10 Desember 2002

15 FIKSI* PUTHUT EA**

#1 tanya

anggota milis bm yang baik.....

beginilah ciri2nya, tingginya 3/4 tinggi bayang-bayang
yang jatuh ke tembok yang dihasilkan dari sebatang
pohon kelapa menginjak usia lima dalam sorot senja
hampir muntah. terakhir kali, ia mengaku beragama
pocari sweat setelah tiga tahun bersikukuh bahwa
satu2nya agama yang diyakininya adalah sepakbola.

kepergiannya meninggalkan kesan yang muram di otakku.
setelah tigaharitigamalam ia selalu membungkus kakiku
dengan sepasang kaos kaki bergambar boneka menendang
bola, berwarna cerah pula.

kutangkap kelebat itu pada pagi hari ini, lalu sesiang
ini aku mencarinya pada setiap perempatan--sebab
seingatku para pecandu bola adalah penyuka perempatan.
lalu sesore ini aku menyisir setiap jembatan--sebab
aku ingat, paling nikmat menyembah berhala ada pada
atas sungai, bukan menenggalamkan diri di dalamnya.

tak kutemui dia. jika kalian bisa menemukannya, maka
separo garis tangan kiriku yang masih berupa masa
depan, biarlah kutukar dengan beberapa kalimat yang
bisa menunjukkan dimana ia berada.

mantelnya ketinggalan di kursi kamarku, masih basah
memang, sebab aku tidak berusaha mengeringkannya.
hujan terakhir yang menguyupinya memang tidak begitu
biadab, tapi setiap basah seperti punya nyawa, entah
mengapa.

pada letih terakhirku ini, bersediakah kalian
membantu? o, ya, aku lupa. di samping kiri mata
kirinya ada tahi lalat yang tidak begitu besar. ia
juga pernah mengirim sebuah puisi di BM dengan judul
'mega dan pasir' serta sebuah fiksi berjudul 'hariraya
kurang sepekan lagi' tapi sepertinya BM tidak
menangkapnya, teramat cepat mungkin teks yang
dibangunnya untuk melipat diri dan lindap bersama
senja.

aku mencarinya, seandainya saja anda semua juga
mencarinya.....


#2 di pinggangmu ada peta-peta itu......

dan inilah peta yang sempat di tinggalkannya untukku.
di pinggangmu! pesan tak bernuansa damai itu
melengking menggores langit senja yang merah. apakah
salahku padanya? sehingga teriak itu menggarit tajam
pada memoriku. dan tetap sepi, sebab ia pun telah
melipat sisa kepak setiap burung.

(sampai di sini aku peringatkan untuk kalian semua,
agar membaca 'tanya'; sebuah titel surat untuk anda
semua)

cuaca telah berlaku murtad berulang-kali. dan
anak-anak manusia menyimpan diri dalam plastik hitam
pandora. lalu seperti kebimbangan, benda bermuka tolol
melakukan evolusi setengah hati. kepergianmu........
serahim dengan kebimbangan itu.

'lalu sebutlah nama-nama,' ucapmu kala itu. lalu
benar-benar aku sebut sejumlah nama bahkan juga
doa-doa. dan lagi-lagi teriakmu menyayat darah yang
masih merah. 'tidak untuk setiap kata kerja!' aku
bimbang dalam sekarat itu, bimbang kembali berlogika
semesta.

dan inilah kata2mu selanjutnya.......

'aku semuram wajah setiap ibu, bukan ketika
harga-harga melesat tak terkendali, tapi iklan-iklan
itu, kotak-kotak penyebar wabah dengan muka
warna-warni itu, siapa yang paling jawara menyebar
fitnah? kemuraman itu begitu lama, begitu senja. dan
tidak ada hutan-hutan yang meredam getar kecewa ini,
tidak juga ada bau humus yang menyengat, bahkan dari
kulitmu, sahabatku, kulit yang masih kerontang ketika
kata-kata tak cukup menebalkan muka, menebalkan dada.
lalu kita ambil buah semangka yang telah dipercaya
semua agama untuk menghapus dosa, sebab tujuh usapan
air dan pasir tidak cukup menghapus najis kita.'

ia terus melanjutkan ratapannya dalam minus tiga
derajad celcius, dan aku memandanginya sembari
menggunting gambar para pemain bola dunia, membukakan
kaleng-kaleng pocari sweat setiap kali ia
menghabiskannya.

'kutunda percakapan ini sampai semua cuaca melepas
sayap-sayapnya....'


#3 kepingan fiksi ketiga

lalu keheningan itu berlangsung lama, selama waktu
yang dibutuhkan surat cinta yang kita tanam dalam
botol dan kita lempar ke laut menuju semenanjung di
sebalik tiga pulau.

aku masih membuka kaleng-kaleng minuman itu, dan
hisapanmu atas rokok putih mulai menjamah bungkus
ketiga. ombak di kejauhan sana masih saling berusaha
melepas diri, menuju daratan entah mana......

lampu-lampu jalan mulai menyala, menyebar jala siluet
dalam nyeri pinggir jalan. dan gerimis tetap turun
dalam nada dasar c, cukup ritmis untuk menggamit
asap-asap menuju langit yang belum kunjung memadat.

sebuah lagu kau lantunkan.......

'jika pagar hitam itu tak pernah terbuka, maka dimana
hendak kurebahkan tubuhku dalam ketentraman yang
sempurna.....tubuhmu, tubuhmu, diraba malam,
digelayuti mimpi-mimpiku atasmu....'

kau ulang lagu itu dan kadangkala hanya berhenti pada
'tubuhmu,tubuhmu...'

sesekali dalam kesal yang pekat, kita tendangi
kaleng-kaleng yang berserak, suaranya melesat memburu
dinding malam mencari pintu-pintu, jendela-jendela
berornamen sedih.

'sebab di luar kesedihan, kematian membaptis diri di
pintu sorga' dan ketika hendak kau teruskan kalimatmu,
maka aku secepat menyergap, kuperingatkan kepadamu
sahabatku, jangan sesekali mengulang afrizal dan
borges dalam bentuk nyata, sebab virus mereka sudah
menanah dalam memori kita.

kamu tertawa, bersama lanskap malam yang tak kunjung
tenang.

kau ucapkan terima kasih dalam tiga bahasa asing.
setelah itu kau mulai lagi berkicau tentang
keterasingan, sebuah singgasana yang selalu lindap
jika hendak dijamah.

'keterasingan itu iblis. dan kepada malaikat
keputusasaan kita serahkan diri, juga puisi-puisi.'

lalu tiba-tiba engkau memandangku dengan getar tak
tentu. 'kita harus bercinta!' teriakmu persis di
mukaku dalam volume tajam.

aku terpana,'bukankah kita tidak akan melakukannya?'

