09 Desember 2002

sel

terkurung karena bebas
bebas yang melibas bebas

bebas karena terkurung
terkurung yang melibas kurung

08 Desember 2002

aku pernah terlibat diskusi dengan salah seorang temanku
dia bilang wanita memang selalu begitu
lalu aku bilang
tapi masih ada juga laki-laki yang seperti itu
dan dia balas
tapi lebih banyak wanita yang seperti itu daripada laki-laki yang seperti itu
aku diam
memang sih, selama ini yang kutahu wanita itu seperti itu
tapi apakah adil menghakimi bahwa semua wanita seperti itu?
pikiranku masih bergelut dengan pro dan kontra tentang hal itu
lalu aku dengar kabar...
kau pun juga seperti itu

ah.. aku makin pusing....

06 Desember 2002

lalu kemudian begitulah cara cinta menyapa
merayu berbisik memeluk mencium menyetubuhi bahkan membuatku mengandung anakmu
serupa teriknya suatu siang yang diiringi hujan bahkan badai yang memporakporandakan hidupku
membuatku mengenal apa itu tawa di sela rintih ..
dan tangis di sela kepuasan kepuasan yang membuatku tak ingin lagi hidup,
pelangi di batas timur, tak pernah terjamah walau warna indah di mata

"usah hiraukan hina, tertawalah .. walau cuma letih yang terbuai"

"jangan menangis" itu katamu di gendang telingamu,
dua botol vodka hampir kosong, kamu, aku dan televisi tanpa suara ..
sementara lidahmu dengan rakusnya masih saja menjilati selangkanganku dan gigimu masih saja mencicipi payudaraku
serupa itulah cinta di matamu, nafsu dimataku, dan gairah di mata kita
usah bicara, lakukan saja .. lalu kita akan sama sama mengerti .. bahwa masih ada berjuta kata yang bisa diterjemahkan lewat redupnya tatap matamu .. lewat hembusan nafasmu di pori poriku..

"aku lemah, masih saja lemah .. "

saat remang remang langit malam kota jakarta penuh dengan lampu lampu billboard yang menantang kita
cadar cadar birahi yang mulai mengoyak ngoyakan arti kata setia,
meredam kata istri jauh dari pikiranmu
lalu kesetiaan mulai berlumut diantara ekstase ekstase yang seakan akan membuat kita melayang dari gunung ke lembah ..
jangan ada jurang, kumohon

"ini rahimku, yang mengandung bakal anakmu"
Masih saja bisa kuingat jejak jejak kerinduan yang pernah tertapak di keheningan senja
Di sela sela senyum dan bisikmu yang pernah menghiasi hatiku
Tanyamu "akankah kita selamanya satu?"
Lalu kita mulai tertawa, sambil saling mengaitkan jemari dan membiarkan hati melayang mengangkasa

Dan saat kerinduan mulai mencabik cabik raga,
saat cinta mulai datang menghantam rasa
tanyaku pedih, namun tak pernah tercipta jawab,
itukah kamu yang menulikan gendang, atau memang sedari dulupun tak pernah ada kamu di dalam hatiku

Tanyamu "Mengapa kau begitu naif?"

Lalu remang remang malam mulai menjala setiap sisa asa
Sementara bilur bilur yang ada tidak pernah sirna, tidak akan pernah
Dalam getir pilu teriakan teriakan kelelawar kekelawar penghisap darah,
Tanyamu "kapan bisa terbutakan mata akan setiap lakumu?"

Lupakan ..
Bisakah?

04 Desember 2002

manusia manusia malam yang pendiam
tak satu pun kata terbaca
hening...
diam...
hanya deretan nama tanpa makna
tak ada ikatan...
tak ada hubungan...
hanya sebatas ada
di ruang yang sama...
hanya layar putih yang kutatap...
tanpa suara terucap...
atau tertulis...
kar'na mereka hanya ingin pembenaran
bahwa mereka tidak sendirian
kesepian...

