BUNUH SAJA AKU!!!
engkau pun tahu,
ku sangat mencintaimu,
akan tetapi...
mengapa engkau melemparku?
tidakkah lebih baik
jikalau engkau bunuh saja diriku?
diriku kini sampah tanpamu.
dan ku pun tahu...
jikalau sekarang engkau bersamanya
sedang menatap langit malam
di teras rumahnya.
dan
diriku yang sedang menangis seorang diri
disini...
pinta ku yang terakhir...
datanglah engkau,
tidak tuk kembali bersamaku.
tetapi...
tuk melenyapkan ku dengan tangan mu!!!
"BUNUH SAJA AKU!!!"
30 Oktober 2003
29 Oktober 2003
sudah hampir siang
tapi masih duduk sendiri disitu,
kau.
bertopang dagu,
melamun,
ada apa?
melirik sebentar
tersenyum patah
lalu kembali,
melamun kau.
aku berlalu (seharusnya tak kutanya kau).
tepat pukul empat petang
tanganmu masih didagu
pandangmu lurus
tapi kosong
menerawang........
masih melamun kau!
ceritakanlah.
melirik
lalu mencibir
aku berlalu (seharusnya tak kusapa kau).
lampu ruang tamu itu
sudah dua jam yang lalu,
dihidupkan dari saklarnya
diluar ada hitam, gelap dan malam
kupandangi kau
melamun.
seharian.
apakah kau akan terus begitu
sampai ajal menyebut namamu
kalau memang ya,
teruslah melamunkanku
SEHARI, SETELAH KUPUTUS CINTAMU
MANIX JUNI 1999
*this is where you belong sayur*
tapi masih duduk sendiri disitu,
kau.
bertopang dagu,
melamun,
ada apa?
melirik sebentar
tersenyum patah
lalu kembali,
melamun kau.
aku berlalu (seharusnya tak kutanya kau).
tepat pukul empat petang
tanganmu masih didagu
pandangmu lurus
tapi kosong
menerawang........
masih melamun kau!
ceritakanlah.
melirik
lalu mencibir
aku berlalu (seharusnya tak kusapa kau).
lampu ruang tamu itu
sudah dua jam yang lalu,
dihidupkan dari saklarnya
diluar ada hitam, gelap dan malam
kupandangi kau
melamun.
seharian.
apakah kau akan terus begitu
sampai ajal menyebut namamu
kalau memang ya,
teruslah melamunkanku
SEHARI, SETELAH KUPUTUS CINTAMU
MANIX JUNI 1999
*this is where you belong sayur*
27 Oktober 2003
kembali satu kemaluan teracung arah kabur
sangka diri adalah penujuk timur
hanyalah batang kering dalam kubur
menduga angin datang menghibur
datanglah dukun tuk melipur
komat-kamit mantra terhambur
bantu batang tuk tahu timur
apa daya batang sudah tersembur
terkikik lihat dukun berliur
timur tetap tidur
tinggalah batang terpekur
malu mengkerut gali dan kubur.
teruntuk batang salah sembur
sangka diri adalah penujuk timur
hanyalah batang kering dalam kubur
menduga angin datang menghibur
datanglah dukun tuk melipur
komat-kamit mantra terhambur
bantu batang tuk tahu timur
apa daya batang sudah tersembur
terkikik lihat dukun berliur
timur tetap tidur
tinggalah batang terpekur
malu mengkerut gali dan kubur.
teruntuk batang salah sembur
dendam ini...
ada serbuk airmata yang tertabur dibalik dada
yang sedang meminta tolong,
menjerit...
merintih...
sedang sekilas mata memandang kekosongan
tak tahu apa-apa,
dendam ini...
mungkin,
"mereka akan mengira"
"aku ini sang dewa kebahagiaan..."
"mereka salah!!!"
"tolong... jangan katakan kepada siapa pun!!!"
ada anak paku yang t'lah lama
tertancap didada merpati,
hingga kini...
ada lauk basi dibalik tudung-saji
yang takkan bisa terbuang begitu saja
hingga pucuk dendam datang mengundang balasan...
"yeah..."
"sungguh 'benar' sekali..."
