04 Agustus 2002

selamat pagi dunia ..
adakah yang berubah hari ini?
jika tidak .. mungkinkah aku yang berubah?

selamat pagi dunia ..
aku masih membencimu ..
bersiaplah untuk menggelar kain kafan untuk kematian matahari ..
atau kubur untuk melemparkan mayatku

selamat pagi dunia ..

-nie-
mereka bicara tentang cinta ..
dan aku masih saja setia dengan luka
kurang beruntungkah aku?

mereka bicara tentang kerinduan ..
dan aku masih saja mengoceh tentang sepi
aku kah yang harus diam?

mereka bicara tentang pujaan jiwa
dan aku akan tetap mendengungkan derita
benarkah ini aku?

mereka bicara tentang matahari
dan aku melagukan kematian ..
tidak, aku tidak salah .. karena aku telah mati

-nie-

untuk: lelaki dari masa laluku,
-dalam duamu di istana kaca-

hallo sayang,
bukan salahku jika malam ini aku kembali mengingatmu, salahkan saja hujan yang mendera bumi .. atau bisik rendah suaramu yang menyambangi gendang telingaku beberapa waktu lalu
kadang aku tidak habis pikir, mengapa setiap kedatangan, bahkan kepergianmu selalu dihiasi oleh rintik hujan. Apakah kau berbundakan gerimis dan berayahkan sesosok guntur?
mungkin saja sih .. tapi itu tidak penting buatku, selama kau masih punya daging dan darah.

kau sering bertanya, "kenapa kau memilih jatuh cinta padaku?"
kupakai kata memilih karena aku tau kau tidaklah percaya dengan segala macam hal hal yang berbau serendipity ataupun cinta cinta platonik semacam itu. Kupakai kata memilih untuk mengimbangimu yang selalu berkata bahwa cinta dan pengkhianatan itu pilihan.
Jujur, akupun tidak tau mengapa dulu aku memutuskan untuk jatuh cinta padamu. Yang kutau, mataku tertuju pada sesosok lelaki yang terus saja berlari di tengah derasnya tangis bumi.

Saat kau pergi melepas genggammu pun langit bersedih, awan2 mengenakan pakaian berkabung dan mulai meratap. dan Aku, tidak mengingat ada satu katapun yang kukeluarkan lewat bibirku. setiap pertanyaanku tentang mengapa kau tega menyakitiku kau jawab dengan satu kata ~KHILAF~ ... ya kau khilaf, dan khilafmu mengubah seorang gadis muda menjadi pelacur, dan menjadikan seorang gadis muda menganggap cinta tak lebih dari persundalan yang hipokrit.

Butuh 2 hari untuk menyadari bahwa ini semu abukan lelucon awal bulan april, 1 minggu untuk menyadari bahwa aku bukan saja kehilanganmu, tapi juga sahabat terbaikku, butuh 1 bulan untuk terlepas dari diamku dan mulai menjeritkan caci maki ke hadapan Tuhan, dan butuh 5 taun untuk sekedar menghilangkan rasa, asam dan cinta yang seakan2 berkomplot untuk mengkhianatiku.

Aku tau rasanya menyakiti, rasanya disakiti .. menghianati dan dikhianati.. aku juga tau caranya melukai sambil membebat lukaku sendiri .. tapi percayalah .. tak ada yang pernah sama tanpamu (belum saatnya aku berbicara ttg matahari yang kutemukan di sela pengembaraanku kan?)

aku merayu gerimis, menyetubuhi badai, dan bercumbu dengan topan. Tapi tak ada yang berubah, kau tak kembali .. gerimis membenciku, badai mencampakanku, dan topan mengusirku. Satu2nya yang setia hanyalah pneumonia yang menggerogoti paru2ku.

Sejak saat itu aku benci hujan, malam demi malam kulewati dengan penuh kejijikan mendengar irama langit mengetuk bumi. Entah, hujan selalu membuatku menangis, walau dia menebusnya dengan menyembunyikanku di tengah derainya .. tetap saja, aku benci menangis, dan aku benci sendiri!

Sampai kau datang beberapa waktu lalu, di luar dugaan .. emosiku tidak meledak waktu ku tatap matamu .. ajaib! kusunggingkan sepotong senyum yang hanya dapat kuberikan untukmu dan matahariku ..
hahahaha Tuhan memang ajaib ..dia menghapus setiap sakit hatiku tepat pada saat kau memeluku .. dan aku tidak lagi benci hujan semenjak saat itu, tapi aku benci matahari !!!!! hahahahaaha, bukankah sudah kubilang Tuhan itu ajaib?

