua akibat kamu!

saya tak tahu apa dia pernah menyangka komunitas /kata akan seramai ini.
yang saya tahu, ternyata dia kaget sendiri melihat /kata sebesar ini.
ah, nggak, kita gak besar, trid. kita masih saja bicara hal yang itu-itu saja.
kita masih belum bicara tentang, misalnya saja, seseorang yang pecah kepalanya tertabrak
mobil rombongan pejabat di suatu sore, atau tentang pengakuan seorang veteran perang. belum.

dan kamu, astrid, harus menulisnya, paling tidak satu kata.
karena saya sudah kehilangan bulan, dan peluru telah mendarat manis di jidat saya.

mungkin itu semua karena memang hanya kamu yang bisa... bukan saya atau yang lainnya.

20 Juni 2003

Badai?
Tetapi hujan sudah berhenti.