PEREMPUAN YANG SELALU MENGIRIMIKU HUJAN
Oleh : Puthut E.A.
“ Setiap kali engkau mencium bau bunga melati, dan tiba-tiba udara menjadi sangat dingin, lalu bulu kudukmu meremang, segala ruang yang kau tempati pasti akan sunyi, saat seperti itulah, sayang, telah kukirim kepadamu hujan. Dari bunyi jatuhnya air, engkau tahu, bahwa itu bukan sembarang hujan. Lebih menyerupai musik yang menyayat hati. Hujan yang senantiasa kukirim kepadamu, adalah hujan dari ketidakpastian. Sehingga aku memutuskan untuk pergi masuk ke jantung angin. Kalau engkau cukup terganggu dengan itu, maafkanlah aku.”
***
Perang belum juga usai. Sementara sekujur tubuhku terus dibiasakan dengan sekerat roti, tidur yang hanya beberapa jam, briefing yang lama dengan peta dan penempatan pasukan serta tembakan yang membabi buta. Membersihkan senapan sembari menghisap cerutu, mencuri kambing, ayam atau babi milik penduduk sedemikian menyatu dalam hisapan nafasku. Perang tak juga usai. Kematian demi kematian, baik dari pihak musuh maupun anggota pasukan kami terus saja terjadi. Menambah daftar panjang mimpi-mimpi buruk ketika terlelap hanya dalam beberapa jam.
Terkadang aku sempat berpikir mengapa harus ada sesuatu yang dipertaruhkan dengan nyawa. Dengan kehidupan yang mungkin hanya sekali terjadi. Begitu mahalkah sebuah keyakinan? Sesuatu yang patut juga diragukan, apakah itu hanya cekokan yang dilakukan terus-menerus sehingga menggumpal, berkristal, dan kita bersiap sedia melakukan apa saja demi keyakinan yang patut dibela mati-matian. Lagu-lagu patriotisme, kejantanan, keberanian terus digelorakan sebagai tonikum yang senantiasa memompa semangat berperang kami. Semangat untuk memusnahkan yang lain.
Pasukan kami tinggal setengah dari jumlah ketika diberangkatkan dan dilepas oleh Jendral Besar kami. Aku adalah anggota yang paling muda, sekaligus juga anggota yang paling minim pengalaman tentang perang. Dan sejujurnya mungkin aku adalah orang yang paling penakut di antara anggota pasukan kami. Sesungguhnya aku malu untuk mengatakan, bahwa selama tujuh kali kami berhadapan dengan pihak musuh, tak seorangpun yang berhasil kulukai.
Tetapi bukan berarti aku adalah orang yang dipandang sebelah mata oleh anggota pasukan yang lain, sebab aku mempunyai beberapa kelebihan yang mereka butuhkan. pertama, aku mempunyai keahlian membaca peta. Kedua, secara kebetulan aku pernah belajar ilmu medis, walaupun di pasukan kami ada dua pakar medis, tetapi itu jauh dari mencukupi. Dan yang ketiga, aku pandai memainkan harmonika.
Sejak kecil memang cita-citaku ingin menjadi tentara, tetapi bukan menjadi seorang pembunuh. Bagiku yang menarik dari tentara adalah seragamnya. Itu saja! Entah mengapa hanya seragam tentaralah yang menghipnotis seluruh pikiranku ketika aku tahu betapa tidak mungkinnya aku mempunyai sayap seperti yang digambarkan pada malaikat.
Ternyata kenyataan menyeretku lebih jauh ketika aku berhasil menjadi seorang tentara: perang!
Apa yang menarik dari sebuah peperangan? Bagiku bermain catur atau petak umpet lebih menggairahkan. Di dunia ini sesuatu yang kalah dan menang memang menjadi warna kehidupan yang sangat dibutuhkan. Namun bukan berarti harus berakhir dengan tidak bisa memainkan kembali permainan itu jika kita kalah. Itulah bedanya perang dengan permainan catur maupun petak umpet. Jika kita kalah bermain catur atau kalah bermain petak umpet, kita bisa mencoba dan mencoba lagi untuk kemudian menang. Tetapi jika perang? Sekali kita mati terbunuh, kita tidak bisa lagi memainkannya. Jika ada anggota pasukan kita yang akan terus memainkannya, itu lain soal. Kita yang mati, tidak bisa menikmatinya. Aku memang tentara yang brengsek, tetapi bukan berarti aku manusia yang brengsek.
***
Ini adalah hari ke-empatpuluh lima, artinya kami tinggal punya waktu sepuluh hari lagi untuk menghancurkan pasukan musuh. Kabar terakhir, pihak pusat telah mengirim satu regu pasukan elit untuk menambah kekuatan kami. Dan aku tidak peduli. Satu batalyon pun yang akan dikirim untuk membantu kami, itu tidak membuatku semakin bersemangat untuk memenangkan pertempuran.
Hari ini aku mendapat perintah bersama duapuluh anggota pasukan yang lain untuk melakukan operasi pembersihan di sebuah perkampungan yang diduga selalu menyuplai bahan makanan bagi pasukan musuh. Yang itu artinya kami juga harus membawa—lebih tepatnya merampas—bahan makanan dari perkampungan tersebut. Sialnya, dalam operasi kecil ini, akulah yang ditunjuk sebagai pimpinan operasinya. Bagi anggota lain yang ditugaskan dalam misi ini tentu merupakan sebuah anugerah; sebuah kesempatan untuk melampiaskan nafsu seks mereka.
Malam ini, seusai memimpin rapat operasi yang akan kami jalankan esok fajar, aku berbaring mencoba tidur. Begitu sulit. Hanya sebentar terlelap dan aku bermimpi mendapat sepasang sayap untuk terbang.
***
Perkampungan itu kurang lebih terdiri dari limapuluh rumah. Seperti serigala kelaparan kami datang dengan semangat kelaparan, haus darah. Keberingasan yang terbawa dari sesuatu yang telah lama menumpuk, menggumpal dan mengkristal. Jalang tak terkendali. Sesungguhnya saat-saat seperti ini kepemimpinan tidak begitu banyak berfungsi.
Seluruh penduduk kami kumpulkan di sebuah tempat yang agak lapang. Pukulan, tendangan, umpatan dan tembakan gertakan ke udara menjadi musik pengiringnya. Wajah dan tubuh mereka menyatu dengan tanah. Beberapa di antaranya memandang kami dengan keberanian. Sorot matanya menyimpan kebencian yang sedemikian puak. Orang-orang dengan sorot tajam seperti inilah yang paling banyak mendapat siksaan.
