Doa seorang sekuler
Ketika diam, hening berbicara. Dan waktu melukis suasana, memikat gelap untuk mampir tanpa curiga....
Kau nyalakan lilin
Menari-nari beralas raga. Berpendar, meliuk-liuk. Tumbuh menghirup dera untuk masa yang mulai berjalan, sedikit bergegas. Berkemas nafas lalui simpang-simpang yang menitip sejuta bisik. Pintu-pintu zaman telah terbuka, nyata terbaca berkabut tafsir. Tak sulit mengeja, tinggal logika mengendus mana.
Lilinpun mulai mencair
Mengalir membanjiri. Waktu telah durhaka, tak mau berpaling pada lalu. Terbajak mencetak petak-petak kabar. Goresan zaman yang kita titipkan keringat, terkadang ada mimis. Jika dulu ada dinosaurus dan sekarang badak, apakah kita bangga sekedar dari monyet menjadi manusia? Mari mencetak sejarah bukan menanti titipan nisan. Tembok tirani pun perlu mata, jiwa kita dipasung. Ia perlu kata, jerit-jerit digoreskan dengan gigi-gigi menganga. Ia perlu warna..... darah, kita benturkan logika untuk meruntuhkannya.
Lamat-lamat mengecil. Dan mati.
Senyap kembali berselingkuh, setelah Kau jentikan nafas menjauh. Semoga tidak siulan usilMu. Bersabar untuk waktu yang tiada bersahabat. Mungkin bukan detik ini, tapi aku yakin Kau masih punya lilin-lilin lain yang akan Kau nyalakan untuk teman menulis nasib-nasib manusia yang mengais.
Kalimatuka tunirul tariai,
alleluia
Kalimatuka tifirul hayati,
alleluia
sabdaMu jadikan semangat hidupku
amien
13julii2003
14 Juli 2003
13 Juli 2003
Alat
bersama mentari menyambut hari anugrahmu
bermain kelam menanti malam dalam buram
hambamu karang congkak bertepuk
kalaulah cakrawala senja mengerti getir
lantas kemana alat pekat keparat berkarat
seakan buram congkak cakrawala senja
menggantung mengiring mendung menanti malam
hambamu bersimpuh mamadu alat bersemi
emang enak jadi alat lantas sepah terbuang
perjalananmu memang begitu mas,,,,
memadu alat bermain buram bertepuk ombak
kalo engga, birumu kembali mengelam
menggapai awan lalu memutih bak kapas berganti
hambamu alat menggapai puas srigala congkak
berjalan lusuh mencari celah ungu membiru
kemudian memutih ditelan awan
bersama mentari menyambut hari anugrahmu
bermain kelam menanti malam dalam buram
hambamu karang congkak bertepuk
kalaulah cakrawala senja mengerti getir
lantas kemana alat pekat keparat berkarat
seakan buram congkak cakrawala senja
menggantung mengiring mendung menanti malam
hambamu bersimpuh mamadu alat bersemi
emang enak jadi alat lantas sepah terbuang
perjalananmu memang begitu mas,,,,
memadu alat bermain buram bertepuk ombak
kalo engga, birumu kembali mengelam
menggapai awan lalu memutih bak kapas berganti
hambamu alat menggapai puas srigala congkak
berjalan lusuh mencari celah ungu membiru
kemudian memutih ditelan awan
12 Juli 2003
menyeruak bebatuan
di negeri ini yang tertinggal hanya puing peradaban
sisa dari berbagai upacara dan peristiwa. setetes airmata,
sepinggan doa telah lenyap dibakar pejiarah yang kalut
ada yang menyempurnakan kesedihan lewat jalan setapak
yang menanjak
di negeri ini tak hanya gemericik air yang telah lenyap
namun tangis bayi, lenguh kerbau, cericit burung, desah
angin dan gemerisik dedaunan pun ikut terbang bersama
sengketa juga dendam
di negeri ini tak sejengkal tanah pun sebagai rumah
maka kuseret peradaban dalam langkahlangkah berat
dan di punggungku masih juga sarat amanat, tanggung
jawab sebagai anak. sedang rindu kepadamu masih merasuk
dalam batin, menggenapkan kesakitan yang kudus
dalam cintamu yang berbatu, kukayuh lagi langkah
mencari rumah sebagai persinggahan abadi.
