sentuh ....
inikah listrik ?
lihat ...
bayi yang tertidur setelah menetek
dengar ...
samudra dalam dada
kamu ...
keajaiban dari perjalanan ini.
akan antang no tien
30 September 2002
29 September 2002
IF
By Bread
If a picture paints a thousand words
Then why can't I paint you
The words will never show
The you I've come to know
If a face could launch a thousand ships
Then where am I to go
There's no one home but you
You're all that's left me too
And when my love for life is running dry
You come and pour yourself on me
If a girl could be in two places at one time
I'd be with you tomorrow and today
Beside you all the way
If the world should stop revolving
Spinning slowly down to die
I'd spend the end with you
And when the world was through
Then one by one the stars would all go out
Then you and I would simply fly away
By Bread
If a picture paints a thousand words
Then why can't I paint you
The words will never show
The you I've come to know
If a face could launch a thousand ships
Then where am I to go
There's no one home but you
You're all that's left me too
And when my love for life is running dry
You come and pour yourself on me
If a girl could be in two places at one time
I'd be with you tomorrow and today
Beside you all the way
If the world should stop revolving
Spinning slowly down to die
I'd spend the end with you
And when the world was through
Then one by one the stars would all go out
Then you and I would simply fly away
28 September 2002
Nyanyian semut pekerja
Remahan beronggok-onggok bertimbun,
dikelilingi tarian tetesan-tetesan liur
Keringat tak mampu meluberkannya, utuh harus dijamah
Tiada suara, senyap, kaki dan tangan tak lelah
otak tak perlu dipintal, berpikirpun tak sempat
Pecut dan senyum sangar jilati wajah-wajah keras,
kaku terpancar...
Kapan semi berakhir, berganti dingin di bawah lubang-lubang kelam
tapi barisan belum terpencar, cahaya itu hanya di satu titik
ujung sebuah perjalanan curi masa yang menjepit
Hidup dan waktu sama berdenting
nyaring sungguh menyakitkan...
Suara perut tak lebih menggelegar,
istri dan anak bukan binatang peminta
Lautan keringat tak mampu sekedar basahi bibir mereka
atau hentikan mimik belas di muka pintu
Pagi dan senja bagai neraka dan kubur
sungguh terpasung.....
Barisan masih panjang, di batasan cakrawala yang terbentang
Memanggul remahan yang beronggok-onggok milik sang tuan
di tiap detik, hidup masih dikungkungi kumpulan onak marah
di tiap detik mereka masih bertanya-tanya
Bertahan atau mati!
Remahan beronggok-onggok bertimbun,
dikelilingi tarian tetesan-tetesan liur
Keringat tak mampu meluberkannya, utuh harus dijamah
Tiada suara, senyap, kaki dan tangan tak lelah
otak tak perlu dipintal, berpikirpun tak sempat
Pecut dan senyum sangar jilati wajah-wajah keras,
kaku terpancar...
Kapan semi berakhir, berganti dingin di bawah lubang-lubang kelam
tapi barisan belum terpencar, cahaya itu hanya di satu titik
ujung sebuah perjalanan curi masa yang menjepit
Hidup dan waktu sama berdenting
nyaring sungguh menyakitkan...
Suara perut tak lebih menggelegar,
istri dan anak bukan binatang peminta
Lautan keringat tak mampu sekedar basahi bibir mereka
atau hentikan mimik belas di muka pintu
Pagi dan senja bagai neraka dan kubur
sungguh terpasung.....
Barisan masih panjang, di batasan cakrawala yang terbentang
Memanggul remahan yang beronggok-onggok milik sang tuan
di tiap detik, hidup masih dikungkungi kumpulan onak marah
di tiap detik mereka masih bertanya-tanya
Bertahan atau mati!
