Again, it comes to me
Penetrate barriers built ages ago
It ruins ‘em all
It’s happening again
Again, committed the same mistake
Broken promises, premonition takes over
Repetition of failure will occur
Cause now, it’s happening again
Same wound is back opened
Re-heal the old pain
Victim of prejudice
Another years of misery to overcome
Forgive me Agony for leaving u behind
Will u be my friend…. Again?
30 Juli 2003
aku beri langkah
aku memberi langkah padamu
untuk datang padaku
daundaun kering. jejak
bulan dicakar ranting
dengusku
aku memberi dada padamu
gersang. hanya ilalang
tidurlah dan bermukim
tunggulah kupukupu durhaka pulang
tenggelam bersama bulan di lautan
debur ombak
nafas kita
aku memberi bingkai di wajahmu
lidah melukis cantik
melumat bibir. menetes membasahi
ranum dada. bulat
bergulir dan hilang di rambutrambut akal
menepi bersama buihbuih ombak
oh kasih! tubuh ini tak bertuan
engkaupun kabar dibawa petir
menghujam hati menatap langit
termangu
menunggumu turun berjingkat
meniti pelangi
dan eros usil ganggu langkahmu
awas jatuh!
....cinta!
aku memberi langkah padamu
untuk datang padaku
daundaun kering. jejak
bulan dicakar ranting
dengusku
aku memberi dada padamu
gersang. hanya ilalang
tidurlah dan bermukim
tunggulah kupukupu durhaka pulang
tenggelam bersama bulan di lautan
debur ombak
nafas kita
aku memberi bingkai di wajahmu
lidah melukis cantik
melumat bibir. menetes membasahi
ranum dada. bulat
bergulir dan hilang di rambutrambut akal
menepi bersama buihbuih ombak
oh kasih! tubuh ini tak bertuan
engkaupun kabar dibawa petir
menghujam hati menatap langit
termangu
menunggumu turun berjingkat
meniti pelangi
dan eros usil ganggu langkahmu
awas jatuh!
....cinta!
biring
-- buat : nini
dari tidurku berembun malam
aku dengar tanah menahan lapar
hampa akan turun pada rangkulnya
suara-suara mengacak awan
di atas sana, malaikat sibuk membuka lembar lama
ngandung…..
nyanyian dan tangis adalah incest
tersusun rapi hikayat lama
babad-babad yang bukan khianat
mengalir bersama lau biang, ada sebelummu
t
u
r
u
n
menetes....
bersama sarunai yang memetik diri
nini! putri hijau menari di langit. gemulai.
bibirnya merah. bibirmu ada sirih
pergi sana! jangan menunggu lebih renta
jangan lupa sertakan kampil, daun sirih dan pinang
dan tok-tok itu
lambang kemegahanmu
yang memperanakkan manusia-manusia liat
dari tidurku yang tak panjang
aku dengar dengkurmu
terbungkus rapat uis gara
kau pikun pada ucap lantangku
senyummu senyap
menuju rumah Bapa
24juli2003
-- buat : nini
dari tidurku berembun malam
aku dengar tanah menahan lapar
hampa akan turun pada rangkulnya
suara-suara mengacak awan
di atas sana, malaikat sibuk membuka lembar lama
ngandung…..
nyanyian dan tangis adalah incest
tersusun rapi hikayat lama
babad-babad yang bukan khianat
mengalir bersama lau biang, ada sebelummu
t
u
r
u
n
menetes....
bersama sarunai yang memetik diri
nini! putri hijau menari di langit. gemulai.
bibirnya merah. bibirmu ada sirih
pergi sana! jangan menunggu lebih renta
jangan lupa sertakan kampil, daun sirih dan pinang
dan tok-tok itu
lambang kemegahanmu
yang memperanakkan manusia-manusia liat
dari tidurku yang tak panjang
aku dengar dengkurmu
terbungkus rapat uis gara
kau pikun pada ucap lantangku
senyummu senyap
menuju rumah Bapa
24juli2003
kata mereka,
" cinta pertama tidak akan pernah bisa dilupakan "
sampai kapanpun kita akan membawa sebagian dari diri mereka yang entah bagaimana bisa tertinggal di dalam diri ..
mungkin senyumnya yang pernah memikat hati, mungkin tatapannya yang pernah mengisi hari hari, mungkin pemikirannya yang masih saja mempengaruhi kita, mungkin kenangan kenangan lain yang kadang terlintas ..
atau bahkan luka? lara? pedih? derita?
kata mereka,
" ciuman pertama selalu yang terindah "
bagaimana bibirnya melekat pada bibir kita,
menerbangkan sejuta angan, membuat sesuatu mengalir hangat dalam tubuh fana ini, ledakan ledakan kecil serupa kembang api di pasar malam, atau bahkan seperti madu yang manisnya membekas berhari hari ..
kata mereka,
"yang terindah itu cuma hanya akan datang sekali"
dan di tengah istimewanya, dia akan menyentuh kamu .. hingga sewaktu pergipun jejaknya masih membekas jelas di hati,
membuatmu tersenyum .. tersipu2 .. atau bahkan mengernyit pedih mengenang duka .. entah, hidup ini pilihan kan? dan lagi-lagi adalah suatu pilihan bagaimana kita akan menyikapi segala hal yang ditakdirkan terjadi dalam hidup kita
kata mereka,
"waktu menyembuhkan segalanya"
seperti untuk segala sesuatu ada masanya, ada saatnya juga kita akan melepas kain kabung dan abu untuk mengenakan jubah kebahagiaan dan menyanyikan lagu puji2an ..
