Dan bumi masih menangis
Dan bumi masih menangis,
sang empu telah hilang akal
Rantai-rantai kepala tidur terpasung
Tanah masih retak dan kering
Semua meratap di liang kuburnya
Dan benalu-benalu tak pernah mati
Meranggas di tiap nafas.
Barisan manusia bertambah di depan pintu nasib
Kami telah lebih buas dari binatang
Gambaran dari wajah Mu kah?
(selamat datang saudaraku (600.000 orang telah kembali) mari bergabung bersama kami
dalam parade jutaan pengangguran)
05 Agustus 2002
Parade Puisi di Kamar Remang
(celoteh dinding II)
Desahmu, nikmatku
Hidup di desa damai, di kamar ini surga
Sampai kapan aku harus begini………
Aku tak mau dimadu, ku tunggu dudamu
Ibu aku salah, maafkan aku
Badanku milikmu, kantongmu aku yang punya
Bang Joni jangan lupakan aku
Semua lelaki sama, hanya jujur di ranjang
Sungguh indah janjimu, perawanku kau renggut
Jangan pernah berharap cintaku, aku milik semua
Anakku, jangan pernah ikuti ibumu
Turunkan sewa kamar, naikkan tarif perjam
Goyang dombreeetttt……..
Sesama sundal dilarang saling memotong
Jaga langganan, beri goyangan terbaik
Jangan lupakan kami kaum TERTINDIH
Hidup Soekarno, hidup Soendal!!!
Bahasa yang sama hanya di ranjang, desah……
Satu hati satu rasa , sama-sama enak tenaaaann…
Hanya satu kata, LELAKI ITU BABI!!
(celoteh dinding II)
Desahmu, nikmatku
Hidup di desa damai, di kamar ini surga
Sampai kapan aku harus begini………
Aku tak mau dimadu, ku tunggu dudamu
Ibu aku salah, maafkan aku
Badanku milikmu, kantongmu aku yang punya
Bang Joni jangan lupakan aku
Semua lelaki sama, hanya jujur di ranjang
Sungguh indah janjimu, perawanku kau renggut
Jangan pernah berharap cintaku, aku milik semua
Anakku, jangan pernah ikuti ibumu
Turunkan sewa kamar, naikkan tarif perjam
Goyang dombreeetttt……..
Sesama sundal dilarang saling memotong
Jaga langganan, beri goyangan terbaik
Jangan lupakan kami kaum TERTINDIH
Hidup Soekarno, hidup Soendal!!!
Bahasa yang sama hanya di ranjang, desah……
Satu hati satu rasa , sama-sama enak tenaaaann…
Hanya satu kata, LELAKI ITU BABI!!
Parade puisi di Toilet
(celoteh di dinding)
Apa yang telah kau ucap jangan dikecap
Oh…Jane I love U
Jangan lupa kirimkan kabarmu, batin ini takkan lupa
Indahnya tubuhmu, sungguh palsu janjimu
Deritamu, deritaku
Bilakah suatu hari kita akan bertemu?
Setinggi-tingginya burung terbang akhirnya ke toilet juga
Reformasi mandul, Amien masturbasi
Jangan beri kami janji, tapi mimpi
Jangan buang pembalut sembarangan
Mega, perut kami sudah terlalu sering mules, kami lapar
Mulutmu bau, seperti kotoranmu
Besar kecil Rp. 500,-
Dilarang ONANI, apalagi korupsi
Setelah dipakai, jangan lupa membersihkan
Jaga kebersihan, demi kemakmuran bersama
Turunkan harga barang, tinja kami terlalu keras
(celoteh di dinding)
Apa yang telah kau ucap jangan dikecap
Oh…Jane I love U
Jangan lupa kirimkan kabarmu, batin ini takkan lupa
Indahnya tubuhmu, sungguh palsu janjimu
Deritamu, deritaku
Bilakah suatu hari kita akan bertemu?