Tiba-tiba ada sesuatu di dalam diriku yang membuatku beranjak menuju ke sebuah rumah. Ternyata benar, di dalamnya seorang perempuan sedang berontak terhadap salah seorang anggota kami yang hendak memperkosanya. Dengan perasaan tak karuan aku seret laki-laki itu, dan kuperingatkan bahwa akulah pemimpin mereka saat ini. Ia memandangku dengan kemarahan yang memerah bersama berahi yang tak terlampiaskan. Ia berusaha mencoba melampiaskan kemarahannya dengan sebuah tamparan di muka wanita itu. Namun sebelum terjadi, dengan cepat kutangkap tangannya dan kutodongkan senapanku persis pada jidatnya. Lalu aku suruh ia cepat menuju tanah lapang, dimana anggota pasukan yang lain berkumpul bersama penduduk di kampung ini.
Kudekati perempuan yang menggigil itu. Ia cepat beringsut sambil menutupi bagian dadanya yang robek-robek. Kuambil sebuah gaun yang ada di kursi lalu kulemparkan ke arahnya. Entah mengapa ketika kupandang wajahnya, terlintas mimpiku semalam tentang sepasang sayap. “Pergilah kemanapun engkau mau!” Lalu kutinggalkan dia dengan tetap membawa bayangan yang berganti-ganti antara paras perempuan itu dan sepasang sayap dalam mimpiku.
Aku segera menuju ke tanah lapang dimana para penduduk berkumpul dengan kepungan para anggota yang kupimpin untuk melaksanakan operasi ini. Namun, ya Tuhan, sesampai di sana, aku sudah mendapatkan banyak orang yang ditusuk dengan sangkur dan beberapa anggota pasukan yang lain sedang menindih perempuan-perempuan dengan tak memperdulikan keadaan sekelilingnya.
Aku berteriak sekuat tenaga, sambil menembak membabi buta ke arah udara. Dunia berubah menjadi hitam dan berkelebat bayang-bayang sepasang sayap yang sobek tercabik-cabik.
***
Aku dikeluarkan dari dinas militer dengan tidak terhormat, dipulangkan dan dinyatakan mengidap penyakit gangguan jiwa. Kini aku tinggal di sebuah pedesaan tempat kelahiranku dulu. Setiap hari kerjaku hanyalah menanam dan merawat bunga. Sesekali membantu ayahku di perkebunan kopinya atau menghabiskan waktu berjam-jam untuk memberi makan ikan di empang.
Keluargaku menjauhkanku dari koran, televisi, radio maupun perbincangan yang mengarah pada satu hal: perang! Namun mereka tidak bisa menguasai mimpi-mimpiku tentang perang, perempuan-perempuan yang diperkosa, perempuan yang kusuruh pergi ataupun sepasang sayap yang robek tercabik-cabik.
Satu lagi yang kemudian sering menggangguku, aku merasa perempuan yang kusuruh pergi itu telah meninggalkan tatapan mata yang semakin menggetarkan bersama tubuhnya yang menggigil. Sebuah tatapan di perbatasan antara kebencian dan rasa berterimakasih. Dan bayangan wajahnya sering muncul bukan hanya di mimpi, namun juga pada atap kamar, bunga-bunga, air empang dan lembah yang sering kupandang.
Entah mengapa pula akhir-akhir ini ia semakin kurasakan dekat sekali denganku, bersama angin yang membawa semerbak bunga melati yang kutanam, bersama bau bunga kopi dan genericik angin di empang. Sepertinya ia berusaha mengajakku bercakap-cakap, yang terkadang begitu mesra namun terkadang kurasakan sebagai sebuah gugatan. Awalnya aku berusaha menghindari itu dengan semakin memperbanyak minum obat penenang. Tetapi tetap saja ia mendekat, semakin mendekat dan bahkan hampir tiap malam mendatangiku lewat mimpi.
Akhirnya kuputuskan untuk menyapanya dalam mimpiku. Aku mencoba meminta maaf darinya, dan setiap kali itu kukatakan, tiba-tiba ia melenyap berganti sepasang sayap yang robek dan tercabik-cabik. Aku berusaha mengejarnya, mencarinya dalam mimpiku. Sedang yang kudapati adalah malam menjelang pagi dengan keringat di sekujur tubuhku.
Suatu saat dalam mimpiku, ia tersenyum sambil membentangkan tangannya dengan memakai gaun yang kulemparkan padanya. Ia seperti mengucapkan sesuatu. Namun aku tak dapat menangkap sepatah katapun. Jika aku berusaha mendekatinya untuk mendengar apa yang ia katakan, ia menjauh sambil memberi isyarat supaya aku tidak mendekatinya. Namun pada kali yang lain, ia datang dengan pakaian bagian dada yang robek-robek, matanya jalang memerah menatapku. Pada saat seperti itu, aku yang menggigil, mencoba menjauhinya. Dan kini ia yang berusaha mendekatiku. Aku menjauh sambil terus menatapnya serta memberi isyarat supaya jangan mendekatiku. Ia semakin mendekat, dan ketika hampir menyentuhku, ia lenyap lagi.
Beberapa hari ini aku bermimpi dalam hujan yang sangat deras. Hujan yang sangat berbeda dengan hujan pada alam nyata. Hujan yang bersidekap dengan kesunyian yang sangat temaram. Bunyi jatuhnya air menusuk begitu dalam mencoba menggantikan detak jantungku. Belum lagi aroma melati yang menyengat. Hujan yang tidak datang dari langit. Ia jatuh dari sepasang sayap yang robek dan tercabik-cabik.
Aku sangat lelah dengan mimpi-mimpiku. Sialnya, ternyata aku tidak bisa terus terjaga. Seakan-akan ada keharusan untukku pada hidup yang sial ini untuk tidur tepat waktu, dan hanya untuk diganggu mimpi-mimpi yang melelahkan. Dalam kesunyian hidup dan penderitaanku, mengapa masa lalu masih terus mengejarku tanpa pernah memberiku kesempatan untuk membela diri. Atau sekedar mempertanyakan sampai kapan kutukan ini berakhir.
Aku semakin merasa terganggu ketika bunga-bunga, khususnya bunga melati yang kutanam, kucabuti dan kubakar, ternyata esok harinya masih ada, dan menebar wangi yang semakin menikam. Ketika kutanya pada keluargaku, siapa yang menanam bunga-bunga melati yang telah kucabuti dan kubakar, mereka justru memandangku dengan penuh keheranan. Sebab kata mereka, setiap pagi aku merawat dan menyirami bunga-bunga melati itu. O, Tuhan!
Malam ini aku masih bermimpi tentang hujan yang sialan, namun kali ini perempuan itu hadir bersama hujan . Ia melambaikan tangannya. Dengan pelan aku mendekatinya, dan ia tidak menjauh. Seperti biasanya ia mengatakan sesuatu yang tak bisa kudengar, lalu aku semakin mendekat. Sayup-sayup aku mulai mendengar suaranya. Dan yang bisa kutangkap sebelum ia menghilang bersama lenyapnya hujan adalah, “Hujan yang senantiasa kukirim kepadamu, adalah hujan dari ketidakpastian, kalau engkau cukup terganggu dengan itu, maafkanlah aku.”
