19 Juni 2003

Kubentangkan sayapku setinggi kau terlontar.
Aku tidak siap untuk kehilanganmu...
Sebentar.
Tunggu aku.

18 Juni 2003

Hearing only what you wanna hear
Knowing only what you heard
dan tentang kita lebih lebih tidak ada yang berarti
selain cabikan luka yang masih saja menoreh sembilu
dan pedih yang belum lagi terselesaikan
....

aku masih terluka ..
dan masih saja membencimu ..
masih saja ..
masih saja ..

.. setelah sekian lama ..
Aku pernah menyusuri setapak itu untuk mecarimu,
Membawa serantang ransum untuk makan pagi,
Sebungkus rokok tanpa geretan agar tidak cepat habis,
Dan sekalung rosario melingkar di leher

Saat itu, musim kemarau belum lah seperti sekarang,
Kadang masih ada rintik hujan yang jatuh membasahi kepala ..
Yang percikannya kadang masuk membasahi hati,
Membuat tetes air mata kadang mengalir bersama kenangan

Musim hujannya juga tidak selebat sekarang,
Banjir masih jarang ..
Sehingga masih ada tempat untuk berteduh,
Menikmati sigaret sambil menatap pelangi sehabis bercinta dengan badai

Kadang aku melintasi hutan,
Berpeluh,
Berkesah,
Mencoba mengamati pondokan sisa sisa pemburu tua yang mungkin bisa digunakan untuk melepas penat

Kadang pula aku menyelami laut,
Mencoba mencarimu diantar terumbu, putri duyung dan hamparan anemon
Membaui setiap karang kali-kali jejak manimu tertinggal disana

Aku terbang,
Aku berlari,
Aku menyelam,
Mencari apa yang tersisa dari bayangmu,
Mencari apa yang masih bisa kukoyak dari kenangan akanmu ..

lelakiku,

diamdiam ada yang tak suka aku bertandang
menyemburkan kalimatkalimat panjang
sekedar hurufhuruf tanpa makna. mungkin
aku harus tahu diri.

aku bukan siapa pun dimatamu. maka biarkan,
kubawa tubuh ringkihku, mencari sekedar gubuk.
bukan istanamu yang megah ini.

disini, aku tak layak menjadi apapun. meski
seekor semut atau debu sekalipun.
kelak, mungkin kutemukan wajah damaimu
yang akan selalu merangkul siapa saja, meski
di wajahnya seribu luka menganga.
Negasi Ruang Waktu
:dera

I.
Di setiap tapak padang stepa yang dilalu sang pertapa, tercipta sketsa-sketsa dan oase-oase fatamorgana. Penat telah lewat, dan waktu masih melingkar geliat tak beranjak. Rebah malas langit hangat meranggi hati.

II.
Ada sayatan harap pada kedewasaan tanggung yang larikan masa kanak-kanak ceria. Pada tatap yang sayu, pada serapah yang batu, pada janji yang ragu, lampahlah nyala terang buram kisah.

III.
Dentang tempur angin debu yang beradu padu membentuk pola-pola yang tak semata pat-kwa. Nalar di gantangan asap darah yang tetes dari ujung tipis pedang yang berderak dengan nyalang yang senja di retina-retina tetua buta.

IV.
Kapan dan apa jadi tanya yang selalu ada. Bermusim gugur bunga dan migrasi burung-burung raja tak habis bawa nanti akan sepata. Sayap-sayap mengepak lambat tak niat hempas tanah lumpur liat.

V.
Aku masih di sini mencoba mengerti centhini, mencerna bhadgavadgita, merapal karmapala. Ditemani jejari yang sibuk dengan kotak, bundar, dan segitiga.

[11.06.2003]

14 Juni 2003

Aku muak padamu!
pada senyum mempesonamu
pada kata kata manismu
pada janji janji mulukmu

Aku muak padamu!
pada bau parfummu yang seharga sekali tiket keBali
pada bau nafasmu yang mengingatkanku
pada sekotak coklat mint penggoda selera

Aku benar benar muak padamu kali ini!
sudahlah!
taruh saja dua tiga gepok uang ratusan ribu
diatas ranjang beralas sprei satin itu seperti biasa
dan bergabunglah denganku di dunia kita,
di surga dan neraka kita,
melewati taman sejuta bunga.....

Lalu esok pagi,
kembalilah lagi kau pada istri dan anakmu
ya...manisku tersayang!!