entah bagaimana, segala yang pernah melukai akan hilang,
rantai - rantai masa lalu terkikis waktu, menjadi tua lalu mati dalam sendiri ..
dan kita, asalkan tetap teguh akan berada disini untuk menyongsong masa depan ..
kata mereka,
"mencintai itu berarti bersedia merelakan dia pergi jika dia memang harus pergi"
tapi apa arti kata harus?
harus menurut siapa? menurutku? menurutnya? menurut mereka? menurut kalian? atau menurut DIA?
cinta tidak selamanya harus memiliki mungkin, karena bukankah cinta tidak memiliki apapun selain dirinya sendiri?
bukankah cinta tidak hidup dimanapun selain di dalam dirinya sendiri?
dan bukankah cinta tidak berada di hati karena cinta ada dimana mana
menjadi api, menjadi air, menjadi udara ..
menjadi batu, menjadi kayu, menjadi rumput ..
bukankah cinta hidup tidak disuatu tempat karena cinta adalah tempat itu sendiri?
dan cinta bukan keadaan tapi jiwa ?
lalu apa yang harus direlakan jika cinta tidak pernah menjadi apapun, menuntut apapun, dan berada dimanapun .. ?
bukankah cinta itu aku? cinta itu kamu? cinta itu DIA? cinta itu mereka?
bukankah cinta ialah cinta itu sendiri .. dan kita, lagi lagi adalah cinta
Nie @ Penjual Tiket Maze
" cinta pertama tidak akan pernah bisa dilupakan "
sampai kapanpun kita akan membawa sebagian dari diri mereka yang entah bagaimana bisa tertinggal di dalam diri ..
mungkin senyumnya yang pernah memikat hati, mungkin tatapannya yang pernah mengisi hari hari, mungkin pemikirannya yang masih saja mempengaruhi kita, mungkin kenangan kenangan lain yang kadang terlintas ..
atau bahkan luka? lara? pedih? derita?
kata mereka,
" ciuman pertama selalu yang terindah "
bagaimana bibirnya melekat pada bibir kita,
menerbangkan sejuta angan, membuat sesuatu mengalir hangat dalam tubuh fana ini, ledakan ledakan kecil serupa kembang api di pasar malam, atau bahkan seperti madu yang manisnya membekas berhari hari ..
kata mereka,
"yang terindah itu cuma hanya akan datang sekali"
dan di tengah istimewanya, dia akan menyentuh kamu .. hingga sewaktu pergipun jejaknya masih membekas jelas di hati,
membuatmu tersenyum .. tersipu2 .. atau bahkan mengernyit pedih mengenang duka .. entah, hidup ini pilihan kan? dan lagi-lagi adalah suatu pilihan bagaimana kita akan menyikapi segala hal yang ditakdirkan terjadi dalam hidup kita
kata mereka,
"waktu menyembuhkan segalanya"
seperti untuk segala sesuatu ada masanya, ada saatnya juga kita akan melepas kain kabung dan abu untuk mengenakan jubah kebahagiaan dan menyanyikan lagu puji2an ..
entah bagaimana, segala yang pernah melukai akan hilang,
rantai - rantai masa lalu terkikis waktu, menjadi tua lalu mati dalam sendiri ..
dan kita, asalkan tetap teguh akan berada disini untuk menyongsong masa depan ..
kata mereka,
"mencintai itu berarti bersedia merelakan dia pergi jika dia memang harus pergi"
tapi apa arti kata harus?
harus menurut siapa? menurutku? menurutnya? menurut mereka? menurut kalian? atau menurut DIA?
cinta tidak selamanya harus memiliki mungkin, karena bukankah cinta tidak memiliki apapun selain dirinya sendiri?
bukankah cinta tidak hidup dimanapun selain di dalam dirinya sendiri?
dan bukankah cinta tidak berada di hati karena cinta ada dimana mana
menjadi api, menjadi air, menjadi udara ..
menjadi batu, menjadi kayu, menjadi rumput ..
bukankah cinta hidup tidak disuatu tempat karena cinta adalah tempat itu sendiri?
dan cinta bukan keadaan tapi jiwa ?
lalu apa yang harus direlakan jika cinta tidak pernah menjadi apapun, menuntut apapun, dan berada dimanapun .. ?
bukankah cinta itu aku? cinta itu kamu? cinta itu DIA? cinta itu mereka?
bukankah cinta ialah cinta itu sendiri .. dan kita, lagi lagi adalah cinta
Nie @ Penjual Tiket Maze
29 Juli 2003
28 Juli 2003
aku pernah jatuh cinta pada lelaki yang serupa badai,
tak terkatakan ... tatapannya menembus relung hati, menyelusup masuk bersama aliran darah menuju paru-paru dan keluar lewat setiap hembusan nafasku.
Lelaki yang membuat malam-malamku begitu lambat berlalu,
Lelaki yang menggelisahkan setiap tidurku, merasuki mimpi-mimpiku
Dan menjadi satu-satunya sosok sempurna di mataku
aku pernah jatuh cinta kepada lelaki yang melalui mulutnya mengalir banyak nyanyian .. yang setiap yang meluncur keluar dari bibirnya serupa puisi yang digubah oleh penyair-penyair istana abad lalu.