10 Desember 2002
09 Desember 2002
(katanya) ANTI USA
demonstran,
bercelana jin
teriak keras,
berbaju konpers
"ANTI USA!"
konsilidasi,
consolidation
berita penting,
pada bule punya hosting
surat penting,
untung meilbok ngga kena boncing
reg egeins de mesyin
terdegar lewat winam
ini pentium terbaru , Cing
OS window 2000 petch enam
orang tua melarang keras :
jangan meludah ke atas.
demonstran,
bercelana jin
teriak keras,
berbaju konpers
"ANTI USA!"
konsilidasi,
consolidation
berita penting,
pada bule punya hosting
surat penting,
untung meilbok ngga kena boncing
reg egeins de mesyin
terdegar lewat winam
ini pentium terbaru , Cing
OS window 2000 petch enam
orang tua melarang keras :
jangan meludah ke atas.
08 Desember 2002
aku pernah terlibat diskusi dengan salah seorang temanku
dia bilang wanita memang selalu begitu
lalu aku bilang
tapi masih ada juga laki-laki yang seperti itu
dan dia balas
tapi lebih banyak wanita yang seperti itu daripada laki-laki yang seperti itu
aku diam
memang sih, selama ini yang kutahu wanita itu seperti itu
tapi apakah adil menghakimi bahwa semua wanita seperti itu?
pikiranku masih bergelut dengan pro dan kontra tentang hal itu
lalu aku dengar kabar...
kau pun juga seperti itu
ah.. aku makin pusing....
dia bilang wanita memang selalu begitu
lalu aku bilang
tapi masih ada juga laki-laki yang seperti itu
dan dia balas
tapi lebih banyak wanita yang seperti itu daripada laki-laki yang seperti itu
aku diam
memang sih, selama ini yang kutahu wanita itu seperti itu
tapi apakah adil menghakimi bahwa semua wanita seperti itu?
pikiranku masih bergelut dengan pro dan kontra tentang hal itu
lalu aku dengar kabar...
kau pun juga seperti itu
ah.. aku makin pusing....
06 Desember 2002
lalu kemudian begitulah cara cinta menyapa
merayu berbisik memeluk mencium menyetubuhi bahkan membuatku mengandung anakmu
serupa teriknya suatu siang yang diiringi hujan bahkan badai yang memporakporandakan hidupku
membuatku mengenal apa itu tawa di sela rintih ..
dan tangis di sela kepuasan kepuasan yang membuatku tak ingin lagi hidup,
pelangi di batas timur, tak pernah terjamah walau warna indah di mata
"usah hiraukan hina, tertawalah .. walau cuma letih yang terbuai"
"jangan menangis" itu katamu di gendang telingamu,
dua botol vodka hampir kosong, kamu, aku dan televisi tanpa suara ..
sementara lidahmu dengan rakusnya masih saja menjilati selangkanganku dan gigimu masih saja mencicipi payudaraku
serupa itulah cinta di matamu, nafsu dimataku, dan gairah di mata kita
usah bicara, lakukan saja .. lalu kita akan sama sama mengerti .. bahwa masih ada berjuta kata yang bisa diterjemahkan lewat redupnya tatap matamu .. lewat hembusan nafasmu di pori poriku..
"aku lemah, masih saja lemah .. "
saat remang remang langit malam kota jakarta penuh dengan lampu lampu billboard yang menantang kita
cadar cadar birahi yang mulai mengoyak ngoyakan arti kata setia,
meredam kata istri jauh dari pikiranmu
lalu kesetiaan mulai berlumut diantara ekstase ekstase yang seakan akan membuat kita melayang dari gunung ke lembah ..
jangan ada jurang, kumohon
"ini rahimku, yang mengandung bakal anakmu"
merayu berbisik memeluk mencium menyetubuhi bahkan membuatku mengandung anakmu
serupa teriknya suatu siang yang diiringi hujan bahkan badai yang memporakporandakan hidupku
membuatku mengenal apa itu tawa di sela rintih ..
dan tangis di sela kepuasan kepuasan yang membuatku tak ingin lagi hidup,
pelangi di batas timur, tak pernah terjamah walau warna indah di mata
"usah hiraukan hina, tertawalah .. walau cuma letih yang terbuai"
"jangan menangis" itu katamu di gendang telingamu,
dua botol vodka hampir kosong, kamu, aku dan televisi tanpa suara ..
sementara lidahmu dengan rakusnya masih saja menjilati selangkanganku dan gigimu masih saja mencicipi payudaraku
serupa itulah cinta di matamu, nafsu dimataku, dan gairah di mata kita
usah bicara, lakukan saja .. lalu kita akan sama sama mengerti .. bahwa masih ada berjuta kata yang bisa diterjemahkan lewat redupnya tatap matamu .. lewat hembusan nafasmu di pori poriku..
"aku lemah, masih saja lemah .. "
saat remang remang langit malam kota jakarta penuh dengan lampu lampu billboard yang menantang kita
cadar cadar birahi yang mulai mengoyak ngoyakan arti kata setia,
meredam kata istri jauh dari pikiranmu
lalu kesetiaan mulai berlumut diantara ekstase ekstase yang seakan akan membuat kita melayang dari gunung ke lembah ..
jangan ada jurang, kumohon
"ini rahimku, yang mengandung bakal anakmu"
Masih saja bisa kuingat jejak jejak kerinduan yang pernah tertapak di keheningan senja
Di sela sela senyum dan bisikmu yang pernah menghiasi hatiku
Tanyamu "akankah kita selamanya satu?"
Lalu kita mulai tertawa, sambil saling mengaitkan jemari dan membiarkan hati melayang mengangkasa
Dan saat kerinduan mulai mencabik cabik raga,
saat cinta mulai datang menghantam rasa
tanyaku pedih, namun tak pernah tercipta jawab,
itukah kamu yang menulikan gendang, atau memang sedari dulupun tak pernah ada kamu di dalam hatiku
Tanyamu "Mengapa kau begitu naif?"
Lalu remang remang malam mulai menjala setiap sisa asa
Sementara bilur bilur yang ada tidak pernah sirna, tidak akan pernah
Dalam getir pilu teriakan teriakan kelelawar kekelawar penghisap darah,
Tanyamu "kapan bisa terbutakan mata akan setiap lakumu?"
Lupakan ..
Bisakah?
Di sela sela senyum dan bisikmu yang pernah menghiasi hatiku
Tanyamu "akankah kita selamanya satu?"
Lalu kita mulai tertawa, sambil saling mengaitkan jemari dan membiarkan hati melayang mengangkasa
Dan saat kerinduan mulai mencabik cabik raga,
saat cinta mulai datang menghantam rasa
tanyaku pedih, namun tak pernah tercipta jawab,
itukah kamu yang menulikan gendang, atau memang sedari dulupun tak pernah ada kamu di dalam hatiku
Tanyamu "Mengapa kau begitu naif?"
Lalu remang remang malam mulai menjala setiap sisa asa
Sementara bilur bilur yang ada tidak pernah sirna, tidak akan pernah
Dalam getir pilu teriakan teriakan kelelawar kekelawar penghisap darah,
Tanyamu "kapan bisa terbutakan mata akan setiap lakumu?"
