gelap
kamar gelap
dan ada kabut yang mengendap
kegairahan yang tiarap
di malam yang lindap
pengap!
di sini terlalu pengap
getaran yang begitu saja menguap
menit-menit yang tak lagi lengkap
karena tak ada lagi cinta yang meluap
dan tubuh untuk disesap
cuma sepi yang mesti diserap
diantara kebisingan yang merayap
03 Maret 2002
rindu dalam-dalam
sudah, sudah
pergi sana... biar sepi di sini, biar sunyi
biar angin kusambut sendiri
malam ini bintang sendiri. kaku diam.
dan sunyi mencuri malam
sudah... pergi sana
jauh. jangan di sini.
malam biar malam
jahat biar jahat
tak perlu malaikat.
nisan, upacara, kubur dalam-dalam semua.
jangan ada lagu. jangan ada puisi.
biar sepi
biar sunyi
aku senang sendiri
aku rindu diriku. rindu dalam.
dalam-dalam
sudah, sudah
pergi sana... biar sepi di sini, biar sunyi
biar angin kusambut sendiri
malam ini bintang sendiri. kaku diam.
dan sunyi mencuri malam
sudah... pergi sana
jauh. jangan di sini.
malam biar malam
jahat biar jahat
tak perlu malaikat.
nisan, upacara, kubur dalam-dalam semua.
jangan ada lagu. jangan ada puisi.
biar sepi
biar sunyi
aku senang sendiri
aku rindu diriku. rindu dalam.
dalam-dalam
malam ini kita pesta!
malam ini kita pesta besar.
kita bagi makanan hasil curian kita
jejalkan ke lambung sialan ini
yang tak pernah kenyang dengan iman dan takwa
kita pesta besar malam ini. mabuk-mabukan.
dengan air paling dosa dan gelas paling bejat
jangan ada yang ganggu kita. tak bisa.
kita tak bisa diganggu:
kita setan paling setan
hitam paling hitam kita
kita pesta besar malam ini;
sepulang ibadah di tempat tuhan tak ditemukan
pesta besar malam ini:
mencari tuhan yang baik hati...
malam ini kita pesta besar.
kita bagi makanan hasil curian kita
jejalkan ke lambung sialan ini
yang tak pernah kenyang dengan iman dan takwa
kita pesta besar malam ini. mabuk-mabukan.
dengan air paling dosa dan gelas paling bejat
jangan ada yang ganggu kita. tak bisa.
kita tak bisa diganggu:
kita setan paling setan
hitam paling hitam kita
kita pesta besar malam ini;
sepulang ibadah di tempat tuhan tak ditemukan
pesta besar malam ini:
mencari tuhan yang baik hati...
pernah
diantara bumi dan awan
melepaskan jiwa
memindahkan pada burung
tak berumah
hinggapi dahan dahan
selidiki rasa
selidiki cinta
sesekali melihat barat
awan hitam yang tercipta
dari kepakan kepakan liar
murung ...
semua sedang dalam perjalanan
semua sedang dalam terbangnya
cari langka
berhati
nevermind ...
diantara bumi dan awan
melepaskan jiwa
memindahkan pada burung
tak berumah
hinggapi dahan dahan
selidiki rasa
selidiki cinta
sesekali melihat barat
awan hitam yang tercipta
dari kepakan kepakan liar
murung ...
semua sedang dalam perjalanan
semua sedang dalam terbangnya
cari langka
berhati
nevermind ...
menyambuti ajakan astrid ber-neruda ria :)
Tawamu (Tu Risa)
Pablo Neruda
Ambil rotiku, kalau kau ingin
Sekap udara dariku, tetapi
jangan kau simpan dariku tawamu.
Jangan rebut mawar,
bunga tombak yang kau petik,
semburan air yang tiba-tiba
memancar dari kegembiraanmu,
ombak keperakan yang tiba-tiba
yang lahir dalam dirimu
Perjuanganku berat, dan aku kembali
dengan pandangan yang lelah
dari pemandangan bumi yang tak berubah,
tetapi ketika tawamu datang,
ia membubung ke langit mencariku
dan ia membukakanku
semua pintu-pintu kehidupan
Cintaku, dalam detik-detik tergelap
tawamu terbebas, dan jika tiba-tiba
engkau melihat darahku menodai kerikil-kerikil jalanan,
tertawalah, karena tawamu,
adalah pedang baru bagi tanganku
Di sekitar laut musim gugur,
tawamu harus mengangkasa
dalam ujudnya yang berbuih-buih,
dan di musim semi, kasih,
aku mendambakan tawamu,
seperti bunga yang kunanti,
bunga biru, mawar
dari negeriku yang menggema.