'kita harus melakukannya, sebab biografi tubuhmu, aku
menginginkan, begitu menginginkan teks-teks atas
tubuhmu, erangan itu......erangan itu.....serupa puisi
yang ditutup-tutupi, disembunyikan oleh dalil-dalil
linear, dalam pangkat entah berapa, ketika seberkas
sinar dikendalikan dalam kecepatan sesungguhnya, maka
garis memutar yang dibutuhkan oleh tubuhmu untuk
menghasilkan sajak setimpal dengan rumus pitagoras
yang tidak menemukan sudut ketiganya.'

'tidak cukupkah keterasingan dan keputusasaan ini?'
tanyaku sambil mencopot ragu seluruh pakaianku, sebab
kulihat tubuhmu mulai telanjang.

'ada peta-peta di kelaminmu yang nantinya akan pulang
pada pinggangmu. peta yang membentuk negara-negara
belum merdeka bersama orang-orang yang juga belum
merdeka.'

dan ciumanmu.......

'kenapa kita harus berciuman?'

'sebab bibirmu penuh luka doa!'

ah.........

sebab lidahmu telah membasahi dadaku, maka napasku
seperti memburu sesuatu yang lenyap dan aku sedang
sangat. sangat membutuhkan.

lalu aku ingat sepuluh tahun silam, betapa masih
begitu muda dan merah tubuh kita. lalu kita curi
stensilan milik kakak perempuanmu dan kita baca di
pinggir parit, yang di sampingnya telah kita bangun
rumah-rumahan dari kardus dan ilalang. lalu kau
usulkan untuk membaca keras-keras stensilan itu,
seperti membaca puisi, katamu. dan setiap yang telah
kita selesaikan harus kita hanyutkan. sebab di hilir
sana pasti bidadari-bidadari kesepian turun dari
langit, mencari anak-anak semuda kita.

aku tertawa, dan tubuhku nyaris basah semua oleh
lidahmu.

aku ingat waktu itu, aku bertanya, mengapa
bidadari-bidadari itu tidak bercinta dengan malaikat
saja. tampan dan bersayap, bisa sama-sama bersetubuh
di atas mega-mega.

iya, bisa juga bercinta di atas pohon kelapa, asyik
bukan, bisa meliuk-liuk. dan kau tertawa ngakak.

usia awal belasan kita, kau sudah mulai bukan hanya
mengajakku membaca stensilan tapi juga mencuri uang
dan membeli bir botol kecil. 'ini parit kita, ini
rumah kita, dan bidadari-bidadari tergila-gila sama
kita, sebab kita muda dan bisa membaca puisi, bukan
hanya kitab suci.'

kenapa kita bisa sebandel ini? tanyaku waktu itu.
belum! teriakmu, sebab kita belum mencoba melompat
dari kereta yang sedang berjalan melintas di atas
sungai. haruskah seperti itu? memucat tanyaku. harus!
sebab puisi-puisi hanya indah ketika dibaca pada
perbatasan hidup dan mati, ketika tubuh kita melayang
dan tidak tahu, apakah lubuk sungai atau bebatuan yang
akan menerimanya. aku semakin pucat.

aku terhisap arus kebandelanmu, getarnya kurasa dan
hidup sampai kini.

hingga suatu saat perempuan pertamamu, menyatakan
cintanya padaku. engkau hanya meringis. biarlah aku
sama tante di stasiun saja, ucapmu tak terluka.

sipilismu pernah menguras tabunganku. engkau ngakak
lagi. sebab itulah kita dipertemukan cuaca.

tubuhku semakin basah, langit semakin basah.


#4 sebuah senja telah diperkosa daun-daun

dalam gumpalan plastik itu telah kau simpan udara yang
merekam peristiwa2 kita. sampai dimana perjalanan ini
sahabatku? sebab telah banyak yang tumpas. juga segala
berlarian ke ujung penyelamatan diri dan surga yang
entah apalagi. ya, keabadian itu, telah menumpas
semuanya.

lalu bersepakat apa kita jika memang seorang pengutip
yang baik?

ini aksesoris kata kita tebar kemana? kita sudah
sampai pada bab tak terhingga, dan cuaca di luar sana
masih bergelayut pada perempuan yang mengepang kuda
rambutnya--cantikkah? ya, sahutmu. perempuan itu tidak
hanya mengepang kuda rambutnya, juga seluruh cinta
kita.

tapi aku ingin tidur sambil memelukmu, seperti
dedaunan menggulung kepompong ulat.


#5 lipatan fiksi kelima

terkadang kitalah pemilik murka itu, pemeram dendam
dan menggantungnya pada langit malam paru-paru kita.
sejak ular-ular kita lepas pada sebuah upacara
bendera--dan padi menguning waktu itu--kita tetap
merasa ada yang angkuh pada diri negara. tapi kita
masih terlalu kecil waktu itu, untuk tahu, bagaimana
menjadi seorang warga negara yang murtad dan membilas
tubuh kita dengan cairan berontak. menjadi sepasukan
pengibar bendera adalah pilihan kita, merobeknya,
tepat ketika orang-orang bersiap sedia menghormatnya.
skorsing seminggu kita terima, alasan penguatnya:
bendera sekolah menegah pertama kita, sudah terlalu
tua!

lalu ketika usia belasan menuju jantung waktu,
kauangkat aku menjadi pemimpinmu. sebab telah
kutandaskan ratusan kitab dari pantai utara dan
kuselesaikan segala rimba persoalan kita, termasuk
sipilismu. pada tajam kataku, telah bersama kita
heningkan banyak pasar dan tanah lapang. segala
kerumunan menjadi buyar membentuk bulatan-bulatan
mufakat yang mengelilingi kita.pada setiapa purnama
kita masih mencari sudut-sudut sungai yang menyimpan
harum pohon jambu liar, sebab ada yang terus
menghindar namun tetap memantau kita. dan kita tidak
suka! tidak pernah suka!

segala telah kita belah dan nodai; juga doa, juga
mantra, juga purnama. bukankah telah menjadi sepakat
kita untuk membilas segala dengan warna berbeda?

urusan kita dengan benda-benda dan ingatan-ingatan
hampir selesai. suatu saat betapa mengganggunya,
ketika kita sadari bahwa hidup tak lebih dari sekedar
memunguti batu dan kita sendiri berdiam di sana:
menjadi bisu. sesaat pula setelah aku sadari ada tujuh
batang lidi dan duabelas sedotan menancap di
tenggorokanmu, arak mengucur deras, merambah segala,
menyebar harum yang tak bisa tandas. aku cukup tahu,
dari yang mengucur di sana, ada puisimu. hampir habis.
sedang engkau pernah berjanji di emperan toko
elektronik ketika malam dikerudungi deras hujan,
seribu sembilanratus puisi, baru mati. hanya duaratus
dari dadamu, hanya tigaratus dari dadaku. tapi kenapa
hidup kita nyaris selesai?

perjalanan omong-kosong apalagi ini? tak ada
gerbong-gerbong waktu yang memohon ampun pada
peristiwa-peristiwa.

hidup macam apa ini semua? sebangsat apakah
persahabatan kita? jawab, jawablah! sebab kita tidak
pernah menjadi diri kita sendiri, percayalah.