Lupakan ..
Bisakah?
04 Desember 2002
manusia manusia malam yang pendiam
tak satu pun kata terbaca
hening...
diam...
hanya deretan nama tanpa makna
tak ada ikatan...
tak ada hubungan...
hanya sebatas ada
di ruang yang sama...
hanya layar putih yang kutatap...
tanpa suara terucap...
atau tertulis...
kar'na mereka hanya ingin pembenaran
bahwa mereka tidak sendirian
kesepian...
:mIRC 23.30
tak satu pun kata terbaca
hening...
diam...
hanya deretan nama tanpa makna
tak ada ikatan...
tak ada hubungan...
hanya sebatas ada
di ruang yang sama...
hanya layar putih yang kutatap...
tanpa suara terucap...
atau tertulis...
kar'na mereka hanya ingin pembenaran
bahwa mereka tidak sendirian
kesepian...
:mIRC 23.30
Wanita yang Bercinta dengan Iblis
-cerpen Eka Kurniawan
SUATU pagi, Alamanda mendapati seluruh tubuhnya hancur-lebur. Ia berbaring di atas tempat tidurnya tak berdaya, lusuh seperti celemek, kusut seperti lap. Ia melihat tiada apa pun; gelap dan hitam. Samar-samar terdengar olehnya suara ricau burung gereja, alunan musik senam pagi di kejauhan, dan mesin-mesin kendaraan di jalan. Ia mencoba bangun, namun tubuhnya yang serasa tercecer-cecer tak mampu ia bangkitkan. Ia membayangkan tubuhnya seperti puding yang ia tumpahkan tempo hari.Apa yang ia takutkan adalah jika ia melakukan kebodohan itu lagi: bercinta dengan iblis terkutuk itu. Selalu begitu selepas bercinta dengan si iblis, sebagaimana ia pernah melakukannya selama bertahun-tahun. Tapi bukankah iblis itu telah ia hempaskan, dihempaskan sampai ke dasar neraka, sehingga kini ia hanya merenungi hari tuanya yang sakit-sakitan, ataukah ia telah bangkit kembali dan dengan segala kekuasaannya mencoba membujuknya kembali untuk bercinta?
Tapi sang iblis sudah impoten dan ia layak dibuang. Memang si iblis tak menerima kenyataan bahwa ia impoten, sehingga ia marah sejadi-jadinya, membunuh seratus manusia di seratus kota, membakar seratus gedung di seratus pelosok dan membayar orang memperkosa seratus wanita di seratus rumah. Lantas dengan siapakah ia telah bercinta sehingga tubuhnya hancur-lebur seperti puding yang ia tumpahkan tempo hari-jika sang iblis tak mampu melakukannya lagi?
IA lahir ketika bunga-bunga bermekaran, lebah hilir-mudik berebut bersama kupu-kupu. Aroma mawar, anggrek, melati menyelimuti rumah tempat ia tumpah ke dunia. Pagi yang cantik, dan ia ditakdirkan untuk menjadi wanita cantik, secantik para bidadari yang turun dari langit meluncur dari pelangi yang melengkung meluncur ke bumi.
Tapi seekor bangkai tikus mengganggu pagi yang indah, membuat panik sang nenek yang menjerit menjadi gila. Ramalan busuk keluar dari mulutnya: "Ia akan jadi wanita tercantik di dunia, tapi iblis akan selalu bersamanya."
Mungkin iblis itulah yang mendorong Bibi merampas si gadis kecil dari rumahnya. "Karena kau aset yang baik untuk melunasi hutang ayahmu," kata si Bibi. "Dua ratus enam puluh empat juta lima ratus lima puluh ribu jumlahnya. Kalau sudah lunas kau akan kukembalikan."
Ia tinggal di rumah pelacuran Bibi sampai suatu hari seorang Paman membeli keperawanannya. Lima puluh juta dan sebuah cincin kawin seharga dua juta lima ratus ribu. Bibi berkata padanya di pagi hari yang hancur-lebur itu, "Hutangmu tinggal dua ratus dua belas juta lima puluh ribu."
PAMAN itu ternyata seorang duda, seorang mata keranjang, politikus cabul, tapi banyak uang. Ia suka pada Alamanda, mendatanginya hampir tiap hari, mengeluarkan uang dari kantungnya untuk bercinta dengannya. "Kecantikanmu memabukkanku," katanya suatu ketika. Dan di tengah-tengah keadaan mabuk karena anggur, ia bertanya, "Maukah kau jadi istriku?"
Alamanda tak pernah benar-benar menyukai si Paman. Ia selalu teringat pada dongeng tentang ramalan busuk neneknya. Ia selalu membayangkan bahwa si Paman adalah iblis itu sendiri. Tapi membayangkan bahwa hanya si paman yang banyak uang inilah yang bisa mengeluarkan dia dari rumah pelacuran Bibi, Alamanda akhirnya berkata:
"Kau harus membayar sisa hutang ayahku pada Bibi jika kau menginginkan aku."
"Berapa?"
Ada corat-coret di dinding, berisi deretan angka. Alamanda selalu menjumlahkan setiap uang yang dihasilkan tubuhnya, untuk memastikan bahwa suatu waktu, mungkin beberapa tahun yang akan datang, hutang ayahnya akan lunas. Pada si Paman ia menunjuk angka-angka tersebut.
"Baiklah," kata si Paman mabuk. "Kau cukup untuk dibayar sebanyak itu. Besok kita kawin."
IA kawin. Ia bukan pelacur lagi. Ia menjadi seorang wanita bersuami, meskipun suaminya mata keranjang dan tidur dengan selusin wanita lain. Ia melalui hari-hari pertama perkawinannya dengan menyenangkan, meskipun tetangga kiri-kanan mencibir sang bekas pelacur. Ia membersihkan rumah, menyiapkan makan, dan pada akhirnya ia memberi anak-anak yang sehat untuk sang Paman, sebagaimana wanita-wanita yang lain juga memberi anak untuk laki-laki yang sama.
Paman sangat menyanjung kecantikannya. Ia sering dibawanya ke pesta, tamasya, dan diperkenalkan pada seluruh sahabat dan musuhnya. Entah apa yang dilakukan Paman, ia punya banyak sahabat sebanyak musuhnya. Hingga pada suatu hari, khawatir dengan keselamatan istrinya yang cantik, Paman menyewa Tukang Pukul untuk menjaga rumah dan istrinya.
Tukang Pukul datang pada hari Rabu, pendek gemuk, tapi banyak membual. Saat itu Paman pulang malam, langsung berbaring di sampingnya. Pada hari Kamis pagi Alamanda memperoleh pengalaman pertama yang mengerikan itu. Ia terbangun dengan badan hancur-lebur seperti puding tumpah di lantai. Ia melihat tak suatu apa. Ia selalu hancur-lebur selepas bercinta, tetapi tak sehancur-lebur seperti hari Kamis pagi itu.
