30 Desember 2002

Di Penghujung Masa

Di penghujung masa, sebuah rindu terserak bersimbah darah
yang mengalir dari mata hati yang lama kering.
“………………..selamat tahun baru…………………..”



Langkah bergegas meninggalkan bayangan, semilir udara dingin terus memeluk tiada jera. Dekapku makin rapat, nafas terengah membaui malam. Ku gosok-gosokkan kedua tapak tangan mencari hangat. Sia-sia, dingin menjadi raja. Kehidupan menjadi pengembara di perjalanan bumi yang mati sesaat. Hanya bintang yang hidup dengan kerlap-kerlipnya, jauh di atas sana tiada perhentian, kemarin atau esok waktu tak lagi bermasa.

Perhentian tak lagi jauh, bayangan hitamnya bersandar di balik kedua pohon raja yang menjadi gerbangnya. Kebekuanku kian mencair meninggalkan tetes-tetes jejak yang tersapu bersama angin yang terus menerpa. Pilar kehangatan menyeruak di beberapa puluh langkah ke depan. Perapian yang menyambut dengan peluk dan sapa, kecupan dari bibir istriku tak kan terlewatkan. Melumat dan mengigit bibirnya, tak memberi ruang untuk berucap lagi. Tak akan aku sudahi untuk setengah jam pertama. Si sulung pasti akan marah dan berlomba mencari dadaku. Untuknya aku sudah siapkan tenaga untuk melemparkannya ke atas kepala, ia suka bila aku permainkan begitu. Seperti biasa putri bungsuku hanya akan menatap, menguji mataku yang tak akan pernah lupa mencari tubuhnya yang gembul.

Sudah seminggu lebih aku meninggalkan mereka bertiga. Di malam penghujung tahun ini, aku akan melewatkan waktu bersama mereka. Biarlah proyek akan dilanjutkan kembali untuk beberapa hari berikutnya. Sejak siang tadi istriku sudah wanti-wanti agar malam ini sudah ada di Bandung bersama mereka. Dia berjanji malam ini akan hadir surga di kamar kami, dibaui dupa birahi yang dimiliki oleh Adam saat Hawa tercipta telanjang di pagi hari. Kesepian yang dipunahkan oleh Nya. Sesungguhnya tahun tak akan pernah berganti karena waktu akan terhenyak oleh pagutan rindu. Nafas-nafas berkubang kata dan lirih memburu detik-detik yang berjalan lambat. Oleh asmara cinta kan bertambah muda walau waktu angkuh menawan umur menuju ufuk akhir zaman.

Gerbangnya sudah kudapatkan, langkahku terhenti mengantar ketukan tangan di helai pintu. Tak usah menunggu masa, cahaya lampu menyeruak keluar dari baliknya. Seraut wajah menyambut hangat, memeluk diriku yang masih mematung.

“Apa kabar sayang? Kami sudah menunggumu, mari masuk. Kamu pasti sudah kedinginan di perjalanan. Tubuhmu tampak membeku.” Tangannya membimbingku memasuki rumah. Tangan wanita itu kemudian terlepas saat wajah-wajah lain berhamburan ke arahku.

“Wah yang ditunggu sudah datang. Bawa oleh-oleh apa nih dari Jakarta?”

“Iya nih, sejak di Jakarta kamu makin cantik aja. Udah banyak order ya sekarang.”

“Mbak, ajak aku dong kalau lagi shooting sinetron. Aku pengen juga jadi selebritis nih.” Ucapan centil yang terakhir membangkitkan tawa, membius suasana menjadi lebih ceria.

Di sudut sana, di samping pohon natal yang masih terpasang, lelaki tua itu melebarkan tangannya. Menatapku penuh rindu, raut tuanya tak mampu sembunyikan sebuah penantian. Di kakinya aku bersimpuh, memeluknya hangat. Tangan tua itu bergetar mengusap kepalaku, menjemput tubuhku. Ada kerinduan menangis di pangkuannnya. Di penghujung tahun yang terus berjalan, tubuh tua itu masih mampu meredam kematian bersama penyakit yang telah melumpuhkan syaraf-syaraf motoriknya.

“Jam berapa dari Jakarta cah ayu?” tanya ayah.

“Sore, yah. Ayah sehatkan?” tanyaku balik.

“Ayah tak akan lengkap sehatnya tanpamu. Dari tadi ia hanya menatap pintu, kalau-kalau wajah putri kesayangannya tersembul dari balik pintu. Mbak Santi, Bella aja dicuekin, padahal mereka jauh-jauh datang dari Bali. Kalau si bontot emang sudah menjadi dayangnya, tak perlu ditunggu-tunggu mungkin,” canda ibu.

“Iya nih, padahal aku sudah bawakan baju kesayangan ayah. Tapi yang diresahkan kau melulu, dikit-dikit Ratna. Emang anak ayah hanya Ratna doang?” ucap Santi, si sulung. Bibirnya menari tak kalah hebat.