BumiAllah, 2003
di negeri ini yang tertinggal hanya puing peradaban
sisa dari berbagai upacara dan peristiwa. setetes airmata,
sepinggan doa telah lenyap dibakar pejiarah yang kalut
ada yang menyempurnakan kesedihan lewat jalan setapak
yang menanjak
di negeri ini tak hanya gemericik air yang telah lenyap
namun tangis bayi, lenguh kerbau, cericit burung, desah
angin dan gemerisik dedaunan pun ikut terbang bersama
sengketa juga dendam
di negeri ini tak sejengkal tanah pun sebagai rumah
maka kuseret peradaban dalam langkahlangkah berat
dan di punggungku masih juga sarat amanat, tanggung
jawab sebagai anak. sedang rindu kepadamu masih merasuk
dalam batin, menggenapkan kesakitan yang kudus
dalam cintamu yang berbatu, kukayuh lagi langkah
mencari rumah sebagai persinggahan abadi.
BumiAllah, 2003
11 Juli 2003
episode-episode: sebelum subuh
1.
sepenuh hati kutangkup wajah lelaki yang bermetamorfosa
menjadi rentan tapi ini memang kekalahan, mutlak
dalam sehari. tak ada lagi bir menetes di sela jari
sembunyi, sembunyilah di dada
menjelang fajar ini adalah ritual getir menutup luka
tapi tasbih ibumu terburai ke delapan penjuru mata angin
sedang kau menggadaikan kisah kepulangan kepada
siluet kuning, gelas-gelas berbusa pun berdenting
:di puncak perayaan, lelaki itu menyemburkan airmata
2.
pergilah
akan kujaga pojok kita dengan ludah
sebelum gersang oleh gerayangan tangan
perlu berapa takaran agar ruh berjalan di awan?
pergilah
akan kubakar kubus es kita menjadi peluh
setelah ektase seperti gelengan kepayahan
berapa harus kubayar demi sepi sesunyi kuburan?
3.
maka kularungkan airmata ke samudera
sepelukan sepi pada dentang ke sebelas
tikaman luka lalu gambari dengan pecahan gelas
hingga sempurna germerlap peta ke dadaku
yang telanjang purba. maka..
kekasih, tunggu aku di padang saat bulan genap purnama
1.
sepenuh hati kutangkup wajah lelaki yang bermetamorfosa
menjadi rentan tapi ini memang kekalahan, mutlak
dalam sehari. tak ada lagi bir menetes di sela jari
sembunyi, sembunyilah di dada
menjelang fajar ini adalah ritual getir menutup luka
tapi tasbih ibumu terburai ke delapan penjuru mata angin
sedang kau menggadaikan kisah kepulangan kepada
siluet kuning, gelas-gelas berbusa pun berdenting
:di puncak perayaan, lelaki itu menyemburkan airmata
2.
pergilah
akan kujaga pojok kita dengan ludah
sebelum gersang oleh gerayangan tangan
perlu berapa takaran agar ruh berjalan di awan?
pergilah
akan kubakar kubus es kita menjadi peluh
setelah ektase seperti gelengan kepayahan
berapa harus kubayar demi sepi sesunyi kuburan?
3.
maka kularungkan airmata ke samudera
sepelukan sepi pada dentang ke sebelas
tikaman luka lalu gambari dengan pecahan gelas
hingga sempurna germerlap peta ke dadaku
yang telanjang purba. maka..
kekasih, tunggu aku di padang saat bulan genap purnama
07 Juli 2003
hidup pembunuhan, mampuslah kemanusiaan!