KETAHUILAH,
Mencintaimu adalah rasa yang tak berbatas
Meruah melampaui relung mangkok hatiku
Memandangmu berbicara,
Membawa alam baru dalam selaput otak kelabuku
Menjadi sungi, sepi,
Hanya ada aku,
Dan kau, yang asyik berbicara, entah apa
Mencintaimu adalah bunyi genderang yang memekak di telinga hatiku
Terasa ribut dan sesak, penuh gempita
Memandangmu tertawa
Membawa udara baru dalam setiap hirupan nafasku
Menjadi lepas, tanpa beban
Hanya ada aku,
Dan kau, yang asyik tertawa, menularkan keceriaanmu
Ketahuilah
Aku mencintaimu.
kepada sahabat sedariku remaja
Mencintaimu adalah rasa yang tak berbatas
Meruah melampaui relung mangkok hatiku
Memandangmu berbicara,
Membawa alam baru dalam selaput otak kelabuku
Menjadi sungi, sepi,
Hanya ada aku,
Dan kau, yang asyik berbicara, entah apa
Mencintaimu adalah bunyi genderang yang memekak di telinga hatiku
Terasa ribut dan sesak, penuh gempita
Memandangmu tertawa
Membawa udara baru dalam setiap hirupan nafasku
Menjadi lepas, tanpa beban
Hanya ada aku,
Dan kau, yang asyik tertawa, menularkan keceriaanmu
Ketahuilah
Aku mencintaimu.
kepada sahabat sedariku remaja
26 September 2002
mas ..
aku masih gadis kecilmu, yang senantiasa menanti hadirmu diringi dengan getir pengharapan yang belumlah padam
yang berbeda itu mungkin mataku tak secerah dulu, satu dua peluh yang sudah bosan kuseka, satu dua tetes darah yang mengental dimakan senja
mas ..
aku masih wanita yang masih saja menanti belaianmu untuk memuaskan dahagaku
yang berbeda mungkin hanya sudah getir tawa dan sudah kaku bibir, ah .. tapi masa ada artinya kah gelak tawaku jika kamu tidak lagi bersamaku disini?
mas ..
aku masih pecinta yang merindukan ciuman di sela letihku ..
yang berbeda mungkin hanyalah tidak ada satupun yang mampu membangkitkan gairahku untuk bercinta
mas ..
aku masih seorang jalang yang menjajakan tubuh dan bibir manisku di sudut kota
hanya saja telah kau bawa pergi hatiku
aku masih gadis kecilmu, yang senantiasa menanti hadirmu diringi dengan getir pengharapan yang belumlah padam
yang berbeda itu mungkin mataku tak secerah dulu, satu dua peluh yang sudah bosan kuseka, satu dua tetes darah yang mengental dimakan senja
mas ..
aku masih wanita yang masih saja menanti belaianmu untuk memuaskan dahagaku
yang berbeda mungkin hanya sudah getir tawa dan sudah kaku bibir, ah .. tapi masa ada artinya kah gelak tawaku jika kamu tidak lagi bersamaku disini?
mas ..
aku masih pecinta yang merindukan ciuman di sela letihku ..
yang berbeda mungkin hanyalah tidak ada satupun yang mampu membangkitkan gairahku untuk bercinta
mas ..
aku masih seorang jalang yang menjajakan tubuh dan bibir manisku di sudut kota
hanya saja telah kau bawa pergi hatiku
Orang tua bijak pernah berkata
“jangan lawan rasa dukanya, berkawanlah dengannya”
Tapi mengapa mengapa berkawan dengannya
Tetap tak mampu mengatasi sakitnya berduka?
Kenapa harus berkawan dengannya
Bila dia yang membuat luka berdarah
Aku tidak ingin luka ini
Aku tidak ingin sakit ini
Aku tidak ingin duka ini
Siapa yang membutuhkannya untuk berkawan?
Kota berpasir, 25 September 2002
After watching “Inside Health”/CNN
“jangan lawan rasa dukanya, berkawanlah dengannya”
Tapi mengapa mengapa berkawan dengannya
Tetap tak mampu mengatasi sakitnya berduka?
Kenapa harus berkawan dengannya
Bila dia yang membuat luka berdarah
Aku tidak ingin luka ini
Aku tidak ingin sakit ini
Aku tidak ingin duka ini
Siapa yang membutuhkannya untuk berkawan?
Kota berpasir, 25 September 2002
After watching “Inside Health”/CNN
Langganan:
Postingan (Atom)