23 Maret 2003

Lupa yang Binal

“Kau masih ingat hal yang terindah di bulan ini?”
“Terindah seperti apa?”
“Hmm….. saat ada yang menyatakan cintanya padamu.”
“Wah, kalau itu ada banyak sejarah. Tujuh pejantan mengucap cintanya.”
“Tujuh? Sepertinya aku baru belajar berhitung….. Kau ingat, di bulan seperti saat ini, aku ada nyatakan cintaku padamu?”
“Kamu? Yang benar?….. aku lupa. Hihihi…… sory ya sayangku. Aku lupa. Suer!”
“Sialan! Padahal saat itu aku hampir mati mengatakannya.”
“Kok sampai niat mati? Takut ku tolak ya. Dasar penakut!”
“Saat-saat seperti itu, wanita punya kuasa. Menerima atau menolak pria menjadi kekasihnya.”
“Bersoraklah hai putri Sion. Kau tercipta menjadi kaum-kaum tuhan. Ya, tuhan berkelamin betina. Menciptakan mahluk bernama kekasih.”
“Saat itu, aku menyatakannya di telepon, ingat?”
“Hmmm….. kapan ya? Aku lupa nih….. sekali lagi sory ya say.”
“Bodat! Malam itu tanggal 13, ya sama bulannya seperti saat ini.”
“Lagian nembak di telepon. Mau yang praktis aja. Kamu nggak jantan. Mungkin itu sebabnya aku lupa.”
“Dan kau tahu jawaban yang ku terima dari mu?”
“Sudah aku bilang, tanggalnya saja aku lupa. Apa lagi isi rayuanmu.”
“Aku bilang aku sayang kamu. Dan aku tanya maukah kau jadi pacarku?”
“Terus aku jawab apa?”
”Kamu tidak jawab apa-apa. Karena aku pun saat itu punya ultimatum. Andai kau menolakku, tak usah jawab bahwa kau menolakkku. Aku tak mau mendengar kata penolakkan. Biar entah kapan itu, ku ingin mendengar hanya kata iya.”
“Terus, kapan aku jawab iya?”
“Kau juga lupa?”

Belum sempat wanita itu menjawab, ponselnya berdering. Ia bangkit dari pelukan lelaki yang telah menelanjanginya. Duduk di tepian tempat tidur yang mengeluarkan suara reotnya. Dadanya yang bulat berdegup kencang, di layar ia melihat nama seseorang, penelepon. Kemudian suaranya yang berat.

“Halo sayang….”
“Ya sayang. Ada apa?”
“Kamu malam ini tidak pulang?”
“Wah, sepertinya tidak Pa. Aku ada di Bandung, ada urusan dinas. Besok aku pulang. Papa sudah makan kan?”
“Sudah. Oke deh. Hati-hati ya. Papa sayang mama. Have a nice dream.”

Klik……..

Tubuh polos lelaki itu kian memerah. Cemburu. Birahi. Dipeluknya tubuh wanita itu. Di dada, di bawah pinggang. Mereka pasrah pada malam yang membawa aroma terkutuk. Sudah dikutuk sejak berabad-abad jantan dan betina saling memikat. Di ranjang reot yang bernyanyi sumbang, lahirlah nada-nada patah. Nafas-nafas yang saling memburu mengejar titik merah yang berpendar tanpa malu-malu. Karena kemaluan mereka tak lagi lugu dan malu-malu, telah saling menyapa. Dan di sekian waktu yang telah terbakar, wanita itu membisikan sesuatu.

“Aku ingat semua. Tanggal 13 di bulan seperti ini kau nyatakan cintamu. Dan tanggal 31 di bulan seperti ini, aku akhirnya nyatakan iya,” kata wanita itu sambil menelan ludah. Ada nada kepuasan.
“Kau nyatakan iya, setelah aku mengalahkan mu di malam itu. Ya, kepuasan atas ingatan di ranjang ini juga.”

jakarta,10maret2003

Tidak ada komentar: