ibu hendak kemanakah kulesakkan puisiku yang datang berduyun duyun ketika petang
ketika awan bergegas ketika pengendara pengendara menatap langit dengan cemas
atau biarkan ia menjadi ranjang untukmu menemani hari hari dengan gumam dengan mimpi mimpi untuk berlari menuju kabah
ibu maghrib hampir tiba kan kukunci semua jendela duduklah ditepi ranjang yang pengap
dari puisi puisi yang kubiarkan merana dan mati maaf kubersihkan nanti
aku sendiri terluka bu menatap jaman menatap diri sendiri dan kesepian
terbabat waktu dan membiakkan hari hari dalam keberuntungan dan ketakberuntungan nasib
puisi puisi yang tak kukenali lagi menyapa pelan tetapi menggelisahkan ku
adakala kutemukan dirinya dalam unggas unggas dalam pengendara pengendara yang melaju
yang mengkepak kepakkan waktu diredup cahaya
ya tadi malam aku impikan kursi rodamu ia melesat cepat pergi
kulihat kau berlari lari kecil mengejarnya ku bayangkan itu ditanah suci
impian impian tentangmu adalah mimpi mimpiku sendiri bu
dan kau adalah aku yang mengakrabi ranjang demi ranjang puisi yang jenuh tapi tak beranjak
beranjaklah puisiku seperti ibuku dulu dari kanak menjadi dewasa kawin dan berbiak
jangan sakit jangan berdiam saja diranjang seperti ibuku dia memang sakit
belajarlah menjadi luka chairil yang kan berlari membawa hilang pedih perihnya
beranjaklah puisiku jadikan aku pengendara kata yang bergegas seperti unggas unggas disore hari
ada kepastian untuk pulang dan membaringkan tubuh di ranjang kumel dengan puisi
seharian terasing dalam rutinitas dan aku tenggelam didalamnya tak keluar keluar
sebagai burung yang pulang senja aku terkapar lagi
dengus kereta yang melaju dan aroma para pengembara antar kota kota masih merayap pelan di mimpi mimpi pagiku mengantarkan puisi puisi tentang perjalanan di akhir malam
aku terkapar dalam ranjang dan membangun puisi dari batuk dan rewelnya ibu
yang sering memanggilku malam malam ketika puisi tak lagi disampingku
ia menderit dikursi roda yang kudorong pelan sementara bapak para sajak lelap tidurnya
ia lelah dan mulai menua
maaf ibu ini hanya ziarah ku padamu pada puisi puisiku
yogyakarta, februari 2008
05 Februari 2008
kata mereka aku sudah tumpul.
kataku kaku, jemariku bisu.
lelah aku mengetuk,
cuma sampah layaknya kembang api memekik resah.
kata mereka aku basi.
luka sudah tidak lagi menarik hati.
bangsat, anjing, sialan, setan!
aku cuma punya makian.
karena cintaku mati tertelan dusta
kata mereka aku hampir mati.
mampus ditelan dusta yang jadi raja.
senyum manis basa basi
aku memang sang ratu dunia opera
aku cinta pada dusta,
36 purnama dipenuhi ekstase palsu.
kalau memang tidak akan ada nanti,
mengapa harus ada yang lalu
kamu bangsat!!!
bangsatku penipu jalang!!!
kataku kaku, jemariku bisu.
lelah aku mengetuk,
cuma sampah layaknya kembang api memekik resah.
kata mereka aku basi.
luka sudah tidak lagi menarik hati.
bangsat, anjing, sialan, setan!
aku cuma punya makian.
karena cintaku mati tertelan dusta
kata mereka aku hampir mati.
mampus ditelan dusta yang jadi raja.
senyum manis basa basi
aku memang sang ratu dunia opera
aku cinta pada dusta,
36 purnama dipenuhi ekstase palsu.
kalau memang tidak akan ada nanti,
mengapa harus ada yang lalu
kamu bangsat!!!
bangsatku penipu jalang!!!
