meja teriak ....
jendela beranak ...
hujan rakus ....
malam menjulurkan lidah amis membaptis paru-paru dan jantung pelari
bintang memperkosa bintang beranak cucu bintang sundal komet
mata terbalik jungkir kiri kanan mencari apa
vagina berkotbah di atas gereja mesjid vihara dan pura
sementara penis duduk rapi bermain playstation
sesekali muntah kekenyangan
matahari membuka mata
dinding membuka mata
tanah membuka mata
mimpi membuka mata
semua bermata
membuka mata
melihat kamu
sedang menjaring angin.
25 November 2003
Kuberi Tanda Untuk Keberangkatan
:lelaki tempat semua matahari berasal
tengah hari dan lelaki-lelaki berseragam putih redup
mata mereka adalah buku-buku yang terlahir dari
rahim danau semenjak hikayat badai dan api
kata mereka: ini lingkaran. dari tiada menjadi tiada
terompet, saksofon dan memoribilia di lengan kiri
mainkan! ode pada airmata hitam putih, mantra
dan lelaki yang berangkat menuju cuaca.
di sini, otak kita menebar aroma dupa
ini memang teka-teki paling purba
bungkukan terakhir. tiga kali
siapa.
entah.
aku masih saja di sini
melukismu terbang di antara pelangi
:lelaki tempat semua matahari berasal
tengah hari dan lelaki-lelaki berseragam putih redup
mata mereka adalah buku-buku yang terlahir dari
rahim danau semenjak hikayat badai dan api
kata mereka: ini lingkaran. dari tiada menjadi tiada
terompet, saksofon dan memoribilia di lengan kiri
mainkan! ode pada airmata hitam putih, mantra
dan lelaki yang berangkat menuju cuaca.
di sini, otak kita menebar aroma dupa
ini memang teka-teki paling purba
bungkukan terakhir. tiga kali
siapa.
entah.
aku masih saja di sini
melukismu terbang di antara pelangi
namun senja masih tetap saja sama seperti kemarin
Dan sore ini masih terlihat anak-anak bermain petak umpet dipinggir jalan. Berlari kesana kemari, saya terus berjalan dengan wajah yang tenang tanpa seorang pun tahu kalau hati saya sedang menangis. Kemudian saya melihat ada lagi sepasang muda-mudi berjalan sambil bergandengan tangan. Saya merasa iri, akan tetapi saya hanya bisa berdiam diri dan berusaha tenang, acuh.
Sore ini keadaan masih sama seperti kemarin-kemarin, hanya ada tangisan cinta yang semakin menguasai diri saya. Saya bertanya kepada cermin, "dimana engkau sembunyikan jodohku?" Tetapi tidak ada satu jawaban, hanya buntu. Lalu, saya tidak habis berpikir. Kepada siapa saya harus mengeluh? Kepada siapa saya harus mencurahkan isi hati yang sebentar lagi meledak? Sedangkan didalam kehidupan ini saya harus berhadapan dengan tembok yang memenjarakan diri saya. Semakin mengurung, hari ke hari semakin menyempit. Saya selalu berpikir, "kearah mana aku harus berjalan?" "Sedangkan delapan penjuru tak menyediakan sepintas jalan walaupun hanya sebatas lorong." Saya heran, sangat heran. Mengapa hingga detik ini saya masih tak henti dan tak bosan untuk berpikir dan berpikir terus.
Saat saya memandangi langit senja, terasa juga begitu iri akan sekelompok burung-burung yang berterbangan di langit jingga, kemudian saya berpikir lagi, "ahhh... Begitu enaknya jika kita bisa jadi burung yang terbang diatas langit." "Tahu apa mereka tentang cinta?" Tahu apa juga mereka tentang kesepian?" "Ya... Hidup mereka begitu menyenangkan karena mereka tak tahu arti tertawa dan menangis." Sambil menangis saya berdoa, "ya TUHAN... Mengapa saya tidak dilahirkan menjadi seekor burung saja? Lihatlah TUHAN... Lihatlah keburung tersebut, kemudian lihatlah ke diri saya." "Apa gunanya tubuh manusia?" "Apa gunanya otak berserta hati manusia sebagai makhluk yang memiliki derajat tertinggi ini?" "Jika saya harus berdiri menangis disini?" "Menangisi diriku yang kesepian, yang terlantar oleh dia."
