08 November 2001

aku ingin

aku ingin mencintaiMu dengan membabi buta -
dengan sebotol racun yang diteguk romeo
tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi

aku ingin Kau mencintaiku dengan membabi buta -
dengan sebilah belati yang ditikamkan juliet
ke dada sendiri yang membuatnya jadi abadi

1999
saut situmorang

07 November 2001

segera temukan padanan hatimu...
aku akan berjalan dibelakangmu,
sampai saatnya ada yang menuntun
dan kau tuntun...
Kampung Kabut

Dari jauh terlihat
gunung berselimut kabut
kulangkah kaki cepat
saling susul tak perpagut

Kujumpai kampung
kabutnya adalah abadi
dingin ... sunyi
diam tak tertampung

Matahari menjadi bulan
tak kuasa tembusi
tak kuasa panasi
tanah basah berkekalan

Orang berjalan pelan
tak bicara tak berkata
bahasa melalui mata
serta sentuhan

Kabut bergayut awut
perempuan kabut
tak berselimut
manis senyum berkabut

Seorang anak
memeluk ibu dan bapak
saling pegang pandang
dalam penglihatan berkabut

Duduk berlulut
di tengah kampung kabut
rambut basah tersalut
menetes turun ke wajah
leher dada dan kaki
perlahan .. diam .. resah ..
bak teka teki tapi pasti
hantar rasa maut
di kampung kabut
mataku mulai berkabut
tapi aku ternyata tidak takut
Tidak takut ...
di tengah kabut.

05 November 2001

perpisahan

jalanan malam dan dermaga yang tak berujung
kegelapan yang tiba-tiba diterangi api unggun
malam ini bulan purnama ikut berpesta
saksi yang tak bermata

laut di waktu malam
pemandangan yang menjadi kenyataan
setelah sekian lama
tiga tahun kata mereka
tiga tahun kata-kata kita

siapa yang menunggu sampai subuh tiba?
dan warna-warna kita luruh dengan dunia

salah satu tepian australia barat, 31.10.01 - 1.11.01

04 November 2001

PADA ALBUM MIGUEL DE COVAROBIAS

Kuinginkan tubuhmu
dari zaman
yang tak punya tanda,
kecuali warna sepia.

Pundakmu
yang bebas ,
akan kurampas
dari sia-sia.

Akan kuletakan sintalmu
pada tubir meja:
telanjang
yang meminta

kekar kemaluan purba,
dan zat hutan
yang jauh, dengan surya
yang datang sederhana.

Akan kubiarkan waktu
mencambukmu,
lepas. Tak ada yang tersisa
dalam pigura

juga api yang tertinggal
pada klimaks ketiga,
juga para dewa, juga kau
yang akan runduk

Kematian pun akan masuk kembali
kembali, kembali...
Mari.
Kuinginkan tubuhmu

dari zaman
yang tak punya tanda
kecuali
warna sepia

1996

Goenawan Mohamad
dikutip dari: Misalkan Kita Di Sarajevo, Kalam, 1998

02 November 2001

bentar yah kawan-kawan, fitur komennya lagi ta update, besok dah jalan moga2
SUNYI ITU DUKA

sunyi itu duka
sunyi itu kudus
sunyi itu lupa
sunyi itu lampus

Amir Hamzah
PADAMU JUA

Habis kikis
segala cintaku hilang terbang
pulang kembali aku padamu
seperti dahulu

kaulah kandil kemerlap
pelita jendela di malam gelap
melambai pulang perlahan
sabar, setia selalu

satu kekasihku
aku manusia
rindu rasa
rindu rupa

di mana engkau
rupa tiada
suara sayup
hanya kata merangkai hati

engkau cemburu
engkau ganas
mangsa aku dalam cakarmu
bertukar tangkap dengan lepas

nanar aku, gila sasar
sayang berulang padamu jua
engkau pelik menarik ingin
serupa dara di balik tirai

kasihmu sunyi
menunggu seorang diri
lalu waktu - bukan giliranku
mata hari - bukan kawanku....

Amir Hamzah
Sang Penunggu

Wajahnya terlihat jelas
bahwa dia sedang menunggu.
Seorang penunggu
tarjajah atau pemberontak waktu ?

Setiap gerak
jelas diikuti mata
setiap derak
tersaring telinga

Mulutnya terkatup
kata menguncup
karena dia adalah penunggu
walau hari tetap berlalu.

Kenapa kamu mau ?
"Arti waktuku terampas olehnya"
" Saya akan tunggu tak jemu"
Dan kami duduk bersama.

01 November 2001

:(

Senjalah senja
maaf ...
kujemput engkau dengan duka
"sometimes love just ain't enough"

Sunset
lirihkan puisi tersedih
terpanah tak meleset
ku kan tak bisa memilih ?

Malamlah malam
sorry ...
kuharap engkau tenggelam
munculmu sepi berduri

Sunrise
berjanjilah
jangan bawa tangis
aku sedang parah terbelah.
Soneta XVII

aku tak mencintaimu seolah-olah kau adalah serbuk mawar, atau batu topaz,
atau panah anyelir yang menyalakan api.
aku mencintaimu seperti sesuatu dalam kegelapan yang harus dicintai,
secara rahasia, diantara bayangan dan jiwa.

aku mencintaimu seperti tumbuhan yang tak pernah mekar
tetapi membawa dalam dirinya sendiri cahaya dari bunga-bunga yang tersembunyi;
terimakasih untuk cintamu suatu wewangian padat,
bermunculan dari dalam tanah, hidup secara gelap di dalam tubuhku.

aku mencintaimu tanpa tahu mengapa, atau kapan, atau darimana
aku mencintaimu lurus, tanpa macam-macam tanpa kebanggaan;
demikianlah aku mencintaimu karena aku tak tahu cara lainnya

beginilah: dimana aku tiada, juga kau,
begitu dekat sehingga tanganmu di dadaku adalah tanganku,
begitu dekat sehingga ketika matamu terpejam akupun jatuh tertidur.

-Pablo Neruda

nb: coba ngedit terjemahannya eka kurniawan dgn versi gue dan ting:)