Perlahan-lahan ia mencoba mengingat-ingat apakah ia dan Paman tadi malam bercinta; rasanya tidak. Lama keadaan tak menentu itu terjadi, hingga ia mulai melihat keremangan kamar. Suara burung gereja berceracau, mesin mobil di jalanan. Angin menerobos jendela, menelusuri kulit-kulit tubuhnya. Ia sadar, ia telanjang. Jadi dengan siapa ia bercinta semalam?
Hal pertama yang ia lihat adalah tubuh Paman. Terbujur kaku dengan darah lengket di pakaiannya. Ia mati dengan sebuah belati masih menancap di dadanya. Di samping tempat tidur berdiri si Tukang Pukul dengan senyumnya yang memuakkan. Setengah telanjang. Alamanda hendak berteriak. Namun ia melihat dua buah tanduk di kepalanya. Untuk pertama kali ia melihat iblis yang disebut neneknya.
BERTAHUN-tahun ia hidup dan bercinta dengan si Tukang Pukul, mengalami horor di setiap pagi, dan kengerian melihat tanduk di kepala si iblis sejenak setelah mereka bercinta. Alamanda tak begitu mencintai si Paman, ia jauh tidak mencintai si Tukang Pukul, tapi nasib membuatnya harus hidup bersama si tukang jagal itu.
Sebagaimana pada si Paman, Alamanda memberi si Tukang Pukul anak-anak yang sehat, tampan dan cantik. Tahun berganti dan ia semakin tua, namun kecantikannya semakin mempesona, seolah itu merupakan kutukan abadi. Si Tukang Pukul tahu bagaimana memanfaatkan kecantikan itu. Dibiarkannya Alamanda disentuh, ditiduri, dan dikencani siapa pun yang mau, asal ada uang untuk keluarganya yang tampak menyenangkan. Alamanda menjadi seorang istri sekaligus seorang pelacur; dengan cara itulah mereka hidup.
Jika malam-malam datang dengan bintang-bintangnya yang menyedihkan, adakalanya Alamanda menangisi nasibnya yang buruk. Hidup dengan sang iblis jauh lebih buruk daripada hidup bersama si Paman, bahkan hidup bersama Bibi di rumah pelacuran. Ia tak bahagia dengan kemewahan yang dihisap dari tubuhnya, dan jika ia ingat kepada Tuhan, ia akan berdoa:
"Berilah aku kesempatan bercinta dengan orang yang aku inginkan sendiri."
Tahun berganti tahun dan ia belum juga diberi kesempatan untuk bercinta dengan orang yang ia inginkan sendiri. Lebih dari itu, si Tukang Pukul berlaku semakin keji. Tak hanya ia, istrinya, yang dijadikan teman tidur sahabat-sahabat kayanya, namun juga anak-anak gadisnya, baik anaknya dari si Paman maupun anaknya dari si Tukang Pukul sendiri. Dan anak-anak laki-lakinya, diperas siang malam bekerja untuk hidup royal ayah mereka.
Anak-anak itu berontak, dan di suatu malam mereka menemui Alamanda dan berkata, "Ibu, sebaiknya si Tukang Pukul itu kita campakkan ke Panti Jompo."
PAK Guru, yang seminggu sekali memberi les untuk anak-anaknya; Juru Masak, yang menyediakan makanan setelah Alamanda terlalu sibuk bekerja di atas tempat tidur; dan Tukang Kebun yang mengurus taman mawar dan anggrek dan melati kegemaran Alamanda, bersepakat dengan anak-anaknya untuk menyelematkan dirinya dari cengkraman jahat si Tukang Pukul.
"Kita masukkan ia ke panti jompo," kata si anak gadis sulungnya.
"Setelah itu kita ambil kembali uang yang ia peras dari kita," adik si sulung menambahkan.
Dan Pak Guru tak ketinggalan, "Kami akan membantu kau menemukan laki-laki yang kau sukai sendiri untuk tidur bersamamu."
"Kita cari laki-laki seperti itu dari seluruh pelosok negeri," kata si Tukang Kebun.
"Sekarang mari kita seret si Tukang Pukul itu ke panti jompo. Tubuhnya telah renta dan sakit-sakitan, ia tak akan banyak memberontak."
Alamanda terlalu sedih untuk merenungu nasibnya yang buruk, sehingga ia hanya membiarkan saja suaminya yang telah tua renta dimakan waktu diseret ke panti jompo oleh anak-anak dan pembantu-pembantunya sendiri. Namun tak semudah itu melepaskan diri dari cengkraman si iblis. Pada malam ketika suaminya dibawa ke panti jompo, seorang Profesor pikun datang ke rumah, berkata bahwa si Tukang Pukul masih berhutang kepadanya dan karena itu ia menuntut untuk tidur dengan Alamanda selama satu tahun penuh.
Waktu itu ia berumur lima puluh tiga tahun, merasa semakin tua dan semakin bau kematian meskipun kecantikan selalu menguntit di wajahnya. Karena itulah ketika di akhir kencannya yang singkat dengan si Profesor dan si Profesor bertanya apa yang ia inginkan, dengan serta merta Alamanda berkata:
"Jika tidak bisa kawin, setidaknya aku ingin tidur dengan laki-laki yang aku inginkan sendiri."
"Baiklah, Cantik."
Bersama Pak Guru, Juru Masak dan si Tukang Kebun, sang Profesor kemudian mengadakan sayembara ke seluruh negeri mencari laki-laki teman tidur si wanita tercantik di dunia. Negeri yang selama bertahun-tahun hidup membesonkan serta-merta bergelora menyambut sayembara tersebut. Laki-laki dari seluruh pelosok negeri datang melamar, tak ketinggalan Pak Guru, Juru Masak, si Tukang Kebun dan sang Profesor sendiri ikut melamar. Mereka berjanji, jika mereka diberi kesematan, mereka akan memberi Alamanda kebahagiaan sejati. Dan kepada anak-anaknya, dalam rangka mencari dukungan penuh, mereka berjanji untuk merampas kembali harta kekayaan si Tukang Pukul di panti jompo demi kesejahteraan keluarga selama tujuh turunan.
Anak-anak itu mulai bertengkar. Anak-anak pintar mendukung Pak Guru, anak-anak doyan makan mendukung Juru Masak, yang hanya suka main-main mendukung Tukang Kebun. Sang Profesor didukung anak-anaknya yang rada idiot.
Tapi Alamanda memilih seorang Kakek Tua dari negeri antah-berantah. Kakek Tua itu sudah begitu tuanya, sehingga ia tak bisa berbuat apa-apa sebagai seorang laki-laki di hadapan seorang wanita tercantik di dunia. Tapi Alamanda bahagia karena untuk pertama kali ia boleh memilih laki-laki yang disukainya. Sang Profesor kabur karena kecewa, tiga yang lainnya tetap mengabdi di rumah itu.