:dwi hb
saya tidak tahu adakah dionysus, si dewa anggur, bahagia malam itu. malam itu, saya melihat tiga pembunuhan berturut-turut. malam itu juga, saya mati. pelan-pelan.
jam empat sore, sebuah kesepakatan saya buat bersama teman. kesepakatan malam nanti kami akan menyaksikan sebuah pertunjukan yang jarang-jarang terjadi di sini: sekelompok teater akan pentas malam nanti, bukan satu lakon, tapi tiga. juga bukan lakon biasa, di sebuah publikasi tertulis: menolong itu tabu. lakon-lakon itu: stop-telepon-buron, dua buah tangan putu wijaya, yang menggetarkan itu, satunya buah tangan ribut.
lalu mulailah serentetan kejutan itu. kejutan-kejutan itu, begitu saja membuat saya lupa kalau saya juga manusia. sebuah catatan harian yang saya bakar sambil tersenyum senja tadi, saat merah tersingkir oleh keliaran hitam, seolah mengejek saya yang berdiri paling belakang. paling belakang karena malam itu sebuah pertemuan mengacaukan kesepakatan yang saya buat dengan teman saya. teman saya mungkin tak menyaksikan perang paling seru di jagad raya, merah lawan hitam, dua puluh menit sebelum pementasan ia telah datang ke tempat pertunjukan (gedung olah raga ternyata tempat pertunjukan yang lumayan puitis untuk beberapa buah pembunuhan).
kejutan pertama ialah saat saya dapati beberapa puisi menempel di sisi-sisi luar gedung pertunjukan, puisi bertinta merah di atas kain putih. ratusan jarum, atau barangkali ribuan jarum, seperti lepas dari puisi-puisi itu menuju ke mata saya, naik sebentar ke otak, dan turun dengan cepatnya ke hati saya. puisi selalu saja seperti itu: seperti bikin luka, seperti bikin orgasme. ini darah pertama yang keluar dari tubuh dan jiwa saya, darah karena puisi. diam-diam, dengan darah yang ada, saya tulis puisi di atas puisi-puisi itu.
lalu yang kedua. saat saya dapati pintu telah rapat tertutup. tiket tak di tangan. ke mana penjual tiket? sayup-sayup saya dengar seorang sales menawarkan sebuah pesawat telepon. seperti apa rupanya pesawat telepon itu? warnanya? hei... pesawat telepon? bukan handphone? jaman sekarang? ehm. "bisa masuk?" seseorang, tampaknya panita pertunjukan, membuka pintu. "ada tiket?" tanya dia. "belum," jawab saya. "bisa beli?" tanya saya lagi. "atau bagaimana kalau gratis?" lanjut saya. "diam-diam, mengendap lewat belakang, tak akan mengganggu rasanya. dengar-dengar pertunjukan siang tadi sold out?" "oke, pelan-pelan ya," jawab dia. gelap sekali gedung itu. saya tidak tahu seperti apa wajah yang berbicara dengan saya barusan. saya tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih kepadanya.
sudah tak ada tempat. kursi-kursi telah penuh. asap rokok mengabut. ini pasar: orang-orang ramai ngobrol, seorang pedagang telepon menawarkan dengan gigih barang dagangannya, beberapa mengutak-atik handphone, krang-kring. ini hebatnya sebuah gedung olah raga yang disulap menjadi gedung pertunjukan, begitu alamiah, begitu takkaku, begitu santai.
kejutan yang ketiga adalah tepat saat si penjual dibunuh lewat persekongkolan suami-istri petani yang begitu hebat, seseorang yang duduk beberapa meter di depan tempat saya berdiri telepon genggamnya berbunyi. "halo," katanya. pedagang itu lantas mati. mayatnya diseret si suami. si istri menyembunyikan telepon.
yang keempat bukan keterkejutan, melainkan semacam keterkejutan, barangkali keterpanaan. malam itu saya lihat bintang jatuh ke bumi, di sela ramai obrolan dan derai tawa orang-orang di sekitar saya. bintang itu seorang pemerkosa yang melarikan diri bersama seorang kawan buronnya yang juga pemerkosa. saya diam. peta di wajahnya, keringat di pakaiannya, ketakutan di matanya memenjara saya. saya jarang menyaksikan pertunjukan, terlebih tentang pembunuhan. pemerkosa yang satu ini begitu mengagumkan. belakangan saya tahu namanya dwi hendro basuki, seorang pemain teater, penulis yang novelnya telah saya baca dua kali -dan tak begitu saya suka, dan pemerkosa. malam itu saya tunduk kepada pemerkosa. saya rela tunduk kepada pemerkosa. saya diperkosa. sebuah permintaan saya utarakan berhubung ini bintang jatuh: kiranya saya bisa melihatnya lagi menjadi seorang aktor.