Setinggi-tingginya burung terbang akhirnya ke toilet juga
Reformasi mandul, Amien masturbasi
Jangan beri kami janji, tapi mimpi
Jangan buang pembalut sembarangan
Mega, perut kami sudah terlalu sering mules, kami lapar
Mulutmu bau, seperti kotoranmu
Besar kecil Rp. 500,-
Dilarang ONANI, apalagi korupsi
Setelah dipakai, jangan lupa membersihkan
Jaga kebersihan, demi kemakmuran bersama
Turunkan harga barang, tinja kami terlalu keras
Kau memikirkanku?
Selama aku menatapnya, senyum itu masih bergayutan di bibir.
“Kau memikirkan ku?”
Dia menatap, seperti semula aku menjumpai dan menyapa, hanya tersenyum.
Kali ini aku tidak menanti senyuman, tapi kata yang terkuak dari bibirnya.
“Bukan….. Dia “, kata itu tertahan. Kau menggigit pelan bibirmu.
“Begitu berartikah dia, hingga kau tak putus tersenyum”
Dia gugup, disibakkan anak rambutnya. Jari mungilnya usap bibir yang basah. Sedikit ragu dia menatapku pelan, hanya dengan sudut mata. Kembali tertunduk.
Aku mendesah panjang. Menghadapi keheningan aku jadi gila.
“Terserah kamu. Kalau itu yang terbaik, aku tak memaksa mu”
Aku berlalu. Gadisku diam menatap langkahku, menjauh. Tak ada panggilan yang kuharap, walau itu sayup-sayup.
Sudah tiga bulan aku tinggalkan desaku, jalan yang berdebu.
Kakiku menapak ditanah,perjalananku tiba dari kota. Aku menatap pohon nangka itu, ada kerinduan.
Apa kabar gadisku?
Disudut yang sedikit tertutup, masih dengan rambut yang dikepang dan anak rambut yang jatuh, aku mengenal pemiliknya.
Tersenyum di pojok teras depan, dikursi rotan tua.
“Kau memikirkan ku?” sapaku dengan kerinduan.
Tak berubah, bibirnya masih disitu, sedikit terbuka. Hanya tersenyum.
“Bukan…..Dia”. Kali ini bibirnya tak lagi basah dan merah. Mengering dijilat angin.
“Dia siapa?” aku menatapnya lekat.
”Dia yang tersenyum pada suatu malam”, senyumannya memastikan sebuah ketakjuban.
Aku cemburu. Kaki ku gemetar dan tanganku terkepal.
“Apa yang tidak aku ketahui tentangnya?” nada suaraku sedikit meninggi.
“Sebuah janji yang pasti. Tidak diucapkan. Karena dia tak berkata-kata. Hanya tersenyum.”. Dia berucap pelan, tak terusik marahku. Matanya menatap langit, memeluk hangat.
“Apa janjiku bukan kepastian. Perantauanku demi kita. Aku akan menikahimu secepatnya”, aku mengikatnya dengan kata.
“Tak mungkin. Dia telah memilihku, aku mempelai wanitanya. “ gadisku menatap tajam.
“Sehebat apa dia hingga bisa mengikatmu” aku balas menatap tajam, mencari kebenaran pada matanya yang membesar.
“Dia yang sanggup memberi malam dan siang”
“Pertemukan aku dengan dia “
“Jangan kau cari dia. Dia tidak kemana-mana” ejek nya
Aku bangkit beranjak. Batinku terusik.
Sebelum aku melangkah jauh aku bertanya “Sehebat apa dia? Lebih menarikkah dari aku?”
“Dia lebih menarik dari mu. Sangat tampan”. Ada sebuah kebanggaan diujung ucapannya.