Saya terus berharap kalau saya bisa menjadi seperti mereka yang berbahagia dengan keluarga mereka, berbahagia dengan hati dan cinta mereka. Akan tetapi saya masih tidak pernah berhenti untuk terus bertanya, "sampai kapan badai mendung yang membungkus hatiku segera sirna?" "Sedangkan daya tahanku dari hari ke hari semakin berkurang, tenaga saya semakin terkuras meratapi diri ini." "Saya masih bisa berdiri hari ini, kaki saya masih erat tertancap di tanah, tapi bagaimana esok?" "Lusa?" "Atau beberapa tahun lagi?" Saya semakin pusing untuk memikirkan semua ini. Setelah menguak serta memeras otak ini, lelah. Namun senja masih tetap saja sama seperti kemarin.
Dan sore ini masih terlihat anak-anak bermain petak umpet dipinggir jalan. Berlari kesana kemari, saya terus berjalan dengan wajah yang tenang tanpa seorang pun tahu kalau hati saya sedang menangis. Kemudian saya melihat ada lagi sepasang muda-mudi berjalan sambil bergandengan tangan. Saya merasa iri, akan tetapi saya hanya bisa berdiam diri dan berusaha tenang, acuh.
Sore ini keadaan masih sama seperti kemarin-kemarin, hanya ada tangisan cinta yang semakin menguasai diri saya. Saya bertanya kepada cermin, "dimana engkau sembunyikan jodohku?" Tetapi tidak ada satu jawaban, hanya buntu. Lalu, saya tidak habis berpikir. Kepada siapa saya harus mengeluh? Kepada siapa saya harus mencurahkan isi hati yang sebentar lagi meledak? Sedangkan didalam kehidupan ini saya harus berhadapan dengan tembok yang memenjarakan diri saya. Semakin mengurung, hari ke hari semakin menyempit. Saya selalu berpikir, "kearah mana aku harus berjalan?" "Sedangkan delapan penjuru tak menyediakan sepintas jalan walaupun hanya sebatas lorong." Saya heran, sangat heran. Mengapa hingga detik ini saya masih tak henti dan tak bosan untuk berpikir dan berpikir terus.
Saat saya memandangi langit senja, terasa juga begitu iri akan sekelompok burung-burung yang berterbangan di langit jingga, kemudian saya berpikir lagi, "ahhh... Begitu enaknya jika kita bisa jadi burung yang terbang diatas langit." "Tahu apa mereka tentang cinta?" Tahu apa juga mereka tentang kesepian?" "Ya... Hidup mereka begitu menyenangkan karena mereka tak tahu arti tertawa dan menangis." Sambil menangis saya berdoa, "ya TUHAN... Mengapa saya tidak dilahirkan menjadi seekor burung saja? Lihatlah TUHAN... Lihatlah keburung tersebut, kemudian lihatlah ke diri saya." "Apa gunanya tubuh manusia?" "Apa gunanya otak berserta hati manusia sebagai makhluk yang memiliki derajat tertinggi ini?" "Jika saya harus berdiri menangis disini?" "Menangisi diriku yang kesepian, yang terlantar oleh dia."
Saya terus berharap kalau saya bisa menjadi seperti mereka yang berbahagia dengan keluarga mereka, berbahagia dengan hati dan cinta mereka. Akan tetapi saya masih tidak pernah berhenti untuk terus bertanya, "sampai kapan badai mendung yang membungkus hatiku segera sirna?" "Sedangkan daya tahanku dari hari ke hari semakin berkurang, tenaga saya semakin terkuras meratapi diri ini." "Saya masih bisa berdiri hari ini, kaki saya masih erat tertancap di tanah, tapi bagaimana esok?" "Lusa?" "Atau beberapa tahun lagi?" Saya semakin pusing untuk memikirkan semua ini. Setelah menguak serta memeras otak ini, lelah. Namun senja masih tetap saja sama seperti kemarin.
