30 Maret 2002

peluit telah berbunyi
tanda babak sejarah telah dilewati..
sekarang peluit berbunyi lagi
tanda babak sejarah lain akan dimulai...
tanpa waktu sisa... tanpa waktu istirahat..
capek...

29 Maret 2002

lagi-lagi cerita semacam ini kutulis. cerita yang mungkin cuma terasa sebagai
sampah busuk yang keluar dari rumah paling busuk. aku membencimu, itu simpelnya.
dan cerita-cerita ini akan membuat gemerlap rasa itu.
maka seperti itulah. setiap matahari berganti menjadi sesuatu yang baru,
dan bulan timbul tenggelam, aku tetap akan begitu. membencimu
adalah keharusan. mekanisme pertahanan diri paling sempurna. tak ada
pembelahan diri di situ, maka takkan ada perpisahan, juga pertemuan, (yg menyakitkan).
ini bukan yang pertama 'kan? bagaimana untuk yg ketiga? cerita-cerita ini
mestinya kuhabiskan saat itu.
ah, ternyata belum puas benar kusumpahseraphi kamu. karena masih juga kuingin
saat ini mengutuki tubuhmu itu. (tubuhmu yang sempurna itu).
terkutuk, terkutuk, terkutuklah kau, juga sukmamu itu, kumpulan bukan cahaya,
karena gelap gulita, hati yg bukan cermin tapi batu. patahan-patahan sekaligus
ruang kosongnya.
dan inilah sebabnya kukutuki kamu: kesempurnaan yg tidak baku. metamorfosa
paling lengkap. suatu keparipurnaan hidup.
juga mengapa kusumpahserapahi kamu: kegelapanmu adalah pelita
tanpa jelaga, tempat refleksi paling halus, resolusi yg nyaris habis.
maka kubenci kamu: karena ternyata kau bukan tanah, yg menutup pintu
bagi tetes hujan, air mata langit, yang akan diserapnya nanti, esok atau lusa,
keniscayaan yang pasti.
kau cuma batu. tempat pintu selalu ditutup rapat-rapat.
kian lama jiwa kian menyusut mengecil kerdil dan terus saja mengecil sesungguhnya aku tau bagaimana jalan menghentikannya tapi lagi-lagi itu membutuhkan sesuatu dari luar membutuhkan sayap untuk terbang dari segalanya yang tersebar begitu besar di timur dan di barat dan lagi-lagi kenapa masih saja berputar disini aku akan mati

28 Maret 2002

*lanjutan yg kemarin...

Tapi kondisi itu telah memberikan
pengalaman yang teramat luar biasa
seakan aku menjadi seorang Tuhan
Yang tak mengharapkan apapun dari yang pernah dia rasa

Aku mati rasa…..

Apakah aku mati rasa
Katakanlah hai jiwaku
Aku merasa terlepaskan dari jasadku dan
ternyata aku lebih mencintai ruhku
Jasadku aku meninggalkanmu
bukan berarti aku tidak mencintaimu
aku hanya ingin mendapatkan
keabadian yang telah kita sepakati
Engkau akan mati,dikerumunin cacing-
cacing tanah, dan hancur jadi tanah
Itulah hakikat yang telah kita ketahui
janganlah engkau takut akan semua itu
karena dengan menjadi tanah kita akan merasa bersatu lagi,
Jadilah tanah.
Kita akan bercinta dalam keabadian yang telah mati rasa kedunawian
Dan ternyata aku belum siap menghadapi kenyataan itu
Aku masih mengharapkan belaian lembut seorang ibu,
Belaian seorang kekasih
Dunia memang menawarkan rasa-rasa terhebat yang tiada duanya
Maaf, maaf
Apakah aku sudah gila
Gila akan sebuah rasa
Rasa yang belum pernah aku rasakan
Aku hanya ingin membelai lembut jiwamu
Tanpa melibatkan ragamu
Apakah itu mungkin
Harusnya aku tahu aturan hidup dunia karena aku hidup dalam dunia
Aku merasa lemah,sangat lemah seolah aku tak mampu lagi membawa diriku
Bawalah diriku hidup kembali dan aku akan terlahir kembali
menjadi seorang yang suci dan penuh kekuatan yang abadi

27 Maret 2002

aku ingin menemui padang pasir, berlarian dengan liar di antara butirannya, berenang di antara lautan dan sungai-sungai, bercinta di antara rerumputan pendek dan pasang. bebas, merdeka dan bercumbu tanpa ragu. mentuangkan tangis pada tanah, bermain dengan batu-batu, berbaring di atas dahan-dahan pohon, menari dan melompat mengeluarkan semua isi, semua ruang, semua penat, sampai hilang, tiada dan aku moksa.
If all the world was happiness
and all the skies were passion
and all the seas were honesty
then i would love to share this beautiful life with you...!!