PojokExelco Juni 03

satu lagi omong kosong

sudah cukup lama dari perjumpaan terakhir kita,
kuhitung-hitung .. hmm, kurasa hampir dua belas purnama..
masih saja teringat, sedang apa kamu disana?
adakah kamu disela letihmu masih menyisakan sepotong waktu untuk kau hadiahkan untukku?
adakah kamu disela lelahmu menjajah dunia masih menyisakan secuil senyum untuk sekadar mengenangku?
yah,

mungkin tak banyak yang tersisa .. karena kalaupun bisa dirunut, perjumpaan terakhir kita tak banyak menimbulkan suka,
kukira ada tamparan yang membekas di hati, ludah-ludah yang memerawani jiwa .. dan satu dua perih yang masih saja tidak bisa terbalut
lalu aku ingat ada ciuman terakhir yang kita lakukan di pintu kamarmu ..
lelaki berbaju putih dan wanita berbaju biru .. wajah masai, titikan peluh dan celana dalam yang bahkan masih menyimpan bau manimu
(bibirku masih memar, dan masih kuingat dengan jelas gigitan lembutmu yang menandai payudaraku) ...

percakapan percakapan bodoh,
lelucon lelucon, argumentasi demi argumentasi, atau bahkan hanya cumbuan cumbuan yang terbang melintasi kota ..
(aku rindu, sungguh ...)

katamu, "cinta itu hanya racun yang diinfuskan ke dalam otak kecil kita untuk kemudian membuat kita kalah dan hancur lebur"
kurasa benar, karena sampai saat ini, tak ada yang mampu membuatku kembali menengadah
(entah, segala sesuatu menjadi begitu berbeda tanpamu, dan aku masih saja tidak terbiasa dengan semua ini)

kadang aku berpikir, kalau saat ini aku punya sayap, akankah aku terbang menghampirimu ..
menatap kembali matamu, mungkinkah aku masih saja terpesona dengan segala hal yang kutemukan di dalamnya?
(ada yang berubah, banyak mungkin ... tapi lebih banyak lagi yang tetap sama)

Tidak tahu,
mungkin juga tidak akan pernah tau ..
bila bisa kembali bersimpangan denganmu?
(Yang kemudian kudengar hanya lagu kesayangan pemberianmu, "mungkin memang hanya Tuhan yang bisa menjelaskan segalanya")

Mungkin memang seharusnya tidak menulis malam ini,
Mungkin memang seharusnya tidak menangis malam ini,
Mungkin memang seharusnya tidak lagi mencintaimu .. dengan cinta yang membuat tak pernah terucap kata itu lagi dari mulut bibir tanah liat ini

*matahari, tetaplah disana .. bakar semua yang tersisa, jadikan abu .. jadikan debu, tak ada lagi yang cukup berarti tanpamu*
mengapa orang-orang kasihan pada dirinya
kabarnya dia tiap hari dimarahi istrinya
dari pagi siang sore hingga petang
tetapi ia tak pernah melawan hanya diam saja
karena ia tau kalau istrinya sangat mencintainya
bahkan cintanya pada istrinya tak ada apa-apanya
dibandingkan dengan cinta istrinya pada dirinya
ia selalu tau seberapa besar rindunya istri
jika tak bertemu dengan dirinya satu hari saja
jangankan satu hari setengah haripun satu jam pun
yah betapa khawatirnya istrinya pada dirinya
yah karena ia tau itu mengapa ia mesti melawan
jika tiap istrinya marah sebab ia tau yah tau
bahwa semua itu karena cinta cinta yang besar
cinta yang dashyat yang bergetar dan berdebar
dan memang istrinya adalah seorang pemarah
mengapa ia tak menyerahkan dirinya saja
sebagai media untuk tempat segala luapan marah
seperti kanvas yang selalu kosong
dan siap digoreskan warna menjadi lukisan
seperti panggung yang selalu kosong
dan siap diisi sebuah pertunjukkan drama
yah ia tau itu istrinya sangat mencintainya
karena itu setiap ia selesai dimarahi istrinya
ia selalu mencium istrinya pipinya bibirnya
seperti yang ia lakukan setiap hari
setiap bangun atau berangkat tidur di rumah
juga setiap ia mau berangkat bekerja

13 Juni 2003

malam ini dunia menjadi lain
engkau menjelma lelaki dengan seribu jala
dan aku menjelma rusa yang purapura berlari.
dalam lariku, aku berharap jala yang kau tebar
mampu menjeratku. aku lari perlahan..
tapi aku tetap rusa. berlari dengan begitu piawai...

kekasih,
jeratkan jala itu padaku...
maka aku akan mencumbumu dengan seribu puisi
dengan seluruh rasa cinta yang menggebu
padamu.

hanya padamu.

07 Juni 2003

akan antang no tien

pada suatu senja
kudapati bulan dan kala
saling tulis saling lukis
drama perpisahan tanpa tangis

sungai mencuri satu warna
mencumbu desah gemericik
ulur dan tarik
terlempar pada sepasang mata

hmmm ....
kini matamulah empunya bara senja
pun ketika malam bulan memuja
kini matamulah alir sungai
pun ketika malam tak lagi ramai.