Pekerjaan menyebabkan aku hanya mampir untuk beberapa saat. Ekspedisi barang antar pulau yang memakan waktu berbulan-bulan. Tak selalu pasti yang dituju, sesuai dengan keinginan Babah Acong. Tapi aku masih memikirkan mu, disetiap perhentianku, bayangmu tameng godaan dari sundal-sundal instan. Aku harus meminta ijin untuk cuti beberapa lama, kembali ke desaku. Desa yang tandus, yang dipenuhi oleh wanita dan anak kecil. Para pria pergi merantau untuk mengasapi dapurnya.
Kali ini aku tak menjumpainya di teras depan. Rumahnya seperti tak berpenghuni, tak ada yang menjawab.
Pada wanita yang menjinjing ember aku bertanya keberadaan gadisku. Gadis yang akhir-akhir ini selalu tersenyum di teras depan rumah itu. Dia menujuk ke ujung sana, dibalik bukit.
Aku berlari. Segunung rindu akan meletus. Apa kabar gadisku?
Di balik bukit, ditepi sungai aku menatapmu. Punggungmu putih terbuka, kakimu yang indah dijilati air yang mengalir. Impian banyak pria pada lekuk yang semakin jelas dibalik kain tipis basah pembalut tubuhmu. Ingin aku memelukmu dan memagut dadamu yang bulat. Siapa yang berani marah, karena kau memang calon istriku. Semua orang tau tentang hubungan kita. Tapi yang ku takutkan justru kamu, kau menolak setiap aku ingin melumat bibirmu. Katamu kesucian indah dimalam pertama.
“Apa kabar gadisku?” aku menyapa.
Dia berbalik, terkejut. Segera diselesaikannya ritual mandi.
“Aku bukan gadismu lagi. Itu sudah aku katakan dulu” katanya ketus berlalu tinggalkanku, membawa perlengkapan mandinya.
Kegembiraan ku mencair. Rinduku menguap pada didih amarahku. Hasratku melayang jauh.
Pada ibuku aku bertanya tentang kelakuan gadisku. Dia diam. Tangannya sibuk menyumpal ranting kering, mulutnya meniup bara api. Asap perapian menyesakkan mengalahkan isi dadaku yang telah terburai.
“Bu, semua tahu dia milikku. Pemuda mana yang berani mendekatinya?” tanyaku
Ibuku menatap, sedikit termangu, susah berucap. Dia menghampiri, duduk disamping. Sambil membetulkan letak kainnya.
“Sudahlah. Dia bukan milik mu lagi “ nafasnya berat, ada nada sayang milik seorang ibu.
“Siapa pemuda itu?” tanyaku menyelidik penasaran
“Kau sudah mengenalnya. Yang datang pada malam dan memberi mimpi. Gadismu hamil” ucap ibu pelan.
Aku tercengang, bibirku berat.
“Sayang bayinya gugur. Tapi itu sudah ditakdirkan. Dan pada kuburannya mengalir kembali kesuburan desa. Tidakkah kau lihat, padi sudah hijau, cabai mulai memerah, bunga kol mengeluarkan wanginya.” Ibuku tersenyum, sebuah kerinduan yang berabad-abad.
“Bukankah itu zinah?” aku coba mengetuk mata keberadaban ibu.
“Sungguh kemuliaan yang ada pada gadismu diantara gadis yang lain. Zinah melekat pada kemolekan tubuh mereka, pada dada yang ranum terpaksa, pada bibir yang merah oleh pagutan kekasihnya. Pada bokong yang rata, serata peraduan oleh tubuh yang menghimpit. Pada vagina yang kosong ” ibu sedikit berang oleh gugatanku.
“Kemana akan kucari pemuda itu?” ucapku tak tertahan
“Jangan kau cari. Dia tidak pernah pergi ke mana-mana”
“Apakah dia lebih tampan dariku?”
“Ya. Dia maha tampan”
“Seperti apa dia?”
“Kau tercipta segambar denganNya. Dan Dia pencemburu”
Tubuhku lunglai tak bertungkai.