Lelaki dengan bibir semanis madu, yang mengajarkan banyak mimpi kepadaku, dan menceritakan banyak dongeng di telingaku
aku pernah jatuh cinta pada lelaki sekuat karang,
yang tahan diterpa ombak, tak pernah goyah ditelan kilat dan guntur ..
lelaki yang bersamanya kurasakan ekstase demi ekstase ..
lelaki yang membuatku bisa menggambarkan ribuan lembar pengagungan akan dirinya ..
lelaki yang hanya dengan mengenangnya saja bisa kunikmati orgasme walau hanya bercinta dengan kata dan bayangan...
lelaki yang bersamanya ... kupikir akan kuhabiskan seluruh masa depanku, menjadi tua .. mati bersamanya dalam kejutan demi kejutan.
Tapi toh akhirnya aku mengerti, bahwa mungkin dia kekasih yang menyenangkan, tapi tak akan pernah menjadi seorang kekasih yang baik. Dan akhirnya aku mengerti, bahwa hidup itu bukan hanya badai kesenangan dan hujan kejutan .. hidup itu tidak hanya terdiri dari ombak kebahagiaan dan sapuan tawa dan pemberontakan ..
akhirnya aku mengerti, bahwa hidup itu juga tanggung jawab, bagaimana dia mempertanggung jawabkan setiap mimpi yang ditawarkannya padaku, bagaimana dia menjadikan puisi dan nyanyian itu bukan cuma dongeng tapi juga kenyataan ..
bahwa hidup itu juga tindakan .. dan bukan cuma sekedar ketikan dan bualan kata - kata
sehingga akhirnya aku mengerti, setelah sekian ratus hari kucari jawabnya dengan bertabur air mata dan luka ..
bahwa cinta bukan yang terpenting, dan mungkin tidak akan menjadi yang terpenting di dalam hidupku ..
hingga hari ini jika aku masih mengenang lelaki itu di dalam hidupku,
itu sama sekali tidak berarti aku masih memilihnya ..
jalan ku dan jalannya berbeda,
tapi ijinkan aku berterima kasih, untuk setiap pengajaran yang diajarkannya dalam hidupku .. tentang cinta, tentang kasih sayang, pengorbanan dan luka ..
aku hidup, dan aku akan selalu baik-baik saja ...
tak terkatakan ... tatapannya menembus relung hati, menyelusup masuk bersama aliran darah menuju paru-paru dan keluar lewat setiap hembusan nafasku.
Lelaki yang membuat malam-malamku begitu lambat berlalu,
Lelaki yang menggelisahkan setiap tidurku, merasuki mimpi-mimpiku
Dan menjadi satu-satunya sosok sempurna di mataku
aku pernah jatuh cinta kepada lelaki yang melalui mulutnya mengalir banyak nyanyian .. yang setiap yang meluncur keluar dari bibirnya serupa puisi yang digubah oleh penyair-penyair istana abad lalu.
Lelaki dengan bibir semanis madu, yang mengajarkan banyak mimpi kepadaku, dan menceritakan banyak dongeng di telingaku
aku pernah jatuh cinta pada lelaki sekuat karang,
yang tahan diterpa ombak, tak pernah goyah ditelan kilat dan guntur ..
lelaki yang bersamanya kurasakan ekstase demi ekstase ..
lelaki yang membuatku bisa menggambarkan ribuan lembar pengagungan akan dirinya ..
lelaki yang hanya dengan mengenangnya saja bisa kunikmati orgasme walau hanya bercinta dengan kata dan bayangan...
lelaki yang bersamanya ... kupikir akan kuhabiskan seluruh masa depanku, menjadi tua .. mati bersamanya dalam kejutan demi kejutan.
Tapi toh akhirnya aku mengerti, bahwa mungkin dia kekasih yang menyenangkan, tapi tak akan pernah menjadi seorang kekasih yang baik. Dan akhirnya aku mengerti, bahwa hidup itu bukan hanya badai kesenangan dan hujan kejutan .. hidup itu tidak hanya terdiri dari ombak kebahagiaan dan sapuan tawa dan pemberontakan ..
akhirnya aku mengerti, bahwa hidup itu juga tanggung jawab, bagaimana dia mempertanggung jawabkan setiap mimpi yang ditawarkannya padaku, bagaimana dia menjadikan puisi dan nyanyian itu bukan cuma dongeng tapi juga kenyataan ..
bahwa hidup itu juga tindakan .. dan bukan cuma sekedar ketikan dan bualan kata - kata
sehingga akhirnya aku mengerti, setelah sekian ratus hari kucari jawabnya dengan bertabur air mata dan luka ..
bahwa cinta bukan yang terpenting, dan mungkin tidak akan menjadi yang terpenting di dalam hidupku ..
hingga hari ini jika aku masih mengenang lelaki itu di dalam hidupku,
itu sama sekali tidak berarti aku masih memilihnya ..
jalan ku dan jalannya berbeda,
tapi ijinkan aku berterima kasih, untuk setiap pengajaran yang diajarkannya dalam hidupku .. tentang cinta, tentang kasih sayang, pengorbanan dan luka ..
aku hidup, dan aku akan selalu baik-baik saja ...
