04 Agustus 2007

apa kabar ..... kawan ?

Salam dari kenangan yang berbisik kembali di suatu sore,

kepada kamu semua yang tetap berkeliaran pada halaman hati,

halaman dari rumah kita namakan hanyakata.

apa kabar ..... kawan ?

29 April 2006

jangan terus dorong kami ke pinggirl
eher akan menjadi akhir
jangan terus paksa kami ke hulu
darah tak lagi tabu
jangan terus tutup mata
nafas tak selamanya ada.

05 Mei 2005

Simpan saja suaramu

Simpan dulu suaramu. Saat ini mulut tak perlu menganga. Hanya hening terkesima pada alunannya. Suara perut-perut kita. Tak perlu membaca nada, ada tenor di belakang sopran. Indonesia raya menjadi nasi basi. Hanya itu yang bisa dimamah biak. Seperti cerita pengantar tidur. Dan penat kita dielus ibu, menuju negeri khayalan.

Simpan rapat suaramu. Serigala pulas di leher-leher mereka. Sedikit berderak akan memancing liurnya. Sementara pundak-pundak kejang menahan berat. Beban yang kita tutup rapat di antara gigi-gigi. Menimbun tuaian semusim, itupun penuh dengan tikus-tikus lumbung. Bisikan yang dititipkan angin globalisasi.

Simpan saja suaramu. Teriakan mereka ekstasi. Melukai langit mendung yang lama paceklik. Tanpa bintang-bintang, awan tetap indah. Berarak di antara masa yang mengambang. Massa yang berserak. Tetap sebagai awan. Tetap dilaga menjadi petir. Yang menghantam bumbung atap rumah sekolah. Dan anak-anak kita lari dari didikan. Tak percaya ada banyak warna pada pelangi.

Simpan saja suaramu. Kotak-kotak* itu bukan surga, bukan pula neraka. Hanya jerat yang memperalat. Alas bagi sang waktu yang minta disunting, menuju tahta. Setelahnya akan menjadi titik-titik pasir yang lamat-lamat ditelan lumut. Memeluk rakus, akarnya serakah menghujam.

Simpan saja suaramu. Jiwa-jiwa hadir sebelum tanda titik. Bahasa menjadi pelacur, bugil berlari tanpa syahwat. Bola mata jujur menggelinding.
Basah, kering.
Membelalak, menyipit.
Berpura-pura, was-was.
Terpejam.

Dan suaramu menjadi suci, menyebut sebuah nama……
RahimNya.

Grogol, 22-12-2003
*gambar-gambar dalam surat suara pemilu

http://edisantana.blogspot.com/
bila pembicaraan terlalu berat, mari lunakkan saja
atau…. lupakan
06:22:41
20-05-2003

Dongeng fajar adalah dongeng tentang kita,
tentang embun kerinduan.
Untuk datang dan dilupa?
Tapi kau milik sang waktu,
sedang aku hanya sepi di detik diantaranya.
Pelengkap yang tak bermakna.
Entah aku bernama apa…
06:32:21
20-05-2003

…..tentangmu masih tersisa diingatan,
perbincangan esok dan nanti.
sejak kita temukan perca-perca,
ada simpul menenunnya.
esok bukan lagi mati suri,
lajang harus ditamatkan….
01:08:19
04-06-2003

Rendra :
….sementara kau bertanya berapa jumlah pacarku dulu….
Di lantai yang sejuk lalu kita bertiarap atau berbaringan,
menggambar rumah yang kita angankan.
Kau gambar 2 orang berdampingan. Kau tunjuk, “Ini aku. Ini kau”
Lalu aku gambar selusin orang di kanan kirinya.
Kau merengut dan bertanya siapa mereka?
Aku menjawab, “Anak-anak kita!”
06:33:08
13-06-2003

….kapan kita tak lagi berjarak?
00:52:54
26-07-2003

Malam pekat. Badan penat
Rindu lebat. Peluk erat.
Sayang kian hangat.
Lekas cepat.
Dapatkan kasihmu menanti penuh harap.
23:54:41
02-09-2003

06 April 2005

PERHATIAN!!!


