29 Januari 2003

marilah aku ceritakan kepadamu

marilah aku ceritakan kepadamu tentang asap belerang di kubah merapi
ketika hujan rinai tak putus angin gigil tak henti

lalu dalam basah jas hujan dan sepeda motor tertatih mendaki
sampai ke sini. aku pun memulai perbincangan dengan perempuan baik hati,
begitu baik hingga ia mau menemaniku dalam lebat hujan, pergi
ke sebuah tempat asing yang tak menyajikan janji-janji

perbincangan ini begitu sunyi. seperti adegan sandiwara klasik dalam bisu
mataku mata ia terpaku pada payung di pucuk biru merapi yang sesekali saja menampakkan diri. kabut putih, atau mega, seperti tabir wajah menutup senyumannya yang dingin, tanpa hati

begitulah, tiba-tiba telah sampai pembicaraan tentang asal usul, persenggamaan pertama adam-hawa, hingga bayi-bayi yang dicerabut mati dari liang pertapaannya demi harga diri. aku terkesiap. ia juga. lalu seorang bocah dalam kuyup hujan, menghampiri, tanpa senyum meski sorot matanya menampakkan keramahan yang pasti, bukan basa-basi

di manakah kutinggalkan hati?
mungkin di buku-buku filsafat tebal tua berdebu, atau di kuil-kuil purba persembahan:
dalam puisi?

marilah aku ceritakan kepadamu tentang asap belerang di kubah merapi
ketika hujan rinai tak putus angin gigil tak henti

aku menemukan kisah tentang hati yang mati
dan senyum perempuan yang indah sekali

27 Januari 2003

malam bening, seperti kaca jernih hingga telanjanglah seluruh bintangbintang yang ada pernah ada sarati langit dengan ode kerinduan. begitu jua kah matamu? aku terpakar. terpanah noktah inti yang mengatas-namakan kegilaan cinta, kau dan aku barangkali tak menduga akan tertabrak selekat ini. tak ada gesekan pilu biola sebagai latar. sepi mencabik. muram berdurja. dada menanda jarak pada sunyi. tersendat berdesir-desir..

momentum ini, waktu dimensi dongeng klasik segala abstrak tak menjadi persinggahan pikiran lagi. semesta melebur menjadi siluetmu yang berserakan di labirin ingatanku, akan-mu, dan kurelakan diriku tersesat paling buta enggan bertarik kembali lagi

aku hanya ingin meringkuk sebagaimana pernah hangat tubuhmu ruahkan selaksa gelombang hingga kalbu menjelma kerlip biru, malam ini. duhai pengelana, aroma tubuhmu terbawa lesatnya angin sampai ke pelukan. diriku temaram, terendam tanpa tersisa dalam ilusi katakata yang gelisah mencari bentuk. o, bebaskanlah kepompong rinduku menjadi kupukupu semoga tak patah sayapnya semoga sampai ke dadamu yang semoga juga mengumpal oleh rindu, berkerjapan.


GELISAH !!!!!
(cuma itu)

26 Januari 2003

waktu masih sebelas tigalima
malam tipis melingkupi segala

22 Januari 2003

terakhir kali dan berakhirlah

Sepelukan mawar, semerah bara, semerah darah..
Bertumpukanlah bersama cacing-cacing ornamen
kebajikan dan kenistaan beraduk-aduk tercampur
hingga mata hitam membelatung..

Kelam, kelam
Badai tersesat di tanah bernanah

****

Habis perkara!
Tamat kisah!
Usai debur debu!
Selesai menapak!
Berhenti menatapku dengan sedu sedan ilusi keparat sajak-sajak epitaph romantis menzikir kenangan yang mengharu-biru seperti rinai gerimis sia-sia mengamukkan kamboja hingga luruh satu lalu satu lagi
di atas beceknya ingatan dirimu, akan-ku...

****

Penghabisan, katamu...