kejutan yang kelima, berbeda dengan beberapa kejutan sebelumnya, tak menyisakan darah di tubuh dan jiwa saya. seorang babu menaati tuannya seperti seorang hamba menaati tuhannya. si tuan dibunuh si babu, seperti si tuhan dibunuh si hamba. kotak televisi menjadi saksi takbisu kejadian itu. ia kemudian menyebarkan berita-berita bohong tentang kejadian yang sama di mana-mana, di irak, di palestina, di timor timur, di aceh, wuih, di dalam kampus, di layar handphone, di mana-mana. aneh, babu itu tak mematikan televisi itu. seolah bangga jadi hamba paling taat.
pertunjukan ditutup setelah sebelumnya ada kilatan cahaya dari sebuah kamera yang ternyata dipegang oleh teman saya yang saya khianati. dionysus masih tak tampak. (maafkan saya dewa, sebotol anggur, yang paling murah sekalipun, terlalu mewah buat saya).
ah, hiduplah pembunuhan, mampuslah kemanusiaan!
tujuh ratus dua puluh satu kata setelah kematian.
imam hidayah, penggemar senja.
:dwi hb
saya tidak tahu adakah dionysus, si dewa anggur, bahagia malam itu. malam itu, saya melihat tiga pembunuhan berturut-turut. malam itu juga, saya mati. pelan-pelan.
jam empat sore, sebuah kesepakatan saya buat bersama teman. kesepakatan malam nanti kami akan menyaksikan sebuah pertunjukan yang jarang-jarang terjadi di sini: sekelompok teater akan pentas malam nanti, bukan satu lakon, tapi tiga. juga bukan lakon biasa, di sebuah publikasi tertulis: menolong itu tabu. lakon-lakon itu: stop-telepon-buron, dua buah tangan putu wijaya, yang menggetarkan itu, satunya buah tangan ribut.
lalu mulailah serentetan kejutan itu. kejutan-kejutan itu, begitu saja membuat saya lupa kalau saya juga manusia. sebuah catatan harian yang saya bakar sambil tersenyum senja tadi, saat merah tersingkir oleh keliaran hitam, seolah mengejek saya yang berdiri paling belakang. paling belakang karena malam itu sebuah pertemuan mengacaukan kesepakatan yang saya buat dengan teman saya. teman saya mungkin tak menyaksikan perang paling seru di jagad raya, merah lawan hitam, dua puluh menit sebelum pementasan ia telah datang ke tempat pertunjukan (gedung olah raga ternyata tempat pertunjukan yang lumayan puitis untuk beberapa buah pembunuhan).
kejutan pertama ialah saat saya dapati beberapa puisi menempel di sisi-sisi luar gedung pertunjukan, puisi bertinta merah di atas kain putih. ratusan jarum, atau barangkali ribuan jarum, seperti lepas dari puisi-puisi itu menuju ke mata saya, naik sebentar ke otak, dan turun dengan cepatnya ke hati saya. puisi selalu saja seperti itu: seperti bikin luka, seperti bikin orgasme. ini darah pertama yang keluar dari tubuh dan jiwa saya, darah karena puisi. diam-diam, dengan darah yang ada, saya tulis puisi di atas puisi-puisi itu.