Mulai saat ini seluruh tulisan EdSeN yang baru telah dipindahkan kedalam satu ruang blog khusus yang bernama http://www.EdSeN.blogspot.com, dimana ruang khusus tersebut adalah ruang utama atau pusat. Jadi, mulai sekarang keseluruhan dari 7(tujuh) blog EdSeN sebelumnya telah tidak diposting tulisan baru lagi. Terima kasih atas perhatiannya... Salam. ^_^



EdSeN

29 Maret 2005

dunia tanpa rasa adalah..

dunia tanpa rasa adalah hal yang mengerikan. mimpi buruk yang tak pernah berakhir. sejarah tak pernah akan tertulis, dan kita tak akan pernah membacanya.

tapi rasa? kenapa harus juga rasa yang sama yang senantiasa datang, hadir dan beranak-pinak di sini? kenapa harus rasa yang ini yang mengalahkan rasa-rasa lain di dunia? bukankah ada kesedihan, ada kebahagiaan, ada kekecewaan, ada kenestapaan, ada kekalahan, ada kesepian sebagai warna-warna lain dari rasa?

kenapa harus kerinduan? kenapa harus rindu yang bertubi-tubi menyerbu jantung, membangun kekalutan yang panjang, membunuh satu demi satu pengharapan. kenapa harus rindu yang meruang dalam batin? kenapa?

diam-diam, tuhan tersenyum. lantas dengan kun fa ya kun, dikirimkannya rindu berkarung-karung ke dalam dada kita. ke dalam hati kita. melahirkan anak-anak kecemasan yang senantiasa gelisah dan berlari-lari, mencari-cari sesuatu dalam sebuah pertemuan.

04 Maret 2005

dimana pena yang bertuliskan syair mentari?
sebab kehidupan telah lama menunggu selendang cahaya
yang datang melambaikan sinar-sinar hari,
secerah awan-awan yang melintasi birunya langit,

seperti kuasa angin berkhalik,
menghembuskan malam untuk menyongsong fajar
setelah waktu berpaling ke seberang samudera,
aku masih saja menghantar nafas penantian
kepada mimpi-mimpi yang tidak pernah berkunjung
diantara sela-sela lelap...

02 Maret 2005

Hari itu aku menangis dipelukannya.
Sisa laraku masih mengental.
Sisa amarahku pun masih menggumpal.
Dadaku sesak tak berirama.
Dan dia hanya terus mengelus rambutku.

Teringat pada sebuah smsnya suatu hari
Saat dukaku terasa mengiris iris.
“ Duka adalah permata jika benar menggosoknya,
namun duka bisa jadi batu yang menyumbat segala bahagia
jika ia bersemayam dihati sebagai dendam “

sms at 23:08 on 26-05-03

Banyak hari terlewati dengan tawanya.semangat hidupnya.keuletannya. tebaran kasih sayangnya.
Hingga lukaku berubah menjadi tawa.

Rentang waktu terus berganti.
Sekarang aku tlah memiliki jagoan jagoan kecil pembawa kebahagiaan
Lama tak mendengar kabar tentang dia.
Berulang kali aku mencoba menghubunginya,
Sekedar berbagi cerita tentang jagoan jagoanku..
No answer at all.

Hingga sebuah berita aku terima.
Dia meninggal.Kecelakaan.tgl 25 desember kemaren.
Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.Hanya itu yang terucap.
Aku tercengang.Dadaku kembali sesak.
Mungkin ini mimpi.berulang kali aku meyakini hatiku.
Hingga saat kebenaran aku dengar.aku masih tak mampu berkata kata.

Airmataku tak lagi terbendung.
Kembali teringat pesannya kala itu.
“nah gitu dong senyum..tau gak rie,senyum juga bisa menambah 1 umur kita lho,bayangin aja….jadi tersenyumlah dan dunia akan tersenyum padamu”

Aku yakin.didunia sana.disisi yang Maha kuasa dia pasti bahagia.
Dan aku yakin saat saat terakhirnya pun pasti dia tersenyum.

He’s the one that I can count on when I felt down.
The best brother I ever have.
Selamat jalan mas Ti…..



# seorang Tinon dalam kenangan.

Jogja 28 Februari 05

28 Februari 2005

DAUN PINTU

Aku pada sebuah pintu. Menapaki sebuah pasti tentang adanya dirimu disisi yang tak pernah kuyakini. Dan aku takut menyentuh kerapuhan bernama cinta itu, yang menyamar menjadi seorang aku. Menjejak tanah remah yang tak kuat menahan beban-beban tak bertuan. Menciptakan retakan-retakan yang semakin tak menolong, membuatku kebut dengan sulaman-sulaman rapuh yang sementara akan menutup-nutupi segala, tentang semua. Lalu ku ketukkan padanya: siapa itu di dalam?