#6 spasispasifiksikeenam

memang, pada akhirnya.....himpunan luka ini berhasil
membuat denah di hati kita tentang hidup yang omong
kosong.....

matilah aku, ketika raungmu kali ini disertai robekan
kain batik nenekmu dan kendi berisi bunga-bunga kecil
tiga warna. mari kita selesaikan dengan cara yang
paling tidak nyaman pada hidup ini, begitu ajakmu.
lalu kuletakkan kitab setengah kubaca dengan judul
merah menyala; cinta orang-orang bermata kosong.
kubuka pocari sweat, tuhan keduamu setelah sepakbola
itu.

seekor piton yang lepas dari kutukan keluar dari laci
mejaku, ia ikut bersedih memandangi kita. aku tahu
piton itu cukup lapar, sebab sudah berpuluh-puluh hari
ia di dalam laci mejaku hanya bersama robekan kitab
tua yang mencoba kita hapal dengan cara merobeknya
halaman demi halaman. maukah engkau memangsa kami,
piton?

kau tetap meraung sambil semakin mendekap daun
jendela, kulihat pula, setiap raunganmu bertambah
panjang, kendi itu memuntahkan semakin banyak bunga,
tak habis-habisnya, dan kain batik itu semakin robek
berserpihan. betapa setiap kesedihan memang begitu
luar biasa bagi kita.

pelangi di luar, membujur membaptis diri sebagai
buletin pekabaran alam. warna birunya semakin dalam.
kita juga pernah berbincang untuk menenggelamkan diri
di sana, suatu saat.

pada kali pertama jeda raungmu, engkau menatapku
seperti belahan teka-teki silang. hanya ada
pertanyaan, dan aku hanya diberi kesempatan menjawab.
sedang dulu tidak pernah seperti ini, sebab kita akan
menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, atau membagi
banyak-banyak jawaban, jika ada satu pertanyaan yang
berani diajukan oleh siapapun kepada kita. ingatkah
kita, suatu saat pada pelajaran biologi kita bawa
sejenis ikan yang bisa melompat dan berjalan di atas
air payau? terus kita desak guru itu untuk memberi
tahu, jenis apa binatang ini? kutukan dari setiap
pergantian cuacakah? berwarna seperti tokek, berlari
seperti tikus. dan tidak ada jawaban, lalu kita
bersama keluar, tak ada pelajaran berharga di kelas
biologi ini. juga ketika fisika dengan paradoks zeno
yang kita colong dari orang gila di perempatan jalan,
dan guru kita tetap bungkam. atau kau telanjang dalam
pelajaran sastra, dan mengatakan ada puisi di balik
celana dalam yang sedang kaukenakan. dan aku muntah di
pojok kelas, muntahan beraroma vodka sambil membaca
puisi di pelajaran sastra yang itu-itu juga.

dan tak terhingga kegentingan serta keonaran yang
sering kita perbuat di rumah suci. ah, tapi ini tetap
menjadi rahasia kita, bukan?

suatu saat, hanya sekali, aku ingin membunuhmu, ketika
kau bertanya, kapan kita insyaf? jadi kau pikir selama
ini kita tidak insyaf, kita telah melakukan hal-hal
yang salah? mati saja kamu, dalam ketidakyakinan yang
busuk itu. sekali juga, engkau ingin membunuhku,
ketika aku bertanya, kenapa kita tidak mencoba
berpikir tentang hidup yang nyaman? kamu menjawab,
matilah kamu, sebab kenyamanan adalah kematian.

beri jari kelingkingmu, dan jangan tatap aku dengan
belahan teka-teki silang di matamu.

mari kita berpikir, apakah sekarang saatnya?

aku masukkan piton ke dalam laci, lihat, matanya masih
sedih. kini berhadapanlah kita. lepas daun pintu itu,
kendi itu tenang, kita ikat lagi robekan kain batik
nenekmu.

bersitataplah kita, ada pecahan jagat raya yang rumit
di tubuh kita ini. rasakanlah.

aku membuka kardus besar yang kosong, sebab mungkin
kita butuh istirahat dalam ruang yang berbeda. aku di
atas meja, kau di dalam kardus kosong. tapi kita harus
tetap saling menatap. membagi kerumitan dalam hidup
yang benar-benar omong kosong.....


#7 ternyata kematian itu tidak pada fiksi ketujuh

kusimpan petasan-petasan yang ditutup dengan pasir
pantai di langit-langit kamarku. sang penemu sekaligus
pembuat petasan itu kini sedang di kantor polisi.
pukul lima kemarin, ia ditangkap. bukan, bukan itu
jika kemudian kupasrahkan ratusan petasan itu
kepadamu, sebab sudah lama kita bermain-main dengan
penegak hukum. aku menemukan permainan baru,
sahabatku, dan aku cukup mual dengan kelicikan
meledakkan petasan. ingat, kita tidak pernah
bermusuhan dengan orang-orang cacat, sakit, dan hilang
ingatan. kita berhadapan selalu dengan arogansi
kewarasan dan hukum yang semena-mena. permainan baruku
itu kuakhiri dengan titik-titik....carilah aku, pada
arah tenggaramu. terserah kamu dengan petasan-petasan
itu, seperti pernah kupasrahkan kemurtadanku padamu,
beberapa waktu yang lalu.....

surat mungil itu kulipat. tak kusentuh petasan itu,
hanya kubuka dua genting dan berharap hujan
menyelesaikan berahi petasan yang tersimpan di
langit-langit kamarmu. pada tenggaraku, kulacak
jejakmu. sebab nafasku sudah lama tak beradu dengan
binal dan liarmu.

aku berkelebat, langit berkelebat, tirai berkelebat.

engkau dibekap merah cuaca, tak kutemui kau di segala
yang kutanya, yang kuraba. pada lengkungan macam apa
sekarang engkau menghilang? aku ingat persis akan
ruang-ruang cembung yang kau bicarakan, suatu saat
kita akan bersembunyi di sana, begitu gumammu. pada
semua benda ruang-ruang menggulung diri, melengkung,
cembung. ada sesuatu di setiap benda sehingga mereka
mampu melipat ruang. pada benda segalanya
berkonsentrasi, bendalah titik pijar segala, sehingga
pada benda segala berkah bersemayam, sekaligus
kutukan, sekaligus kebusukan. mungkin karena itulah,
tuhan banyak manusia perlu mengajari ciptaan
pertamanya untuk mengenali benda dan memberi tahu
nama-nama benda. o, ya ? puji benda!