APAKAH iblis itu kembali dari panti jompo? Bukankah ia sudah tak mampu lagi bercinta dengannya? Dan Kakek Tua itu? Ia bahkan tak bisa membedakan wanita cantik dan wanita buruk rupa. Jadi siapa yang telah bercinta dengannya sehingga di pagi itu Alamanda merasa tubuhnya hancur-lebur seperti puding yang ia jatuhkan tempo hari? Alamanda merasa telah jadi wanita yang paling penuh noda.
Mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaannya, perlahan-lahan ia mulai bisa melihat keremangan ruangan kamar. Suara burung gereja dan mesin kendaraan di jalan mengiang. Angin mengelus tubuh telanjangnya dari jendela. Dengan siapa ia telah bercinta? Ia melihat Kakek Tua itu duduk di kursi goyangnya di pojok kamar: termangu-mangu setengah ngantuk. Kakek Tua sudah tak mengenal apa yang disebut birahi. Lalu Alamanda menoleh dan melihat siapa yang telah membuatnya merasa kembali ternoda. Mereka! Orang-orang yang pura-pura mengabdi pada si kakek Tua! Terkutuklah Mereka!
Pak Guru, Juru Masak dan Tukang Kebun berdiri di tepi tempat tidur setengah telanjang. Tertawa satu sama lain. Di kepala mereka tumbuh tanduk-tanduk menjijikkan.
Dan setengah berteriak karena marah, sambil menangis meratapi nasib, Alamanda bertanya kepada Tuhan, "Apakah semua laki-laki di negeri ini adalah iblis?" *
-cerpen Eka Kurniawan
SUATU pagi, Alamanda mendapati seluruh tubuhnya hancur-lebur. Ia berbaring di atas tempat tidurnya tak berdaya, lusuh seperti celemek, kusut seperti lap. Ia melihat tiada apa pun; gelap dan hitam. Samar-samar terdengar olehnya suara ricau burung gereja, alunan musik senam pagi di kejauhan, dan mesin-mesin kendaraan di jalan. Ia mencoba bangun, namun tubuhnya yang serasa tercecer-cecer tak mampu ia bangkitkan. Ia membayangkan tubuhnya seperti puding yang ia tumpahkan tempo hari.Apa yang ia takutkan adalah jika ia melakukan kebodohan itu lagi: bercinta dengan iblis terkutuk itu. Selalu begitu selepas bercinta dengan si iblis, sebagaimana ia pernah melakukannya selama bertahun-tahun. Tapi bukankah iblis itu telah ia hempaskan, dihempaskan sampai ke dasar neraka, sehingga kini ia hanya merenungi hari tuanya yang sakit-sakitan, ataukah ia telah bangkit kembali dan dengan segala kekuasaannya mencoba membujuknya kembali untuk bercinta?
Tapi sang iblis sudah impoten dan ia layak dibuang. Memang si iblis tak menerima kenyataan bahwa ia impoten, sehingga ia marah sejadi-jadinya, membunuh seratus manusia di seratus kota, membakar seratus gedung di seratus pelosok dan membayar orang memperkosa seratus wanita di seratus rumah. Lantas dengan siapakah ia telah bercinta sehingga tubuhnya hancur-lebur seperti puding yang ia tumpahkan tempo hari-jika sang iblis tak mampu melakukannya lagi?
IA lahir ketika bunga-bunga bermekaran, lebah hilir-mudik berebut bersama kupu-kupu. Aroma mawar, anggrek, melati menyelimuti rumah tempat ia tumpah ke dunia. Pagi yang cantik, dan ia ditakdirkan untuk menjadi wanita cantik, secantik para bidadari yang turun dari langit meluncur dari pelangi yang melengkung meluncur ke bumi.
Tapi seekor bangkai tikus mengganggu pagi yang indah, membuat panik sang nenek yang menjerit menjadi gila. Ramalan busuk keluar dari mulutnya: "Ia akan jadi wanita tercantik di dunia, tapi iblis akan selalu bersamanya."
Mungkin iblis itulah yang mendorong Bibi merampas si gadis kecil dari rumahnya. "Karena kau aset yang baik untuk melunasi hutang ayahmu," kata si Bibi. "Dua ratus enam puluh empat juta lima ratus lima puluh ribu jumlahnya. Kalau sudah lunas kau akan kukembalikan."
Ia tinggal di rumah pelacuran Bibi sampai suatu hari seorang Paman membeli keperawanannya. Lima puluh juta dan sebuah cincin kawin seharga dua juta lima ratus ribu. Bibi berkata padanya di pagi hari yang hancur-lebur itu, "Hutangmu tinggal dua ratus dua belas juta lima puluh ribu."
PAMAN itu ternyata seorang duda, seorang mata keranjang, politikus cabul, tapi banyak uang. Ia suka pada Alamanda, mendatanginya hampir tiap hari, mengeluarkan uang dari kantungnya untuk bercinta dengannya. "Kecantikanmu memabukkanku," katanya suatu ketika. Dan di tengah-tengah keadaan mabuk karena anggur, ia bertanya, "Maukah kau jadi istriku?"
Alamanda tak pernah benar-benar menyukai si Paman. Ia selalu teringat pada dongeng tentang ramalan busuk neneknya. Ia selalu membayangkan bahwa si Paman adalah iblis itu sendiri. Tapi membayangkan bahwa hanya si paman yang banyak uang inilah yang bisa mengeluarkan dia dari rumah pelacuran Bibi, Alamanda akhirnya berkata:
"Kau harus membayar sisa hutang ayahku pada Bibi jika kau menginginkan aku."
"Berapa?"
Ada corat-coret di dinding, berisi deretan angka. Alamanda selalu menjumlahkan setiap uang yang dihasilkan tubuhnya, untuk memastikan bahwa suatu waktu, mungkin beberapa tahun yang akan datang, hutang ayahnya akan lunas. Pada si Paman ia menunjuk angka-angka tersebut.
"Baiklah," kata si Paman mabuk. "Kau cukup untuk dibayar sebanyak itu. Besok kita kawin."
IA kawin. Ia bukan pelacur lagi. Ia menjadi seorang wanita bersuami, meskipun suaminya mata keranjang dan tidur dengan selusin wanita lain. Ia melalui hari-hari pertama perkawinannya dengan menyenangkan, meskipun tetangga kiri-kanan mencibir sang bekas pelacur. Ia membersihkan rumah, menyiapkan makan, dan pada akhirnya ia memberi anak-anak yang sehat untuk sang Paman, sebagaimana wanita-wanita yang lain juga memberi anak untuk laki-laki yang sama.
Paman sangat menyanjung kecantikannya. Ia sering dibawanya ke pesta, tamasya, dan diperkenalkan pada seluruh sahabat dan musuhnya. Entah apa yang dilakukan Paman, ia punya banyak sahabat sebanyak musuhnya. Hingga pada suatu hari, khawatir dengan keselamatan istrinya yang cantik, Paman menyewa Tukang Pukul untuk menjaga rumah dan istrinya.