27 Juli 2003
waktu, berjamur, deja vu
tak ada dentang! tak ada dentang!
seharusnya inilah waktu bandul bertalu-talu
senja jatuh menjadi tempias merah jambu
di dinding berjamur tempat kita
pernah
menggantungkan deja vu
sebagai bayang-bayang yang ketinggalan sejarah
sementara mimpi semakin tinggi
lalu kumanterakan pada
ingatan, metamorfosa, seribu derak jam, mata
tak ada dentang! tak ada dentang!
tak ada dentang! tak ada dentang!
seharusnya inilah waktu bandul bertalu-talu
senja jatuh menjadi tempias merah jambu
di dinding berjamur tempat kita
pernah
menggantungkan deja vu
sebagai bayang-bayang yang ketinggalan sejarah
sementara mimpi semakin tinggi
lalu kumanterakan pada
ingatan, metamorfosa, seribu derak jam, mata
tak ada dentang! tak ada dentang!
23 Juli 2003
Hati yang Tak Mau Memberi
Ini hari ketujuh ia tidak ada di sini. Di kamar ini. Kamar miliknya yang entah oleh sebab apa tidak lagi menjadi otoritas miliknya sendiri lagi. Aku telah ada cukup empat bulan lamanya. Tak mampu beri warna yang lain hanya menambah pengap saja. Setidaknya keringat-keringatku telah meracuni kasur kapuknya. Dan di langit-langit masih ada sisa-sisa asap rokok, sementara laba-laba tak mampu rajut waktu.
Ini hari ketujuh pula tak kutemukan suaranya berkata-kata panjang. Yang berteriak mengalahkan suara ceret air kutanak. Nafas harumnya keluar meracuni asap tembakauku. Terlebih ketika asbak ditemukan puntung yang kesekian belas sementara di bibirku yang kian menghitam ada nyala yang lain. Ia katakan, ini sebuah pembunuhan. Lalu pintu terbuka. Entah mengusir asap atau aku. Ia hanya diam di depan pintu. Dan nyala puntung yang manja ikut-ikutan diam.
Ahh…. tentangnya aku menjadi gila. Ini rindu atau entah apa. Aku tak bisa mengeja. Satu persatu aku membalik cerita, menenun tingkah yang berarak menuju apa. Tertampung setetes demi setetes mimpinya yang tiap malam kuperas mencari alas. Logikanya dan logikaku bagai petak-petak di papan catur. Ada saat kuda harus berjingkat maju atau mundur. Tetapi hitam tetap hitam. Dan saat putih harus tersudut, ia hanya bergumam bahwa aku curang. Tak mungkin ada kekalahan di sebuah permainan, karena semua ada jalan keluar. Mungkin bukan saat ini, manusia boleh lupa katanya.
Yang kusuka adalah matanya. Membelalak saat melihat aku lupa membuka sepatu. Ia akan berkacak pinggang, mengukur batas tepi pinggul yang kian menebal. Tak perlu lama untuk menghentikan omelannya, cukup aku katakan, ia terlihat kian gemuk. Ia akan gelisah memegang perut. Mengangkat garis bawah kaosnya yang longgar menampakkan lingkaran kecil di perut. Ia akan meminta pendapatku. Aku tak perlu serius tentang itu, cukup aku tunjuk sampah-sampah yang masih hangat malas tergeletak. Di atasnya terlihat muka-muka kapitalis menghitung rejeki.
Siapa sangka dendam yang mempertemukanku dengannya. Ketika kudapatkan sebuah buku yang kupinjamkan pada Pandit terlihat tak karuan. Sampul yang kumuh di tepi-tepinya. Ada banyak halaman terlihat pernah dilipat, mungkin pertanda batas halaman yang terakhir dibaca. Mungkin ada ratusan tetes air liur yang menempel saat jemari membolak-balik halaman. Aku jijik. Aku geram. Ini bentuk penghinaan atas sebuah karya cipta seseorang. Tak menghargai otak mereka yang kian tua dan kusut.
Namun aku tak bisa memberinya maki atau sekedar ucapan ketus saat ia ada di kamarku. Di kamar Pandit pula. Manusia yang langka ini bercerita apa yang ia baca. Tentang perlawanan Soe Hok-gie terhadap tirani hingga akhir hayatnya. Kematian yang suci setelah melewati hutan di lereng-lereng rendah hingga melewati pasir dan butiran-butiran larva yang menutupi lereng bagianatas dengan kemiringan enam puluh derajat menuju puncak semeru. Dan tulisan yang memikat di sebuah batu nisan, “Nobody knows the trouble I see, nobody knows my sorrow.”
Aku tak bisa memberi komentar akan kesedihannya melihat nasib asmara sang demonstran yang kesepian itu. Hanya bila ada sedikit keberanian, mungkin aku cukup berkomentar, wajahnya terlihat lucu saat berpikir serius. Pipi yang kian membulat dengan sebuah guratan di kening. Mungkin ini yang membuat di esok hari dan esok harinya adalah pertemuan. Bukan karena janji atau rindu yng naïf, tetapi ada detik yang menghantar langkah begitu ringan untuk sebuah kebetulan.
Bukan kebetulan pula hatiku kian melunak saat niat bacanya yang begitu besar memperkosa buku-bukuku satu persatu. Satu persatu buku dipinjam dan selanjutnya ada perdebatan. Tentang penulis yang terlalu berhayal melangkahi logika dan tak berpijak di bumi. Atau suasana batin apa yang kira-kira merangsang penulis hingga orgasme dan menetes mani-maninya menjadi kata-kata indah. Kumpulan halaman yang nikmat untuk digerayangi.