a ha! itu siluet tubuhmu. aku hapal punggungmu yang
menawarkan rasa empedu. inikah permainan barumu?
bersama pemakai sarung yang masih membawa bau tanah
seberang dan amis ikan? ah, bukan hanya itu, aku
mencium bau garang lautan selatan dengan kapal-kapal
mungil yang gemetar.

semua habis, teriakmu padaku. aku tertawa melawan
angin rinduku. pantas saja, uang di bawah bantalku
lenyap bersamamu. dadu-dadu itu menyebar banyak
kemungkinan, seperti kita, tangkasmu membela kepergian
yang tiba-tiba. aku tidak pernah melarang, tapi mari
kita minum kopi sejenak, dan akan kutinggal kamu untuk
kemudian datang lagi membawa uang. kenyangkanlah
hasrat bertaruh, tapi aku sudah melakukannya sebelum
kamu tahu, ada berapa titik pada setiap dadu.

aku ingin jadi nelayan untuk dua bulan, membakar
ikan-ikan segar, membakar kulit sendiri, membakar
waktu, begitu tegasmu padaku. tidak seorangpun
mengajakmu kembali. orang-orang yang pulang adalah
orang-orang yang tidak berani menimbun luka. kita
berdua, adalah dua manusia yang selalu pergi tanpa
pernah berjanji untuk pulang lagi, bahkan pada diri
sendiri.

ini uang, kita bagi dua. aku akan kembali ke utara
untuk segera menuju barat daya. ingat, antara tenggara
dan barat daya, dalam titik utara selalu pasti
membentuk huruf v terbalik. kita berada di balik
segala kemenangan. apakah itu pertanda kekalahan? kita
lihat saja.

ya, seperti semesta, kita tak tahu, sedang menuju
kemana....



# 8 fiksi ke delapan: prosesi matirasa

inilah aku dan arah barat dayaku.

sebuah kota yang membanggakan kebusukannya, tak ada
cermin untuk mengaca dan mematut-matut diri. aku di
sini, kini. tidak untuk masa depan, tapi yang
bergejolak harus dilampiaskan. aku bukan seorang
penyabar, sebab aku menyukai ombak garang.

dan inilah kota kekalahan itu. kota bagi raja-raja
yang melarikan diri dari merkantilisme sekaligus
kolonialisme, raja-raja yang sudah tidak menguasai
laut sekaligus angin yang menderu di atasnya. ya,
raja-raja yang tidak berkuasa atas lautan hanyalah
seperti tubuh tak bertulang belakang. inilah kota
kekalahan itu. kota orang-orang kalah, yang tidak
cukup mengimani diri sendiri dalam segala medan
pertempuran. aku ke sini, untuk melihat sejarah
terluka itu, sejarah kekejian raja-raja yang memenggal
rakyatnya sendiri tapi tidak cukup mampu mengahadang
meriam dari negeri seberang. agar tetap terlihat
perkasa, kita memang bisa melukai orang yang lebih
lemah atau diri sendiri. cara culas orang-orang gagal.

aku datang setelah ratusan tahun raja-raja kalah itu
membangun kekuasaannya yang rapuh. aku masih melihat
mereka, orang-orang yang hanya berani berdoa. tapi
inilah kota wingit yang bagi segala benda dan manusia
yang berani mengejek kemiskinan rupanya. di sini pula,
raja manusia bersekutu dan bercinta dengan raja jin.
seni dan sastra adalah anak rohani puja-puji pada yang
ghaib. keindahan itu untuk di luar sana, tak terjamah,
tak teraba. moyang segala budi adalah percaya. inilah
diriku sekarang, bertempur terhadap diri sendiri di
tengah-tengah orang-orang yang membawa tradisi
kekalahan dan gampang percaya. dan tidak ada kamu di
sisiku, sahabatku. ada harum arak dan tuak, tapi untuk
melarikan diri, ketika yang ghaib menunda
jawaban-jawaban. aku tidak kuasa untuk meneguknya,
sebab arak kita adalah arak makar.

di tenggaramu, masihkah kau coba menghitung jarak
antar bintang? awas, hati-hati dengan biasnya.

tapi di sini, suatu saat aku dikelilingi orang-orang
berkaca mata yang sibuk menghitung tulang rusukku dan
volume otakku. juga kecepatan kata-kataku, ketepatan
ucapku. mereka bersorak. mereka menemukan sesuatu di
diriku. mereka bilang, ujung senjata sudah ditemukan,
tinggal diasah tajam-tajam.

aku dikelilingi orang-orang yang butabenda. tidak bisa
membedakan asbak dan kepala manusia. astaga....mereka
juga buta ruang, sering salah menaruh celana dalam.

mereka memperkenalkanku dengan pengetahuan baru,
sahabatku, tentang dialektika peristiwa-peristiwa,
bahkan ekspansi ruang. membawa banyak kitab dari
negeri seberang, yang berkekuatan semacam mantra tapi
bicara soal hukum-hukum dunia. tidak ada tuhan di luar
benda-benda. upacara-upacaranya adalah penyatuan
kehendak kita.

gelas-gelas berjatuhan, bintang-bintang seperti
berjatuhan.

tapi bukankah keyakinan kita adalah rel kereta? lurus
jalan berdua tanpa pernah niatan bertemu. ada di
antara medan lurus dua hal yang berkontradiksi.
permusuhan laten dua hal yang berseberangan, kita
tahu, dan kita ada di tengah-tengahnya tanpa pernah
berusaha untuk mempertemukan.

aku adalah sesuatu yang sekarang ditekuni oleh mereka.
sedari sebelum sadarku sampai sebelum lelapku. inilah
keyakinan mereka yang berusaha dipasokkan pada otakku.
bahwa segala materi tidak harus bisa diraba dan
dibejanakan. tidak harus dibalut warna-warna dan
dikerudungi bebauan. aku diperingatkan atas pentingnya
peristiwa-peristiwa, bukan sibuk atas awal mula
penciptaan. mereka tetap bersepakat pada kita tentang
titik pijar benda, yang segala berkah dan kebusukan
bersemayam. tapi terus memperingatkanku atas
pentingnya peristiwa-peristiwa......

pada benda diam, ia menelusupkan hakekat gerak. lalu
masuklah pelajaran kedua itu, pelajaran tentang
permusuhan yang laten. kontradiksi. ada yang
bersikukuh di sini dan ada yang angkuh di sana, semua
bergerak dalam model getar sederhana sampai
letusan-letusan dahsyat.

aku ingat raja-raja yang kalah dan aku ingat akan
kita.