Tukang Pukul datang pada hari Rabu, pendek gemuk, tapi banyak membual. Saat itu Paman pulang malam, langsung berbaring di sampingnya. Pada hari Kamis pagi Alamanda memperoleh pengalaman pertama yang mengerikan itu. Ia terbangun dengan badan hancur-lebur seperti puding tumpah di lantai. Ia melihat tak suatu apa. Ia selalu hancur-lebur selepas bercinta, tetapi tak sehancur-lebur seperti hari Kamis pagi itu.
Perlahan-lahan ia mencoba mengingat-ingat apakah ia dan Paman tadi malam bercinta; rasanya tidak. Lama keadaan tak menentu itu terjadi, hingga ia mulai melihat keremangan kamar. Suara burung gereja berceracau, mesin mobil di jalanan. Angin menerobos jendela, menelusuri kulit-kulit tubuhnya. Ia sadar, ia telanjang. Jadi dengan siapa ia bercinta semalam?
Hal pertama yang ia lihat adalah tubuh Paman. Terbujur kaku dengan darah lengket di pakaiannya. Ia mati dengan sebuah belati masih menancap di dadanya. Di samping tempat tidur berdiri si Tukang Pukul dengan senyumnya yang memuakkan. Setengah telanjang. Alamanda hendak berteriak. Namun ia melihat dua buah tanduk di kepalanya. Untuk pertama kali ia melihat iblis yang disebut neneknya.
BERTAHUN-tahun ia hidup dan bercinta dengan si Tukang Pukul, mengalami horor di setiap pagi, dan kengerian melihat tanduk di kepala si iblis sejenak setelah mereka bercinta. Alamanda tak begitu mencintai si Paman, ia jauh tidak mencintai si Tukang Pukul, tapi nasib membuatnya harus hidup bersama si tukang jagal itu.
Sebagaimana pada si Paman, Alamanda memberi si Tukang Pukul anak-anak yang sehat, tampan dan cantik. Tahun berganti dan ia semakin tua, namun kecantikannya semakin mempesona, seolah itu merupakan kutukan abadi. Si Tukang Pukul tahu bagaimana memanfaatkan kecantikan itu. Dibiarkannya Alamanda disentuh, ditiduri, dan dikencani siapa pun yang mau, asal ada uang untuk keluarganya yang tampak menyenangkan. Alamanda menjadi seorang istri sekaligus seorang pelacur; dengan cara itulah mereka hidup.
Jika malam-malam datang dengan bintang-bintangnya yang menyedihkan, adakalanya Alamanda menangisi nasibnya yang buruk. Hidup dengan sang iblis jauh lebih buruk daripada hidup bersama si Paman, bahkan hidup bersama Bibi di rumah pelacuran. Ia tak bahagia dengan kemewahan yang dihisap dari tubuhnya, dan jika ia ingat kepada Tuhan, ia akan berdoa:
"Berilah aku kesempatan bercinta dengan orang yang aku inginkan sendiri."
Tahun berganti tahun dan ia belum juga diberi kesempatan untuk bercinta dengan orang yang ia inginkan sendiri. Lebih dari itu, si Tukang Pukul berlaku semakin keji. Tak hanya ia, istrinya, yang dijadikan teman tidur sahabat-sahabat kayanya, namun juga anak-anak gadisnya, baik anaknya dari si Paman maupun anaknya dari si Tukang Pukul sendiri. Dan anak-anak laki-lakinya, diperas siang malam bekerja untuk hidup royal ayah mereka.
Anak-anak itu berontak, dan di suatu malam mereka menemui Alamanda dan berkata, "Ibu, sebaiknya si Tukang Pukul itu kita campakkan ke Panti Jompo."
PAK Guru, yang seminggu sekali memberi les untuk anak-anaknya; Juru Masak, yang menyediakan makanan setelah Alamanda terlalu sibuk bekerja di atas tempat tidur; dan Tukang Kebun yang mengurus taman mawar dan anggrek dan melati kegemaran Alamanda, bersepakat dengan anak-anaknya untuk menyelematkan dirinya dari cengkraman jahat si Tukang Pukul.
"Kita masukkan ia ke panti jompo," kata si anak gadis sulungnya.
"Setelah itu kita ambil kembali uang yang ia peras dari kita," adik si sulung menambahkan.
Dan Pak Guru tak ketinggalan, "Kami akan membantu kau menemukan laki-laki yang kau sukai sendiri untuk tidur bersamamu."
"Kita cari laki-laki seperti itu dari seluruh pelosok negeri," kata si Tukang Kebun.
"Sekarang mari kita seret si Tukang Pukul itu ke panti jompo. Tubuhnya telah renta dan sakit-sakitan, ia tak akan banyak memberontak."
Alamanda terlalu sedih untuk merenungu nasibnya yang buruk, sehingga ia hanya membiarkan saja suaminya yang telah tua renta dimakan waktu diseret ke panti jompo oleh anak-anak dan pembantu-pembantunya sendiri. Namun tak semudah itu melepaskan diri dari cengkraman si iblis. Pada malam ketika suaminya dibawa ke panti jompo, seorang Profesor pikun datang ke rumah, berkata bahwa si Tukang Pukul masih berhutang kepadanya dan karena itu ia menuntut untuk tidur dengan Alamanda selama satu tahun penuh.
Waktu itu ia berumur lima puluh tiga tahun, merasa semakin tua dan semakin bau kematian meskipun kecantikan selalu menguntit di wajahnya. Karena itulah ketika di akhir kencannya yang singkat dengan si Profesor dan si Profesor bertanya apa yang ia inginkan, dengan serta merta Alamanda berkata:
"Jika tidak bisa kawin, setidaknya aku ingin tidur dengan laki-laki yang aku inginkan sendiri."
"Baiklah, Cantik."
Bersama Pak Guru, Juru Masak dan si Tukang Kebun, sang Profesor kemudian mengadakan sayembara ke seluruh negeri mencari laki-laki teman tidur si wanita tercantik di dunia. Negeri yang selama bertahun-tahun hidup membesonkan serta-merta bergelora menyambut sayembara tersebut. Laki-laki dari seluruh pelosok negeri datang melamar, tak ketinggalan Pak Guru, Juru Masak, si Tukang Kebun dan sang Profesor sendiri ikut melamar. Mereka berjanji, jika mereka diberi kesematan, mereka akan memberi Alamanda kebahagiaan sejati. Dan kepada anak-anaknya, dalam rangka mencari dukungan penuh, mereka berjanji untuk merampas kembali harta kekayaan si Tukang Pukul di panti jompo demi kesejahteraan keluarga selama tujuh turunan.
Anak-anak itu mulai bertengkar. Anak-anak pintar mendukung Pak Guru, anak-anak doyan makan mendukung Juru Masak, yang hanya suka main-main mendukung Tukang Kebun. Sang Profesor didukung anak-anaknya yang rada idiot.
Tapi Alamanda memilih seorang Kakek Tua dari negeri antah-berantah. Kakek Tua itu sudah begitu tuanya, sehingga ia tak bisa berbuat apa-apa sebagai seorang laki-laki di hadapan seorang wanita tercantik di dunia. Tapi Alamanda bahagia karena untuk pertama kali ia boleh memilih laki-laki yang disukainya. Sang Profesor kabur karena kecewa, tiga yang lainnya tetap mengabdi di rumah itu.