21 November 2003
Pinokio Menulis
Jika anda sudah biasa berbohong, mengapa tidak menyalurkan kebiasaan yang penuh dosa itu dengan menulis fiksi?
(Josip Novakovich)
Angin malam itu duduk tergeletak di sudut kamar. Tak mampu berjaga. Sementara lampu redup tak sudi berkhianat. Matanya lelah menatap. Hanya daun jendela memancing pandang, melambai-lambai di luar sana. Dan cicak terbaring menelan ludah untuk tanya yang tak pernah terjawab.
Ia mengusap peluh. Peluh yang tak jujur hadir di malam yang datang dingin. Otaknya berputar bagai memeras anggur-anggur yang tergilas roda waktu. Menetes ke pipi dan menitipnya pada hidung yang kian bersinar. Ia mengusap mata. Mata malasnya.
Ahh…. sudah empat jam. Buntu, batinnya. Membakar tembakau. Menciptakan awan-awan kecil yang mencoba menggoda hayal yang menerawang.
“Apa yang akan aku ucap esok? Mereka sudah menungguku. Aku datang untuk menang,” ucapnya dalam. “Tapi aku harus berkata apa?”
Terbayang olehnya Bukhori akan menepuk dada. Dan mulutnya akan menyala-nyala. Seperti sebuah pertunjukan sirkus keliling di kota-kota kecil. Dan badut Bukhori akan menciptakan bola-bola api dari mulutnya. Mereka terpesoan. Berdiri dan memberi sejuta tepuk.
Atau mungkin Ahmadi akan meninju langit. Memecah awan-awan yang menggumpal. Memberi lautan jawab yang menetes bagi mereka yang lama menengadah di musim-musim berjalan. Jadilah dia malaikat pongah yang lupa akan sayapnya telah lama digadai pada borjuis-borjuis itu.
Sialan! Mengapa otakku terkunci rapat. Ruangan-ruang apa pula yang membius kecerdasanku terperangkap tanpa pintu. Aku telah berkeliling pada semua sudut kota. Telah menyapa pada semua peristiwa. Tapi adakah yang bisa kubaca? Dia bertanya dalam tanya.
Semua sudut terpapar di depan mata. Mata malas. Antara fakta dan fiksi. Atau percampuran kedua kelamin itu. Bila keduanya dituliskan dalam gaya bahasa Ibrani kuno, yang keduanya dituliskan tanpa huruf hidup, keduanya akan ditulis FK dan cara membedakannya tergantung pada cara melafalkannya. Begitu tipis……
Bukakah fiksi bisa menggunakan banyak fakta? Aku bisa bermain-main dalam ruang fakta untuk merangkainya menjadi cerita. Sejarah adalah batu-batu yang kuat untuk membangun pondasinya. Pramoedya bilang, nasion kita tak sadar sejarah. Sejarah itu tempat kita memulai perjalanan. Kalau tempat berangkat itu kita tak tahu, bagaimana kita tahu tujuan kita? Itu sebabnya Pram berkenalan dengan realisme sosialis. Karena realisme sosialis harus mengangkat orang-orang yang tak punya sikap dan menjadi hamba keadaan.
Tapi aku bukan hidup dalam penindasan. Tak melahirkan sikap perlawanan (atau mungkin dendam) oleh akibat penindasan seperti yang dialaminya. Tapi aku punya sedikit sikap memberontak, walau itu memberontak terhadap kemampanan berpikir.
Setidaknya aku bisa mencoba meramu sejarah itu dan memolesnya menjadi sebuah fiksi. Tentu tak membosankan. Karena di saat orang-orang perlu makan dan lapangan kerja, mereka akan muak oleh kehebatan raja-raja di tanah Jawa yang menyisakan feodalisme dalam birokrasi. Artefak-artefak bukan lagi bukti warisan kehebatan budaya, karena turunannya hanyalah budaya kepasrahan ditindas dan dibodohi, sudah mengakar di akar rumput.