04 Februari 2008
quo vadis cintaku?
seorang perempuan "memaksa" saya untuk membuka kembali blog ini, membaca kembali lembaran lusuh yang saya "matikan" secara paksa di satu sisi dalam otak saya.
Ini menyebalkan, sungguh2 menyebalkan.
Baris demi baris kalimat berhamburan berusaha melukai saya, kata demi kata terlontar menusuk-nusuk semuanya.
Lalu hati saya gemetar, jemari saya bergetar. Layaknya terterpa angin puting beliung yang selama ini saya kandangi, keinginan hasrat saya untuk menari diatas jutaan kata timbul lagi.
saya mengumpulkan segenap keberanian untuk membuka kain kafan di hati saya. meraba pelan - pelan berusaha menginsyafi segenap luka. saya berharap semuanya telah pergi, tapi ternyata tidak, darah masih menetes satu-satu, membasahi segala kenangan, menyumpahi segala kebohongan dan penghianatan hati akan diri.
lalu mataku tertuju pada satu baris kalimat yang kutulis waktu segala masih terpuja.
"quo vadis cintaku?" - kemana akan pergi cintaku?
seorang gadis kecil dengan segala kenaifannya mencoba untuk terbang menyentuh bintang, berharap dengan begitu banyak cinta dia bisa berdansa dengan dewa dewi berkerudung sutra asmara warna merah muda.
nyatanya cinta hanya tahi kucing!
karena hati hanya dibuang ke selokan berbau busuk janji palsu.
lalu segalanya menjadi jelas,
satu jawaban atas pertanyaan tempo dulu.
"quo vadis cintaku?"
cintaku kubuang ke lembah nista bernama perzinahan.
dan atas nama zinah kugagahi cintaku
Ini menyebalkan, sungguh2 menyebalkan.
Baris demi baris kalimat berhamburan berusaha melukai saya, kata demi kata terlontar menusuk-nusuk semuanya.
Lalu hati saya gemetar, jemari saya bergetar. Layaknya terterpa angin puting beliung yang selama ini saya kandangi, keinginan hasrat saya untuk menari diatas jutaan kata timbul lagi.
saya mengumpulkan segenap keberanian untuk membuka kain kafan di hati saya. meraba pelan - pelan berusaha menginsyafi segenap luka. saya berharap semuanya telah pergi, tapi ternyata tidak, darah masih menetes satu-satu, membasahi segala kenangan, menyumpahi segala kebohongan dan penghianatan hati akan diri.
lalu mataku tertuju pada satu baris kalimat yang kutulis waktu segala masih terpuja.
"quo vadis cintaku?" - kemana akan pergi cintaku?
seorang gadis kecil dengan segala kenaifannya mencoba untuk terbang menyentuh bintang, berharap dengan begitu banyak cinta dia bisa berdansa dengan dewa dewi berkerudung sutra asmara warna merah muda.
nyatanya cinta hanya tahi kucing!
karena hati hanya dibuang ke selokan berbau busuk janji palsu.
lalu segalanya menjadi jelas,
satu jawaban atas pertanyaan tempo dulu.
"quo vadis cintaku?"
cintaku kubuang ke lembah nista bernama perzinahan.
dan atas nama zinah kugagahi cintaku
01 Februari 2008
Undangan Pernikahan

Undangan Pernikahan
Tgl 1 Feb 2008
Jam 09.00 WITA - Selesai
I Kadek Dedy & Astrid Reza
di Ds Apuan, Br Apuan, Baturiki
Tabanan - Bali
(versi SMS)
Dikirim: 08:37:40 31-01-2008
Pengirim: Astrid Reza +628164822***
-----------------------------------
Oendangan Pernikahan/Wedding Invitation
for everyone
Private Wedding Ceremony
22nd May 2007
@Adhyaksa Raya No. 1, Yogyakarta - Indonesia
Balinese Religious Ceremony & Reception
1st February 2008
9 AM - finish
@Desa Apuan, Baturiti, Tabanan, Bali - Indonesia
Wedding Reception (further notice)
2009
@Bogor, Jawa Barat - Indonesia
We're inviting friends and family to come to our wedding ceremony in Bali.
Kami mengundang kawan-kawan dan keluarga untuk menghadiri acara pernikahan kami di Bali.
I Kadek Dedy Sumantra Yasa & Astrid Reza
Family of I Made Suratha & Ir. Kartika Widjaja, M.A.D.E.
PS: For friends coming to Bali, please sms us for further information about the place, events and other arrangements.
Jan 4, '08 1:32 AM
http://astridreza.multiply.com
http://astridreza.blogspot.com
23 Januari 2008
SEBENTUK KEGILAAN BERNAMA PERJUANGAN
Kami sudah letih dengan kubur kata
Mata muntah memandang bekas hutan
Otak kejang gelinjang menolak dusta
Dari mereka yang puja puji benda bak Tuhan
Kais hati-hati di tempat sampah dunia
Hati yang terbuang congkak semesta
Tangan yang terpenggal angkuh mesin
Kaki yang lumpuh oleh beban miskin
buat barisan
buat kumpulan
buat kekuatan
menentang segala penindasan
menghujat semua pembodohan
meludah semua pemiskinan
sebentuk kegilaan bernama perjuangan.
Mata muntah memandang bekas hutan
Otak kejang gelinjang menolak dusta
Dari mereka yang puja puji benda bak Tuhan
Kais hati-hati di tempat sampah dunia
Hati yang terbuang congkak semesta
Tangan yang terpenggal angkuh mesin
Kaki yang lumpuh oleh beban miskin
buat barisan
buat kumpulan
buat kekuatan
menentang segala penindasan
menghujat semua pembodohan
meludah semua pemiskinan
sebentuk kegilaan bernama perjuangan.
29 Desember 2007
aku mencari kemana rembulan
yang lenyap terkikis awan mendung,
dikala hujan masih enggan pulang...
mungkin hari belum berhenti berduka,
dimana malam selalu menyajikan air mata
serta angin kerap menghembuskan kedinginan
diatas tanah tatkala seraya menggigil.
untuk kali pertamanya
nada hampa ini terlantun diatas kavan.
yang lenyap terkikis awan mendung,
dikala hujan masih enggan pulang...
mungkin hari belum berhenti berduka,
dimana malam selalu menyajikan air mata
serta angin kerap menghembuskan kedinginan
diatas tanah tatkala seraya menggigil.
untuk kali pertamanya
nada hampa ini terlantun diatas kavan.
05 Desember 2007
kami bermaksud mengaktifkan lagi
Salam,
Kawan-kawan apa kabar?
hanyakata™
setelah sekian lama off
kami bermaksud mengaktifkan lagi
untuk sementara di alamat ini:
http://haykata.blogspot.com
(kabarnya akan ada yang membelikan domain hosting lagi)
jika berkenan silahkan menghidupkan kembali
Terimakasih,
zaM | http://dzam.blogspot.com
Kawan-kawan apa kabar?
hanyakata™
setelah sekian lama off
kami bermaksud mengaktifkan lagi
untuk sementara di alamat ini:
http://haykata.blogspot.com
(kabarnya akan ada yang membelikan domain hosting lagi)
jika berkenan silahkan menghidupkan kembali
Terimakasih,
zaM | http://dzam.blogspot.com
04 Agustus 2007
apa kabar ..... kawan ?
Salam dari kenangan yang berbisik kembali di suatu sore,
kepada kamu semua yang tetap berkeliaran pada halaman hati,
halaman dari rumah kita namakan hanyakata.
apa kabar ..... kawan ?
Langganan:
Postingan (Atom)