Selama aku menatapnya, senyum itu masih bergayutan di bibir.
“Kau memikirkan ku?”
Dia menatap, seperti semula aku menjumpai dan menyapa, hanya tersenyum.
Kali ini aku tidak menanti senyuman, tapi kata yang terkuak dari bibirnya.
“Bukan….. Dia “, kata itu tertahan. Kau menggigit pelan bibirmu.
“Begitu berartikah dia, hingga kau tak putus tersenyum”
Dia gugup, disibakkan anak rambutnya. Jari mungilnya usap bibir yang basah. Sedikit ragu dia menatapku pelan, hanya dengan sudut mata. Kembali tertunduk.
Aku mendesah panjang. Menghadapi keheningan aku jadi gila.
“Terserah kamu. Kalau itu yang terbaik, aku tak memaksa mu”
Aku berlalu. Gadisku diam menatap langkahku, menjauh. Tak ada panggilan yang kuharap, walau itu sayup-sayup.
Sudah tiga bulan aku tinggalkan desaku, jalan yang berdebu.
Kakiku menapak ditanah,perjalananku tiba dari kota. Aku menatap pohon nangka itu, ada kerinduan.
Apa kabar gadisku?
Disudut yang sedikit tertutup, masih dengan rambut yang dikepang dan anak rambut yang jatuh, aku mengenal pemiliknya.
Tersenyum di pojok teras depan, dikursi rotan tua.
“Kau memikirkan ku?” sapaku dengan kerinduan.
Tak berubah, bibirnya masih disitu, sedikit terbuka. Hanya tersenyum.
“Bukan…..Dia”. Kali ini bibirnya tak lagi basah dan merah. Mengering dijilat angin.
“Dia siapa?” aku menatapnya lekat.
”Dia yang tersenyum pada suatu malam”, senyumannya memastikan sebuah ketakjuban.
Aku cemburu. Kaki ku gemetar dan tanganku terkepal.
“Apa yang tidak aku ketahui tentangnya?” nada suaraku sedikit meninggi.
“Sebuah janji yang pasti. Tidak diucapkan. Karena dia tak berkata-kata. Hanya tersenyum.”. Dia berucap pelan, tak terusik marahku. Matanya menatap langit, memeluk hangat.
“Apa janjiku bukan kepastian. Perantauanku demi kita. Aku akan menikahimu secepatnya”, aku mengikatnya dengan kata.
“Tak mungkin. Dia telah memilihku, aku mempelai wanitanya. “ gadisku menatap tajam.
“Sehebat apa dia hingga bisa mengikatmu” aku balas menatap tajam, mencari kebenaran pada matanya yang membesar.
“Dia yang sanggup memberi malam dan siang”
“Pertemukan aku dengan dia “
“Jangan kau cari dia. Dia tidak kemana-mana” ejek nya
Aku bangkit beranjak. Batinku terusik.
Sebelum aku melangkah jauh aku bertanya “Sehebat apa dia? Lebih menarikkah dari aku?”
“Dia lebih menarik dari mu. Sangat tampan”. Ada sebuah kebanggaan diujung ucapannya.
Pekerjaan menyebabkan aku hanya mampir untuk beberapa saat. Ekspedisi barang antar pulau yang memakan waktu berbulan-bulan. Tak selalu pasti yang dituju, sesuai dengan keinginan Babah Acong. Tapi aku masih memikirkan mu, disetiap perhentianku, bayangmu tameng godaan dari sundal-sundal instan. Aku harus meminta ijin untuk cuti beberapa lama, kembali ke desaku. Desa yang tandus, yang dipenuhi oleh wanita dan anak kecil. Para pria pergi merantau untuk mengasapi dapurnya.
Kali ini aku tak menjumpainya di teras depan. Rumahnya seperti tak berpenghuni, tak ada yang menjawab.