:mIRC 23.30
Wanita yang Bercinta dengan Iblis
-cerpen Eka Kurniawan

SUATU pagi, Alamanda mendapati seluruh tubuhnya hancur-lebur. Ia berbaring di atas tempat tidurnya tak berdaya, lusuh seperti celemek, kusut seperti lap. Ia melihat tiada apa pun; gelap dan hitam. Samar-samar terdengar olehnya suara ricau burung gereja, alunan musik senam pagi di kejauhan, dan mesin-mesin kendaraan di jalan. Ia mencoba bangun, namun tubuhnya yang serasa tercecer-cecer tak mampu ia bangkitkan. Ia membayangkan tubuhnya seperti puding yang ia tumpahkan tempo hari.Apa yang ia takutkan adalah jika ia melakukan kebodohan itu lagi: bercinta dengan iblis terkutuk itu. Selalu begitu selepas bercinta dengan si iblis, sebagaimana ia pernah melakukannya selama bertahun-tahun. Tapi bukankah iblis itu telah ia hempaskan, dihempaskan sampai ke dasar neraka, sehingga kini ia hanya merenungi hari tuanya yang sakit-sakitan, ataukah ia telah bangkit kembali dan dengan segala kekuasaannya mencoba membujuknya kembali untuk bercinta?
Tapi sang iblis sudah impoten dan ia layak dibuang. Memang si iblis tak menerima kenyataan bahwa ia impoten, sehingga ia marah sejadi-jadinya, membunuh seratus manusia di seratus kota, membakar seratus gedung di seratus pelosok dan membayar orang memperkosa seratus wanita di seratus rumah. Lantas dengan siapakah ia telah bercinta sehingga tubuhnya hancur-lebur seperti puding yang ia tumpahkan tempo hari-jika sang iblis tak mampu melakukannya lagi?


IA lahir ketika bunga-bunga bermekaran, lebah hilir-mudik berebut bersama kupu-kupu. Aroma mawar, anggrek, melati menyelimuti rumah tempat ia tumpah ke dunia. Pagi yang cantik, dan ia ditakdirkan untuk menjadi wanita cantik, secantik para bidadari yang turun dari langit meluncur dari pelangi yang melengkung meluncur ke bumi.

Tapi seekor bangkai tikus mengganggu pagi yang indah, membuat panik sang nenek yang menjerit menjadi gila. Ramalan busuk keluar dari mulutnya: "Ia akan jadi wanita tercantik di dunia, tapi iblis akan selalu bersamanya."

Mungkin iblis itulah yang mendorong Bibi merampas si gadis kecil dari rumahnya. "Karena kau aset yang baik untuk melunasi hutang ayahmu," kata si Bibi. "Dua ratus enam puluh empat juta lima ratus lima puluh ribu jumlahnya. Kalau sudah lunas kau akan kukembalikan."

Ia tinggal di rumah pelacuran Bibi sampai suatu hari seorang Paman membeli keperawanannya. Lima puluh juta dan sebuah cincin kawin seharga dua juta lima ratus ribu. Bibi berkata padanya di pagi hari yang hancur-lebur itu, "Hutangmu tinggal dua ratus dua belas juta lima puluh ribu."


PAMAN itu ternyata seorang duda, seorang mata keranjang, politikus cabul, tapi banyak uang. Ia suka pada Alamanda, mendatanginya hampir tiap hari, mengeluarkan uang dari kantungnya untuk bercinta dengannya. "Kecantikanmu memabukkanku," katanya suatu ketika. Dan di tengah-tengah keadaan mabuk karena anggur, ia bertanya, "Maukah kau jadi istriku?"

Alamanda tak pernah benar-benar menyukai si Paman. Ia selalu teringat pada dongeng tentang ramalan busuk neneknya. Ia selalu membayangkan bahwa si Paman adalah iblis itu sendiri. Tapi membayangkan bahwa hanya si paman yang banyak uang inilah yang bisa mengeluarkan dia dari rumah pelacuran Bibi, Alamanda akhirnya berkata:

"Kau harus membayar sisa hutang ayahku pada Bibi jika kau menginginkan aku."