#9 sambil lalu-nya fiksi kesembilan

.....seperti telah disarangkan bulan sabit ke dada
kotaku oleh waktu.....

demi sepi dan malam yang selalu pecah oleh berontakku,
tibalah pada suatu saat, ketika itu tak ada satu kata
yang kau dentingkan dari sana, aku begitu rindu.
dilecut dengan benda apakah, sehingga setiap kerinduan
yang tua selalu melahirkan keberanian yang luar biasa?
akan kurasa mendekapmu dalam dada hangat mendesir,
ketika kusambar segala petaka di kota ini, kota barat
dayaku. dan malam hari yang tersisa adalah menelusuri
jejakmu dalam ingatan-ingatan merahku. aku rindu
masa-masa kecil kita dan jalanan kampung yang tidak
rata. masa kecil menjadi sesuatu yang tidak bisa
dihapus oleh cuaca--bau jalanan, teriakan, dan sperma
kita yang muncrat sebelum waktunya, sehingga belum
pekat benar--berani sumpah, ada sejarah tubuhmu di
tubuhku.

tapi sudah menjadi sumpah kita untuk berpisah, ingat,
tenggara dan barat daya, dari titik utara adalah
dibalik semua kemenangan. dan menjadi janji kita untuk
terus membuktikannya, sebab hidup tidak tercukupi
dengan kemenangan demi kemenangan. di sebuah tanah
lapang dalam deras hujan, senja hampir menelungkup,
dua lawan tiga, kita kalah tipis dalam bermain bola.
dadamu dan nyeri itu, terasa sampai sekarang, di sini,
pada titik terdalam dari luka-luka pertama berkumpul.
untuk pertama pula aku menghimpitkan nyeri atas
kekalahan pada dadamu dalam telanjang. kekelahan tidak
pernah membuat tidur kita nyaman, bukan? tapi mengapa
kita tak pernah benar-benar ingin menang? dalam segala
perang dengan senjata pelepah pisang, kita selalu
berusaha untuk mati dalam pertempuran terakhir,ketika
kita begitu yakin, musuh akan kalah. aku tidak bisa
menjelaskannya, kamu terdiam juga jika kutanya.

malam-malam yang beringsut di kota ini seperti
menguntai kejemuan. manik-manik jemu itu mulai
menggelembung dalam dadaku. kamu juga merasakannya?
tapi aku tahu persis, tenggara yang telah kau pilih,
adalah tempat berlarinya para pemberontak. jadi
beruntunglah kamu, di sana, di kota pilihanmu, mungkin
sedang menggumpal merahnya marah di dadamu.

inilah tahun ketujuh yang memenjarakan kita. rentang
tahun yang kita harapkan bisa memisahkan untuk
sementara. rasa, juga harus mengalami ujian. seliat
apakah rasa di antara kita? apakah teruji hanya dalam
kebinalan, ramai dan onar? tujuh tahun kita
menguburnya dalam sepi. sebentar lagi sahabat, aku
bisa mendapatkan sebagian ketentramanku yang telah
melesat bersamamu.

pada tajam tebing waktu, kita saling menunggu.



#10 fiksi kesepuluh: puji benda! seru sekalian alam, puji benda! yang berkuasa atas segala

tenggara cukup pekat, tapi itulah tenggaraku, kota
terakhir para pemberontak untuk mati, bukan untuk
lari.

lalu tetap kuingat itu: jika pada suatu malam--sebelum
esoknya, kita berpisah benar--ada pesanmu terngiang di
diriku.sebab aku yakin ada yang di luar segala
kematian, dan sekaligus ada yang di luar segala
kematian, oleh karena itu kita harus membagi diri
secara sempurna, kita harus melacaknya, kita akan
menemukannya, entah disebut apa. sorot matamu
menajam--seperti biasa engkau menyulap ribuan orang
agar bergerak--begitu yakin, sebelum kita putuskan
benar.

aku hangus atas katamu, dan takjubku tak
selesai-selesai sampai sekarang. kata! begitu kuat
engkau menguasainya, mengendarainya. mulutmu adalah
senapan-senapan berbagai bentuk dan
jemparing-jemparing magis yang membuat bergidik banyak
orang, bahkan sebelum sebuah anak panahpun di cabut
dari tempatnya.

kecilmu, aku cukup tahu, pada tebing-tebing curam
engkau menajamkannya. ada sesuatu dalam tubuhku, yang
sepertinya sangat tajam, pertama-tama, aku harus
menguasai dan mengendalikannya, begitu keluhmu. dan
memang, kata-kata yang kau lempar selalu melesat
menghantam dengan cermat pada segala kata yang lain,
benda-benda, juga banyak manusia. kata-katamu,
ditakuti. kata-katamu, dirindukan.

hingga suatu saat engkau diam kelelahan, berpacu sepi
dalam hening.

aku ingin kafir dari kata-kata, keluhmu lagi, begitu
dalam.

apakah itu kutukan? tanyaku sambil membelah durian
yang kita rebut dari pertengkaran kecil di pinggiran
sebuah parit, pagi itu.engkau mulai menelanjangi
pakaianmu, dan kulihat kelamin yang terurai tanpa
rambut, seperti punyaku, tidak seperti punya
tetanggaku. engkau tak pernah riang benar, tapi jika
sedih terlalu benar.

engkau melempar pongge-pongge dalam tenaga yang luar
biasa. o, tidak, sebab sekaligus engkau melempar kuasa
kata-kata atas dirimu.

engkau mulai meneriakkan nama benda-benda, seperti
berusaha melepaskan dari untaiannya, mederaikannya
agar lepas. aku menatap tengkuk telanjangmu, tulang
punggungmu yang aneh. lalu kubalikkan tubuhmu,
menghadapku. airmata itu kulihat, beberapa diantaranya
menetes ke kelaminmu--hingga sekarang aku masih
menganggap kelaminmu selalu kelamin yang basah oleh
airmata, kelamin seorang anak di kelas lima sekolah
dasar. engkau menunduk, dan kucium rambutmu. aku
merasakan bara di kepalamu--dan sesungguhnya dari
sana, aku cukup tahu untuk mengangkatmu jadi
pemimpinku. memang, engkau tidak pernah menang dalam
setiap perkelahian, tidak sepertiku, tapi engkau juga
tidak pernah selalu kalah dalam perkelahian, juga
tidak sepertiku.

sepuluh tahun setelah peristiwa itu, sekarang kau di
barat dayamu, dan aku di tenggaraku. bersepakat untuk
tak berbagi apapun, sebab memang ada yang harus diuji
benar, bukan hanya lewat pertempuran demi pertempuran
dan kebersamaan demi kebersamaan.

di kamarku ini, aku terus mendengar cerita orang
tentangmu, terutama tentang perempuan-perempuanmu dan
tentang pemberontakan-pemberontakanmu.....

aku begitu rindu, dan bersiaplah pada tajam tebing
waktu......