Aku harus menemukan sejarah-sejarah baru. Sejarah kolonialis, feodalis, militeristis, dan paham ketunggalan sudah telanjang. Bugil tanpa malu-malu ditatap dan yang menatapnya tak jengah. Aku akan membuat mereka sadar sejarah dan bersatu mengahalaunya. Hanya dalam prosa sejarah akan gampang dicerna.
Tapi jari ini masih tak bersahabat. Diam tak sudi menari, walau nyanyianku adalah nyanyian jiwa yang melantun keluar dari gendang telinga. Sedangkan nadiku terpacu kencang dengan sejuta kata yang ingin tumpah di jemari. Tapi jemari diam. Aku ingin menulis. Menjadi pengarang. Menjadi resi-resi sejarah, julukan yang diberikan Ben Okri (novelis Afrika) bagi pengarang. Karena pengarang adalah barometer zaman. Pengarang adalah orang yang menulis melawan arus zaman, pengibul tentang kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan dan penebar janji-janji yang bisa dipercaya. Aku ingat, ucapan itu dikatakan lantang oleh Gunter Grass pada pidato pengukuhannya sebagai laureat Nobel Sastra 1999.
Oh….. aku kini sudah mulai berdamai. Aliran darah dan oksigen berjalan tenang, bergerak maju. Jari-jemari menjadi kepanjangan otak. Syaraf-syaraf mulai saling memangut, bermesraan. Sebuah emosi ternyata mampu mendorong untuk menulis. Mampu menjiwai alam pikir orang lain. Mampu menjiwai suara seseorang. Jerit orang-orang. Harap yang masih tersisa dari nafas tersenggal-senggal sebelum pintu kubur ditutup.
Mengalir bagai banjir yang menggenangi rumah-rumah di dataran rendah di sekeliling perumahan megah. Menerjang kaki-kaki alas tidur di pinggir kali. Menyapu nafas manusia-manusia yang menjajakan peluh di tepi-tepi jalan karpet mobil mewah. Menenggelamkan hak-hak pemilik negeri hingga terlihat teduh keruh menjadi lautan, terpasung pada waduk angker yang dijaga berabad-abad pada pintu airnya.
Lelaki itu mengamini. Cerita fiksi mirip dengan dusta. Memulainya dengan suatu yang nyata. Mengubah menjadi alur yang bisa diatur bermuara untuk tujuan tertentu. Dan esok, di atas podium itu, membuai jelata dengan kata-kata indah. Ia akan menang pada pemilu kali ini. Wakil dari kaum pendongeng.
Grogol,20nopember2003
Jika anda sudah biasa berbohong, mengapa tidak menyalurkan kebiasaan yang penuh dosa itu dengan menulis fiksi?
(Josip Novakovich)
Angin malam itu duduk tergeletak di sudut kamar. Tak mampu berjaga. Sementara lampu redup tak sudi berkhianat. Matanya lelah menatap. Hanya daun jendela memancing pandang, melambai-lambai di luar sana. Dan cicak terbaring menelan ludah untuk tanya yang tak pernah terjawab.
Ia mengusap peluh. Peluh yang tak jujur hadir di malam yang datang dingin. Otaknya berputar bagai memeras anggur-anggur yang tergilas roda waktu. Menetes ke pipi dan menitipnya pada hidung yang kian bersinar. Ia mengusap mata. Mata malasnya.
Ahh…. sudah empat jam. Buntu, batinnya. Membakar tembakau. Menciptakan awan-awan kecil yang mencoba menggoda hayal yang menerawang.
“Apa yang akan aku ucap esok? Mereka sudah menungguku. Aku datang untuk menang,” ucapnya dalam. “Tapi aku harus berkata apa?”