APAKAH iblis itu kembali dari panti jompo? Bukankah ia sudah tak mampu lagi bercinta dengannya? Dan Kakek Tua itu? Ia bahkan tak bisa membedakan wanita cantik dan wanita buruk rupa. Jadi siapa yang telah bercinta dengannya sehingga di pagi itu Alamanda merasa tubuhnya hancur-lebur seperti puding yang ia jatuhkan tempo hari? Alamanda merasa telah jadi wanita yang paling penuh noda.
Mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaannya, perlahan-lahan ia mulai bisa melihat keremangan ruangan kamar. Suara burung gereja dan mesin kendaraan di jalan mengiang. Angin mengelus tubuh telanjangnya dari jendela. Dengan siapa ia telah bercinta? Ia melihat Kakek Tua itu duduk di kursi goyangnya di pojok kamar: termangu-mangu setengah ngantuk. Kakek Tua sudah tak mengenal apa yang disebut birahi. Lalu Alamanda menoleh dan melihat siapa yang telah membuatnya merasa kembali ternoda. Mereka! Orang-orang yang pura-pura mengabdi pada si kakek Tua! Terkutuklah Mereka!
Pak Guru, Juru Masak dan Tukang Kebun berdiri di tepi tempat tidur setengah telanjang. Tertawa satu sama lain. Di kepala mereka tumbuh tanduk-tanduk menjijikkan.
Dan setengah berteriak karena marah, sambil menangis meratapi nasib, Alamanda bertanya kepada Tuhan, "Apakah semua laki-laki di negeri ini adalah iblis?" *
Cerita Sebelum Tidur
:untuk kahar
langit kamar semakin menyesakkan dada, seharusnya ini dongeng sebelum tidur tetapi sampai saat ini kita belum juga terlelap. sungguh aku merasakannya dari udara yang tertiup dari timur mata angin sampai ke barat ini. kita masing-masing menuju ke arah yang terlalu berlainan adanya, mencari kepulangan kita, mencari dimana letak rumah kita. sedangkan apa yang sedang kita bangun selama ini hanya beberapa rangka, beberapa tiang setengah jadi yang tak kunjung selesai.
aku mencari jejakku yang sudah lama hilang, di antara wajah kawan dan kenangan lama. kota lama yang sudah lama kutinggalkan dan nyaris enggan kujenguk walau hanya sekali waktu. aku hanya menemukan kepiluan yang ramai, keramaian yang menjadi begitu senyap, benar-benar sebuah tembok kota yang gelap suram tanpa cat. aku menemukan kota yang kehilangan mata air sekaligus air mata. tetapi langit disini tiba-tiba terlalu cerah, terlalu indah untuk itu semua.
kutemukan bantal yang bisu, guling yang kaku, dan ranjang yang beku tak bernyawa. subuh tiba dengan kantuknya yang terlalu dan matahari terbit begitu purba, mengulang suatu rutinitas yang sama berkali-kali. bumbu-bumbu menjelang pagi yang sudah basi. wajah pada kaca yang tidak juga terbasuh, lusuh dan luruh di antara tetesan air yang terlalu hangat untuk cuci muka.
seharusnya ini dongeng sebelum tidur, tetapi aku tidak menemukan jemariku di antara sela rambutmu. tidak menemukan tirai yang tersingkap sedikit oleh ujung kakimu. lagi-lagi tidak menemukan dadamu dan itu terlalu menyedihkan untuk persembahan pagi di kota yang semakin menyedihkan ini.
bgr-dini hari
:untuk kahar
langit kamar semakin menyesakkan dada, seharusnya ini dongeng sebelum tidur tetapi sampai saat ini kita belum juga terlelap. sungguh aku merasakannya dari udara yang tertiup dari timur mata angin sampai ke barat ini. kita masing-masing menuju ke arah yang terlalu berlainan adanya, mencari kepulangan kita, mencari dimana letak rumah kita. sedangkan apa yang sedang kita bangun selama ini hanya beberapa rangka, beberapa tiang setengah jadi yang tak kunjung selesai.
aku mencari jejakku yang sudah lama hilang, di antara wajah kawan dan kenangan lama. kota lama yang sudah lama kutinggalkan dan nyaris enggan kujenguk walau hanya sekali waktu. aku hanya menemukan kepiluan yang ramai, keramaian yang menjadi begitu senyap, benar-benar sebuah tembok kota yang gelap suram tanpa cat. aku menemukan kota yang kehilangan mata air sekaligus air mata. tetapi langit disini tiba-tiba terlalu cerah, terlalu indah untuk itu semua.
kutemukan bantal yang bisu, guling yang kaku, dan ranjang yang beku tak bernyawa. subuh tiba dengan kantuknya yang terlalu dan matahari terbit begitu purba, mengulang suatu rutinitas yang sama berkali-kali. bumbu-bumbu menjelang pagi yang sudah basi. wajah pada kaca yang tidak juga terbasuh, lusuh dan luruh di antara tetesan air yang terlalu hangat untuk cuci muka.
seharusnya ini dongeng sebelum tidur, tetapi aku tidak menemukan jemariku di antara sela rambutmu. tidak menemukan tirai yang tersingkap sedikit oleh ujung kakimu. lagi-lagi tidak menemukan dadamu dan itu terlalu menyedihkan untuk persembahan pagi di kota yang semakin menyedihkan ini.
bgr-dini hari
Mirat Muda, Chairil Muda
Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
Menatap lama ke dalam pandangnya
coba memisah mata yang menantang
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.
Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;
dan bertanya: Adakah, adakah
kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
dan tunjukkan dengan pasti di mana
menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti.
Dia rapatkan
Dirinya pada Chairil makin sehati;
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak
dengan mati
-di pegunungan 1943, ditulis 1949
Dengan Mirat
Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas
Aku dan engkau hanya menjengkau
rakit hitam
'Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran hitam?
Matamu ungu membatu
Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu
1946
Sajak Putih
buat tunanganku Mirat
bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda
sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku
hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah...
Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...
1944
*sajak-sajak Chairil Anwar kepada Mirat kekasihnya
Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
Menatap lama ke dalam pandangnya
coba memisah mata yang menantang
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.
Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;
dan bertanya: Adakah, adakah
kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
dan tunjukkan dengan pasti di mana
menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti.
Dia rapatkan
Dirinya pada Chairil makin sehati;
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak
dengan mati
-di pegunungan 1943, ditulis 1949
Dengan Mirat
Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas
Aku dan engkau hanya menjengkau
rakit hitam
'Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran hitam?
Matamu ungu membatu
Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu
1946
Sajak Putih
buat tunanganku Mirat
bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda
sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku
hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah...
Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...
1944
*sajak-sajak Chairil Anwar kepada Mirat kekasihnya
Langganan:
Postingan (Atom)