Pada wanita yang menjinjing ember aku bertanya keberadaan gadisku. Gadis yang akhir-akhir ini selalu tersenyum di teras depan rumah itu. Dia menujuk ke ujung sana, dibalik bukit.
Aku berlari. Segunung rindu akan meletus. Apa kabar gadisku?
Di balik bukit, ditepi sungai aku menatapmu. Punggungmu putih terbuka, kakimu yang indah dijilati air yang mengalir. Impian banyak pria pada lekuk yang semakin jelas dibalik kain tipis basah pembalut tubuhmu. Ingin aku memelukmu dan memagut dadamu yang bulat. Siapa yang berani marah, karena kau memang calon istriku. Semua orang tau tentang hubungan kita. Tapi yang ku takutkan justru kamu, kau menolak setiap aku ingin melumat bibirmu. Katamu kesucian indah dimalam pertama.
“Apa kabar gadisku?” aku menyapa.
Dia berbalik, terkejut. Segera diselesaikannya ritual mandi.
“Aku bukan gadismu lagi. Itu sudah aku katakan dulu” katanya ketus berlalu tinggalkanku, membawa perlengkapan mandinya.
Kegembiraan ku mencair. Rinduku menguap pada didih amarahku. Hasratku melayang jauh.
Pada ibuku aku bertanya tentang kelakuan gadisku. Dia diam. Tangannya sibuk menyumpal ranting kering, mulutnya meniup bara api. Asap perapian menyesakkan mengalahkan isi dadaku yang telah terburai.
“Bu, semua tahu dia milikku. Pemuda mana yang berani mendekatinya?” tanyaku
Ibuku menatap, sedikit termangu, susah berucap. Dia menghampiri, duduk disamping. Sambil membetulkan letak kainnya.
“Sudahlah. Dia bukan milik mu lagi “ nafasnya berat, ada nada sayang milik seorang ibu.
“Siapa pemuda itu?” tanyaku menyelidik penasaran
“Kau sudah mengenalnya. Yang datang pada malam dan memberi mimpi. Gadismu hamil” ucap ibu pelan.
Aku tercengang, bibirku berat.
“Sayang bayinya gugur. Tapi itu sudah ditakdirkan. Dan pada kuburannya mengalir kembali kesuburan desa. Tidakkah kau lihat, padi sudah hijau, cabai mulai memerah, bunga kol mengeluarkan wanginya.” Ibuku tersenyum, sebuah kerinduan yang berabad-abad.
“Bukankah itu zinah?” aku coba mengetuk mata keberadaban ibu.
“Sungguh kemuliaan yang ada pada gadismu diantara gadis yang lain. Zinah melekat pada kemolekan tubuh mereka, pada dada yang ranum terpaksa, pada bibir yang merah oleh pagutan kekasihnya. Pada bokong yang rata, serata peraduan oleh tubuh yang menghimpit. Pada vagina yang kosong ” ibu sedikit berang oleh gugatanku.
“Kemana akan kucari pemuda itu?” ucapku tak tertahan
“Jangan kau cari. Dia tidak pernah pergi ke mana-mana”
“Apakah dia lebih tampan dariku?”
“Ya. Dia maha tampan”
“Seperti apa dia?”
“Kau tercipta segambar denganNya. Dan Dia pencemburu”
Tubuhku lunglai tak bertungkai.
kuanyam luka ini
lorong lorong gelap yang mulai merasukiku
lihat .. gerimis membadai ..
dingin ..
aku kedinginan sayang, adakah sebentuk rangkul?
luka terlukai perih memerih ..
arakan awan hitam menggumpalkan benang mimpi,
ouch .. Jangan kau coba dekatkan resah padaku
panas ... panas sayang .. bantu aku melepas setiap lembar kulitku
kuanyam luka ini
tambahkan cuka merica sedikit lada ..
jahit jahit saja mulutku !!!!
pakai mesin obras atau gunakan laminating sekaligus ..