"Berapa?"

Ada corat-coret di dinding, berisi deretan angka. Alamanda selalu menjumlahkan setiap uang yang dihasilkan tubuhnya, untuk memastikan bahwa suatu waktu, mungkin beberapa tahun yang akan datang, hutang ayahnya akan lunas. Pada si Paman ia menunjuk angka-angka tersebut.

"Baiklah," kata si Paman mabuk. "Kau cukup untuk dibayar sebanyak itu. Besok kita kawin."


IA kawin. Ia bukan pelacur lagi. Ia menjadi seorang wanita bersuami, meskipun suaminya mata keranjang dan tidur dengan selusin wanita lain. Ia melalui hari-hari pertama perkawinannya dengan menyenangkan, meskipun tetangga kiri-kanan mencibir sang bekas pelacur. Ia membersihkan rumah, menyiapkan makan, dan pada akhirnya ia memberi anak-anak yang sehat untuk sang Paman, sebagaimana wanita-wanita yang lain juga memberi anak untuk laki-laki yang sama.

Paman sangat menyanjung kecantikannya. Ia sering dibawanya ke pesta, tamasya, dan diperkenalkan pada seluruh sahabat dan musuhnya. Entah apa yang dilakukan Paman, ia punya banyak sahabat sebanyak musuhnya. Hingga pada suatu hari, khawatir dengan keselamatan istrinya yang cantik, Paman menyewa Tukang Pukul untuk menjaga rumah dan istrinya.

Tukang Pukul datang pada hari Rabu, pendek gemuk, tapi banyak membual. Saat itu Paman pulang malam, langsung berbaring di sampingnya. Pada hari Kamis pagi Alamanda memperoleh pengalaman pertama yang mengerikan itu. Ia terbangun dengan badan hancur-lebur seperti puding tumpah di lantai. Ia melihat tak suatu apa. Ia selalu hancur-lebur selepas bercinta, tetapi tak sehancur-lebur seperti hari Kamis pagi itu.

Perlahan-lahan ia mencoba mengingat-ingat apakah ia dan Paman tadi malam bercinta; rasanya tidak. Lama keadaan tak menentu itu terjadi, hingga ia mulai melihat keremangan kamar. Suara burung gereja berceracau, mesin mobil di jalanan. Angin menerobos jendela, menelusuri kulit-kulit tubuhnya. Ia sadar, ia telanjang. Jadi dengan siapa ia bercinta semalam?

Hal pertama yang ia lihat adalah tubuh Paman. Terbujur kaku dengan darah lengket di pakaiannya. Ia mati dengan sebuah belati masih menancap di dadanya. Di samping tempat tidur berdiri si Tukang Pukul dengan senyumnya yang memuakkan. Setengah telanjang. Alamanda hendak berteriak. Namun ia melihat dua buah tanduk di kepalanya. Untuk pertama kali ia melihat iblis yang disebut neneknya.


BERTAHUN-tahun ia hidup dan bercinta dengan si Tukang Pukul, mengalami horor di setiap pagi, dan kengerian melihat tanduk di kepala si iblis sejenak setelah mereka bercinta. Alamanda tak begitu mencintai si Paman, ia jauh tidak mencintai si Tukang Pukul, tapi nasib membuatnya harus hidup bersama si tukang jagal itu.

Sebagaimana pada si Paman, Alamanda memberi si Tukang Pukul anak-anak yang sehat, tampan dan cantik. Tahun berganti dan ia semakin tua, namun kecantikannya semakin mempesona, seolah itu merupakan kutukan abadi. Si Tukang Pukul tahu bagaimana memanfaatkan kecantikan itu. Dibiarkannya Alamanda disentuh, ditiduri, dan dikencani siapa pun yang mau, asal ada uang untuk keluarganya yang tampak menyenangkan. Alamanda menjadi seorang istri sekaligus seorang pelacur; dengan cara itulah mereka hidup.