lalu yang kedua. saat saya dapati pintu telah rapat tertutup. tiket tak di tangan. ke mana penjual tiket? sayup-sayup saya dengar seorang sales menawarkan sebuah pesawat telepon. seperti apa rupanya pesawat telepon itu? warnanya? hei... pesawat telepon? bukan handphone? jaman sekarang? ehm. "bisa masuk?" seseorang, tampaknya panita pertunjukan, membuka pintu. "ada tiket?" tanya dia. "belum," jawab saya. "bisa beli?" tanya saya lagi. "atau bagaimana kalau gratis?" lanjut saya. "diam-diam, mengendap lewat belakang, tak akan mengganggu rasanya. dengar-dengar pertunjukan siang tadi sold out?" "oke, pelan-pelan ya," jawab dia. gelap sekali gedung itu. saya tidak tahu seperti apa wajah yang berbicara dengan saya barusan. saya tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih kepadanya.
sudah tak ada tempat. kursi-kursi telah penuh. asap rokok mengabut. ini pasar: orang-orang ramai ngobrol, seorang pedagang telepon menawarkan dengan gigih barang dagangannya, beberapa mengutak-atik handphone, krang-kring. ini hebatnya sebuah gedung olah raga yang disulap menjadi gedung pertunjukan, begitu alamiah, begitu takkaku, begitu santai.
kejutan yang ketiga adalah tepat saat si penjual dibunuh lewat persekongkolan suami-istri petani yang begitu hebat, seseorang yang duduk beberapa meter di depan tempat saya berdiri telepon genggamnya berbunyi. "halo," katanya. pedagang itu lantas mati. mayatnya diseret si suami. si istri menyembunyikan telepon.
yang keempat bukan keterkejutan, melainkan semacam keterkejutan, barangkali keterpanaan. malam itu saya lihat bintang jatuh ke bumi, di sela ramai obrolan dan derai tawa orang-orang di sekitar saya. bintang itu seorang pemerkosa yang melarikan diri bersama seorang kawan buronnya yang juga pemerkosa. saya diam. peta di wajahnya, keringat di pakaiannya, ketakutan di matanya memenjara saya. saya jarang menyaksikan pertunjukan, terlebih tentang pembunuhan. pemerkosa yang satu ini begitu mengagumkan. belakangan saya tahu namanya dwi hendro basuki, seorang pemain teater, penulis yang novelnya telah saya baca dua kali -dan tak begitu saya suka, dan pemerkosa. malam itu saya tunduk kepada pemerkosa. saya rela tunduk kepada pemerkosa. saya diperkosa. sebuah permintaan saya utarakan berhubung ini bintang jatuh: kiranya saya bisa melihatnya lagi menjadi seorang aktor.
kejutan yang kelima, berbeda dengan beberapa kejutan sebelumnya, tak menyisakan darah di tubuh dan jiwa saya. seorang babu menaati tuannya seperti seorang hamba menaati tuhannya. si tuan dibunuh si babu, seperti si tuhan dibunuh si hamba. kotak televisi menjadi saksi takbisu kejadian itu. ia kemudian menyebarkan berita-berita bohong tentang kejadian yang sama di mana-mana, di irak, di palestina, di timor timur, di aceh, wuih, di dalam kampus, di layar handphone, di mana-mana. aneh, babu itu tak mematikan televisi itu. seolah bangga jadi hamba paling taat.
pertunjukan ditutup setelah sebelumnya ada kilatan cahaya dari sebuah kamera yang ternyata dipegang oleh teman saya yang saya khianati. dionysus masih tak tampak. (maafkan saya dewa, sebotol anggur, yang paling murah sekalipun, terlalu mewah buat saya).
ah, hiduplah pembunuhan, mampuslah kemanusiaan!
tujuh ratus dua puluh satu kata setelah kematian.
imam hidayah, penggemar senja.
rahasia buta
pagi begitu buta ketika ia terbangun dan lalu tak mendapatkan bayangan apapun di cermin kamarnya sementara ia duduk manis di bangku toilet mahalnya - ia merasa bahwa cermin bahkan tak mau menerimanya - cermin itu kosong - hingga kemudian terdengar pintu diketuk tiga kali - tok tok tok - hai kekosongan!
itukah suaramu?
pagi begitu buta ketika ia terbangun dan lalu tak mendapatkan bayangan apapun di cermin kamarnya sementara ia duduk manis di bangku toilet mahalnya - ia merasa bahwa cermin bahkan tak mau menerimanya - cermin itu kosong - hingga kemudian terdengar pintu diketuk tiga kali - tok tok tok - hai kekosongan!
itukah suaramu?
