29 Juni 2002

kutatap matamu...
kutatap wajahmu...
kutemukan sesuatu tersirat...
tapi aku tidak tahu...
katakanlah.. apa yang menjadi keinginanmu
dia tidak bersembunyi....tidak juga pergi tapi hilang
kemana harus mencarinya.....

28 Juni 2002

kemudian kita saling merindukan
bukan perasaan yang begitu gemuruh
seperti remaja yang baru jadian pacaran
bukan seperti itu bukan ...
....dan aku mencintai malam
saatnya tergelincir dalam dosa
indahnya bercinta dengan kekasihku....


Jangan tanya rasa...apalagi cara
karna aku rindu bercinta!
mereka bertanya :
"apakah kematian
adalah jawaban
dari semua kehidupan ?"
kehidupan itu mematikan
kematian ini menghidupkan
melekat sebuah emperan waktu
di daratan iniitu.

27 Juni 2002

"MAAF PAK,
BISAKAH KAU TENANG !"
Lomba Cipta Puisi 100 Tahun Bung Hatta

Penyelenggara:
Komunitas Pegiat Sastra Padang (KPSP)

Tema
"Bung Hatta di Mataku"

Persyaratan:
0. Peserta boleh siapa saja: sastrawan, penyair, mahasiswa, dan
masyarakat umum
1. Karya harus orisinil, bukan hasil plagiat
2. Maksimal 3 puisi untuk setiap peserta
3. Dikirim ke panitia rangkap 3
4. Nama peserta dan biodata peserta ditulis dalam lembar terpisah
(cantumkan: telepon, email, atau No HP)

Puisi dikirimkan ke :
Panitia Lomba Cipta Puisi 100 Tahun Bung Hatta
PO BOX 211, Padang, 25000

Batas waktu pengiriman:
Paling lambat 20 Juli 2002 (cap pos)

Dewan Juri:
- Rusli Marzuki Saria,
- Gus Tf Sakai,
- Drs. Hasanuddin WS, MHum

Panitia akan memilih 5 puisi terbaik dan 95 puisi nominasi.
Lima puisi terbaik akan mendapatkan hadiah total 2,5 juta rupiah dan 95 puisi nominasi akan mendapatkan piagam penghargaan. Masing-masing juga mendapatkan buku puisi hasil lomba.

Para pemenang akan diumumkan melalui media cetak.
tetap BERONTAKKKK .... !
buat ngA

dia hanya mencari suatu aku padamu
bayangan kabur pada gerimis
nyaris kaku dihembus angin kutub
berlubang ditembus antara dan waktu

aku mencari padanya
suatu dia yang merembang remang
merentang cinta sepanjang khatulistiwa
perkosaan rasa kembali berulang

daun jatuh
bulan mengaduh
dan kuburan seketika punyai sekutu
dari perselingkuhan yang mendapat restu.

(and endless story from grey land)
YANG TERPENDAM

Amarah seperenjak mengelang
Dan setiap kerikil di jalanan
Berubah jadi batu kali yang legam
Curah sudah sebagian hujan
Namun tak mendingin juga sahara
Masih mengiang benderang
Sengau gonggong anjing geladak
Yang kutenggelamkan siang tadi
Di pelabuhan
Di mana kugantungkan kaki setengah pasi
Dan jerang kaldu badan yang mati
Siar semerbak wangi mayat yang tak jadi basi
Sialan…
Agaknya
Lupa barusan kumatikan api
Waktu tinggalkan rumah pagi-pagi

[19 Juni 2002, 23:26]