Tertawalah di malam hari,
di siang hari, pada rembulan
tertawalah pada jalanan pulau ini
yang meliuk-liuk
tertawalah pada lelaki kecil ceroboh
yang mencintaimu ini,
tetapi ketika aku membuka mata, dan menutupnya,
ketika langkah-langkahku kuayun pergi,
ketika mereka datang,
jauhkan roti, udara,
cahaya, musim semi dariku
tapi jangan pernah kau simpan dariku tawamu
karena aku akan mati
Tawamu (Tu Risa)
Pablo Neruda
Ambil rotiku, kalau kau ingin
Sekap udara dariku, tetapi
jangan kau simpan dariku tawamu.
Jangan rebut mawar,
bunga tombak yang kau petik,
semburan air yang tiba-tiba
memancar dari kegembiraanmu,
ombak keperakan yang tiba-tiba
yang lahir dalam dirimu
Perjuanganku berat, dan aku kembali
dengan pandangan yang lelah
dari pemandangan bumi yang tak berubah,
tetapi ketika tawamu datang,
ia membubung ke langit mencariku
dan ia membukakanku
semua pintu-pintu kehidupan
Cintaku, dalam detik-detik tergelap
tawamu terbebas, dan jika tiba-tiba
engkau melihat darahku menodai kerikil-kerikil jalanan,
tertawalah, karena tawamu,
adalah pedang baru bagi tanganku
Di sekitar laut musim gugur,
tawamu harus mengangkasa
dalam ujudnya yang berbuih-buih,
dan di musim semi, kasih,
aku mendambakan tawamu,
seperti bunga yang kunanti,
bunga biru, mawar
dari negeriku yang menggema.
Tertawalah di malam hari,
di siang hari, pada rembulan
tertawalah pada jalanan pulau ini
yang meliuk-liuk
tertawalah pada lelaki kecil ceroboh
yang mencintaimu ini,
tetapi ketika aku membuka mata, dan menutupnya,
ketika langkah-langkahku kuayun pergi,
ketika mereka datang,
jauhkan roti, udara,
cahaya, musim semi dariku
tapi jangan pernah kau simpan dariku tawamu
karena aku akan mati
"kemarikan cawan itu," katamu
aku mangambil asbak, mulai membakar tembakau
"kita ini terlalu bodoh, maka itu kita larut."
(rupanya kau mulai jemu)
aku masih duduk terpukau
menikmati langit tua yang mulai berkerut, cemberut
"sebetulnya aku tak peduli," kataku
dan kau meminum racunmu. wangi rum
"dan kita tidak bodoh. sama sekali tidak!"
(aku masih ingin kau di dekatku)
kau kemudian tersenyum
langit mulai menggelegak
aku mangambil asbak, mulai membakar tembakau
"kita ini terlalu bodoh, maka itu kita larut."
(rupanya kau mulai jemu)
aku masih duduk terpukau
menikmati langit tua yang mulai berkerut, cemberut
"sebetulnya aku tak peduli," kataku
dan kau meminum racunmu. wangi rum
"dan kita tidak bodoh. sama sekali tidak!"
(aku masih ingin kau di dekatku)
kau kemudian tersenyum
langit mulai menggelegak
02 Maret 2002
kemana saja, setan?
kata nabi disore hari yang terang.
hanya berputar dan mengelilingi peradaban.
aku sebenernya lelah.
bosan!
kamu tidak kah merasa?
hmm...bagaimana bisa?
lihatlah diujung belahan sana, membara masih memerah.
itu akibat mu bukan?
secupak pun tak ada karya ku disana.
mungkin kalian dan kamu kecewa
kenapa aku tidak seperti dulu lagi.
aku hanya bosan, jenuh itu saja.
masih ada kiranya yang lebih mengerikan dibandingkan karya ku.
manusia, ya manusia!
dia melebihi aku.
tidak kah kau sudah lama tahu?
atau diam diam tidak tahu?
agh, nabi!
kau pun ternyata manusia!
keparat!!!
(ada yg mau ngasih judul ini tulisan?)
kata nabi disore hari yang terang.
hanya berputar dan mengelilingi peradaban.
aku sebenernya lelah.
bosan!
kamu tidak kah merasa?
hmm...bagaimana bisa?
lihatlah diujung belahan sana, membara masih memerah.
itu akibat mu bukan?
secupak pun tak ada karya ku disana.
mungkin kalian dan kamu kecewa
kenapa aku tidak seperti dulu lagi.
aku hanya bosan, jenuh itu saja.
masih ada kiranya yang lebih mengerikan dibandingkan karya ku.
manusia, ya manusia!
dia melebihi aku.
tidak kah kau sudah lama tahu?
atau diam diam tidak tahu?
agh, nabi!
kau pun ternyata manusia!
keparat!!!
(ada yg mau ngasih judul ini tulisan?)
Langganan:
Postingan (Atom)