Ya, semuanya kini kami lakukan di atas kasur kapuk ini. Sekali lagi di atas kasur, karena ruang tamu hanyalah seperangkat kasur dan televisi yang menganga dikelilingi rak-rak buku dan sebuah lemari. Entah apa yang menghantarkanku ke sini, meninggalkan tempat semediku dan nyamuk nakal bernama Pandit. Mungkin karena keteledorannya yang lupa mengembalikan semua buku yang dipinjam. Hingga aku merasa seorang pencuri telah membawa lari harta karunku. Rak bukuku ompong. Dan lemari bajuku kedinginan, menggigil ketakutan ketika aku menyeringai sangar mendapatinya kosong. Tapi ini juga ulahku membiarkan ia bebas menilai penampilanku saat ditemukannya daki tidak jatuh setelah kucuci. Ada banyak komentar disusupi niat baiknya untuk mencuci kembali dan memberi garis-garis licin di setiap lipatan.
Mau tak mau aku kerap mendatanginya. Di sebuah kamar di sebuah rumah susun. Walau dengkul terasa mau copot ketika anak-anak tangga tersenyum manis minta diinjak. Berpakaian dan sekedar bersapa. Namun terkadang tertahan oleh sebuah percakapan. Kemudian sebuah percakapan lagi. Dan percakapan lain yang tak kunjung putus untuk akhirnya menutup malam. Karena esok juga ada percakapan lain. Hingga kami lupa akan detik yang masih setia berjalan dan tak terasa genap sudah empat bulan aku tinggal bersamanya.
Tujuh hari bukan waktu yang lama tapi ada rasa yang terus menghitungnya. Mungkin juga mengukur besarnya. Entah besaran apa yang kupakai, nalar lupa akan dimensi-dimensi. Sementara ruang berbicara lain, aku tak bisa menampik. Inikah rindu? Ah…. jangan pernah ada. Aku rindu untuk apa? Hmm…. mungkin rindu pada percakapan. Tapi aku merasa percakapan adalah angin. Tak kuundang tapi datang menghidupi. Ada bersin? Hahaha… itu mungkin hanya tawa panjang ketika sadar pada sebuah diskusi yang memperlebar kebohohan kami.
Kalau itu benar rindu, apa benar aku dikatakan telah jatuh cinta? Cinta? Waduh, setan apa yang memperanakkan logika berketurunan jadah. Cinta itu sampah. Seperti kasih yang menjadi bahasa klasik dan usang. Bukankah Adam dan Hawa telah mempertontonkannya secara bugil. Tak ada dikatakan cinta saat Adam bersetubuh dengan Hawa. Namun mereka tinggal bersama dan bercakap-cakap. Tentang taman dan penghuninya. Dan Adam tak punya pilihan teman hidup selain Hawa.
Jangan-jangan aku kena kutuknya? Aku bersumpah malam itu saat kami berdebat tentang kata cinta. Aku katakan untuk seumur hidupku aku tak pernah jatuh cinta, namun aku telah berpacaran untuk keenambelas kalinya. Tapi bukan berarti pula aku tak punya kesetiaan, aku akan setia untuk sebuah komitmen. Teman hidup yang padanya kuberikan segala kejujuran sikap dan perbuatan.
Lalu ia berteori tentang pendapat seorang filsuf kelahiran. Wina Ludwig Wittgenstein ada berkata bahwa semua penggunaan bahasa, arti dari kata dan kalimat tergantung pada pemakaiannya. Kata yang sama tidak sama artinya bila dipakai dalam lingkungan yang lain serta diucapkan oleh orang lain pula. Kata cinta seorang kaya akan hartanya beda dengan cinta seorang ibu pada anaknya. Kata cinta seorang kekasih memang ada yang murni dan tulus. Cinta yang tulus mungkin dapat berwujud banyak hal, perhatian yang besar, kerinduan, kesetiaan, takut kehilangan. Dan ia memaksa aku mengamini semua itu sebagai cinta. Aku terpana, mengangkat bahu.
Ia diam. Menutup mata. Mungkin menenangkan diri. Saat hening berbicara, aku kian gelisah. Aku mencoba memecah kegalauan. Aku katakan, janganlah terlalu percaya pada cinta, bila cinta itu ada. Bila dikatakan ada cinta pada anak dan orang tua, mengapa ada pembunuhan dan perkosaan di antaranya. Bila ada cinta pada Tuhan, mengapa kaum pengusung cinta mengkotak-kotakkan diri pada Tuhannya, saling bersikutan. Dan sudut-sudutnya yang tajam menikam mati. Bila benar cinta itu ada, mengapa ada kesedihan di saat sepasang kekasih harus berpisah. Bukankah ada luka di setiap ada kata cinta?
Bukan hal yang aneh pula, pada saat berikutnya ia beringas. Ia menamparku dengan sebuah bantal. Di atas kasur ini. Dan menangis di tepinya. Begitu berartikah kata cinta hingga ia meraung-raung?
Walau berjuta kali ia bertanya di setiap menit-menit berikutnya apakah aku telah merasa jatuh cinta, aku hanya menggeleng. Selanjutnya bisa ditebak, mukanya akan tampak begitu jelek dengan bibir yang manyun sambil ngedumel. Tapi itu tak melarutkan seleraku untuk menciumnya, melumatnya. Walau dari bibir ini tak pernah terucap kata yang diinginkannya. Lamat-lamat ia pasrah, seperti mlam yang rela pergi disetiap kabut menuju pagi.