"AKU... AKAN MEMBALASKAN DENDAM INI!!!"
ada serbuk airmata yang tertabur dibalik dada
yang sedang meminta tolong,
menjerit...
merintih...
sedang sekilas mata memandang kekosongan
tak tahu apa-apa,
dendam ini...
mungkin,
"mereka akan mengira"
"aku ini sang dewa kebahagiaan..."
"mereka salah!!!"
"tolong... jangan katakan kepada siapa pun!!!"
ada anak paku yang t'lah lama
tertancap didada merpati,
hingga kini...
ada lauk basi dibalik tudung-saji
yang takkan bisa terbuang begitu saja
hingga pucuk dendam datang mengundang balasan...
"yeah..."
"sungguh 'benar' sekali..."
"AKU... AKAN MEMBALASKAN DENDAM INI!!!"
"engkau bebas..."
terbaring diranjang neraka
yang basah oleh darah kesucian,
aroma amis dari kenyataan pahit
ditiap bantal dan guling
dimana kita melewati malam bersama
kini mewarnai seluruh kamar
hingga ke setiap sisi pojok rumah
dan mematikan kembang dihalaman,
hilang sudah taman sejuta warna kita...
"apalah gunanya lagi engkau disini?"
hanya akan memusnah asa...
hanya akan menumpahkan air mata
yang hampir mengering...
"kukembalikan sayapmu,"
"terbanglah..."
"engkau bebas..."
"engkau t'lah bebas sekarang!!!"
terbaring diranjang neraka
yang basah oleh darah kesucian,
aroma amis dari kenyataan pahit
ditiap bantal dan guling
dimana kita melewati malam bersama
kini mewarnai seluruh kamar
hingga ke setiap sisi pojok rumah
dan mematikan kembang dihalaman,
hilang sudah taman sejuta warna kita...
"apalah gunanya lagi engkau disini?"
hanya akan memusnah asa...
hanya akan menumpahkan air mata
yang hampir mengering...
"kukembalikan sayapmu,"
"terbanglah..."
"engkau bebas..."
"engkau t'lah bebas sekarang!!!"
bingung
mendung...
hembusan angin kencang menggesek kalbu,
senada hujan yang merinai disore ini,
mengapa bayangmu terus menghantu?
terus meriak ombak disamping pasirku...
"dengarlah tangisku..."
masih ada keraguan tertanggal di'iga yang patah',
rayuan kumuh yang terus menjanjikan
makna yang tak berarti,
seiring kata yang terucap dari bahasa bibirmu...
janganlah terus memberikan tanda tanya,
kar'na...
didalam hati ini hanyalah ada tanda seru...
"t'lah kupikul nerakamu
melewati tiap jalan penyiksaan!!!"
namun...
sang langit tak kunjung memberkati mata angin
yang menjadi kompas
kemana arah angin
harus melangkahkan kaki
yang terlanjang tanpa sandal...
"kemana lagi aku harus bersembunyi???"
"aku bingung..."
mendung...
hembusan angin kencang menggesek kalbu,
senada hujan yang merinai disore ini,
mengapa bayangmu terus menghantu?
terus meriak ombak disamping pasirku...
"dengarlah tangisku..."
masih ada keraguan tertanggal di'iga yang patah',
rayuan kumuh yang terus menjanjikan
makna yang tak berarti,
seiring kata yang terucap dari bahasa bibirmu...
janganlah terus memberikan tanda tanya,
kar'na...
didalam hati ini hanyalah ada tanda seru...
"t'lah kupikul nerakamu
melewati tiap jalan penyiksaan!!!"
namun...
sang langit tak kunjung memberkati mata angin
yang menjadi kompas
kemana arah angin
harus melangkahkan kaki
yang terlanjang tanpa sandal...
"kemana lagi aku harus bersembunyi???"
"aku bingung..."
25 Oktober 2003
Misconception of love
Interfered with unforeseen act
Saying things that shouldn’t be said
Feeling things that shouldn’t be felt
Yearning for something that cant be true
Loving someone that couldn’t be there
Waiting and waiting for the moon to a full view
But only to know it was meant for someone else eyes
Left alone. Sit by the window.
Cry my broken heart. Cry.