#11, ayat-ayat durhaka, kitab-kitab omong-kosong....

di sebelah keheningan itu, seorang gadis ketigapuluh
tujuh-mu, sedang menyelesaikan sisa makan malamnya. ia
masih bersedih, ia masih menginginkanmu. seperti
gadis-gadis yang lain. pada ketakrelaan ia bersimpuh,
menyembahyangi kehilangannya atasmu.

di depan segala benda, ia tercenung, sebab pada segala
benda, ada bayang-bayangmu yang memantul.kijang
tubuhnya senantiasa melayap. ia rindu onar, dan pasti
cinta membabibutamu. ia pula yang memastikan padamu,
setelah tigapuluh enam perempuan tak juga membuatmu
yakin, tentang cinta. seperti halnya hidup, hanya ada
cinta yang omong kosong.

tapi memang ada manusia yang tercipta entah dari apa,
yang sepertimu. dari mulai tatap mata yang bisa
menggulung cuaca menuju derajat luar biasa.tak ada
ajimat dan mantra-mantra, bahkan tak ada doa-doa.
sesosok tubuh yang dibangun oleh sejarah kesedihan
demi kesedihan. boneka-boneka kau tanam pada setiap
dada mereka.

hingga kauputuskan, menendang cinta dari dada,
menendang keras kaleng kosong coca cola.

siapa tak rindu pada ranum berontakmu? tubuh
terpanggang api hidup dengan wajah kemerah-merahan
pertanda luka yang menggila?

tak perlu ada pengkhianatan yang menyakitkan, sebab
telah kau bakar cinta. setelah remuk benar setiap
hati, maka biarkanlah hati menyusun dirinya sendiri.
luka-luka tak pernah murung selamanya. setiap tubuh
tak pernah terluka, jika tubuh tersusun dari luka demi
luka.

dan gadis ke tigapuluh tujuhmu sungguh-sungguh
bersedih. seperti gadis-gadis yang lain pula, telah
kau buat ruang selamanya dalam otaknya. mengapa?
mungkin karena hari-harimu adalah
kemungkinan-kemungkinan, juga kejutan-kejutan.

di depan kamarnya, ditaruhlah sebuah pot bunga,
semenjak perpisahan itu. benih merah kehitaman ditanam
dalam rasa yang begitu malam. dan tumbuh subur benih
itu, rimbun seperti terpelihara. pada kembangnya yang
masih menguncup, gadis itu menunggu, berharap bersama
mekarnya kembang itu, angin datangmu melabrak
kesunyiannya. tapi tidak, sebab kamu tak pernah lagi
percaya atas segala cinta.

seperti yang kau tahu, pada hal cinta aku tak pernah
mengerti dan memutuskan. tak pernah ada perempuan yang
mengisi hidupku, dan kamu menuju gadis-gadis dengan
angka depan empatpuluh.....

sekali aku teringat tentang perempuan, menarik bagiku,
waktu itu. perempuan itu menyatakan cintanya padamu,
tetap tidak ada masalah bagiku, sebab aku tidak pernah
mengerti dan memutuskan tentang cinta, sesuatu yang
omong kosong bagimu seperti ruang kosong bagiku. yang
aku tahu, ada saat dimana kelaminku merasa harus
melakukan sesuatu. itu yang kulakukan, peduli sipilis,
peduli raja singa, itu yang kurasa. anehnya, engkau
tak pernah bersetubuh sekali pun, sekali pun!

aku tak pernah dikutuk oleh kata, aku dikutuk sipilis
dan raja singa.

engkau tak pernah dikutuk oleh kelamin, tapi kata?
nyaris meledakkan otak dan tubuhmu.

lalu aku mendamparkan ingatanku atas sebuah gumaman
malammu, pada malam benar: lihatlah betapa kejinya,
kematian harus dibunuh oleh keabadian, berahi
ditopengi cinta sejati, kekalahan disembunyikan oleh
surga.

aku bersepakat--pada hal apa kita tidak bersepakat?
bahkan perpisahan panjang kita sepakati, siapa tahu,
tanpa kebersamaan ketidaksepakatan memijar--bukankah
sipilisku diselesaikan tabunganmu? bukankah sakitmu
kuselesaikan dengan tanganku?

lalu darimana selebaran-selebaran kebajikan
ditebarkan? kebajikan-kebajikan menyusun dunia megah
luar biasa. dan kita meyakini, itu semua disusun oleh
pikiran-pikiran manusia yang sia-sia.


#12: cadas!

seperti anak-anak buaya yang mulai mengembara, kita
pun bersiap sedia membayar mahal, berontak dan
keingintahuan.......

dan telah kita bayar tunai beserta segala bunganya,
beserta segala anak cucu dendam atas segala yang kita
habisi, segala bid'ah pikiran sia-sia.

ah, lalu aku teringat fajar itu.....

seorang letnan muda sedang keluar dari tempat hiburan,
berahi di tubuhnya menghitam. pada jalan ia
menyeberang, menuju rumah yang menyimpan puluhan
perempan cantik. ia tergesa, sebab sloki yang
ditenggak terakhir bukan hanya mengabarkan hitungan
lebih dari duapuluh dua, tapi juga derajad berahi yang
semakin meninggi.

kita melihatnya sepintas, di bawah tiang listrik, kita
masih berbincang. bulan tak ada. sinar lampu jalan tak
pernah lupa menghujani warna yang sama dalam segala
hal.

keribuan meledak. terdengar pula bunyi meledak. lebih
dari sepuluh orang menghajar letnan muda, dan
menyeretnya dari dalam rumah itu menuju pinggir jalan.
ia ditingalkan bersama luka dan wajah angkuh dalam
uatan erahi yang tak selesai. kasihan, laki-laki muda
yang hanya mengenal hidup dalam asrama, tangsi,
barisan. pintu rumah terbuka, seorang perempuan muda
dengan wajah berdarah menghampiri si letnan muda.
perempuan itu meludah, persis di dahinya. kami tertawa
dan semakin merasa kasihan.

engkau menghampirinya, perempuan itu pergi
meningalkannya. kau nyalakan sebatang rokok putih, kau
selipkan di mulutnya yang penuh darah. dan dari sakumu
engkau mengeluarkan sesuatu. aha! beberapa puisi kita
yang sempat kita catat sore lalu. kau masukkan di
sakunya.

aku tertawa. buat apa? teriakku. engkau diam, terus
melangkah, aku mengikutimu. aku terus bertanya, engkau
terus melangkah sambil menendangi kerikil jalanan,
menendang jauh, ditangkap oleh malam.