Tujuh hari yang lalu sebelum keberangkatnnya menuju kota kelahirannya, ia masih bertanya untuk terakhir kalinya. Apakah aku mencintainya? Aku tak bergeming. Tak mau beri nada sendu di detik perpisahan. Dan ia hanya menghela nafas mengusir kebebalanku. Namun aku tahu, ia percaya pada kesetiaanku. Percaya pada kedunguanku yang tak mampu mengartikan lukisan abstrak bergambar cinta. Ia memberi kecup, kecupan yang sangat berbeda di saat-saat lalu. Seakan kecup itu akan menjadi prasasti yang terkubur di suatu masa kelak. Dan di ujungnya ada sebuah detik-detik yang latah menjadi dingin. Sunyi.
Aku mengemasi pakaianku. Membiarkan buku-buku menganga di peraduannya. Mengunci rapat pintu kesunyian dan bergegas turun, melangkah di anak-anak tangga yang masih saja tersenyum minta diinjak. Di persimpangan jalan, aku mematung mengalahi tegarnya lampu traffic light yang menyala bergantian. Aku berdiri bersisian. Untuk kesekian lamanya aku mengalahkan kalut.
Akankah aku menyusulnya? Bersanding dengan dirinya di sebuah pernikahan. Namun ia tak mau menikah tanpa kata cinta. Apa yang akan diucapkan saat bersumpah di depan pendeta? Atau membiarkan ia mengakhiri kesetiaanku dengan lelaki pilihan orangtuanya. Dan aku harus berlari mencari sepi lagi.
Di persimpangan aku masih termangu saat traffic light bukan lagi dewa. Ketika jalanan begitu padat dan merangkak. Dari sebuah jendela bis kota aku mendengar suara serak membaca sajak :
………….
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya : Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri
Ah! hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
(Sia-sia oleh Chairil Anwar)
Ini hari ketujuh ia tidak ada di sini. Di kamar ini. Kamar miliknya yang entah oleh sebab apa tidak lagi menjadi otoritas miliknya sendiri lagi. Aku telah ada cukup empat bulan lamanya. Tak mampu beri warna yang lain hanya menambah pengap saja. Setidaknya keringat-keringatku telah meracuni kasur kapuknya. Dan di langit-langit masih ada sisa-sisa asap rokok, sementara laba-laba tak mampu rajut waktu.
Ini hari ketujuh pula tak kutemukan suaranya berkata-kata panjang. Yang berteriak mengalahkan suara ceret air kutanak. Nafas harumnya keluar meracuni asap tembakauku. Terlebih ketika asbak ditemukan puntung yang kesekian belas sementara di bibirku yang kian menghitam ada nyala yang lain. Ia katakan, ini sebuah pembunuhan. Lalu pintu terbuka. Entah mengusir asap atau aku. Ia hanya diam di depan pintu. Dan nyala puntung yang manja ikut-ikutan diam.
Ahh…. tentangnya aku menjadi gila. Ini rindu atau entah apa. Aku tak bisa mengeja. Satu persatu aku membalik cerita, menenun tingkah yang berarak menuju apa. Tertampung setetes demi setetes mimpinya yang tiap malam kuperas mencari alas. Logikanya dan logikaku bagai petak-petak di papan catur. Ada saat kuda harus berjingkat maju atau mundur. Tetapi hitam tetap hitam. Dan saat putih harus tersudut, ia hanya bergumam bahwa aku curang. Tak mungkin ada kekalahan di sebuah permainan, karena semua ada jalan keluar. Mungkin bukan saat ini, manusia boleh lupa katanya.
Yang kusuka adalah matanya. Membelalak saat melihat aku lupa membuka sepatu. Ia akan berkacak pinggang, mengukur batas tepi pinggul yang kian menebal. Tak perlu lama untuk menghentikan omelannya, cukup aku katakan, ia terlihat kian gemuk. Ia akan gelisah memegang perut. Mengangkat garis bawah kaosnya yang longgar menampakkan lingkaran kecil di perut. Ia akan meminta pendapatku. Aku tak perlu serius tentang itu, cukup aku tunjuk sampah-sampah yang masih hangat malas tergeletak. Di atasnya terlihat muka-muka kapitalis menghitung rejeki.
Siapa sangka dendam yang mempertemukanku dengannya. Ketika kudapatkan sebuah buku yang kupinjamkan pada Pandit terlihat tak karuan. Sampul yang kumuh di tepi-tepinya. Ada banyak halaman terlihat pernah dilipat, mungkin pertanda batas halaman yang terakhir dibaca. Mungkin ada ratusan tetes air liur yang menempel saat jemari membolak-balik halaman. Aku jijik. Aku geram. Ini bentuk penghinaan atas sebuah karya cipta seseorang. Tak menghargai otak mereka yang kian tua dan kusut.
Namun aku tak bisa memberinya maki atau sekedar ucapan ketus saat ia ada di kamarku. Di kamar Pandit pula. Manusia yang langka ini bercerita apa yang ia baca. Tentang perlawanan Soe Hok-gie terhadap tirani hingga akhir hayatnya. Kematian yang suci setelah melewati hutan di lereng-lereng rendah hingga melewati pasir dan butiran-butiran larva yang menutupi lereng bagianatas dengan kemiringan enam puluh derajat menuju puncak semeru. Dan tulisan yang memikat di sebuah batu nisan, “Nobody knows the trouble I see, nobody knows my sorrow.”