mungkin .. tak ada kata lagi yang bisa menusuk pilu
-nie-
lorong lorong gelap yang mulai merasukiku
lihat .. gerimis membadai ..
dingin ..
aku kedinginan sayang, adakah sebentuk rangkul?
luka terlukai perih memerih ..
arakan awan hitam menggumpalkan benang mimpi,
ouch .. Jangan kau coba dekatkan resah padaku
panas ... panas sayang .. bantu aku melepas setiap lembar kulitku
kuanyam luka ini
tambahkan cuka merica sedikit lada ..
jahit jahit saja mulutku !!!!
pakai mesin obras atau gunakan laminating sekaligus ..
mungkin .. tak ada kata lagi yang bisa menusuk pilu
-nie-
sepucuk surat untuk lelaki kecilku
-mengenangmu dalam kenangan-
usah kau biarkan hatimu meradang karena ucapanku,
kalau suatu hari aku akan pergi menembus cakrawala, sejenak melupakanmu .. itu bukan berarti aku tidak menyimpanmu dalam sudut-dudut pikiranku seperti ketika saat ini aku duduk di sampingmu dan mulai berceloteh tentang banyak hal
usah pula kau biarkan cerita ini terus berlanjut ketika aku mulai memalingkan wajahku dan mencegahmu mengikuti lariku .. bukan berarti aku tidak lagi perlu sederhanamu .. aku hanya tidak mau melihat luka di matamu ketika aku harus jatuh dan tergeletak kali ini
"aku masih lelaki kecilmu .. " itu katamu .. ya, kau masih lelaki kecilku yang kurasa tidak akan pernah dewasa, dan bukan aku tidak mengasihimu waktu kemarin kukatakan bahwa aku tidak punya lagi cukup kesabaran untuk mendewasakanmu.
kau tidak akan pernah mengerti kehidupanku sayang, karena jalanku bukan jalanmu .. dan kehidupan kita dipisahkan oleh begitu banyak perbedaan yang tak akan membuatmu mengerti aku .. dan itu bukan salahmu .. sebab itu akupun tidak pernah menyalahkan kamu kan?
"aku sedih kalau kau sedih .. " itu bisikmu di telingaku malam lalu, sayang .. apa yang kamu tau soal kesedihanku? apa yang kamu tau soal lara dan dukaku? sementara yang kulihat di mata teduhmu hanyalah kesederhanaan seorang lelaki kecil ..
dan Jika aku harus menghilang dari mata teduhmu, harus pergi menghindari gelak tawamu .. kutitipkan selembar puisi ini ..
jika malam datang dan kau lelah .. jika siang menyengat dan kau haus,
kenanglah aku dalam lembar hatimu ..
sekali lagi kukatakan, bukan salahmu .. kau berikan yang terbaik, tapi itu tidak cukup untukku :)
dan kau akan mati menggenaskan jika harus kupaksa berlari denganku,
dan akupun akan tercabik2 jika harus berjalan disisimu
Diluar sana api membadai. Aliran waktu begitu menggemuruh.
tetaplah tinggal di kediamanmu lelakiku ..
duniaku tak pantas kau masuki sekarang .. kau akan terluka ..
kembalilah waktu kau dewasa .. dan kuharap saat itu aku belum mati karena usia
-nie-
-mengenangmu dalam kenangan-
usah kau biarkan hatimu meradang karena ucapanku,
kalau suatu hari aku akan pergi menembus cakrawala, sejenak melupakanmu .. itu bukan berarti aku tidak menyimpanmu dalam sudut-dudut pikiranku seperti ketika saat ini aku duduk di sampingmu dan mulai berceloteh tentang banyak hal
usah pula kau biarkan cerita ini terus berlanjut ketika aku mulai memalingkan wajahku dan mencegahmu mengikuti lariku .. bukan berarti aku tidak lagi perlu sederhanamu .. aku hanya tidak mau melihat luka di matamu ketika aku harus jatuh dan tergeletak kali ini
"aku masih lelaki kecilmu .. " itu katamu .. ya, kau masih lelaki kecilku yang kurasa tidak akan pernah dewasa, dan bukan aku tidak mengasihimu waktu kemarin kukatakan bahwa aku tidak punya lagi cukup kesabaran untuk mendewasakanmu.