Jika malam-malam datang dengan bintang-bintangnya yang menyedihkan, adakalanya Alamanda menangisi nasibnya yang buruk. Hidup dengan sang iblis jauh lebih buruk daripada hidup bersama si Paman, bahkan hidup bersama Bibi di rumah pelacuran. Ia tak bahagia dengan kemewahan yang dihisap dari tubuhnya, dan jika ia ingat kepada Tuhan, ia akan berdoa:

"Berilah aku kesempatan bercinta dengan orang yang aku inginkan sendiri."

Tahun berganti tahun dan ia belum juga diberi kesempatan untuk bercinta dengan orang yang ia inginkan sendiri. Lebih dari itu, si Tukang Pukul berlaku semakin keji. Tak hanya ia, istrinya, yang dijadikan teman tidur sahabat-sahabat kayanya, namun juga anak-anak gadisnya, baik anaknya dari si Paman maupun anaknya dari si Tukang Pukul sendiri. Dan anak-anak laki-lakinya, diperas siang malam bekerja untuk hidup royal ayah mereka.

Anak-anak itu berontak, dan di suatu malam mereka menemui Alamanda dan berkata, "Ibu, sebaiknya si Tukang Pukul itu kita campakkan ke Panti Jompo."


PAK Guru, yang seminggu sekali memberi les untuk anak-anaknya; Juru Masak, yang menyediakan makanan setelah Alamanda terlalu sibuk bekerja di atas tempat tidur; dan Tukang Kebun yang mengurus taman mawar dan anggrek dan melati kegemaran Alamanda, bersepakat dengan anak-anaknya untuk menyelematkan dirinya dari cengkraman jahat si Tukang Pukul.

"Kita masukkan ia ke panti jompo," kata si anak gadis sulungnya.

"Setelah itu kita ambil kembali uang yang ia peras dari kita," adik si sulung menambahkan.

Dan Pak Guru tak ketinggalan, "Kami akan membantu kau menemukan laki-laki yang kau sukai sendiri untuk tidur bersamamu."

"Kita cari laki-laki seperti itu dari seluruh pelosok negeri," kata si Tukang Kebun.

"Sekarang mari kita seret si Tukang Pukul itu ke panti jompo. Tubuhnya telah renta dan sakit-sakitan, ia tak akan banyak memberontak."

Alamanda terlalu sedih untuk merenungu nasibnya yang buruk, sehingga ia hanya membiarkan saja suaminya yang telah tua renta dimakan waktu diseret ke panti jompo oleh anak-anak dan pembantu-pembantunya sendiri. Namun tak semudah itu melepaskan diri dari cengkraman si iblis. Pada malam ketika suaminya dibawa ke panti jompo, seorang Profesor pikun datang ke rumah, berkata bahwa si Tukang Pukul masih berhutang kepadanya dan karena itu ia menuntut untuk tidur dengan Alamanda selama satu tahun penuh.

Waktu itu ia berumur lima puluh tiga tahun, merasa semakin tua dan semakin bau kematian meskipun kecantikan selalu menguntit di wajahnya. Karena itulah ketika di akhir kencannya yang singkat dengan si Profesor dan si Profesor bertanya apa yang ia inginkan, dengan serta merta Alamanda berkata:

"Jika tidak bisa kawin, setidaknya aku ingin tidur dengan laki-laki yang aku inginkan sendiri."

"Baiklah, Cantik."

Bersama Pak Guru, Juru Masak dan si Tukang Kebun, sang Profesor kemudian mengadakan sayembara ke seluruh negeri mencari laki-laki teman tidur si wanita tercantik di dunia. Negeri yang selama bertahun-tahun hidup membesonkan serta-merta bergelora menyambut sayembara tersebut. Laki-laki dari seluruh pelosok negeri datang melamar, tak ketinggalan Pak Guru, Juru Masak, si Tukang Kebun dan sang Profesor sendiri ikut melamar. Mereka berjanji, jika mereka diberi kesematan, mereka akan memberi Alamanda kebahagiaan sejati. Dan kepada anak-anaknya, dalam rangka mencari dukungan penuh, mereka berjanji untuk merampas kembali harta kekayaan si Tukang Pukul di panti jompo demi kesejahteraan keluarga selama tujuh turunan.