Aku tak bisa memberi komentar akan kesedihannya melihat nasib asmara sang demonstran yang kesepian itu. Hanya bila ada sedikit keberanian, mungkin aku cukup berkomentar, wajahnya terlihat lucu saat berpikir serius. Pipi yang kian membulat dengan sebuah guratan di kening. Mungkin ini yang membuat di esok hari dan esok harinya adalah pertemuan. Bukan karena janji atau rindu yng naïf, tetapi ada detik yang menghantar langkah begitu ringan untuk sebuah kebetulan.
Bukan kebetulan pula hatiku kian melunak saat niat bacanya yang begitu besar memperkosa buku-bukuku satu persatu. Satu persatu buku dipinjam dan selanjutnya ada perdebatan. Tentang penulis yang terlalu berhayal melangkahi logika dan tak berpijak di bumi. Atau suasana batin apa yang kira-kira merangsang penulis hingga orgasme dan menetes mani-maninya menjadi kata-kata indah. Kumpulan halaman yang nikmat untuk digerayangi.
Ya, semuanya kini kami lakukan di atas kasur kapuk ini. Sekali lagi di atas kasur, karena ruang tamu hanyalah seperangkat kasur dan televisi yang menganga dikelilingi rak-rak buku dan sebuah lemari. Entah apa yang menghantarkanku ke sini, meninggalkan tempat semediku dan nyamuk nakal bernama Pandit. Mungkin karena keteledorannya yang lupa mengembalikan semua buku yang dipinjam. Hingga aku merasa seorang pencuri telah membawa lari harta karunku. Rak bukuku ompong. Dan lemari bajuku kedinginan, menggigil ketakutan ketika aku menyeringai sangar mendapatinya kosong. Tapi ini juga ulahku membiarkan ia bebas menilai penampilanku saat ditemukannya daki tidak jatuh setelah kucuci. Ada banyak komentar disusupi niat baiknya untuk mencuci kembali dan memberi garis-garis licin di setiap lipatan.
Mau tak mau aku kerap mendatanginya. Di sebuah kamar di sebuah rumah susun. Walau dengkul terasa mau copot ketika anak-anak tangga tersenyum manis minta diinjak. Berpakaian dan sekedar bersapa. Namun terkadang tertahan oleh sebuah percakapan. Kemudian sebuah percakapan lagi. Dan percakapan lain yang tak kunjung putus untuk akhirnya menutup malam. Karena esok juga ada percakapan lain. Hingga kami lupa akan detik yang masih setia berjalan dan tak terasa genap sudah empat bulan aku tinggal bersamanya.
Tujuh hari bukan waktu yang lama tapi ada rasa yang terus menghitungnya. Mungkin juga mengukur besarnya. Entah besaran apa yang kupakai, nalar lupa akan dimensi-dimensi. Sementara ruang berbicara lain, aku tak bisa menampik. Inikah rindu? Ah…. jangan pernah ada. Aku rindu untuk apa? Hmm…. mungkin rindu pada percakapan. Tapi aku merasa percakapan adalah angin. Tak kuundang tapi datang menghidupi. Ada bersin? Hahaha… itu mungkin hanya tawa panjang ketika sadar pada sebuah diskusi yang memperlebar kebohohan kami.
Kalau itu benar rindu, apa benar aku dikatakan telah jatuh cinta? Cinta? Waduh, setan apa yang memperanakkan logika berketurunan jadah. Cinta itu sampah. Seperti kasih yang menjadi bahasa klasik dan usang. Bukankah Adam dan Hawa telah mempertontonkannya secara bugil. Tak ada dikatakan cinta saat Adam bersetubuh dengan Hawa. Namun mereka tinggal bersama dan bercakap-cakap. Tentang taman dan penghuninya. Dan Adam tak punya pilihan teman hidup selain Hawa.
Jangan-jangan aku kena kutuknya? Aku bersumpah malam itu saat kami berdebat tentang kata cinta. Aku katakan untuk seumur hidupku aku tak pernah jatuh cinta, namun aku telah berpacaran untuk keenambelas kalinya. Tapi bukan berarti pula aku tak punya kesetiaan, aku akan setia untuk sebuah komitmen. Teman hidup yang padanya kuberikan segala kejujuran sikap dan perbuatan.
Lalu ia berteori tentang pendapat seorang filsuf kelahiran. Wina Ludwig Wittgenstein ada berkata bahwa semua penggunaan bahasa, arti dari kata dan kalimat tergantung pada pemakaiannya. Kata yang sama tidak sama artinya bila dipakai dalam lingkungan yang lain serta diucapkan oleh orang lain pula. Kata cinta seorang kaya akan hartanya beda dengan cinta seorang ibu pada anaknya. Kata cinta seorang kekasih memang ada yang murni dan tulus. Cinta yang tulus mungkin dapat berwujud banyak hal, perhatian yang besar, kerinduan, kesetiaan, takut kehilangan. Dan ia memaksa aku mengamini semua itu sebagai cinta. Aku terpana, mengangkat bahu.