Terbayang olehnya Bukhori akan menepuk dada. Dan mulutnya akan menyala-nyala. Seperti sebuah pertunjukan sirkus keliling di kota-kota kecil. Dan badut Bukhori akan menciptakan bola-bola api dari mulutnya. Mereka terpesoan. Berdiri dan memberi sejuta tepuk.
Atau mungkin Ahmadi akan meninju langit. Memecah awan-awan yang menggumpal. Memberi lautan jawab yang menetes bagi mereka yang lama menengadah di musim-musim berjalan. Jadilah dia malaikat pongah yang lupa akan sayapnya telah lama digadai pada borjuis-borjuis itu.
Sialan! Mengapa otakku terkunci rapat. Ruangan-ruang apa pula yang membius kecerdasanku terperangkap tanpa pintu. Aku telah berkeliling pada semua sudut kota. Telah menyapa pada semua peristiwa. Tapi adakah yang bisa kubaca? Dia bertanya dalam tanya.
Semua sudut terpapar di depan mata. Mata malas. Antara fakta dan fiksi. Atau percampuran kedua kelamin itu. Bila keduanya dituliskan dalam gaya bahasa Ibrani kuno, yang keduanya dituliskan tanpa huruf hidup, keduanya akan ditulis FK dan cara membedakannya tergantung pada cara melafalkannya. Begitu tipis……
Bukakah fiksi bisa menggunakan banyak fakta? Aku bisa bermain-main dalam ruang fakta untuk merangkainya menjadi cerita. Sejarah adalah batu-batu yang kuat untuk membangun pondasinya. Pramoedya bilang, nasion kita tak sadar sejarah. Sejarah itu tempat kita memulai perjalanan. Kalau tempat berangkat itu kita tak tahu, bagaimana kita tahu tujuan kita? Itu sebabnya Pram berkenalan dengan realisme sosialis. Karena realisme sosialis harus mengangkat orang-orang yang tak punya sikap dan menjadi hamba keadaan.
Tapi aku bukan hidup dalam penindasan. Tak melahirkan sikap perlawanan (atau mungkin dendam) oleh akibat penindasan seperti yang dialaminya. Tapi aku punya sedikit sikap memberontak, walau itu memberontak terhadap kemampanan berpikir.
Setidaknya aku bisa mencoba meramu sejarah itu dan memolesnya menjadi sebuah fiksi. Tentu tak membosankan. Karena di saat orang-orang perlu makan dan lapangan kerja, mereka akan muak oleh kehebatan raja-raja di tanah Jawa yang menyisakan feodalisme dalam birokrasi. Artefak-artefak bukan lagi bukti warisan kehebatan budaya, karena turunannya hanyalah budaya kepasrahan ditindas dan dibodohi, sudah mengakar di akar rumput.
Aku harus menemukan sejarah-sejarah baru. Sejarah kolonialis, feodalis, militeristis, dan paham ketunggalan sudah telanjang. Bugil tanpa malu-malu ditatap dan yang menatapnya tak jengah. Aku akan membuat mereka sadar sejarah dan bersatu mengahalaunya. Hanya dalam prosa sejarah akan gampang dicerna.
Tapi jari ini masih tak bersahabat. Diam tak sudi menari, walau nyanyianku adalah nyanyian jiwa yang melantun keluar dari gendang telinga. Sedangkan nadiku terpacu kencang dengan sejuta kata yang ingin tumpah di jemari. Tapi jemari diam. Aku ingin menulis. Menjadi pengarang. Menjadi resi-resi sejarah, julukan yang diberikan Ben Okri (novelis Afrika) bagi pengarang. Karena pengarang adalah barometer zaman. Pengarang adalah orang yang menulis melawan arus zaman, pengibul tentang kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan dan penebar janji-janji yang bisa dipercaya. Aku ingat, ucapan itu dikatakan lantang oleh Gunter Grass pada pidato pengukuhannya sebagai laureat Nobel Sastra 1999.
Oh….. aku kini sudah mulai berdamai. Aliran darah dan oksigen berjalan tenang, bergerak maju. Jari-jemari menjadi kepanjangan otak. Syaraf-syaraf mulai saling memangut, bermesraan. Sebuah emosi ternyata mampu mendorong untuk menulis. Mampu menjiwai alam pikir orang lain. Mampu menjiwai suara seseorang. Jerit orang-orang. Harap yang masih tersisa dari nafas tersenggal-senggal sebelum pintu kubur ditutup.
Mengalir bagai banjir yang menggenangi rumah-rumah di dataran rendah di sekeliling perumahan megah. Menerjang kaki-kaki alas tidur di pinggir kali. Menyapu nafas manusia-manusia yang menjajakan peluh di tepi-tepi jalan karpet mobil mewah. Menenggelamkan hak-hak pemilik negeri hingga terlihat teduh keruh menjadi lautan, terpasung pada waduk angker yang dijaga berabad-abad pada pintu airnya.
Lelaki itu mengamini. Cerita fiksi mirip dengan dusta. Memulainya dengan suatu yang nyata. Mengubah menjadi alur yang bisa diatur bermuara untuk tujuan tertentu. Dan esok, di atas podium itu, membuai jelata dengan kata-kata indah. Ia akan menang pada pemilu kali ini. Wakil dari kaum pendongeng.
Grogol,20nopember2003
Sang Pemimpi
Malam basah. Hujan patahpatah.
Dan di sebuah kafe angin tak sendu.
Hanya waktu berjalan sempoyongan.
Bersamanya ada dentingdenting.
Nyaring menghantam. Bedilbedil yang
menjemput saudara kita.
Lihatlah......bibirnya sumbing
Pagutan kabar bohong beraroma arak.
Musik yang berdentum adalah detak nadi
satusatu. Tarian kejang, kawan menggelepar.
Indonesia Raya dihasut lidah mereka.
"Kami tidur di pusara leluhur"
Langkah enggan berpindah, merekah kubur.
"Jangan halau kami!"
Malam kian kian lelap di bibir basah.
Di tatap curiga lima watt, senyumsenyum
asing menjual kebebasan.
Hidangan penutup sebelum ingkar janji.
Sebelum malam berganti kelamin,
ada sapa, "Hai Yusuf sang pemimpi, esok ada apa?"
Sebelum malam berganti tuhan
dinding menatap, penjara bagi tubuh,
merdeka bagi ruh.
grogol,20/11/03
Malam basah. Hujan patahpatah.
Dan di sebuah kafe angin tak sendu.
Hanya waktu berjalan sempoyongan.
Bersamanya ada dentingdenting.
Nyaring menghantam. Bedilbedil yang
menjemput saudara kita.
Lihatlah......bibirnya sumbing
Pagutan kabar bohong beraroma arak.
Musik yang berdentum adalah detak nadi
satusatu. Tarian kejang, kawan menggelepar.
Indonesia Raya dihasut lidah mereka.
"Kami tidur di pusara leluhur"
Langkah enggan berpindah, merekah kubur.
"Jangan halau kami!"
Malam kian kian lelap di bibir basah.
Di tatap curiga lima watt, senyumsenyum
asing menjual kebebasan.
Hidangan penutup sebelum ingkar janji.
Sebelum malam berganti kelamin,
ada sapa, "Hai Yusuf sang pemimpi, esok ada apa?"
Sebelum malam berganti tuhan
dinding menatap, penjara bagi tubuh,
merdeka bagi ruh.
grogol,20/11/03
Let The Rain Fall [Hanya Sesaat]
;Ompit
Inikah gundah yang kau kirim padaku?
Badai air yang mengaburkan jalanku...
Inikah rindu yang kau kecupkan untukku?
Embun-embun dingin yang menempel pada jendela beningku...
Kalau memang begitu adanya...
Maka...
Inilah senyum yang kulampirkan untukmu
Matahari senja yang berwarna jingga menguak kenang...
Inilah sapaan hati yang aku bisikkan dan teriakkan hanya untukkmu
Angin-angin lembut yang membelai airmata rindumu...
Hanya sesaat...hanya sesaat...
*14.11.03, Jatinangor*ventri*
;Ompit
Inikah gundah yang kau kirim padaku?
Badai air yang mengaburkan jalanku...
Inikah rindu yang kau kecupkan untukku?
Embun-embun dingin yang menempel pada jendela beningku...
Kalau memang begitu adanya...
Maka...
Inilah senyum yang kulampirkan untukmu
Matahari senja yang berwarna jingga menguak kenang...
Inilah sapaan hati yang aku bisikkan dan teriakkan hanya untukkmu
Angin-angin lembut yang membelai airmata rindumu...
Hanya sesaat...hanya sesaat...
*14.11.03, Jatinangor*ventri*
20 November 2003
19 November 2003
bagaimana mungkin kulukis mimpi buruk ini?
sedangkan engkau tak ada disisi jenazahku
tuk menggenggam tangan kanan
yang kehilangan tulang ini...
bagaimana mungkin kucorak kanvas cinta ini?
sedangkan kuas kasihku
t'lah engkau bawa keseberang laut
bersama arwahku
yang t'lah kuletakkan dibahu kananmu...
"bagaimana mungkin?"
sedangkan engkau tak ada disisi jenazahku
tuk menggenggam tangan kanan
yang kehilangan tulang ini...
bagaimana mungkin kucorak kanvas cinta ini?
sedangkan kuas kasihku
t'lah engkau bawa keseberang laut
bersama arwahku
yang t'lah kuletakkan dibahu kananmu...
"bagaimana mungkin?"
17 November 2003
jika semuanya usai
derap kereta telah lama lewat
di jalanjalan berdebu kuhentikan langkah
ada yang tersekat dibalik kawat
sesosok doa atau mungkin segumpal wajah
telah lama kurindukan persinggahan
namun oase itu seperti terkubur reruntuhan
menghilang pada cadas dan batubatu
jika semuanya usai
berjalanlah ke arah barat
ada yang menunggumu di tepian senja
menunggu setiap huruf yang kau urai
menjadi seribu ulat dan kunangkunang
menjadi belatung dan belalang
menjadi bunga juga lalang
jika semuanya usai
tetaplah catat dalam buku harian
seluruh rindu yang pernah tumpah
pada meja perjamuan antara kau dan aku
bumiallah, 2003
derap kereta telah lama lewat
di jalanjalan berdebu kuhentikan langkah
ada yang tersekat dibalik kawat
sesosok doa atau mungkin segumpal wajah
telah lama kurindukan persinggahan
namun oase itu seperti terkubur reruntuhan
menghilang pada cadas dan batubatu
jika semuanya usai
berjalanlah ke arah barat
ada yang menunggumu di tepian senja
menunggu setiap huruf yang kau urai
menjadi seribu ulat dan kunangkunang
menjadi belatung dan belalang
menjadi bunga juga lalang
jika semuanya usai
tetaplah catat dalam buku harian
seluruh rindu yang pernah tumpah
pada meja perjamuan antara kau dan aku
bumiallah, 2003
15 November 2003
dimana lagi harus kusembunyikan
tubuh yang t'lah membusuk ini?
sedangkan lumpur pun tak sanggup lagi
dijadikan bungkusan tuk membalut lukaku...
kemana lagi keranda akan mengusung jenazahku?
sedangkan tanah merah pun
t'lah tak memiliki tempat untuk menguburku...
dimana lagi papan nisan
yang tak berriwayat harus kutancapkan?
sedangkan mayatku sendiri
telah hilang entah kemana...
tubuh yang t'lah membusuk ini?
sedangkan lumpur pun tak sanggup lagi
dijadikan bungkusan tuk membalut lukaku...
kemana lagi keranda akan mengusung jenazahku?
sedangkan tanah merah pun
t'lah tak memiliki tempat untuk menguburku...
dimana lagi papan nisan
yang tak berriwayat harus kutancapkan?
sedangkan mayatku sendiri
telah hilang entah kemana...
Langganan:
Postingan (Atom)