Phew .. sudah malam Ris .. langit sudah berubah jadi kelam, tidurlah yang nyenyak sayang .. suatu hari nanti akan ada kuceritakan lagi kisah mengenai percintaanku dengan matahari .. ya .. suatu saat nanti, waktu aku berhasil mengikis setiap hangus yang membakar pori-poriku :)

Teriring doa,
- aku -
wanita dari masa lalumu

-nie-

03 Agustus 2002

satu hitam
dua hitam
tiga hitam
banyak hitam

pada suatu hitam
mendatangi hitam sendiri hitam
hitam menjadi hitam
hitam yang hitam ...

hi ...
tam ...
hi hi hi hi hi hi hi
tam tam tam tam....
tam hi tam hi tam hi ...
hit hit hit hit hit hit ...
hitam.....
hitam !
HITAM !!!
Creeping coup d’etat

Ibu, masihkah kau ingat,
Dengan memakai celana piyama berwarna krem
Dan kaos oblong cap Cabe
Lelaki tua itu meninggalkan istana
Menyeret sendal cap Bata yang sudah usang

Ibu masihkah kau ingat
Tangannya tidak memegang tongkat lagi,
Hanya koran besar, gulungan bendera pusaka
Dan telah lama hawa lembab mengikis kebesarannya
Dan kudeta sedang merangkak

Tiada lagi yang berteriak lantang
“Ganyang komprador kapitalis”
Kaum jelata tak punya induk semang
Marhaen mati muda ditanahnya
Dikandang sapinya

Dipersimpangan kelabu bulan Juli
Barisan rakyat membakar dupa
Membesarkan namamu pada panji yang berkibar
Semua merah, semua marah
Tangan keras tak mampu keluarkan isi otak mereka
Isi perut dan dendam
Tapi ibu kamu ada dimana saat itu?

Ditepi titi perubahan, kau berpagutan
Telah terlihat ranum, giurkan penjilat
Ucapanmu penuh keringat kami

Tapi ibu, kakimu tidak lagi menapak
Telah berjarak pada bayangan terpisah
Senyum diam tinggalkan jelata terkapar
di liang kubur masing-masing
Dan kami pun sadar
Kudeta sedang belajar merangkak
Rakyat terkudeta.
Gadis kecilku

Gadis kecilku berlari-lari
Dia tak mau minum susu
Dada ibunya sudah terbentang
Tinggal dijamah dan direngkuh
Putingnya dingin bergerigi

Gadis kecilku masih berlari
Jauhi ibunya, gua kelahiranmu
Mungkin ‘kah kau sudah bosan
Dengan bentuk dan rasanya
Sementara aku merindukan

Kau mencemburui ku
Meditasi Kamar Mandi

Dibawah pancuran aku pasrah
Pada air yang mengalir membasuhi tubuh
Mengenangi kepala, mengalir menjilati telinga
Membasahi bibir, mata terpejam
Nafas tersenggal tak karuan
Merayap dileher, mengusap-usap dada
Halus meliuk-liuk di perut, terpental jatuh ke bawah
Ada yang bergantungan, ada yang terjebak di kerimbunan
Akarnya menyerap semua butir-butir
Mereka sibuk mempermainkannya.
Mengitarinya tak henti, lembut
Nafasku tersenggal tak karuan
Aahhh………….

“Pa ini handuknya “ gadis kecilku menendang anganku
Oppsss, aku lupa tutup pintu dan…. Buka baju
jemari waktu mengetuk-ngetuk meja kayu
mendetik-detikkan kekinian yang panjang
terlalu panjang
kekinian yang kosong, sekosong kubangan di cahaya bulan
yang isinya bayangan
siapa kita? kataku
siapa kau?
siapa aku?
bukankah kemarin di kubangan itu bayangan kita bergandengan?
bukankah kemarin di kubangan itu kita ciptakan tempyas-tempyas dengan kaki telanjang?
bibir-bibir kita bertaut di bawah siraman lampu jalanan, ataukah neon kamar? masalahkah yang mana?
yang kutahu kau aku satu saat itu
yang kutahu aku rindu kau saat ini

02 Agustus 2002

menikamku dari belakang, sedu sedan yang teralienasi waktu. aku butuh tiga puluh episode klasik untuk menerjemahkan belantaramu.

yang tak berdimensi
atau berhalusinasi

sedari pagi ini, kupahat merahmu dengan biruku.
kubingkai biasmu dengan basahku
atau apapun itu, kau tetap riuh rendah tertafsir plot-plot kaku, yang entah untuk apa kudekap sepanjang waktu.
yang menangisi luka
yang mengafani luka
kegelisahan masih tumbuh subur diantara pohon-pohon cahaya rumput merambat merayap di setiap detak jantung berdegup belum juga berhenti alirkan darah alirkan udara aku biru aku merah kalau memang sudah tiba waktunya tiba-tiba kita akan cemas bergetaran menunggu menanti tak tau tak gagu siapa yang akan menahan kita masih membutuhkan pertolongan

01 Agustus 2002

Einstein sialan,
kalau tak ada dia, waktu dan jarak tak jadi relatif
dan aku dan kamu bisa sama-sama
sama lamanya dengan waktu ketika kita tak sedang sama-sama

tak seperti sekarang
(sekarang itu apa? sekejap pun masa lalu)
tak seperti ketika kau tak disini, dan waktu dan ruang meluas luas-luas
lebih luas daripada bidang antara garis edar komet yang terhadang lubanghitam yang pekat (yang bahkan diintinya, 'sekarang' menjadi semu karena terlalu sejati).

karena itu sadarkah kau?
kita menjauh dan mendekat dengan percepatan yang sukar dibayangkan manusia-manusia yang bukan kita.
sehingga ketika kita bersentuhan kita seperti elektron-elektron yang bertumbukan bereaksi fusi!
katamu tertambat di hidungku
ludahmu terkubur di bawah kakiku
jidatmu terbungkus ditanganku