28 Februari 2003
tuhan permainan kita sudah sampai dimana aku lupa sepertinya masih berkutat pada ada dan tiada ketika aku masih mebutuhkan dirimu dan kau tak pernah membutuhkan aku ketika aku masih selalu berharap padamu sedang kau juga tak pernah berharap kepadaku apakah itu benar ini pernyataanku secara spontan barangkali saja salah barangkali kau suatu ketika bisa saja atau setidaknya pernah membutuhkan atau mengharapkan aku tetapi yang mana ketika apa persahabatan diantara kita kadang rumit untuk dijelaskan yah sebelumnya tidakkah aku salah jika suatu ketika aku menganggap dirimu sebagai sahabatku yang selalu menemaniku kapan saja disaat suka atau duka atau disaat seperti ini ah lupakan saja aku tetap bukan seorang sahabat yang baik seringkali aku mengkhinatimu dan aku sadar itu tetapi kau sungguh baik melebihi siapa saja kenapa kau masih mau menemaniku entalah sudah berapa kali aku bertanya kepadamu tetapi kau tak pernah jemu atau bosan bukan tuhan aku masih mencintaimu sungguh tapi maafkan aku kalau masih sering atau barangkali selalu mengkhianatimu tolong tuhan tetap temani aku oh iya besok aku ingin hutang uang padamu 100.000 saja atau lebih juga tidak apa-apa saat ini aku sedang butuh uang banyak nanti kalau ada cepat aku kembalikan tolong ingatkan aku - zaM
27 Februari 2003
aku benar benar tak mengerti...
sesaat kau didekat ku...
lain waktu kau tak disisiku...
apakah aku hanya teman diskusimu...?
disela 'The Stolen Child' dan 'Petals on The Breeze'...
ketika ku sedang menyerap 'The Catcher On The Rye' ku...
dan kau mencerna 'Buddha of Suburbia' mu...
lain waktu kita hanya bertukar tatap...tanpa kata...
secercah senyum disini dan semata pandang disana...
bisakah aku jadi lebih dari ini...
kar'na aku ingin dimiliki...
karena mata ini sudah mengering...
:"if you let yourself to be tamed, you run the risk of a few tears"-The Little Prince
sesaat kau didekat ku...
lain waktu kau tak disisiku...
apakah aku hanya teman diskusimu...?
disela 'The Stolen Child' dan 'Petals on The Breeze'...
ketika ku sedang menyerap 'The Catcher On The Rye' ku...
dan kau mencerna 'Buddha of Suburbia' mu...
lain waktu kita hanya bertukar tatap...tanpa kata...
secercah senyum disini dan semata pandang disana...
bisakah aku jadi lebih dari ini...
kar'na aku ingin dimiliki...
karena mata ini sudah mengering...
:"if you let yourself to be tamed, you run the risk of a few tears"-The Little Prince
25 Februari 2003
namaku rawa
di bawah pohon Rangas
antara air dan akar
dua mata terisak sendu
riak sungai adalah sedan
empat puluh tahun pilih sembunyi
berhenti bernyanyi
alpa bunyi
dia memilih sembuyi ...
"dulu aku menikah dengan sungai"
"beranak kali dan riam"
"sebelum mereka diperkosa beramai-ramai"
"hilang ingatan bumi terdalam"
di bawah pohon Rangas
antara air dan akar
dua mata terisak sendu
riak sungai adalah sedan
empat puluh tahun pilih sembunyi
berhenti bernyanyi
alpa bunyi
dia memilih sembuyi ...
"dulu aku menikah dengan sungai"
"beranak kali dan riam"
"sebelum mereka diperkosa beramai-ramai"
"hilang ingatan bumi terdalam"
24 Februari 2003
ada yang sampai pada malam yang sepi dan dingin yang lamat yang besertanya bulan basah darah yang menetes mengalir menjelma asma-Mu di lelangit kamarku yang pintunya berulang kali mengeluarkan suara ketukan yang serupa kicau burung yang menebar aroma maut aroma kematian yang datang menghampiri diriku yang berkali-kali menghindar dengan penolakan-penolakan halus yang kurang ajar seperti pernah kutolak sebelas perintah yang diurutkan ibu-ibu kita yang seperti lupa pernah melahirkan kita yang kini sendiri di dingin yang lamat
mencariMu
mencari Rupa-Mu
mencari Kalimat-Kalimat-Mu
mencari Suara-Mu
mencari Hati-Mu
mencari diriku di Diri-Mu
mencariMu
mencari Rupa-Mu
mencari Kalimat-Kalimat-Mu
mencari Suara-Mu
mencari Hati-Mu
mencari diriku di Diri-Mu
BABAD KALACAKRA
menganga
gua kalacakra membuka pintunya. mengalir sungai dari rawa di dalam kemihnya. gua itu tertawa pada setiap kupu-kupu yang singgah, atau dengung lebah. ada yang runtuh di kejauhan. para ibu riuh di titian. ini subuh tak bertuan. sepasang gadis kembar membuka kain lembar demi lembar membuka rahasia paling nanar: ada hutan sedang terbakar
bintang bajak kusebut lagi dalam sajak ini karena di sana sembunyi para raksasa mengasah gigi seri, para petani menyeduh kopi. semoga dewi sri masih setia tak tergoda rayuan media massa. di dalam pelukan bintang bajak itu kanak-kanak bermain roda, mengajari para orang tua cara berbahagia bahkan jika hujan tak juga tiba
tangga kayu,
bawakan sebakul nasi merah menuju perhelatan para pujangga. juga tuak dalam botol-botol aqua. mereka sedang menggambar bendera, mungkin sedang berlumba memanah rembulan warna sumba
di ambang pintu
ada yang mengintip, sepasang payudara ingin menghirup udara. malam masih begini muda, kemana perginya para jejaka? dara-dara pun beterbangan meninggalkan gundukan jerami, musim panen belum lagi usai. pelangi tampak kusut, masai. bedug dari surau di televisi menandai jejak matahari. apa kelanjutan kisah ini?
lalu berangkatlah merpati. ada janji-janji yang harus ditepati pada bumi. ada telur yang harus ditetasi dan pacuan yang harus dilintasi. mungkin ini halusinasi sebuah puisi tetapi merpati tak pernah menyimpan kerikil di lemari besi. meski tak bisa menyanyi, mereka percaya reinkarnasi
ada yang sedang mengaji
mungkin dari surau di televisi, atau gambar minaret masjid wali di koran pagi. di radio para kyai menawarkan resep mustajab: cara instan menjadi sufi
lalu saat maghrib tiba akan terdengar sayup-sayup suluk para wali yang tertinggal di angin kali. anak-anak menyimak. para gadis masih mengikatkan tali jerami di pangkal jari. para jejaka masih berolok sambil menggosok punggung sapi. ini mungkin juga ilusi
lalu semua kisah pun hanyut di kali senja itu. ada yang mengendap di cangkir kopi. sebatas daya ingat. tertulis kembali dalam puisi ini
menganga
gua kalacakra membuka pintunya. mengalir sungai dari rawa di dalam kemihnya. gua itu tertawa pada setiap kupu-kupu yang singgah, atau dengung lebah. ada yang runtuh di kejauhan. para ibu riuh di titian. ini subuh tak bertuan. sepasang gadis kembar membuka kain lembar demi lembar membuka rahasia paling nanar: ada hutan sedang terbakar
bintang bajak kusebut lagi dalam sajak ini karena di sana sembunyi para raksasa mengasah gigi seri, para petani menyeduh kopi. semoga dewi sri masih setia tak tergoda rayuan media massa. di dalam pelukan bintang bajak itu kanak-kanak bermain roda, mengajari para orang tua cara berbahagia bahkan jika hujan tak juga tiba
tangga kayu,
bawakan sebakul nasi merah menuju perhelatan para pujangga. juga tuak dalam botol-botol aqua. mereka sedang menggambar bendera, mungkin sedang berlumba memanah rembulan warna sumba
di ambang pintu
ada yang mengintip, sepasang payudara ingin menghirup udara. malam masih begini muda, kemana perginya para jejaka? dara-dara pun beterbangan meninggalkan gundukan jerami, musim panen belum lagi usai. pelangi tampak kusut, masai. bedug dari surau di televisi menandai jejak matahari. apa kelanjutan kisah ini?
lalu berangkatlah merpati. ada janji-janji yang harus ditepati pada bumi. ada telur yang harus ditetasi dan pacuan yang harus dilintasi. mungkin ini halusinasi sebuah puisi tetapi merpati tak pernah menyimpan kerikil di lemari besi. meski tak bisa menyanyi, mereka percaya reinkarnasi
ada yang sedang mengaji
mungkin dari surau di televisi, atau gambar minaret masjid wali di koran pagi. di radio para kyai menawarkan resep mustajab: cara instan menjadi sufi
lalu saat maghrib tiba akan terdengar sayup-sayup suluk para wali yang tertinggal di angin kali. anak-anak menyimak. para gadis masih mengikatkan tali jerami di pangkal jari. para jejaka masih berolok sambil menggosok punggung sapi. ini mungkin juga ilusi
lalu semua kisah pun hanyut di kali senja itu. ada yang mengendap di cangkir kopi. sebatas daya ingat. tertulis kembali dalam puisi ini
aku sedang tersiksa...
kata kata yang kutunggu tak muncul juga...
dan saat saat yang kunanti tak kunjung datang...
dan percakapan tengah malam kita...
atau mungkin subuh...
ketika kita berbicara tentang apa saja...
'let's talk about you,' katamu...
dan kata pun mengalir...diiringi sebuah kalimat sakti...
message sent...
dan aku rela terjaga...
dan menengguk kopi aneka rasa...
demi melihat kata kata itu...
1 message received...
sebuah pesan rasa...
kata kata yang kutunggu tak muncul juga...
dan saat saat yang kunanti tak kunjung datang...
dan percakapan tengah malam kita...
atau mungkin subuh...
ketika kita berbicara tentang apa saja...
'let's talk about you,' katamu...
dan kata pun mengalir...diiringi sebuah kalimat sakti...
message sent...
dan aku rela terjaga...
dan menengguk kopi aneka rasa...
demi melihat kata kata itu...
1 message received...
sebuah pesan rasa...
23 Februari 2003
segelas anggur merah...
merlot kesukaanmu...
dan sebungkus rokok dengan asap mengepul...
marlboro menthol...ukuran kecil...
dan dua cangkir kopi panas...
cafe mocha untukku...
dan caramel machiato untukmu...
duduk...di pinggir starbuck di ujung orchard road...
bercakap...tertawa...
engkau dengan baju hitammu...dan aku...
dan dua angsa malam itu...
ketika orion disengat scorpio...
dan kau tunjukkan semua itu padaku
...
aku rindu semua itu...
merlot kesukaanmu...
dan sebungkus rokok dengan asap mengepul...
marlboro menthol...ukuran kecil...
dan dua cangkir kopi panas...
cafe mocha untukku...
dan caramel machiato untukmu...
duduk...di pinggir starbuck di ujung orchard road...
bercakap...tertawa...
engkau dengan baju hitammu...dan aku...
dan dua angsa malam itu...
ketika orion disengat scorpio...
dan kau tunjukkan semua itu padaku
...
aku rindu semua itu...
yang ini lagi
ini senja keberapa kali yang kutanyakan
berharap dia menyediakan kursi untuk kau nikmati
memandang sore yang sayup
ini bukan untukmu ini bukan tentangmu
senja hanya milik pengendara pengendara bis antar kota juga kereta akan menuju jakarta
kau berangkatkan dirimu kesana
jangan bersedih meski lirih dapat ku menatap
rumah yang kau idamkan di baliho pinggir taman memanggil genangan sisa hujan di sepatumu basah
atas aroma cekcok waktu waktu siang atas segala waktu yang kita telanjangkan
kadang kita memang harus menunduk semakin dalam di lempuyangan di akhir
ketika semua harus berangkat menyisakan suara gesekan rel hampir menyayat
ini senja keberapa kali yang kutanyakan
menatap diri yang melipat rapat di pesing selatan parkir stasiun
di palang kereta api ketika pulang
yogyakarta feb 2003
ini senja keberapa kali yang kutanyakan
berharap dia menyediakan kursi untuk kau nikmati
memandang sore yang sayup
ini bukan untukmu ini bukan tentangmu
senja hanya milik pengendara pengendara bis antar kota juga kereta akan menuju jakarta
kau berangkatkan dirimu kesana
jangan bersedih meski lirih dapat ku menatap
rumah yang kau idamkan di baliho pinggir taman memanggil genangan sisa hujan di sepatumu basah
atas aroma cekcok waktu waktu siang atas segala waktu yang kita telanjangkan
kadang kita memang harus menunduk semakin dalam di lempuyangan di akhir
ketika semua harus berangkat menyisakan suara gesekan rel hampir menyayat
ini senja keberapa kali yang kutanyakan
menatap diri yang melipat rapat di pesing selatan parkir stasiun
di palang kereta api ketika pulang
yogyakarta feb 2003
Langganan:
Postingan (Atom)