kau tidak akan pernah mengerti kehidupanku sayang, karena jalanku bukan jalanmu .. dan kehidupan kita dipisahkan oleh begitu banyak perbedaan yang tak akan membuatmu mengerti aku .. dan itu bukan salahmu .. sebab itu akupun tidak pernah menyalahkan kamu kan?
"aku sedih kalau kau sedih .. " itu bisikmu di telingaku malam lalu, sayang .. apa yang kamu tau soal kesedihanku? apa yang kamu tau soal lara dan dukaku? sementara yang kulihat di mata teduhmu hanyalah kesederhanaan seorang lelaki kecil ..
dan Jika aku harus menghilang dari mata teduhmu, harus pergi menghindari gelak tawamu .. kutitipkan selembar puisi ini ..
jika malam datang dan kau lelah .. jika siang menyengat dan kau haus,
kenanglah aku dalam lembar hatimu ..
sekali lagi kukatakan, bukan salahmu .. kau berikan yang terbaik, tapi itu tidak cukup untukku :)
dan kau akan mati menggenaskan jika harus kupaksa berlari denganku,
dan akupun akan tercabik2 jika harus berjalan disisimu
Diluar sana api membadai. Aliran waktu begitu menggemuruh.
tetaplah tinggal di kediamanmu lelakiku ..
duniaku tak pantas kau masuki sekarang .. kau akan terluka ..
kembalilah waktu kau dewasa .. dan kuharap saat itu aku belum mati karena usia
-nie-
kukirim sekeranjang senyum untuk merendai malammu
ada lubang di tengah rindu yang entah bagaimana tiba-tiba merasuki ujung lidahku
aku bingung membaca angin ..
mengapa harus ada derai di permulaan langkah?
kutitip pesan pada jatuhan daun ..
adakah tanya yang tersampaikan ke gendang telingamu?
suatu resah di hati berdoa kau suka akan kasih yang kuuntai menjadi sebuah kalung untukmu
rindukah yang tependam dibalik kepedihanmu tadi malam?
jangan .. jangan janjikan arah untukku ..
bebaskan saja kamu, aku dan degup yang terpenjara oleh luka
kukirim sekeranjang senyum .. untuk malam .. di tengah kerlip bintang dikotamu ..
sampaikah?
-nie-
ada lubang di tengah rindu yang entah bagaimana tiba-tiba merasuki ujung lidahku
aku bingung membaca angin ..
mengapa harus ada derai di permulaan langkah?
kutitip pesan pada jatuhan daun ..
adakah tanya yang tersampaikan ke gendang telingamu?
suatu resah di hati berdoa kau suka akan kasih yang kuuntai menjadi sebuah kalung untukmu
rindukah yang tependam dibalik kepedihanmu tadi malam?
jangan .. jangan janjikan arah untukku ..
bebaskan saja kamu, aku dan degup yang terpenjara oleh luka
kukirim sekeranjang senyum .. untuk malam .. di tengah kerlip bintang dikotamu ..
sampaikah?