Sebuah percakapan terdengar di kejauhan, memberikan sayup pada setiap kalimat bernada benci, benci pada cintamu, benci pada cintaku. Menghilang ditelan haus-haus udara hampa yang tidak sudi melepaskan diriku menjadi sesuatu yang hidup dan akan menua, lalu mati menjadi debu dikemudian hari. Mengikat-ngikatku pada rasa cemburu yang tak mau ku abaikan pada yang tak tampak, ketika kau ingin memiliki aku hanya untuk disimpan di balik pintumu.

Dan aku menjadi butiran kata yang terserak dari sebuah benang yang telah putus menjadi satu garis panjang tak berkesudahan. Yang tidak lagi sebuah lingkaran, yang tidak lagi berputar, yang tidak lagi terpusat hanya pada apa yang kuwujudkan sebagai dirimu, ketika kau kehilangan daun pintumu.

Lalu semua terpilin, membentuk evolusi pada sebuah karakter baru yang tak lagi sama seperti kemarin. Lalu hari ini datang, menamparku dengan segepok ilusi yang tak lagi menyakiti: kau.

Lalu semua dilipat rapi dan dikepitkan pada lengan-lengan hangatmu, tempat dimana surat-suratku mengambang huruf pada udara terbuka yang kau hirup hingga meresap ke dalam-dalam nyawa penyusun segalamu.

Lalu aku inginkan diriku melebur padamu. Hancur ketika menyentuh permukaan kulitmu. Masuk sebagai raga tanpa massa-massa pemberat yang akan membuat tubuhmu menolak adaku. Dan aku sisipkan serpihan berupa aku: gelembung udara pada nafas-nafasmu di bibirku. Mohon teriakkan saja serapahmu itu, dan katakan tidak pada ruang kosong, tentang betapa kau membenciku karena mencintaimu.

Ya, sungguh membenciku.

Sehingga akan kau dapatkan aku dengan nafas yang tidak lagi memberatkan langkah-langkah terakhirku menuju dirimu, lalu menjauh dan kutemui kau pada sebuah senja, memberikan ganjalan pada daun pintu agar tidak tertutup melenyapkanmu. Namun kau pergi juga ke balik pintumu, membuatku hanya berdiri saja di sisi yang satunya, tak mengerti.

Lalu kita akan menghilang, ketika kamu pergi, ketika aku berbalik badan tak lagi menoleh ke belakang. Lalu kita akan menghilang, ketika gelitik-gelitik malah terasa sakit diseluruh tubuhku, pun ketika pikirmu kau tidak membohongi siapapun termasuk dirimu. Lalu kita akan menghilang, ketika kita saling memandang lama sampai pupil mata mengecil redup dan tak ada lagi yang diwakilinya selain pintu yang tertutup, yang dimengerti tiap-tiap dari kita. Lalu kita menguncinya dari dalam dengan patahan sisa jerit-jerit memilukan hati, ketika kita saling menyiksa diri sendiri.

Selesaikan cepat. Besok takut tidak sempat.
Teriakkan saja, teriakkan saja.

24 Februari 2005

kekasihku, sungguh aku muak denganmu

seandainya dapat ku bakar bayangan akan dirimu. sepertinya kalaupun nanti kita akan bertemu disuatu waktu yang berbeda akan ku bunuh kau dipanasnya hatiku yang tak pernah mereda. kini tau kau, kekasihku, sungguh aku muak denganmu. jujur jika aku jujur padamu, benar ku katakan cinta kepadamu, tapi ... kau telah menampiknya lalu kau buang entah kemana.

kekasihku, sungguh aku muak kepadamu

mengutip sabaksajak

23 Februari 2005

sabaksajak

Paragraf Ingatan yang Patah-patah

:setelah menonton film "The Butterfly Effect"

Seperti sebuah film yang patah-patah, demikianlah aku mengenang senjakala singgah di tubuhmu yang ranum. Sebuah jurnal yang kau sodorkan, membayangkan liur anjing yang pernah menempel di keningmu. Dalam ingat, sungguh dalam ingat.

Kekasihku, sungguh aku mual.

Seandainya semua kenangan kekal dalam ingat, aku ingin lupa mendepaknya. Meski aku tetap tak ingin lupa mengingat kita pernah berjumpa pada abad yang tak tercatat. Dan di luar semua hal, seperti perjuangan ingatan melawan lupa*, demikianlah aku mencoba mencintaimu. Hingga entah, kekasihku. Hingga entah.

jogja, februari 2005
*mengutip Kundera