06 Juli 2003
:Aku, matahari, dan deru badai
mengenangnya adalah laksana mengenang biru yang tak lagi terperi
yang baunya samar tercium diantara matahari musim panas
dan kelopaknya tak pernah benar-benar luruh diolok badai
-seperti mengenang sepotong kue cinta pertama yang manisnya pernah menggigit
yang walau tinggal secuil remahnya tetap saja menggarami hati ....
mengenangnya adalah laksana mengenang biru yang tak lagi terperi
yang baunya samar tercium diantara matahari musim panas
dan kelopaknya tak pernah benar-benar luruh diolok badai
-seperti mengenang sepotong kue cinta pertama yang manisnya pernah menggigit
yang walau tinggal secuil remahnya tetap saja menggarami hati ....
05 Juli 2003
:
aku benci juli terlebih rasa dingin malamnya
tentang usia yang tak usai usai menjadikan ku tanda tanda
masihkah kau menyusui anakmu di sana tanpa jemu
menatap usia yang lama ringkih
memandang waktu yang lama melemah
masih kucintai bayanganmu atas segala nasib
membenturkan meja di dinding dinding gedebuk
kali lain kau tak pernah datang
kali lain kau pisau yang tak lain keberuntungan ketakberuntungan nasib
menjadi situs yang ditinggalkan
aku benci juli dari hari pertama aku akan benci juli dihari tigapuluh satu
dan bulan yang datang tak akan ku tunggu
memasrahkan bayangan
menggauli kenangan
menunggu nasib dengan cecar yang ingkar
atas kebencianku pada bulan juli dan rasa dingin di malamnya
juga didalamnya
aku membenci laut membenci gunung juga membenci taman taman
di muntilan di muntilan
tertinggal kenangan
juli 2003
aku benci juli terlebih rasa dingin malamnya
tentang usia yang tak usai usai menjadikan ku tanda tanda
masihkah kau menyusui anakmu di sana tanpa jemu
menatap usia yang lama ringkih
memandang waktu yang lama melemah
masih kucintai bayanganmu atas segala nasib
membenturkan meja di dinding dinding gedebuk
kali lain kau tak pernah datang
kali lain kau pisau yang tak lain keberuntungan ketakberuntungan nasib
menjadi situs yang ditinggalkan
aku benci juli dari hari pertama aku akan benci juli dihari tigapuluh satu
dan bulan yang datang tak akan ku tunggu
memasrahkan bayangan
menggauli kenangan
menunggu nasib dengan cecar yang ingkar
atas kebencianku pada bulan juli dan rasa dingin di malamnya
juga didalamnya
aku membenci laut membenci gunung juga membenci taman taman
di muntilan di muntilan
tertinggal kenangan
juli 2003
02 Juli 2003
Mak Engket, Mak Erot dan Mak Mega
Entah siapa dia sehingga Koes Plus begitu berharap. Memberi harap akan ada sebuah pertolongan. Dengarlah nyanyiannya :
Mak Engket maukah kau menolongku
tunjukkan jalan ke telaga biru
di sana kekasihku selalu menunggu
aku ingin segera bertemu...
Mak Engket dengarkanlah kata-kataku
ku rindu kekasihku
Mak Engket luluskanlah
permintaanku di sisa hidupku
Lagunya cukup tua, setua jawaban yang tak kunjung didapat.
lanjutan
Entah siapa dia sehingga Koes Plus begitu berharap. Memberi harap akan ada sebuah pertolongan. Dengarlah nyanyiannya :
Mak Engket maukah kau menolongku
tunjukkan jalan ke telaga biru
di sana kekasihku selalu menunggu
aku ingin segera bertemu...
Mak Engket dengarkanlah kata-kataku
ku rindu kekasihku
Mak Engket luluskanlah
permintaanku di sisa hidupku
Lagunya cukup tua, setua jawaban yang tak kunjung didapat.
lanjutan
Langganan:
Postingan (Atom)