-nie-
04 Agustus 2002
aku akan terus menulis kisah,
dan jika harus ada yang disalahkan .. salahkan saja nasib yang mengaduk kita dalam bola waktu dan menimbuni kita dalam butiran-butirannya.
aku akan terus menulis kisah,
walau barangkali, ada yang tak suka melihat kataku yang kuhamburkan mencerca bintang
tapi seperti yang pernah kita sadari, tak ada yang tau pasti tentang segala sesuatunya
aku akan terus menulis kisah,
dan kalian akan sesekali (terpaksa?) membacanya ..
membaca tanganku yang gemetar, membaca suaraku yang kaku kelu, membaca langkahku, membaca goresan perasaan yang tertuang dalam kalimat yang ada di depan mata kalian.
aku akan terus menulis kisahi,
biarpun tak ada harapan .. dan yang tercium hanyalah bau bangkai tersia-sia..
semoga aku bisa jadi bathseba untuk setiap david
aku akan terus menulis kisah,
sebagai himne yang menemani perjalanan hidup kalian ..
seperti nyanyian odiseus mencari pembebasan,
meski bukan berarti tak bisa hidup tanpa kata,
tapi satu kebahagiaanku bisa menyatu dengannya
aku akan terus menulis kisah,
seperti angin yang berhembus tak kenal musim ..
seperti cahaya yang memberi bentuk ..
sebab kesabaran adalah kuasaku
dan seribu tahun sia sia menggodaku
-nie-
[Inspired by: B.Takwin]
dan jika harus ada yang disalahkan .. salahkan saja nasib yang mengaduk kita dalam bola waktu dan menimbuni kita dalam butiran-butirannya.
aku akan terus menulis kisah,
walau barangkali, ada yang tak suka melihat kataku yang kuhamburkan mencerca bintang
tapi seperti yang pernah kita sadari, tak ada yang tau pasti tentang segala sesuatunya
aku akan terus menulis kisah,
dan kalian akan sesekali (terpaksa?) membacanya ..
membaca tanganku yang gemetar, membaca suaraku yang kaku kelu, membaca langkahku, membaca goresan perasaan yang tertuang dalam kalimat yang ada di depan mata kalian.
aku akan terus menulis kisahi,
biarpun tak ada harapan .. dan yang tercium hanyalah bau bangkai tersia-sia..
semoga aku bisa jadi bathseba untuk setiap david
aku akan terus menulis kisah,
sebagai himne yang menemani perjalanan hidup kalian ..
seperti nyanyian odiseus mencari pembebasan,
meski bukan berarti tak bisa hidup tanpa kata,
tapi satu kebahagiaanku bisa menyatu dengannya
aku akan terus menulis kisah,
seperti angin yang berhembus tak kenal musim ..
seperti cahaya yang memberi bentuk ..
sebab kesabaran adalah kuasaku
dan seribu tahun sia sia menggodaku
-nie-
[Inspired by: B.Takwin]
hahaha .. jadi kamu menulis tentang cinta, sepi, gelap, kematian dan kiamat ??
dengar .. dengar aku ..
cinta hanyalah racun yang diucapkan beribu-ribu mulut untuk membasuh otakmu.
cinta hanyalah panah-panah api yang disasarkan pada hati kita untuk kembali merobek-robek sisa sisa harga diri kita
tak semua orang dilahirkan beruntung ..
dan untuk sebagian dari kita yang dilahirkan oleh gelap, bersahabatkan sepi .. dan berselimutkan malam .. kenapa harus takut menyonsong kematian saat kiamat tiba?
benarkah kita masih hidup?
atau kita saja yang tidak sadar bahwa kita telah lama mati?
-nie-
dengar .. dengar aku ..
cinta hanyalah racun yang diucapkan beribu-ribu mulut untuk membasuh otakmu.
cinta hanyalah panah-panah api yang disasarkan pada hati kita untuk kembali merobek-robek sisa sisa harga diri kita
tak semua orang dilahirkan beruntung ..
dan untuk sebagian dari kita yang dilahirkan oleh gelap, bersahabatkan sepi .. dan berselimutkan malam .. kenapa harus takut menyonsong kematian saat kiamat tiba?
benarkah kita masih hidup?
atau kita saja yang tidak sadar bahwa kita telah lama mati?
-nie-
Langganan:
Postingan (Atom)