-broken feelings-
Interfered with unforeseen act
Saying things that shouldn’t be said
Feeling things that shouldn’t be felt
Yearning for something that cant be true
Loving someone that couldn’t be there
Waiting and waiting for the moon to a full view
But only to know it was meant for someone else eyes
Left alone. Sit by the window.
Cry my broken heart. Cry.
-broken feelings-
ada suara yang memanggil
dikala langkah ku mula melangkah kehadapan
mencari kerlipan cahaya yang kulihat bersinar di depan sana
ada tangan yang menarik ketika senyum terukir dibibir melihat cahaya yang selama ini dikuasai kelam pekat
tapi kenapa mata ku hanya memandang kehadapan
sedangkan telinga ku mendengar?
kenapa aku terus berjalan
sedangkan aku merasa tangan ku ditarik?
cahaya itu semakin mendekat .... tapi kenapa langkahan kaki ku tersekat?
lalu aku berpaling memandang kebawah ...
ah .....
aku duduk disisinya ... cuba memerhati kedalam matanya
ada tangis yang tertahankan
ada serangkai kemarahan yang tak terluapkan
aku kah yang bersalah?
ah ....
ingin aku hapus pergi segala keraguan dijiwanya
ingin aku usir segala kesunyian dihatinya
mengapa cinta ku tidak mampu melakukannya?
tidak kah dia percaya?
kenapa ada sinar kehancuran di jiwa nya?
kenapa ada tanda kedukaan di sanubarinya?
kenapa aku tidak dapat melihat apa yang dirasanya?
kenapa aku membiarkan dia sengsara ...
kenapa aku terus mengheret dirinya yang masih berada di jalan usang?
dan membawanya berjalan dalam kepedihan yang masih merajai hatinya?
ah ...
aku kah yang bersalah?
maafkan aku.
maafkan aku.
seribu maaf dari ku.
cahaya di depan ku itu terlalu indah ..
sehingga aku leka dan terbuai ...
lalai ...
ah ...
biarkanlah cahaya itu menghilang
biarkan lah aku berada didalam gelap yang membenam
asalkan aku ada kamu
kerana aku tahu aku akan selalu ada kamu
walau dalam pekat gelap
dan kalau memang ingin kau akhiri kehidupan
bawalah aku bersama, kerana aku tidak akan mahu meninggalkan kau bersendirian...
apa erti kesendirian ini, jika aku tidak lagi menjadi sang dewi buat sang bintang yang abadi
ini jari ku tersusun ...
memohon maaf dari seorang insan yang telah ku sakiti hatinya.
biar kita duduk bersama disini.
daripada kita nantinya sama sama sendiri.
aku cinta dia
ah...
aku terlalu mencintai dia.
dan aku ingin tetap memaut tangannya ....
biarpun nantinya kami akan sama sama terus tenggelam dalam kegelapan yang menghancurkan.
ah ... biarkan ...
kerana aku mencintai dirinya.
dikala langkah ku mula melangkah kehadapan
mencari kerlipan cahaya yang kulihat bersinar di depan sana
ada tangan yang menarik ketika senyum terukir dibibir melihat cahaya yang selama ini dikuasai kelam pekat
tapi kenapa mata ku hanya memandang kehadapan
sedangkan telinga ku mendengar?
kenapa aku terus berjalan
sedangkan aku merasa tangan ku ditarik?
cahaya itu semakin mendekat .... tapi kenapa langkahan kaki ku tersekat?
lalu aku berpaling memandang kebawah ...
ah .....
aku duduk disisinya ... cuba memerhati kedalam matanya
ada tangis yang tertahankan
ada serangkai kemarahan yang tak terluapkan
aku kah yang bersalah?
ah ....
ingin aku hapus pergi segala keraguan dijiwanya
ingin aku usir segala kesunyian dihatinya
mengapa cinta ku tidak mampu melakukannya?
tidak kah dia percaya?
kenapa ada sinar kehancuran di jiwa nya?
kenapa ada tanda kedukaan di sanubarinya?
kenapa aku tidak dapat melihat apa yang dirasanya?
kenapa aku membiarkan dia sengsara ...
kenapa aku terus mengheret dirinya yang masih berada di jalan usang?