terkadang ada banyak hal yang dilakukan tanpa bisa
dijelaskan. seperti engkau juga meninggalkan
perempuan-perempuan itu.

lalu aku ingat beberapa orang yang tak pernah
menanyakan alasan-alasan. salah satunya ibuku, yang
setelah tiga kali persingahanmu waktu kecil ke
rumahku, engkau uga memangil ibuku dengan 'ibu' pula.
tetapi oarang-orang memanggilnya dengan kata 'lonte'
di depan nama ibuku. di tanah lapang, di gardu ronda,
di terminal, di langgar, mereka selalu menanyaiku;
engkau anak masinis, pelaut, atau sopir? beberapa
sebaya kita kuselesaikan. kau selesaikan yang lebih
besar, sebab engkau cucu pejuang yang ditakuti dan
anak keluarga terhormat. mereka tak berani
menyentuhmu, walau aku tahu, caramu berkelahi tak
lebih dari sama dengan caramu menangkap ikan. tak
pintar-pintar amat. tapi pangilanmu pada ibuku,
membuat ruang hormat yang dalam di hatiku, dan
semenjak itu aku bersumpah untuk hidup dan mati
bersamamu. lalu ikrar kita teriakkan, pada malam
dimana aku aku membantumu membabak-belurkan
kakak-beradik anak mantri polisi. mereka iri, sebab
anak camat yang sudah smp menaruh hati pada anak
kecil, lantang, pemberani sepertimu. baru kelas enam,
waktu itu, dan di atas rel kereta, yang dibawahnya air
sungai deras menderu. suara kita tak kalah, begitu
garang, begitu menantang.

satu per satu, sebaya kita segera mengelilingimu.
selusin lebih sebaya, membuat kita tak pernah
disepelekan banyak orang. termasuk mereka orang dewasa
yang sudah mulai berani bermabuk-mabukan di pos ronda.
perkelahian demi perkelahian membesarkan kita. sebab
kita diperlakukan tidak adil dimana-mana, kita
melawan, kita berdarah, kita menang. dan sebagai
penguasa baru pos ronda, kita harus menenggak arak dan
vodka.

aku juga teringat seorang kakek berwajah getir, di
pojok kampung. engkau memangilnya 'guru'. dia tak
lebih dari tukang memperbaiki sepatu. sebelum kami
terbiasa dengan caranya bicara, engkau terbiasa bicara
berlama-lama dengannya. sementara, kami menunggumu di
seberang jalan sambil main kartu.

ada lagi orang gila yang bersahabat
denganmu.kemana-mana naik sepeda angin dengan cambang
dan kumis yang hampir menutup wajahnya. matanya! ya,
matanya, yang membuat kami takut dan penduduk kampung
kita takut. mata yang tajam, dan hanya kamu yang
sanggup menatapnya. juga membuat ia turun dari
sepeda.pada orang gila itu, kamu juga sanggup bicara
berlama-lama.

aku tersenyum. di sebuah kamar, di tenggaraku, aku
mendengar cerita tentangmu dan aku mengingat-ingat
kamu waktu dulu.


#13, volume lirih lagu-lagu sedih

ini sedihku, yang juga sedihmu.

perempuan itu menyalakan lilin bersama setengah
hatinya yang terbakar. dia lah perempuan yang
mengirimi doa-doa semenjak kabar pulang yang dibawa
ombak mengatakan dengan pasti; serdadu itu, suamimu,
pecah kepalanya, bukan karena peluru musuh-musuhnya,
tapi sebatang pohon rengkah dihantam badai, roboh, dan
salah satu dahannya tepat menghantam kepala suamimu.
pecah. sekali lagi bukan karena perang, tapi tetap ada
bendera dua warna yang diselimutkan, tetap ada doa-doa
dan tembakan di udara. setidaknya dia tetap tentara.
dibunuh atau membunuh, diculik atau menculik, dia
tetap tentara dan kematiannya layak dihormati,
setidaknya oleh tentara sendiri. sebab selain tentara
sudah lama membuang muka.

perempuan itu tak pernah mencintai suaminya, bukan
karena dia tentara dan tahu kebiadabannya. tidak. dia
jauh dari prasangka dan pikiran seperti itu. tapi
karena hal yang sepele; tak ada perasaan tergetar itu.
sebab yang selama ini menggetarkan hatinya adalah
kamu! laki-laki yang duabelas tahun lebih muda dari
usianya.

tetap saja ia bersedih, setidaknya harus bersedih. dan
kamu bersorak girang, menyoraki kematian seorang
tentara, tentu, juga bukan karena kamu tahu, tentara
itu sedang diperintah untuk membunuh orang di pulau
seberang. tapi karena dendammu karena pernah kau
pergoki ia bersetubuh dengan istrinya, di ruang
tamunya yang terbuka. dan waktu kecilmu, karena sebuah
petasan yang menyalak ringan, kepalamu dihantam gagang
senapan.

perempuan itu menatapmu dengan getar dan pengharapan
yang mulai tersulut, ada sesuatu dalam hidupnya.
tatapan mata seorang perempuan pada menjelang sore, di
sebuah beranda. bukan hanya kesepian, aku pikir. tapi
sesuatu lebih menggetarkan karena tak pernah disangka,
tak pernah diduga.

sore itu, seusai bermain bola, beberapa durian ada di
tangan. kemenangan memang harus dirayakan, sekalipun
dengan keberanian yang lain, mencuri misalnya. dan itu
biasa kita lakukan.

ia duduk, tercenung menghadap segelas teh, dan menatap
pagar putih rumahnya, pagar yang semua orang bisa tahu
bahwa itu pagar rumah tentara dengan pangkat yang
tidak sederhana.

dan lewatlah kita, bersama bau durian yang menyengat.
ia melengak. memanggil, memberi sekian ribu untuk dua
dari tiga durian kita. kita butuh rokok, bukan?
bersepakat, merelakan dua durian. ia menatapmu, tidak
seperti menatap pagar rumahnya. dan kau menatapnya,
memerah wajahmu, wajah orang yang kelaminnya baru
selesai dikhitan.

ia cantik, aku menginginkannya, bisikmu, sepulang dari
bermain bola, sore berikutnya. dan yang kutahu, kamu
bercinta dengan perempuan itu. tapi tidak kumasukkan,
katamu. aku kaget. jadi memang ada orang bercinta yang
tidak dengan memasukkan kelamin laki-laki ke kelamin
perempuan. ia takut dosa, dan kasihan padaku,
sambungmu. aku semakin kaget dan tidak mengerti.

dua tahun kemudian, kabar kematian suaminya datang.
kamu bersorak girang, tapi segera bersedih, sebab ia
harus pergi entah kemana. ia tetap tidak mau
bersetubuh yang sesungguhnya, dan kamu menangis
meminta. tapi berkali-kali ia mengejang, pertanda
kenikmatan luar biasa menyerangnya. dan sperma mudamu,
nyaris tak keluar lagi, sebab muncrat berkali-kali.