“Ah mbak, jangan gitu dong. Yah, aku nggak bawa apa-apa nih. Hanya kehadiranku pengobat rindu ayah,” kataku agak malu-malu.

“Yeee…. Kalau itu mah jangan disebut-sebut. Emang kau udah tahu, kalau ayah itu nggak butuh apa-apa, selain kehadiran gadis kesayangannya,” ejek Bella.

Aku hanya bisa tersenyum malu-malu di goda oleh ibu dan saudara-saudaraku. Pelukku kian rapat padanya, menyembunyikan merah mukaku. Entah mengapa, perhatian ayah terlalu berlebih hanya padaku. Mungkin secara fisik aku memang paling ayu di antara kami berempat yang kesemuanya wanita. Dan untuk itulah ia takut bila aku tak bisa menjaga diri oleh daya pikatku pada lawan jenis yang menatap padaku tentunya. Ia pernah berkata, lelaki manapun pasti menginginkanmu, untuk itulah kamu mesti berjaga diri dari kerakusan itu.

Berbaur dengan ketiga gadis yang tak putus-putusnya bercerita membuat suasana rumah kian ceria. Masing-masing berceloteh tentang pengalamannya sambil menyiapkan santapan malam menjelang tutup tahun. Kerinduanku pada suasana inilah yang terkadang membuat hambar segala gemerlap Jakarta yang menawarkan tawa-tawa semu. Bibir-bibir merah dan perona wajah tak mampu lukiskan keramahan, di baliknya gurat-gurat kemunafikan masih membayang. Kamuflase segala persahabatan, hanya sebatas saling membutuhkan. Selebihnya kalaupun ada kejujuran itu adalah keajaiban.
Tapi waktu begitu mengunci rapat oleh ritualitas pekerjaan. Uang menjadi pecut hidup, dan jiwa-jiwa dinilai sebagai angka. Begitu terlatihnya manusia-manusia mengais lubang-lubang tempat bangkai uang yang terpendam rapat. Sehingga terkadang untuk sebuah lubang, akan ada sebuah kematian. Uang milik sang pemenang dan lubang kubur bagi yang terkalahkan. Untuk semua kenyataan yang aku hadapi itu, aku merasa sudah saatnya aku hadir bersama mereka di sini tidak lain untuk sekedar mengetahui bahwa masih ada kehidupan yang mungkin purba bagi mereka.

Sebuah ketukan di pintu menyentak lamunan ku. Siapa gerangan yang datang pada saat waktu akan memberi tahun baru untuk satu jam ke depan? Tidakkah ia berniat melepas tahun dengan keluarganya sendiri?

Sebuah tubuh menggigil berdiri di depan pintu. Kudapatkan sebuah wajah yang menawarkan keraguan. Apakah aku bermimpi?

“Apa kabar sayang? Biarkan aku menyelesaikan langkah untuk mendapatkanmu di kehangatan rumah.” Suara yang lama hilang itu kini hadir bersama pemiliknya, aku menjadi malu oleh tatapku yang begitu rakus. Seakan saat itu aku ingin memeluk mimpi yang lama sembunyi di balik bayangan. Dan aku mempersilahkannya masuk, sambil tak lepas memandang langkahnya yang tak pernah ragu-ragu.

Ayah bagai mendapatkan sebuah kado yang melengkapi gunung kerinduannya. Baginya pemuda ini adalah putra kesayangannya yang lama bertapa di ujung jagad sana. Ya, di Papua untuk sekian tahun lamanya, bekerja pada sebuah pertambangan. Dan selain ayah, akulah yang tak mampu sembunyikan gemuruh dadaku yang kian berguncang hebat. Lelaki itu mampu membuatku untuk sekian lama menepis segala rayu wangi tubuh-tubuh tampan lelaki yang mencoba menggodaku. Tidak sedikit yang menawarkan segudang mimpi dan danau kebahagiaan. Tapi sudah lama jantungku ditambat olehnya.

Tanpa menunggu masa, aku menariknya menjauh. Ayah dan ibu hanya bisa tersenyum, sementara ketiga gadis itu makin menggodaiku. Kami terjebak pada suasana saling menatap di beranda belakang rumah, tempat yang sedikit tertutup bagi mereka yang berniat mencuri tatap pada kami.

Ia tersenyum sungguh indah. Ahh…. aku kian terkulai pada rengkuhnya. Pinggangku dipeluk tangannya yang kekar, tak ada niat meronta tubuhku kian merapat. Kian jelas bibir itu di depanku, membuka dan berjalan. Menyapa, menawarkan sentuh. Dengusku menjawab pasrah, kian membiusnya. Memberinya magnit yang menautkan kutub-kutub tak berjarak. Kian hangat menyapu bibirku, melumat tak lekang. Tak meninggalkan celah, bibir tak lagi berbatas. Aku menarik kepalanya kian merapat, menghabiskan basah di bibirnya, menghisap hangat pagut, menyapu rindu yang lama tercekat di langit-langit. Aku tak mampu lagi menatap matanya, yang ku tahu kami tak lagi berbibir. Kami telah sebibir. Untuk setengah jam lamanya nafas-nafas kami telah saling meracuni, saling memberi sentuh yang memagut.