dan membawanya berjalan dalam kepedihan yang masih merajai hatinya?
ah ...
aku kah yang bersalah?
maafkan aku.
maafkan aku.
seribu maaf dari ku.
cahaya di depan ku itu terlalu indah ..
sehingga aku leka dan terbuai ...
lalai ...
ah ...
biarkanlah cahaya itu menghilang
biarkan lah aku berada didalam gelap yang membenam
asalkan aku ada kamu
kerana aku tahu aku akan selalu ada kamu
walau dalam pekat gelap
dan kalau memang ingin kau akhiri kehidupan
bawalah aku bersama, kerana aku tidak akan mahu meninggalkan kau bersendirian...
apa erti kesendirian ini, jika aku tidak lagi menjadi sang dewi buat sang bintang yang abadi
ini jari ku tersusun ...
memohon maaf dari seorang insan yang telah ku sakiti hatinya.
biar kita duduk bersama disini.
daripada kita nantinya sama sama sendiri.
aku cinta dia
ah...
aku terlalu mencintai dia.
dan aku ingin tetap memaut tangannya ....
biarpun nantinya kami akan sama sama terus tenggelam dalam kegelapan yang menghancurkan.
ah ... biarkan ...
kerana aku mencintai dirinya.
kadang hati terkeliru
bila mata melihat mentari merah diufuk timur
jatuh melabuh tirai
dan,
kadang hati tertanya
bila sinar mentari mula kelihatan dikaki langit disebelah barat
apa sebenarnya hidup ini?
hanya untuk terbit dan terbenam seperti sang fajar?
jatuh dan bangun
terus jatuh dan terus bangun lagi
bilakah aku akan berdiri?
lalu hati terusik....
kulihat ombak datang dan pergi
mengubah pasir dari pantai yang setia
pasir berubah ...
aku ingin menjadi seperti pasir ...
berubah mengikut rentak ombak dan badai
tapi tetap setia kepada pantai ...
walau berubah ...namun tetap setia ....
bila mata melihat mentari merah diufuk timur
jatuh melabuh tirai
dan,
kadang hati tertanya
bila sinar mentari mula kelihatan dikaki langit disebelah barat
apa sebenarnya hidup ini?
hanya untuk terbit dan terbenam seperti sang fajar?
jatuh dan bangun
terus jatuh dan terus bangun lagi
bilakah aku akan berdiri?
lalu hati terusik....
kulihat ombak datang dan pergi
mengubah pasir dari pantai yang setia
pasir berubah ...
aku ingin menjadi seperti pasir ...
berubah mengikut rentak ombak dan badai
tapi tetap setia kepada pantai ...
walau berubah ...namun tetap setia ....
terkutuklah dikau!!!
terkutuklah dikau!!!
atas segala dahan-ranting
yang bercabang didalam pohonmu,
kar'na
ada sebuah lubang yang menyimpan wajah lain,
tubuh lain,
akarmu pun membelukar didalam tanah pengkhianatanmu.
maka...
terkutuklah dikau!!!
selamanya kicau kenari akan berhenti bersiul
didalam suramnya tamanmu,
selamanya terik akan memanasi
didalam keringnya dahaga padangmu,
selamanya udara akan punah
didalam sesaknya desahmu!!!
hingga akhirnya...
"AJAL DATANG TUK MENJEMPUT KEMATIANMU!!!"
terkutuklah dikau!!!
terkutuklah...
terkutuklah dikau!!!
atas segala dahan-ranting
yang bercabang didalam pohonmu,
kar'na
ada sebuah lubang yang menyimpan wajah lain,
tubuh lain,
akarmu pun membelukar didalam tanah pengkhianatanmu.
maka...
terkutuklah dikau!!!
selamanya kicau kenari akan berhenti bersiul
didalam suramnya tamanmu,
selamanya terik akan memanasi
didalam keringnya dahaga padangmu,
selamanya udara akan punah
didalam sesaknya desahmu!!!
hingga akhirnya...
"AJAL DATANG TUK MENJEMPUT KEMATIANMU!!!"
terkutuklah dikau!!!
terkutuklah...
Langganan:
Postingan (Atom)