Lalu kita kemas rapi embun di sudut mata, berdialog dengan malaikat bersayap hitam lebar, bertanya tentang hakikat, entah kenapa, entah enggan doa-doa terkumandangkan lantang, entah tak harap tubuh tak mengabu,
jauh, menjauh, begitu jauh..

sayup-sayup kudengar isak.
engkaukah?
buruh tani mahasiswa kaum miskin kota
bersatu padu rebut demokrasi
gegap gempita dalam satu suara
demi tugas suci yang mulia

hari-hari esok adalah milik kita
terbebasnya massa rakyat pekerja
terciptanya tatanan massa rakyat
demokrasi sepenuhnya

marilah kawan, mari kita kabarkan
di tangan kita tergenggam arah bangsa
marilah kawan, mari kita nyanyikan
sebuah lagu tentang pembebasan

di bawah topi jerami
kususuri terik matahari
berjuta kali turun aksi
bagi kami suatu langkah pasti

di bawah kuasa tirani
kususuri garis revolusi
berjuta kali lawan tni
bagi kami suatu kemenangan

(sebuah lagu aksi jalanan)

21 Januari 2003

Sungguh

Sungguh, kami kaum berontak
yang tak mampu eja kata sabar
Ini batin yang berucap
indarkan logika terkukung kotak-kotak
di ketidaksamaan sisi tatap

Sungguh, kami tuan pemilik zaman
yang berjalan muntah pada delapan penjuru
Perubahan tiada titipan musim
Bagai suburnya jerawat milik si muda kasmaran,
kami membatu menikam waktu

Saat harus henti, petik mentari
hentikan sombong yang menyelubungi
Di kegelapan,
tak ada tawa terlalu pongah
tak ada tangis merajam sepi
tak ada gelap bermuka dua
kita sama,
walau lelap di peraduan berbeda
mimpi kita satu jua
merdeka ! penuh........

20januari2003
batin

aku menatap hidup
dengan sebatang rokok
dan secangkir kopi
di kesunyian jalan
yang tak berpulang

19januari2003
penantian raguragu

waktu belum pecah menjadi saat
kala langit telah lama terkoyak
dan seribu perigi tak mampu
telan berjuta-juta helai sayap
kian menghambur di angkasa

milikku hanyalah sebuah perigi
di tepian mimpi hutan sang perawan
ingin tiada lelap, sadarku pada gemersik angin
dibaui oleh rindu jejak sua
yang belum kita bukukan

turunlah hai periku
menarilah engkau malaikatku
kecap dingin milikku
di penantian raguragu

17januari2003

20 Januari 2003

aku harus pergi sebelum senja menjadi gelap dan malam menikam matahari. ya, aku harus pergi. esok akan kukecup kembali rekah bibirmu. akan kupeluk kembali tubuhmu yang bearoma kenanga. tapi detik ini, aku harus pergi.

"kau tak lagi mencintaiku?" rengekmu.
"tak seorang pun yang kucintai selain engkau!"
"gombal!"

aku mencintaimu, maka aku pergi. inilah cinta yang sesungguhnya. cinta sebenarbenar cinta. harum tubuhmu akan kubawa terus kemanapun aku pergi. hingga esok, akan kudekap kembali jasadmu yang nyata. tapi sekarang, aku harus pergi.

"kau akan kembali?" ucapmu lirih, jemarimu masih erat menggenggam tanganku.
"aku akan kembali untukmu.' kukecup keningmu.
"kapan?"
"esok!"
"selalu kau katakan esok. sedang kau tak punya ukuran untuk esokmu. esokmu bisa seminggu, sebulan, setahun. aku tak tahu, juga engkau. untuk itu, kularang engkau pergi lagi. tinggallah disini. di dekatku... selamanya....!"

lelaki harus pergi. tapi ia akan kembali. suatu hari nanti. esok!
kulepaskan seluruh genggaman jemarimu. kuhapus bening airmata di pipimu. kulangkahkan kakiku tanpa menoleh kembali.

"esok, aku akan pulang!"

19 Januari 2003

maaf jika aku menolakmu, matahari
karena engkau menyerah janji
terangi hari-hari
menyerahkan bumi budak sepi

di pucuk cemara berbulan
melintas satu bintang jatuh
"aku menuju lebur akhir labuh",
tercacah bersama
perlahan yang dalam
sebagianku menjadi debu semesta
tergantung penghias sunyi raya
dalam cumbu ingkar kalam

(aku tidak bisa begini terus)

datanglah bintang limbung
papas kecepatan cahaya
mendengung semilyar bingung
apakah cinta secepat cahaya?

terhisap hirupan pesona
keindahan kerapuhan
temukan kembali aliran
sungai muara jiwa