Anak-anak itu mulai bertengkar. Anak-anak pintar mendukung Pak Guru, anak-anak doyan makan mendukung Juru Masak, yang hanya suka main-main mendukung Tukang Kebun. Sang Profesor didukung anak-anaknya yang rada idiot.

Tapi Alamanda memilih seorang Kakek Tua dari negeri antah-berantah. Kakek Tua itu sudah begitu tuanya, sehingga ia tak bisa berbuat apa-apa sebagai seorang laki-laki di hadapan seorang wanita tercantik di dunia. Tapi Alamanda bahagia karena untuk pertama kali ia boleh memilih laki-laki yang disukainya. Sang Profesor kabur karena kecewa, tiga yang lainnya tetap mengabdi di rumah itu.


APAKAH iblis itu kembali dari panti jompo? Bukankah ia sudah tak mampu lagi bercinta dengannya? Dan Kakek Tua itu? Ia bahkan tak bisa membedakan wanita cantik dan wanita buruk rupa. Jadi siapa yang telah bercinta dengannya sehingga di pagi itu Alamanda merasa tubuhnya hancur-lebur seperti puding yang ia jatuhkan tempo hari? Alamanda merasa telah jadi wanita yang paling penuh noda.

Mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaannya, perlahan-lahan ia mulai bisa melihat keremangan ruangan kamar. Suara burung gereja dan mesin kendaraan di jalan mengiang. Angin mengelus tubuh telanjangnya dari jendela. Dengan siapa ia telah bercinta? Ia melihat Kakek Tua itu duduk di kursi goyangnya di pojok kamar: termangu-mangu setengah ngantuk. Kakek Tua sudah tak mengenal apa yang disebut birahi. Lalu Alamanda menoleh dan melihat siapa yang telah membuatnya merasa kembali ternoda. Mereka! Orang-orang yang pura-pura mengabdi pada si kakek Tua! Terkutuklah Mereka!

Pak Guru, Juru Masak dan Tukang Kebun berdiri di tepi tempat tidur setengah telanjang. Tertawa satu sama lain. Di kepala mereka tumbuh tanduk-tanduk menjijikkan.

Dan setengah berteriak karena marah, sambil menangis meratapi nasib, Alamanda bertanya kepada Tuhan, "Apakah semua laki-laki di negeri ini adalah iblis?" *
Cerita Sebelum Tidur

:untuk kahar

langit kamar semakin menyesakkan dada, seharusnya ini dongeng sebelum tidur tetapi sampai saat ini kita belum juga terlelap. sungguh aku merasakannya dari udara yang tertiup dari timur mata angin sampai ke barat ini. kita masing-masing menuju ke arah yang terlalu berlainan adanya, mencari kepulangan kita, mencari dimana letak rumah kita. sedangkan apa yang sedang kita bangun selama ini hanya beberapa rangka, beberapa tiang setengah jadi yang tak kunjung selesai.

aku mencari jejakku yang sudah lama hilang, di antara wajah kawan dan kenangan lama. kota lama yang sudah lama kutinggalkan dan nyaris enggan kujenguk walau hanya sekali waktu. aku hanya menemukan kepiluan yang ramai, keramaian yang menjadi begitu senyap, benar-benar sebuah tembok kota yang gelap suram tanpa cat. aku menemukan kota yang kehilangan mata air sekaligus air mata. tetapi langit disini tiba-tiba terlalu cerah, terlalu indah untuk itu semua.

kutemukan bantal yang bisu, guling yang kaku, dan ranjang yang beku tak bernyawa. subuh tiba dengan kantuknya yang terlalu dan matahari terbit begitu purba, mengulang suatu rutinitas yang sama berkali-kali. bumbu-bumbu menjelang pagi yang sudah basi. wajah pada kaca yang tidak juga terbasuh, lusuh dan luruh di antara tetesan air yang terlalu hangat untuk cuci muka.