kamu semakin sedih, sebab melekat di ingatanmu, lewat
lembut suara, pelajaran bercinta, dan basah tubuhnya.

di tepi kali pinggiran desa, sebuah jembatan panjang
di atasnya--tempat pertama yang dikenang jika pergi
lama dari desa--kau tulis sebuah nama, entah nama
siap, bukan namanya. kutahu kemudian, kaujeritkan nama
yang ia pinta, setiap kali sperma mudamu muncrat
bersama tubuh mengejangnya.

lalu anak camat itu, putih sekali. ia selalu bicara
dalam bahasa yang aneh, mungkin karena di rumahnya ada
banyak buku dan koran dan televisinya sudah berwarna.
lalu kita pura-pura ingin menonton tv. ia duduk sambil
memegang buku, lalu kau tebar beberapa kata, tentang
buku yang dipegangnya. ayah ibunya sedang tak ada. aku
tetap menonton tv, dan kau masuk kamar bersamanya,
main catur dan berciuman.

lalu yang ketiga dan seterusnya. kusulut sebatang
rokok, berpindah pada ingatan lainnya.


#14: petabuta

beradu kelingking, saling meminjami kecemasan dan
kekuasaan. setiap sore, sebab itulah pagar waktu masa
kecil, dan malam adalah ujian dari setiap kecemasan.
jika keinginan untuk bertemu menggila, sebab ada
kegilaan yang harus dipertautkan, jika tidak, malam
menjadi semakin gerah, esoknya segala kelaknatan
berlipat-lipat, menggunung, tak terkendali. cukup
berbahaya, bukan? meledakkan petasan di pantat musuh,
misalnya.

engkaulah si pembagi layang-layang. jika ada kerajaan
yang kau cengkeram, maka selain menguasai banyak pohon
besar, engkau selalu memilih tanah lapang. tanah
lapang adalah medan perang, di sana, silih berganti
peperangan. tapi engkau selalu berkuasa atas bola atau
benang dan layang-layang.

beri kesempatan berkali-kali bagi para pecundang. beri
layang-layang setiap kali layang-layangmu menunjukkan
kedigdayaannya. beri lagi layang-layang pada setiap
musuh yang kalah, sampai bosan, sampai kemudian mereka
bisa mengatakan pada diri mereka sendiri, bahwa mereka
semua pecundang, dan lebih baik pulang menonton film
kartun di rumah-rumah gedong mereka, atau belajar
matematika. inilah udara segar kemenangan, yang tak
sesungguhnya menang. beri layang-layang, beri
lagi....sampai bosan!

terlalu banyak melihat awang-awang yang panas
menyilaukan, mata kecilmu adalah mata kanak yang
sepertinya selalu ingin menghindar. mata kanak yang
sangat berani pada malam, sebab setiap siang meminjami
banyak kemenangan. mata kanak, yang kelak kemudian
menggetarkan banyak perempuan.

tapi dari kecil dulu, engkau tak pernah
tanggung-tanggung. keberanianmu selalu merah, dan
lubuk sungai itu membuktikannya.

akulah si perenang, yang bisa menggigit dua ekor ikan
setiap kali menyelam. lalu aku tahu, engkau harus bisa
berenang, sebab memburu burung bukanlah garis
tanganmu. dan pertama kali, kau harus teruji untuk
memakan udang hidup-hidup yang harus kau cari sendiri
di sela-sela bebatuan. kau bisa mendapatkan dan kau
tak muntah, tiga bahkan. ada harapan!

sampai sekarang, engkau tak bisa lagi memakan udang,
engkau telah membayar mahal dan layak mendapatkan.
hingga laut utara pun berkali-kali mengujimu. tapi
rupanya ketakutan yang bersemayam dengan puak di hati
setiap manusia mampu kau olah, menjelma karang-karang
dan ombak pasang.

aku beralih pada ingatan selanjutnya, kunyalakan lagu,
kunyalakan rokok, kunyalakan napas. sebab masih ada
tahun-tahun yang layak untuk ingatanku kepadamu,
sungguh.


#15, lagi-lagi ttg hujan

pada saat tubuh kita kuyup oleh hujan yang lembut.
malam membekap dengan selimut hitamnya yang pekat,
sangat pekat. sesungguhnya pada apakah kita bisa
menyandarkan segala kelelahan? dan engkau tidak juga
terlihat lelah, tapi aku tahu, sebab segala isi tulang
belakang dan bau sumsummu aku tahu, ada kelelahan yang
serupa dengan warna pastel tembok rumahmu yang
mendekam dalam tingkat kepadatan tinggi di otakmu.
tapi engkau terus menerus maju untuk berperang dan
melawan. seakan ada ketentraman berwarna biru laut di
ujung sana yang senantiasa engkau kejar dengan derajat
berontak tinggi. seakan ada yang siap untuk
terus-menerus kau tikam dari liarnya dadamu yang
selalu terhunus. aku di depanmu, mengendarai kuda
fiksi yang terus kita pacu, pengejaran abadi atas
badai yang harus segera ditaklukkan. engkau berteriak,
menggertak segala cuaca juga terus-menerus membabi
buta mengayunkan pedang fiksimu. mati lagi, mati lagi,
musuh-musuh terbantai, mengeluarkan suara-suara
kekalahan yang membosankan.

tapi aku mencintaimu, lebih dari yang bisa kuucapkan
dan kubuktikan untuk terus bersamamu. keringatmu yang
panas selalu menebar gairah lain tentang perjalanan
ini. dekapmu lebih dari vitamin-vitamin dan
tonikum-tonikum lain, memberi lebih banyak kekuatan.
seperti disuntikkan dari pusar bumi.

hingga suatu saat aku tangkap jerit sakitmu dalam
volume tinggi, ketika itu aku sudah pada tahun kedua
di tenggaraku. engkau menghadapi hidup serumit
kalkulus. mengidentifikasi bahwa ada negara dan arus
modal yang menerkammu dari segala arah. membagi habis
seluruh tubuh dan fiksimu dalam bilangan-bilangan
prima dan segitiga-segitiga retak. sudut-sudutnya tak
terjangkau lagi, tak teraba lagi. engkau menemukan
sebuah musuh yang mulai bisa menanamkan kepercayaan
pada otakmu: bahwa engkau akan kalah!

tapi benarkah seperti itu? inilah tahun-tahun yang
sangat mencekam........

*diambil dari milis bumimanusia
**Puthut EA, seorang penulis muda dari Yogyakarta, buku cerpennya sudah beredar "Kitab Yang Tak Suci", editor on/off

Tidak ada komentar: