Smiley face hides the tears inside
Laughter hides the cries
Fear of losing contaminates
Will a single hug compensate?
Will a long deep kiss heals such worries?
Will making love satisfies the needs?
When eventualy you are left alone....
Will the hug, deep kiss and making love makes you stronger...
or will it makes the pain inside you wider?
30 Agustus 2003
29 Agustus 2003
Pars Pro Toto
Ia datang dan pergi sesuka hati, sayangku. Bersama pagutan kisah lampau yang narasinya terpatah-patah. Otak ini miring ke kanan mencoba memilin kepang reranting yang urai tebar lagi. Satu-per-satu memayang lamur. Toreh di tangan dan telinga teteskan merah alir gericik, dan kabut kembali membayangi setiap langkah di lorong sempit gelapku. Genggam-demi-genggam yang mengganggu tetirahan. Hitam-demi-hitam yang melekat di sepanjang tepian. Jengah dan jerih yang menjelaga temani malam-malam menyaru diantara rimbunan angin dan desau dongeng ceritamu. Jalan panjang yang kini lalu hanyalah sekelumit persekian detik dari putaran waktu.
[29.08.2003]
Ia datang dan pergi sesuka hati, sayangku. Bersama pagutan kisah lampau yang narasinya terpatah-patah. Otak ini miring ke kanan mencoba memilin kepang reranting yang urai tebar lagi. Satu-per-satu memayang lamur. Toreh di tangan dan telinga teteskan merah alir gericik, dan kabut kembali membayangi setiap langkah di lorong sempit gelapku. Genggam-demi-genggam yang mengganggu tetirahan. Hitam-demi-hitam yang melekat di sepanjang tepian. Jengah dan jerih yang menjelaga temani malam-malam menyaru diantara rimbunan angin dan desau dongeng ceritamu. Jalan panjang yang kini lalu hanyalah sekelumit persekian detik dari putaran waktu.
[29.08.2003]
Jam 4 pagi
Malam tengah menghitung nafas yang tersisa,
aku jatuh pada rotasi waktu.
Hadirnya yang mengajakku menilik maya kala sebelum masa.
memilin jalinan kisah-kisah yang masih bertebaran tak genah.
Aku terbang di ambang peraduan,
berputar tembusi bayang gambar yang tak lagi berbingkai.
Bagai gurinda menggerus peradaban langit dan bumi,
makin lama makin lebar dan dalam.
Tak satu pun sempat cerna cahar dalam pola abstrak di pikirku.
[16.08.2003]
Malam tengah menghitung nafas yang tersisa,
aku jatuh pada rotasi waktu.
Hadirnya yang mengajakku menilik maya kala sebelum masa.
memilin jalinan kisah-kisah yang masih bertebaran tak genah.
Aku terbang di ambang peraduan,
berputar tembusi bayang gambar yang tak lagi berbingkai.
Bagai gurinda menggerus peradaban langit dan bumi,
makin lama makin lebar dan dalam.
Tak satu pun sempat cerna cahar dalam pola abstrak di pikirku.
[16.08.2003]
28 Agustus 2003
27 Agustus 2003
Wah…nyeni
Matahari menangis di tiga sore. Angin lupa berbisik, bersama burung ada waktu yang menetas. Beranak segala kemungkinan. Tak sungkan langit terus berias diri, awan-awan sejenak berdiri. Kadang berlari. Opss…. tubuhnya dihujam burung besi.
Bocah kecil meringis di tiga sore. Lebih beberapa menit. Sejak detik lalu ia lupa bernafas atau mengembuskannya. Di dekat burung ada yang menetas. Plung…menenggelamkan diri. Di telan masa dan massa.
Bocah kecil meringis di tepi sungai. Jongkok di dalam kakus bambu di atas sungai yang menengadah pasrah. Di belakang ada gunung, dihunus petak-petak sawah yang kian merapat. Dari sini terlihat Basoeki memberi bingkai langit biru. Tak lupa pohon kelapa beberapa menyentuhnya. Ada titik-titik. Mungkin itu buahnya. Atau seekor monyet? Mungkin orang memanjat. Ah… hanya Bassoeki yang tahu. Sedikit riak ada pula di aliran sungai. Batu hitam. Riak melingkar. Malingkundang? Oiii… itu bukan pulau, hanya batu. Dan setetes biru. Langit menangis? Basoeki menjerit. Tangannya geram mengusap-usap. Buram. Berlalu. Banyak orang datang dan membelinya. Wah… indah.
Bocah kecil masih meringis. Di atas air yang kini biru mengalir. Mulutnya sinting menari, naik turun. Ia tak mengucap syair. Lupa ada melodi yang menanti dijemput. Hanya ada sejumput nyeri, cacing-cacing mencari mimbar. Gaduh dengan liuk tak tentu. Teaterial. Sesekali berjumpalitan, bergelut, meregang. Dan erangan, menekan. Ngeden. Plung…. Lagi-lagi air memeluknya. Berkecipak., bertepuk tangan. Sambil berdiri, Tejo memberinya judul.
Bocah kecil masih meringis di atas kakus. Sumpah mampus perutnya tak jelas, memberangus. Badannya kian mengering. Oleh hari membakar. Nilai yang kian terpanggang, kadang ada bara. Selalu ada abu. Abu-abu. Gerah, diraupnya air seni di dekat burung yang berceloteh bagai Rendra. Diusapnya pada rambut tebal bergulung milik Saut. Abrakadabra…… otak tumpul biarlah tumpul. Yang bergulung jangan berguling. Yang sumbing tak perlu malu tersungging.
Bocah kecil tak lagi meringis. Hanya menangis punggungi panggung kakus. Di sana ada mantera penjinak milik Sutardji. Sedikit amuk mengusik hawa udara tadi. Tak bau kata ikan-ikan. Tak serak kata udara. Tak, tak, tak. Ilalang bertepuk tangan. Akar rumput geram mencengkram. Di depan langkah, kerbau tertambat menanti. Tersenyum dan berucap, “mbouuw…nyeni”
Matahari menangis di tiga sore. Angin lupa berbisik, bersama burung ada waktu yang menetas. Beranak segala kemungkinan. Tak sungkan langit terus berias diri, awan-awan sejenak berdiri. Kadang berlari. Opss…. tubuhnya dihujam burung besi.
Bocah kecil meringis di tiga sore. Lebih beberapa menit. Sejak detik lalu ia lupa bernafas atau mengembuskannya. Di dekat burung ada yang menetas. Plung…menenggelamkan diri. Di telan masa dan massa.
Bocah kecil meringis di tepi sungai. Jongkok di dalam kakus bambu di atas sungai yang menengadah pasrah. Di belakang ada gunung, dihunus petak-petak sawah yang kian merapat. Dari sini terlihat Basoeki memberi bingkai langit biru. Tak lupa pohon kelapa beberapa menyentuhnya. Ada titik-titik. Mungkin itu buahnya. Atau seekor monyet? Mungkin orang memanjat. Ah… hanya Bassoeki yang tahu. Sedikit riak ada pula di aliran sungai. Batu hitam. Riak melingkar. Malingkundang? Oiii… itu bukan pulau, hanya batu. Dan setetes biru. Langit menangis? Basoeki menjerit. Tangannya geram mengusap-usap. Buram. Berlalu. Banyak orang datang dan membelinya. Wah… indah.
Bocah kecil masih meringis. Di atas air yang kini biru mengalir. Mulutnya sinting menari, naik turun. Ia tak mengucap syair. Lupa ada melodi yang menanti dijemput. Hanya ada sejumput nyeri, cacing-cacing mencari mimbar. Gaduh dengan liuk tak tentu. Teaterial. Sesekali berjumpalitan, bergelut, meregang. Dan erangan, menekan. Ngeden. Plung…. Lagi-lagi air memeluknya. Berkecipak., bertepuk tangan. Sambil berdiri, Tejo memberinya judul.
Bocah kecil masih meringis di atas kakus. Sumpah mampus perutnya tak jelas, memberangus. Badannya kian mengering. Oleh hari membakar. Nilai yang kian terpanggang, kadang ada bara. Selalu ada abu. Abu-abu. Gerah, diraupnya air seni di dekat burung yang berceloteh bagai Rendra. Diusapnya pada rambut tebal bergulung milik Saut. Abrakadabra…… otak tumpul biarlah tumpul. Yang bergulung jangan berguling. Yang sumbing tak perlu malu tersungging.
Bocah kecil tak lagi meringis. Hanya menangis punggungi panggung kakus. Di sana ada mantera penjinak milik Sutardji. Sedikit amuk mengusik hawa udara tadi. Tak bau kata ikan-ikan. Tak serak kata udara. Tak, tak, tak. Ilalang bertepuk tangan. Akar rumput geram mencengkram. Di depan langkah, kerbau tertambat menanti. Tersenyum dan berucap, “mbouuw…nyeni”
26 Agustus 2003
One Last Cry
My shattered dreams and broken heart
Are mending on the shelf
I saw you holding hands
Standing close to someone else
Now I sit all alone
Wishing all my feeling was gone
I gave my best to you
Nothing for me to do
But have one last cry
Chorus:
One last cry
Before I leave it all behind
I've gotta put you out of my mind this time
Stop living a lie
I guess I'm down to my last cry
I was here, you were there
Guess we never could agree
While the sun shines on you
I need some love to rain on me
Still I sit all alone
Wishing all my feeling was gone
Gotta get over you
Nothing for me to do
But have one last cry
Chorus:
One last cry
Before I leave it all behind
I've gotta put you out of my mind this time
Stop living a lie
I know I gotta be strong
Cause round me life goes on and on and on and on
I'm gonna dry my eyes
Right after I end my one last cry
Chorus:
One last cry
Before I leave it all behind
I've gotta put you out of my mind for the very last time
Been living a lie
I guess I'm down
I guess I'm down
I guess I'm down...
to my last cry
: Seorang P...Semoga kau temukan kembali keabadian asa itu...
My shattered dreams and broken heart
Are mending on the shelf
I saw you holding hands
Standing close to someone else
Now I sit all alone
Wishing all my feeling was gone
I gave my best to you
Nothing for me to do
But have one last cry
Chorus:
One last cry
Before I leave it all behind
I've gotta put you out of my mind this time
Stop living a lie
I guess I'm down to my last cry
I was here, you were there
Guess we never could agree
While the sun shines on you
I need some love to rain on me
Still I sit all alone
Wishing all my feeling was gone
Gotta get over you
Nothing for me to do
But have one last cry
Chorus:
One last cry
Before I leave it all behind
I've gotta put you out of my mind this time
Stop living a lie
I know I gotta be strong
Cause round me life goes on and on and on and on
I'm gonna dry my eyes
Right after I end my one last cry
Chorus:
One last cry
Before I leave it all behind
I've gotta put you out of my mind for the very last time
Been living a lie
I guess I'm down
I guess I'm down
I guess I'm down...
to my last cry
: Seorang P...Semoga kau temukan kembali keabadian asa itu...
22 Agustus 2003
Asa Patah
perasanku tumpah tercecer dilantai
mengerang menanti persinggahan
mengaduh menjelma iblis menakutkan
membuatku gundah tak bisa tidur
tangisku bekam tawaku semu malamku mencekik
rinduku beku tak tersalurkan
cintaku tak terbalaskan
hanya bingung menimpa mengiba-ngiba
menanti peluh rata tanpa kasta
lamalama aku bisa gila mencintaimu
lamalama aku bisa stres memujamu
lamalama aku terkapar merindumu
lantas mengapa semuanya jadi samar
seakan mengiring damar dalam remang malam
terangku tak bisa lagi menerobos dindingmu
telalu banyak cahaya disana
sinarku tak lagi mampu menyapa jiwamu
banyak yang terseret disana
menanti lembutmu mencari harum paras mu
sayang, banyak kata terbunuh hari ini
membaur tak jelas entah kemana setiap hurupnya beterbangan
ya, rangkaian bunga duka untuk hatiku yang makin membugang
menyentak melembut memecah dalam padu rindu kesal ragu
kadang dadaku terbakar, mencari kalimat kabur tanpa pamit
kemarin bangau itu menyapaku, mengajaku berkeliling
kemudian bercerita tentang alamnya yang tak lagi dibebani rindu
Cairo, 20 Agt 03
perasanku tumpah tercecer dilantai
mengerang menanti persinggahan
mengaduh menjelma iblis menakutkan
membuatku gundah tak bisa tidur
tangisku bekam tawaku semu malamku mencekik
rinduku beku tak tersalurkan
cintaku tak terbalaskan
hanya bingung menimpa mengiba-ngiba
menanti peluh rata tanpa kasta
lamalama aku bisa gila mencintaimu
lamalama aku bisa stres memujamu
lamalama aku terkapar merindumu
lantas mengapa semuanya jadi samar
seakan mengiring damar dalam remang malam
terangku tak bisa lagi menerobos dindingmu
telalu banyak cahaya disana
sinarku tak lagi mampu menyapa jiwamu
banyak yang terseret disana
menanti lembutmu mencari harum paras mu
sayang, banyak kata terbunuh hari ini
membaur tak jelas entah kemana setiap hurupnya beterbangan
ya, rangkaian bunga duka untuk hatiku yang makin membugang
menyentak melembut memecah dalam padu rindu kesal ragu
kadang dadaku terbakar, mencari kalimat kabur tanpa pamit
kemarin bangau itu menyapaku, mengajaku berkeliling
kemudian bercerita tentang alamnya yang tak lagi dibebani rindu
Cairo, 20 Agt 03
18 Agustus 2003
akhirnya aku harus pulang
:refleksi atas sebuah cinta jarak
akhirnya kau dan aku harus kembali memasuki gerbong
gerbong yang berbeda. kau berlari ke arah timur matahari
sedang aku tertatihtatih ke arah barat, mempertegas
sebuah kepulangan
derit kereta kembali menelan tubuhmu dari stasiun tua
milik kita. kota ini menyimpan sekelumit kisah kecil kau
dan aku yang kelak hanya akan jadi kelakar
senandungku mencoba mengalahkan lengking peluit
yang mengawali kembali jarak. dan perpisahan tetaplah
perpisahan apapun namanya. kau menjadi titik paling kecil
dalam pandangan sebelum hilang ditelan kabut pekat
aku masih terdiam di sini, menunggu sebuah gerbong
menyeretku, lantas kota ini kembali sunyi. tak ada kau,
tak ada aku
dan tibatiba aku menemukanmu benarbenar lenyap tanpa jejak
lalu kutemukan diriku sendiri tanpa siapa pun. menunggu
kepastian membawaku pulang, sedang mataku masih menangkap
sketsa wajahmu meski samar
belum sempat kutanyakan tentang arti rindu
kau telah begitu saja lenyap. melangkahkan kaki ke arah panggilan
milik ibu, dan dalam kepalamu masih ada mimpi tentang
kampunghalaman yang rindang
kita telah benarbenar berjarak, sedang usia terus bergerak
aku kembali sendiri, terasing dalam sunyi yang nyata
dalam hampa yang terasa lekat
aku pemuja sepi yang akhirnya harus pulang
menuju entah!
01:15 am
:refleksi atas sebuah cinta jarak
akhirnya kau dan aku harus kembali memasuki gerbong
gerbong yang berbeda. kau berlari ke arah timur matahari
sedang aku tertatihtatih ke arah barat, mempertegas
sebuah kepulangan
derit kereta kembali menelan tubuhmu dari stasiun tua
milik kita. kota ini menyimpan sekelumit kisah kecil kau
dan aku yang kelak hanya akan jadi kelakar
senandungku mencoba mengalahkan lengking peluit
yang mengawali kembali jarak. dan perpisahan tetaplah
perpisahan apapun namanya. kau menjadi titik paling kecil
dalam pandangan sebelum hilang ditelan kabut pekat
aku masih terdiam di sini, menunggu sebuah gerbong
menyeretku, lantas kota ini kembali sunyi. tak ada kau,
tak ada aku
dan tibatiba aku menemukanmu benarbenar lenyap tanpa jejak
lalu kutemukan diriku sendiri tanpa siapa pun. menunggu
kepastian membawaku pulang, sedang mataku masih menangkap
sketsa wajahmu meski samar
belum sempat kutanyakan tentang arti rindu
kau telah begitu saja lenyap. melangkahkan kaki ke arah panggilan
milik ibu, dan dalam kepalamu masih ada mimpi tentang
kampunghalaman yang rindang
kita telah benarbenar berjarak, sedang usia terus bergerak
aku kembali sendiri, terasing dalam sunyi yang nyata
dalam hampa yang terasa lekat
aku pemuja sepi yang akhirnya harus pulang
menuju entah!
01:15 am
Rindumu gaduhdalam
berkutat dalam bising padu karam
setiap halaman adalah makna
setiap nafas adalah usia
bising karam memadu usia dalam makna
berkutat dalam senja adalah asa
setiap menit adalah rindu
setiap jengkal adalah padu
menanti asa senja dalam padu rindu
catatanmu dalam petuah adalah prasati
langkahmu penjarakan kelam adalah tekad
dan apakah rindumu, asamu, anganmu,
akan sepenuhnya dalam dawai paduku
Cairo, 15 agt 03
berkutat dalam bising padu karam
setiap halaman adalah makna
setiap nafas adalah usia
bising karam memadu usia dalam makna
berkutat dalam senja adalah asa
setiap menit adalah rindu
setiap jengkal adalah padu
menanti asa senja dalam padu rindu
catatanmu dalam petuah adalah prasati
langkahmu penjarakan kelam adalah tekad
dan apakah rindumu, asamu, anganmu,
akan sepenuhnya dalam dawai paduku
Cairo, 15 agt 03
17 Agustus 2003
entah sudah berapa puluh tahun,
tak lagi teringat ..
mungkin sudah bosan pula menghitung,
jenuh mencari tau ..
apalah artinya? 1 taun, 10 taun, atau bahkan 100 taun sekalipun?
janji janji dikoarkan,
perbaikan, pemerataan, kesempatan untuk berkarya, atawa tetek bengek yang lainnya
untuk apa?
toh cuma sekedar dongeng agar tak tergusur di pemilihan nanti.
argh .. muak !
bendera terkibar
naik menuju langit menantang TUHAN di kediamannya
GILA!
tak malukah mereka?
tak taukah kalau rakyat miskin kelaparan?
kemarau melilit sawah,
panen gagal, paceklik total, busung lapar melanda?
tak lihatkah pengangguran bertumpuk tumpuk ikan sarden kalengan?
tak lihatkah anak2 kecil mengisap aica aibon di lampu2 merah? mata merah, kaki tanpa alas, dekil dan bau?
atau para perampok pencoleng pencuri pembunuh pemerkosa merajalela dari ibukota sampai kampung2?
para pejabat berdandan rapih .. mobil built up keluaran terbaru, jas bahkan batik buatan perancang,
sanggulan rambut ibu ibu menteri dengan parfum keluaran luar negeri
ah gila ..
cuma korupsi aja harus dibanggakan?
tak malukah terhadap anak cucu?
tak malukah terhadap Yang diatas?
sekali lagi tanggal tujuh belas di bulan kedelapan,
seharusnya tak perlu bersuka
bahkan tak perlu ada potong kue ulang tahun
seharusnya kita semua tertunduk malu ..
entah mau dibawa kemana negeri ini tahun depan?
"selamat ulang tahun INDONESIAKU, entah kapan kau mulai bercermin dan mencari tissue basah untuk menghapus coreng di wajahmu"
tak lagi teringat ..
mungkin sudah bosan pula menghitung,
jenuh mencari tau ..
apalah artinya? 1 taun, 10 taun, atau bahkan 100 taun sekalipun?
janji janji dikoarkan,
perbaikan, pemerataan, kesempatan untuk berkarya, atawa tetek bengek yang lainnya
untuk apa?
toh cuma sekedar dongeng agar tak tergusur di pemilihan nanti.
argh .. muak !
bendera terkibar
naik menuju langit menantang TUHAN di kediamannya
GILA!
tak malukah mereka?
tak taukah kalau rakyat miskin kelaparan?
kemarau melilit sawah,
panen gagal, paceklik total, busung lapar melanda?
tak lihatkah pengangguran bertumpuk tumpuk ikan sarden kalengan?
tak lihatkah anak2 kecil mengisap aica aibon di lampu2 merah? mata merah, kaki tanpa alas, dekil dan bau?
atau para perampok pencoleng pencuri pembunuh pemerkosa merajalela dari ibukota sampai kampung2?
para pejabat berdandan rapih .. mobil built up keluaran terbaru, jas bahkan batik buatan perancang,
sanggulan rambut ibu ibu menteri dengan parfum keluaran luar negeri
ah gila ..
cuma korupsi aja harus dibanggakan?
tak malukah terhadap anak cucu?
tak malukah terhadap Yang diatas?
sekali lagi tanggal tujuh belas di bulan kedelapan,
seharusnya tak perlu bersuka
bahkan tak perlu ada potong kue ulang tahun
seharusnya kita semua tertunduk malu ..
entah mau dibawa kemana negeri ini tahun depan?
"selamat ulang tahun INDONESIAKU, entah kapan kau mulai bercermin dan mencari tissue basah untuk menghapus coreng di wajahmu"
Padang rumput
: 58 Indonesiaku
Panas menyapaku kemarin
menghantar debu bersama terik
sayup mesintik berdetak lembut
mengukir prasasti kertas putih
depan dipan roda empat termangu
menanti petang setia malam
lelah berputar telusuri bebatuan
lunglai menghantar tongkat pandu
jarum tak ragu menusuknusuk
menyusup dua kain kelok benang
mengikat erat dua warna
menemani lembut wanita setengah baya
dicawan kuliat kopi kental
bersanding asbak kepul asap jingga
beberapa mili ongkokan hidangan ringan
tersenyum menegur memecah hening
ya, kulihat mereka dikelilingi
terpusara kerut kening berpeci
sewaktuwaktu desah asap kelam
paduan harap cemas bangga haru
nun jauh disana runcing bambu tersandang
bukan satu, bahkan beribu beriringan
kala kokok datang menggusur fajar
kala rumput terbebani embun
di padang rumput itu,
tiang bambu tegak berdiri
di padang rumput itu,
beribu mata berkacakaca
di padang rumput itu,
M E R D E K A
Cairo, 17 Agustus 2003
: 58 Indonesiaku
Panas menyapaku kemarin
menghantar debu bersama terik
sayup mesintik berdetak lembut
mengukir prasasti kertas putih
depan dipan roda empat termangu
menanti petang setia malam
lelah berputar telusuri bebatuan
lunglai menghantar tongkat pandu
jarum tak ragu menusuknusuk
menyusup dua kain kelok benang
mengikat erat dua warna
menemani lembut wanita setengah baya
dicawan kuliat kopi kental
bersanding asbak kepul asap jingga
beberapa mili ongkokan hidangan ringan
tersenyum menegur memecah hening
ya, kulihat mereka dikelilingi
terpusara kerut kening berpeci
sewaktuwaktu desah asap kelam
paduan harap cemas bangga haru
nun jauh disana runcing bambu tersandang
bukan satu, bahkan beribu beriringan
kala kokok datang menggusur fajar
kala rumput terbebani embun
di padang rumput itu,
tiang bambu tegak berdiri
di padang rumput itu,
beribu mata berkacakaca
di padang rumput itu,
M E R D E K A
Cairo, 17 Agustus 2003
Langganan:
Postingan (Atom)