seharusnya ini dongeng sebelum tidur, tetapi aku tidak menemukan jemariku di antara sela rambutmu. tidak menemukan tirai yang tersingkap sedikit oleh ujung kakimu. lagi-lagi tidak menemukan dadamu dan itu terlalu menyedihkan untuk persembahan pagi di kota yang semakin menyedihkan ini.

bgr-dini hari
Mirat Muda, Chairil Muda

Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
Menatap lama ke dalam pandangnya
coba memisah mata yang menantang
yang satu tajam dan jujur yang sebelah.

Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;
dan bertanya: Adakah, adakah
kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
Mirat raba urut Chairil, raba dada
Dan tahulah dia kini, bisa katakan
dan tunjukkan dengan pasti di mana
menghidup jiwa, menghembus nyawa
Liang jiwa-nyawa saling berganti.
Dia rapatkan

Dirinya pada Chairil makin sehati;
hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak
dengan mati

-di pegunungan 1943, ditulis 1949

Dengan Mirat

Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas

Aku dan engkau hanya menjengkau
rakit hitam

'Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran hitam?

Matamu ungu membatu

Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu

1946

Sajak Putih
buat tunanganku Mirat

bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda

sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah...

Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...

1944

*sajak-sajak Chairil Anwar kepada Mirat kekasihnya

03 Desember 2002

Sejumput Rindu Buat Bunda di Hari Lebaran

Bunda, apa kabarmu? Kabar yang aku nanti di setiap pagi hanyalah semoga bunda baik-baik saja di sana. Usah pikirkan uban yang makin banyak usil menyeruak, sebanyak itulah kerinduan hadir untukmu.

Bunda, mungkindalam lebaran kali ini aku tak bisa datang bersama mantu dan cucu-cucumu. Bukan tiada ingin berkumpul dengan mu di hari agung ini, tapi keadaan yang benar-benar memaksa. Mantumu rindu merasakan lezatnya olahan tanganmu, ia kadang cemburu bila aku membandingkan masakannya dengan buatan bunda. Aku rindu suasana rumah yang selalu kau hadirkan kedamaian. Dan dua cucumu rindunya kian menebal, terbayang di pelupuk mata mereka tanganmu akan terkembang memeluk dan membawa mereka ke pangkuan mu. Kuping mereka rindu akan dongeng-dongengmu.

Bunda, lima bulan lalu kami telah pindah. Kini rumah yang baru telah luas, halamannya juga lebar. Aku pikir suatu saat bunda pasti tiada bosan lagi bermalam di sini, biarlah halaman itu menanti jamahanmu. Pasti akan kau hadiahkan pada kami pagi yang indah. Dari balik jendela kamarku di lantai dua, aku akan menatap bulir-bulir embun pada kelopak-kelopak bunga. Mereka membagi kasih yang kau racuni pada kehidupannnya. Sungguh damai ada di setiap belaian kasihmu.

Sebelumnya aku minta maaf tiada kabar akan kepindahan kami. Kami disibukkan olehnya. Pusing memikirkan perabotan-perabotan yang pantas untuk ruang tamu. Perabotan yang lama tiada patut dikurung megahnya rumah bergaya Eropa ini. Otomatis semua harus disesuaikan agar layak bersanding. Istrikulah yang paling berjasa dalam menatanya.

Begitu juga dengan luasnya garasi mobil yang tersedia. Kami terpaksa menambah tiga mobil lagi. Kijang yang lama tiada kontras bila berbaring di halaman. Kami memilih tiga mobil Eropa terbaru. Walau perawatannya sangat manja, tapi sungguh anggun berjalan. Bunda pasti tiada bisa berkelit bila kuajak berpesiar di Jakarta, ketakutan muntah di jalan takkan terjadi. Dan tentang mobil ini, maafkan aku lupa mengabarinya. Karena kembali kami dibingungkan untuk memilih warnanya, semua tampak sama indahnya. Untung istriku punya selera bagus. Jadilah kami pilih yang berwarna merah, hitam dan biru.