Di rengkuhnya aku dapatkan kembali sebuah kehangatan purba. Jiwa yang bangkit dari kubur yang lama. Gairah milikku kian bangkit pada dekapnya, pada dadanya yang menawarkan degup bergelora. Aku bisa membaca irama detak jantungnya, bagai mantera yang mengucapkan sejuta kata-kata sihir yang kian memasungku. Begitu lemahnya aku pada pikat sihirmu sehingga bagiku hidup tertahan hanya pada detik ini. Bila pun aku berkenan, untuk detik-detik selanjutnya hanyalah detak jantung ini yang menjadi petunjuknya. Aku akan mengabarkan pada waktu, bila detak telah menjadi detik. Bila rindu telah menjadi peluk. Bila bayang telah menjadi kasih. Pelukku kian erat. Aku tak memberi waktu baginya untuk bercerita, seolah waktu hanya akan berniat memisahkan kami.

Di rengkuhnya, aku mencium pipinya dengan lembut. Sebaris bisik aku usapkan ke telinganya, “kapan kita tak kan terpisah lagi?”

“Kalau ego kita terkalahkan oleh rindu.”

“Kapan ego kita terkalahkan oleh rindu?”

“Ketika waktu menahan detik dan akal tak lagi berbicara. Hanya hati yang menjadi kejujuran.”

“Mengapa kita tak bisa mencoba untuk jujur?”

“Kita punya hati, tapi melupakan kejujuran. Rindulah yang bisa merekatkannya. Mari kita bicara rindu, kita tak kan terpisahkan.”

Kami terdiam sesaat, hanya peluk yang berbicara di keheningan.

“Kapan rindu kita kian menebal?”

“Ketika rindu tertahan pada detik, aku ada di hatimu dan kau ada di hatiku.”

Tapi detik kian tak tertahankan, walau rindu kian menambatkan cengkramnya. Bandul waktu menyelesaikan menit, dan penghujung tahun telah tiba.

* * *

Nyeri itu kian terasa, tanganku mengusap luka yang membekas di dahi. Perihnya kian tak tertahankan. Mataku masih nanar, bintang-bintang berpendar pada pandangan. Jalan nafasku berat berlalu, remuk di dada melahirkan sesak. Untuk sekian lamanya aku mencoba mengatur nafas, merangkai waktu mencari sebab. Aku masih tertegun di depan kemudi mobil yang terperosok kedalam parit dalam. Pandangan mendapatkan kaca yang pecah berserakkan, serpihannya mengotori luka dan tubuh.

Ahh….. mobilku telah membentur dinding parit ini. Ya, jalanan yang becek kian membuatnya limbung tak karuan. Andai aku tak gelisah mungkin kejadian ini tak kan tercipta. Sisa pertengkaran tadi menyebabkan mataku tak awas lagi. Otakku entah mencari apa. Otakku muak mengingat ucapan gadis muda itu. Serapahnya masih mengiang, ia tak ingin aku tinggalkan sendiri di kota ini, Bandung. Matanya sungguh tajam menatap kepergianku, meninggalkannya sendiri di hotel itu. Tapi masih ada rindu-rindu yang menanti di kotaku, istri dan kedua anakku. Dan gadis muda itu tak mau menerima kenyataan hanya sebagai teman penghantar tidur selama aku berdinas di sini. Walau sungguh aku akui, di kesepian aku tak bisa melupakan lekuk tubuhnya yang indah dari gairah yang ditawarkannya.

Tak perlu lama gelisahku melahirkan petaka. Baru lima belas menit meninggalkan hotel, ketika penat masih berkecamuk, aku mendapati tubuh gadis muda yang lain. Yang berjalan di rintik hujan menyebarang jalan. Otakku tak dapat memberi perintah yang benar, nalarku lumpuh sedari tadi. Depan mobil menjemput tubuhnya, roda-roda menindih dan meninggalkan tubuh menggelepar. Pandanganku terhenti membentur dinding parit dalam itu. Bagaimana keadaannya?

Aku mencoba membuka pintu dengan sekuat tenaga, dan mencari bayangannya. Tak jauh di belakang sana, seonggok tubuh wanita tergeletak pasrah terhampar di aspal yang basah. Kini bukan oleh rintik hujan, oleh genangan darah yang anyir. Tak ada senyum kudapatkan pada wajahnya, tak ada mata yang menatap rindu. Tak ada bibir yang haus akan kecup pada mimpi yang masih bergayut pada bayangan. Di ketidaksadaranku sesaat tadi, aku dibawa oleh rindu yang mati. Ketika puluhan langkah lagi, wanita itu akan mendapatkan rumah kediaman jiwanya. Rumah hatinya, menunggu rindu yang tak pernah terjawab oleh takdir. Di penghujung masa, sebuah rindu terserak bersimbah darah yang mengalir dari mata hati yang lama kering.

Bekasi,29desember2002

Tidak ada komentar: