Pinokio Menulis
Jika anda sudah biasa berbohong, mengapa tidak menyalurkan kebiasaan yang penuh dosa itu dengan menulis fiksi?
(Josip Novakovich)
Angin malam itu duduk tergeletak di sudut kamar. Tak mampu berjaga. Sementara lampu redup tak sudi berkhianat. Matanya lelah menatap. Hanya daun jendela memancing pandang, melambai-lambai di luar sana. Dan cicak terbaring menelan ludah untuk tanya yang tak pernah terjawab.
Ia mengusap peluh. Peluh yang tak jujur hadir di malam yang datang dingin. Otaknya berputar bagai memeras anggur-anggur yang tergilas roda waktu. Menetes ke pipi dan menitipnya pada hidung yang kian bersinar. Ia mengusap mata. Mata malasnya.
Ahh…. sudah empat jam. Buntu, batinnya. Membakar tembakau. Menciptakan awan-awan kecil yang mencoba menggoda hayal yang menerawang.
“Apa yang akan aku ucap esok? Mereka sudah menungguku. Aku datang untuk menang,” ucapnya dalam. “Tapi aku harus berkata apa?”
Terbayang olehnya Bukhori akan menepuk dada. Dan mulutnya akan menyala-nyala. Seperti sebuah pertunjukan sirkus keliling di kota-kota kecil. Dan badut Bukhori akan menciptakan bola-bola api dari mulutnya. Mereka terpesoan. Berdiri dan memberi sejuta tepuk.
Atau mungkin Ahmadi akan meninju langit. Memecah awan-awan yang menggumpal. Memberi lautan jawab yang menetes bagi mereka yang lama menengadah di musim-musim berjalan. Jadilah dia malaikat pongah yang lupa akan sayapnya telah lama digadai pada borjuis-borjuis itu.
Sialan! Mengapa otakku terkunci rapat. Ruangan-ruang apa pula yang membius kecerdasanku terperangkap tanpa pintu. Aku telah berkeliling pada semua sudut kota. Telah menyapa pada semua peristiwa. Tapi adakah yang bisa kubaca? Dia bertanya dalam tanya.
Semua sudut terpapar di depan mata. Mata malas. Antara fakta dan fiksi. Atau percampuran kedua kelamin itu. Bila keduanya dituliskan dalam gaya bahasa Ibrani kuno, yang keduanya dituliskan tanpa huruf hidup, keduanya akan ditulis FK dan cara membedakannya tergantung pada cara melafalkannya. Begitu tipis……
Bukakah fiksi bisa menggunakan banyak fakta? Aku bisa bermain-main dalam ruang fakta untuk merangkainya menjadi cerita. Sejarah adalah batu-batu yang kuat untuk membangun pondasinya. Pramoedya bilang, nasion kita tak sadar sejarah. Sejarah itu tempat kita memulai perjalanan. Kalau tempat berangkat itu kita tak tahu, bagaimana kita tahu tujuan kita? Itu sebabnya Pram berkenalan dengan realisme sosialis. Karena realisme sosialis harus mengangkat orang-orang yang tak punya sikap dan menjadi hamba keadaan.
Tapi aku bukan hidup dalam penindasan. Tak melahirkan sikap perlawanan (atau mungkin dendam) oleh akibat penindasan seperti yang dialaminya. Tapi aku punya sedikit sikap memberontak, walau itu memberontak terhadap kemampanan berpikir.
Setidaknya aku bisa mencoba meramu sejarah itu dan memolesnya menjadi sebuah fiksi. Tentu tak membosankan. Karena di saat orang-orang perlu makan dan lapangan kerja, mereka akan muak oleh kehebatan raja-raja di tanah Jawa yang menyisakan feodalisme dalam birokrasi. Artefak-artefak bukan lagi bukti warisan kehebatan budaya, karena turunannya hanyalah budaya kepasrahan ditindas dan dibodohi, sudah mengakar di akar rumput.
Aku harus menemukan sejarah-sejarah baru. Sejarah kolonialis, feodalis, militeristis, dan paham ketunggalan sudah telanjang. Bugil tanpa malu-malu ditatap dan yang menatapnya tak jengah. Aku akan membuat mereka sadar sejarah dan bersatu mengahalaunya. Hanya dalam prosa sejarah akan gampang dicerna.
Tapi jari ini masih tak bersahabat. Diam tak sudi menari, walau nyanyianku adalah nyanyian jiwa yang melantun keluar dari gendang telinga. Sedangkan nadiku terpacu kencang dengan sejuta kata yang ingin tumpah di jemari. Tapi jemari diam. Aku ingin menulis. Menjadi pengarang. Menjadi resi-resi sejarah, julukan yang diberikan Ben Okri (novelis Afrika) bagi pengarang. Karena pengarang adalah barometer zaman. Pengarang adalah orang yang menulis melawan arus zaman, pengibul tentang kebenaran yang dapat dipertanggung jawabkan dan penebar janji-janji yang bisa dipercaya. Aku ingat, ucapan itu dikatakan lantang oleh Gunter Grass pada pidato pengukuhannya sebagai laureat Nobel Sastra 1999.
Oh….. aku kini sudah mulai berdamai. Aliran darah dan oksigen berjalan tenang, bergerak maju. Jari-jemari menjadi kepanjangan otak. Syaraf-syaraf mulai saling memangut, bermesraan. Sebuah emosi ternyata mampu mendorong untuk menulis. Mampu menjiwai alam pikir orang lain. Mampu menjiwai suara seseorang. Jerit orang-orang. Harap yang masih tersisa dari nafas tersenggal-senggal sebelum pintu kubur ditutup.
Mengalir bagai banjir yang menggenangi rumah-rumah di dataran rendah di sekeliling perumahan megah. Menerjang kaki-kaki alas tidur di pinggir kali. Menyapu nafas manusia-manusia yang menjajakan peluh di tepi-tepi jalan karpet mobil mewah. Menenggelamkan hak-hak pemilik negeri hingga terlihat teduh keruh menjadi lautan, terpasung pada waduk angker yang dijaga berabad-abad pada pintu airnya.
Lelaki itu mengamini. Cerita fiksi mirip dengan dusta. Memulainya dengan suatu yang nyata. Mengubah menjadi alur yang bisa diatur bermuara untuk tujuan tertentu. Dan esok, di atas podium itu, membuai jelata dengan kata-kata indah. Ia akan menang pada pemilu kali ini. Wakil dari kaum pendongeng.
Grogol,20nopember2003
21 November 2003
Sang Pemimpi
Malam basah. Hujan patahpatah.
Dan di sebuah kafe angin tak sendu.
Hanya waktu berjalan sempoyongan.
Bersamanya ada dentingdenting.
Nyaring menghantam. Bedilbedil yang
menjemput saudara kita.
Lihatlah......bibirnya sumbing
Pagutan kabar bohong beraroma arak.
Musik yang berdentum adalah detak nadi
satusatu. Tarian kejang, kawan menggelepar.
Indonesia Raya dihasut lidah mereka.
"Kami tidur di pusara leluhur"
Langkah enggan berpindah, merekah kubur.
"Jangan halau kami!"
Malam kian kian lelap di bibir basah.
Di tatap curiga lima watt, senyumsenyum
asing menjual kebebasan.
Hidangan penutup sebelum ingkar janji.
Sebelum malam berganti kelamin,
ada sapa, "Hai Yusuf sang pemimpi, esok ada apa?"
Sebelum malam berganti tuhan
dinding menatap, penjara bagi tubuh,
merdeka bagi ruh.
grogol,20/11/03
Malam basah. Hujan patahpatah.
Dan di sebuah kafe angin tak sendu.
Hanya waktu berjalan sempoyongan.
Bersamanya ada dentingdenting.
Nyaring menghantam. Bedilbedil yang
menjemput saudara kita.
Lihatlah......bibirnya sumbing
Pagutan kabar bohong beraroma arak.
Musik yang berdentum adalah detak nadi
satusatu. Tarian kejang, kawan menggelepar.
Indonesia Raya dihasut lidah mereka.
"Kami tidur di pusara leluhur"
Langkah enggan berpindah, merekah kubur.
"Jangan halau kami!"
Malam kian kian lelap di bibir basah.
Di tatap curiga lima watt, senyumsenyum
asing menjual kebebasan.
Hidangan penutup sebelum ingkar janji.
Sebelum malam berganti kelamin,
ada sapa, "Hai Yusuf sang pemimpi, esok ada apa?"
Sebelum malam berganti tuhan
dinding menatap, penjara bagi tubuh,
merdeka bagi ruh.
grogol,20/11/03
Let The Rain Fall [Hanya Sesaat]
;Ompit
Inikah gundah yang kau kirim padaku?
Badai air yang mengaburkan jalanku...
Inikah rindu yang kau kecupkan untukku?
Embun-embun dingin yang menempel pada jendela beningku...
Kalau memang begitu adanya...
Maka...
Inilah senyum yang kulampirkan untukmu
Matahari senja yang berwarna jingga menguak kenang...
Inilah sapaan hati yang aku bisikkan dan teriakkan hanya untukkmu
Angin-angin lembut yang membelai airmata rindumu...
Hanya sesaat...hanya sesaat...
*14.11.03, Jatinangor*ventri*
;Ompit
Inikah gundah yang kau kirim padaku?
Badai air yang mengaburkan jalanku...
Inikah rindu yang kau kecupkan untukku?
Embun-embun dingin yang menempel pada jendela beningku...
Kalau memang begitu adanya...
Maka...
Inilah senyum yang kulampirkan untukmu
Matahari senja yang berwarna jingga menguak kenang...
Inilah sapaan hati yang aku bisikkan dan teriakkan hanya untukkmu
Angin-angin lembut yang membelai airmata rindumu...
Hanya sesaat...hanya sesaat...
*14.11.03, Jatinangor*ventri*
20 November 2003
19 November 2003
bagaimana mungkin kulukis mimpi buruk ini?
sedangkan engkau tak ada disisi jenazahku
tuk menggenggam tangan kanan
yang kehilangan tulang ini...
bagaimana mungkin kucorak kanvas cinta ini?
sedangkan kuas kasihku
t'lah engkau bawa keseberang laut
bersama arwahku
yang t'lah kuletakkan dibahu kananmu...
"bagaimana mungkin?"
sedangkan engkau tak ada disisi jenazahku
tuk menggenggam tangan kanan
yang kehilangan tulang ini...
bagaimana mungkin kucorak kanvas cinta ini?
sedangkan kuas kasihku
t'lah engkau bawa keseberang laut
bersama arwahku
yang t'lah kuletakkan dibahu kananmu...
"bagaimana mungkin?"
17 November 2003
jika semuanya usai
derap kereta telah lama lewat
di jalanjalan berdebu kuhentikan langkah
ada yang tersekat dibalik kawat
sesosok doa atau mungkin segumpal wajah
telah lama kurindukan persinggahan
namun oase itu seperti terkubur reruntuhan
menghilang pada cadas dan batubatu
jika semuanya usai
berjalanlah ke arah barat
ada yang menunggumu di tepian senja
menunggu setiap huruf yang kau urai
menjadi seribu ulat dan kunangkunang
menjadi belatung dan belalang
menjadi bunga juga lalang
jika semuanya usai
tetaplah catat dalam buku harian
seluruh rindu yang pernah tumpah
pada meja perjamuan antara kau dan aku
bumiallah, 2003
derap kereta telah lama lewat
di jalanjalan berdebu kuhentikan langkah
ada yang tersekat dibalik kawat
sesosok doa atau mungkin segumpal wajah
telah lama kurindukan persinggahan
namun oase itu seperti terkubur reruntuhan
menghilang pada cadas dan batubatu
jika semuanya usai
berjalanlah ke arah barat
ada yang menunggumu di tepian senja
menunggu setiap huruf yang kau urai
menjadi seribu ulat dan kunangkunang
menjadi belatung dan belalang
menjadi bunga juga lalang
jika semuanya usai
tetaplah catat dalam buku harian
seluruh rindu yang pernah tumpah
pada meja perjamuan antara kau dan aku
bumiallah, 2003
15 November 2003
dimana lagi harus kusembunyikan
tubuh yang t'lah membusuk ini?
sedangkan lumpur pun tak sanggup lagi
dijadikan bungkusan tuk membalut lukaku...
kemana lagi keranda akan mengusung jenazahku?
sedangkan tanah merah pun
t'lah tak memiliki tempat untuk menguburku...
dimana lagi papan nisan
yang tak berriwayat harus kutancapkan?
sedangkan mayatku sendiri
telah hilang entah kemana...
tubuh yang t'lah membusuk ini?
sedangkan lumpur pun tak sanggup lagi
dijadikan bungkusan tuk membalut lukaku...
kemana lagi keranda akan mengusung jenazahku?
sedangkan tanah merah pun
t'lah tak memiliki tempat untuk menguburku...
dimana lagi papan nisan
yang tak berriwayat harus kutancapkan?
sedangkan mayatku sendiri
telah hilang entah kemana...
14 November 2003
tiba-tiba...
aku ingin menghentikan detik-detik sang waktu
agar berakhir perjalanan melelahkan ini
oleh langkah sepasang kaki
yang tak pernah beristirahat berjalan...
seandainya aku sanggup...
aku ingin sekali mengeringkan samudera
dan memusnahkan setiap tiupan badai...
agar tak perlu lagi
adanya kata-kata "penantian"
kepulanganmu kerumah
yang membuat sepasang bola mata
enggan tuk terpejam
didalam lelap...
aku ingin menghentikan detik-detik sang waktu
agar berakhir perjalanan melelahkan ini
oleh langkah sepasang kaki
yang tak pernah beristirahat berjalan...
seandainya aku sanggup...
aku ingin sekali mengeringkan samudera
dan memusnahkan setiap tiupan badai...
agar tak perlu lagi
adanya kata-kata "penantian"
kepulanganmu kerumah
yang membuat sepasang bola mata
enggan tuk terpejam
didalam lelap...
XI.
kita berpisah dengan satu kata, nanti bertemu kembali. entah kapan namun pasti. ini sudah nyaris tujuh hari. diriku sedang bergerak ke arah barat. menghilang dan mencari angka-angka untukmu. mencari kenangan untukmu.
apa yang menjadikan hati bercabang jika bukan cinta yang seseorang miliki, kata seseorang yang lain. jangan pernah menyelingkuhi hatimu, lanjutnya. bagaikan nabi-nabi tanpa arti. kata-kata menjadi. menjadi begitu saja.
sekilas embun kacamata kita terhapus dan mata-mata lanjut menyala.
XII.
kita seperti anjing kota. berkeliaran dan pecah di perempatan. aku menemukan afrizal di setengah perjalananku ke barat. kubawa dia di dalam tasku, juga prosa-prosa. aku sedang mencari buku untuk memindahkan kehidupan ke dalam kertas-kertas.
kau masih ingat afrizal dan dalam rahim ibuku tidak ada anjing yang kuberikan untukmu. dia hadir lagi dan sosok-sosok anjing kawanku melebur dalam sosokmu. setengah serigala dan masih serigala. yang selalu kesepian bahkan dalam catatan-catatan lama.
bahkan, seperti lupa yang merongrong dunia. aku ingin malam pecah lagi. menjadi seribu dan kita lahir lagi tanpa ibu.
kita berpisah dengan satu kata, nanti bertemu kembali. entah kapan namun pasti. ini sudah nyaris tujuh hari. diriku sedang bergerak ke arah barat. menghilang dan mencari angka-angka untukmu. mencari kenangan untukmu.
apa yang menjadikan hati bercabang jika bukan cinta yang seseorang miliki, kata seseorang yang lain. jangan pernah menyelingkuhi hatimu, lanjutnya. bagaikan nabi-nabi tanpa arti. kata-kata menjadi. menjadi begitu saja.
sekilas embun kacamata kita terhapus dan mata-mata lanjut menyala.
XII.
kita seperti anjing kota. berkeliaran dan pecah di perempatan. aku menemukan afrizal di setengah perjalananku ke barat. kubawa dia di dalam tasku, juga prosa-prosa. aku sedang mencari buku untuk memindahkan kehidupan ke dalam kertas-kertas.
kau masih ingat afrizal dan dalam rahim ibuku tidak ada anjing yang kuberikan untukmu. dia hadir lagi dan sosok-sosok anjing kawanku melebur dalam sosokmu. setengah serigala dan masih serigala. yang selalu kesepian bahkan dalam catatan-catatan lama.
bahkan, seperti lupa yang merongrong dunia. aku ingin malam pecah lagi. menjadi seribu dan kita lahir lagi tanpa ibu.
13 November 2003
Langganan:
Postingan (Atom)