Mungkin di lebaran kali ini bunda akan dipasung sepi tanpa kehadiran kami di sisi mu. Kami pun merasakan hal yang sama, tapi tak eloklah bila kami meninggalkan rumah dan mobil-mobil itu. Kejahatan di Jakarta hadir di setiap detiknya. Kami terpaksa harus menjaganya sendiri, karena tiga pembantu, dua tukang kebun dan dua satpam pada mudik. Rumah dan isinya tak aman bila ditinggalkan.

Di lebaran kali ini mungkin kami akan menghabiskan waktu hanya di rumah, menikmati acara-acara TV, yang bertambah bagus gambar dan suaranya dari perangkat audio terbaru yang komplit di ruang khusus home theatre kami. Dan sepanjang hari cucu-cucumu dapat berenang di kolam buatan di dalam rumah, membayangkan kali di belakang rumah kita dulu. Tiada lupa aku sempatkan membersihkan mobil-mobil sambil berkaca di bodinya.

Bunda, aku tiada bisa kirimkan apa-apa untuk beli bajumu. Sudah sebulan rekeningku dibekukan dan aku tak boleh melakukan transaksi apapun. Bapak-bapak itu ingin memeriksanya, katanya ada aliran dana yang salah alamat. Bukankah yang telah masuk ke kantung kita tanpa paksaan adalah milik kita? Itu pemberian bosku, karena kemarin rekening istriku telah aku pinjamkan pada beliau. Ia ingin menitipkan sementara uangnya.

Bunda, aku tak bisa pulang ke tempat kelahiranku. Aku sedang dalam pengawasan, mereka katakan tahanan kota. Mungkin di luar kota tak aman. Tapi sebenarnyapun aku sedang menanti bosku yang hilang entah kemana, semenjak ia dicurigai punya banyak uang. Bukankah kita bekerja untuk mencari uang? Tapi aku masih merahasiakan titipan itu. Berjaga-jaga jikalau beliau membutuhkannya.

Bunda, sejumput rindu aku hadirkan bagimu. Biarlah masa mempertemukan kita kelak entah kapan, karena mungkin aku akan dipindahkan ke sebuah pulau yang menurut mereka lebih aman bagiku. Mohon maaf lahir dan bathin. Sembah sujudku bagimu. Jangan engkau ingkari aku anakmu, aku cinta mu, bunda.

Dari yang telah lama menghilang,

Anakmu

3desember2002
tangis kabut pagi ini

berjubah putih pengantar jenasah
mengambang ambing di semua ambang
mengiring iringanan yang resah
lirik bisu tanpa lantang didendang

malam mati semalam
tanpa sedikitpun berguman
dibunuh seorang pendendam
menusuk tanpa senyuman

iringan pun putar haluan
mengarah langit alpa batasan
kali ini tanpa sebait lagu
menuju pekuburan waktu.

02 Desember 2002

Pada Lalu

Sisa-sisa apa yang kau lihat pada lalu?
Aku? Aku bukan Tuhanmu.
Jangan kau katakan aku jalim.
Perompak yang terus mengarung, menggerayangi lautan.
Aku tak ciptakan apa-apa akan nasibmu.
Hidup terus bermula, pagi dan siang hanya rintik-rintik.

Sia-sia apa yang kau telan pada lalu?
Aku? Aku bukan Tuhanmu.
Pedih dan perih itu bara tanur kebajikan.
Simpan rapat tiada berbau. Toh esok mata tiada lagi berdusta.
Kerikil-kerikil tajam nanahi pelupukmu.
Jangan pernah langkah kembali gontai.

Si apa yang kau tatap pada lalu?
Aku? Ya, aku abdimu.
Bayangan yang mengantar mimpi bangkit dari rebah panjang.
Tapi aku tetap hanya bayangan. Setia hanya mencumbui langkahmu.

2desember2002