26 Maret 2002

cermin panjang alam
tergeletak
lampu jalanlah akhir letak
pada suatu malam

air gugur berbulir bulir
memecah alir
meraba bumi
pelan ...
seakan ada yang dinanti

derak atap bak tangis
satu suara sendiri
membelah tipis tipis
suatu sunyi

kamu pasti sudah tidur
mereka juga
tapi kulihat kudengar
senyummu terserak berai
di mana mana semua

kupungut
satu ...
satu ...
satu ...

coba susun rekat
pada kanvas kelam
nyaris pekat
berbingkai rindu dendam.


25 Maret 2002

cerita kedelapan untuk qq

detik ini, fiksi ini mencapai sepotong angka yang berputar seperti ular atau mungkin sebuah roti di toko bakeri yang melingkar-lingkar. kata-kata ini seperti eksperimen kimiawi di atas tuts-tuts hitam, eksperimen kimiawi sekumpulan cerita-cerita untukmu seorang. adalah kau! yang begitu kugilai untuk kutulis dan untuk kujadikan dewa di antara tulisan-tulisanku, atau mungkin tuhan karena keterpanaanku pada manusia-manusia yang memberhalakan segala hal.

biarkanlah aku bercerita suatu hal, suatu senja yang semarak dengan pecahan kaca dan ada diriku di antaranya. aku, sebuah metromini ibukota, sepotong tongkat besi dan hujan beling kering. memang kekerasan adalah makanan sehari-sehari ibukota atau lebih tepatnya suatu kebiasaan. sejenak aku membenci diriku yang nyaris dihujami kaca bis metromini, karena seperti orang gagu aku menjadi penonton setia kehidupan yang berlalu. senja yang berlalu dengan pilu, penuh amarah dari penggengam tongkat besi.

radio masih bergema dengan pengadilan, aku jatuh ke tanah mendengarkan dakwaan yang berjalan nyaris satu jam lamanya untuk membicarakan detail-detail peluru anak sang jendral tua. aku muntah tepat di depan muka, lalu setengah berpikir tak bisakah hakim berkacamata membaca sendiri dengan seksama. kawan dekatku hanya tertawa, pahit, miris dan penuh dengan sarkistis. hukum di negeri ini memang sebuah sandiwara, melebihi cerita wayang, katanya dengan tawa membahana, ha-ha-ha-ha.

aku mati hari itu, berkali-kali, dibunuh diri sendiri dan dibunuh oleh udara yang kuhirup. aku menghentikan doa-doa dan menyembahmu sejadi-jadinya.
satu babak sudah "injuri time"
satu babak hampir terselesaikan
dalam hidupku
semoga berhasil
seorang teman membuat sebuah puisis yg lumayan panjang,
isinya sempet bikin gue nyaris pingsan. mungkin sampai
kapan pun gue gak bakal bisa bikin puisi yg bisa
bernafas panjang. gue akan coba memuatnya sampai empat seri,
perhatiin yaa.. dan siap-siap pingsan *gubrak*

Mati Rasa Dunia

Dan ketika aku mulai merasakan titik jenuh hidup
Konsepsi tentang cintaku terhadap seorang manusia
Mulai melayang-layang tak tentu arah
Terbawa angin terbawa ombak terbawa nafas
Seolah-olah aku menyimpan kefrustasian yang mendalam
Yang akan siap melukai siapa saja
Aku... Mulai menangisi semuanya
Otakku berputar tak tentu arah
Entah sakit, nyeri, atau yang lainnya
Aku tak bisa memastikan sakit yang aku derita
Separah itukah penderitaanku
Aku mulai jatuh cinta lagi..
Jatuh cinta lagi
Yang terlandaskan pada rasa kesakitanku.
... Aku mulai merasakan rasa yang lain
Yang tak lazim dalam cinta dunia
Seolah olah diriku menjadi angin
Diriku terbaiat oleh halusinasiku
Mencintaimu tanpa ingin memilikimu
Itu gila….. Hidup tanpa mengedepankan rasa ingin berkuasa
Eksistensi diri yang terus berkonflik dalam dada ini
Membuat aku kurus dan semakin membuta

.....

24 Maret 2002

seorang pejalan kaki duduk istirahat
duduk di sebuah halte, melepas penat
menunggu mentari lepas dari pelukan
menunggu awan melepas kerinduan

sebuah mobil lewat
sebuah mobil dengan kaca pekat
gadis pengendara membuka,"kemana arahmu tuan pejalan?"
"kemana engkau bertujuan" jawabnya pelan
"tetapi akupun belum tahu jawabnya"
"bagaimana jika, .."
dan pengendara membuka pintunya

dua pejalan bergenggam erat
"kita akan sampai di tujuan terlambat,
sedikit basah dan kotor, sedikit penat."
"..tapi dengan seorang sahabat."

dua pejalan kaki, meraba tujuan
dua pejalan kaki bergandengan tangan