Ia diam. Menutup mata. Mungkin menenangkan diri. Saat hening berbicara, aku kian gelisah. Aku mencoba memecah kegalauan. Aku katakan, janganlah terlalu percaya pada cinta, bila cinta itu ada. Bila dikatakan ada cinta pada anak dan orang tua, mengapa ada pembunuhan dan perkosaan di antaranya. Bila ada cinta pada Tuhan, mengapa kaum pengusung cinta mengkotak-kotakkan diri pada Tuhannya, saling bersikutan. Dan sudut-sudutnya yang tajam menikam mati. Bila benar cinta itu ada, mengapa ada kesedihan di saat sepasang kekasih harus berpisah. Bukankah ada luka di setiap ada kata cinta?
Bukan hal yang aneh pula, pada saat berikutnya ia beringas. Ia menamparku dengan sebuah bantal. Di atas kasur ini. Dan menangis di tepinya. Begitu berartikah kata cinta hingga ia meraung-raung?
Walau berjuta kali ia bertanya di setiap menit-menit berikutnya apakah aku telah merasa jatuh cinta, aku hanya menggeleng. Selanjutnya bisa ditebak, mukanya akan tampak begitu jelek dengan bibir yang manyun sambil ngedumel. Tapi itu tak melarutkan seleraku untuk menciumnya, melumatnya. Walau dari bibir ini tak pernah terucap kata yang diinginkannya. Lamat-lamat ia pasrah, seperti mlam yang rela pergi disetiap kabut menuju pagi.
Tujuh hari yang lalu sebelum keberangkatnnya menuju kota kelahirannya, ia masih bertanya untuk terakhir kalinya. Apakah aku mencintainya? Aku tak bergeming. Tak mau beri nada sendu di detik perpisahan. Dan ia hanya menghela nafas mengusir kebebalanku. Namun aku tahu, ia percaya pada kesetiaanku. Percaya pada kedunguanku yang tak mampu mengartikan lukisan abstrak bergambar cinta. Ia memberi kecup, kecupan yang sangat berbeda di saat-saat lalu. Seakan kecup itu akan menjadi prasasti yang terkubur di suatu masa kelak. Dan di ujungnya ada sebuah detik-detik yang latah menjadi dingin. Sunyi.
Aku mengemasi pakaianku. Membiarkan buku-buku menganga di peraduannya. Mengunci rapat pintu kesunyian dan bergegas turun, melangkah di anak-anak tangga yang masih saja tersenyum minta diinjak. Di persimpangan jalan, aku mematung mengalahi tegarnya lampu traffic light yang menyala bergantian. Aku berdiri bersisian. Untuk kesekian lamanya aku mengalahkan kalut.
Akankah aku menyusulnya? Bersanding dengan dirinya di sebuah pernikahan. Namun ia tak mau menikah tanpa kata cinta. Apa yang akan diucapkan saat bersumpah di depan pendeta? Atau membiarkan ia mengakhiri kesetiaanku dengan lelaki pilihan orangtuanya. Dan aku harus berlari mencari sepi lagi.
Di persimpangan aku masih termangu saat traffic light bukan lagi dewa. Ketika jalanan begitu padat dan merangkak. Dari sebuah jendela bis kota aku mendengar suara serak membaca sajak :
………….
Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya : Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti
Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri
Ah! hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi
(Sia-sia oleh Chairil Anwar)
Ratu Babi
Kini ada yang menjerit-jerit di antara mereka. Berlari dan melingkari. Suaranya menggema mengusir kantuk dan lamunan. Dengus-dengus yang terkepal meninju rakus. Dan taring-taringnya mengancam setajam ucap dan maki.
“Bangunlah kaumku! Saatnya kita berontak dari kutuk zaman. Kita telah gemuk oleh derita-derita. Kita menjadi pemalas di lumpur subur. Pemimpi di saat siang. Tak cukup hanya ampas. Sebab berharap pada esok adalah kesia-siaan. Mari kita rebut negeri. Lari dari petak-petak logika mereka. Tempat kita ada di belantara pikiran bukan di sini, dipasung kebodohan!”
Negeri subur ini penuh lumpur. Tak lagi musim kering mampu tiupkan kegersangan. Menjadi permainan yang indah saat udara panas datang. Lumpur-lumpur adalah tempat berkubang. Suaranya menikmatkan, kecipak kesuburan meninabobokkan impian untuk hidup tanpa perlu khawatir akan esok. selanjutnya
Kini ada yang menjerit-jerit di antara mereka. Berlari dan melingkari. Suaranya menggema mengusir kantuk dan lamunan. Dengus-dengus yang terkepal meninju rakus. Dan taring-taringnya mengancam setajam ucap dan maki.
“Bangunlah kaumku! Saatnya kita berontak dari kutuk zaman. Kita telah gemuk oleh derita-derita. Kita menjadi pemalas di lumpur subur. Pemimpi di saat siang. Tak cukup hanya ampas. Sebab berharap pada esok adalah kesia-siaan. Mari kita rebut negeri. Lari dari petak-petak logika mereka. Tempat kita ada di belantara pikiran bukan di sini, dipasung kebodohan!”
Negeri subur ini penuh lumpur. Tak lagi musim kering mampu tiupkan kegersangan. Menjadi permainan yang indah saat udara panas datang. Lumpur-lumpur adalah tempat berkubang. Suaranya menikmatkan, kecipak kesuburan meninabobokkan impian untuk hidup tanpa perlu khawatir akan esok. selanjutnya
Langganan:
Postingan (Atom)