31 Januari 2002

seperti tak ada yang berubah...
hujan yang turun masih terasa seperti saat aku berpayung berdua denganmu setahun yang lalu
terik mentari pun masih sepanas dulu saat kita melaju di jalanan ini

tak ada yang berubah...
tapi semua terasa tak sama... tanpa kata cinta menghiasi hari-hari kita...

i miss you
terdahulu merobek kelamin ibu
terdahulu mengerti arti piatu
terdahulu membuka rimba ilmu
walau terdahulu olehmu

satu tangga hidup terlewat
tersalip untuk membingkai senyumnya
waktu adalah keramat
terasing oleh lalunya

selamat , Ti.

30 Januari 2002

bianglala... sudah lama sekali aku tak menatap indahnya...
mengambang di megahnya langit
ujung-ujungnya bagaikan rentang sayap malaikat
seperti yang pernah mereka ceritakan padaku
oh indahnya...
setelah semua kau porak porandakan
kau masih bisa tersenyum
entahlah...
mungkin hanya untuk kesan terindah
agar mereka selalu mengingat hari ini...
ah.. terlalu banyak hari yang harus diingat
tak semuanya terekam mulus di ingatan
hanya yang terburuk... dan paling menyakitkan...

29 Januari 2002

dan badan menggigil
energi yang ada menguap
tubuh kehilangan dirinya
aku kehilangan kata
sudah lama aku tak melangkah di jalan kenangan ini
begitu sunyi dan dingin...
aku lupa, seperti apa rasanya mencintai dan dicintai
ingatanku terlalu lelah untuk mengingat semuanya
agak aneh mengetahui aku masih ingat jalan ini...
saat kita berjalan bersama... menyatukan janji...
untuk kemudian.... berpisah...

kini aku masih di sini
dalam penantian

hingga...


28 Januari 2002

kabar bagus (lagi)

hidup ternyata tidak begitu menyebalkan
ketimbang sendirian di langit sana...
ketiga

inilah goresan ketiga dariku. goresan yang akan membuka segala rahasia yang ternyata tak juga tumpah di goresan pertama dan keduaku. (adakah kau membacanya?). kusebut rahasia karena memang tak pernah kuceritakan ini pada siapapun (dan apapun). kusebut goresan karena ia lahir lewat tinta busuk, pulpen sekarat yang tak akan terpakai lagi, di atas kertas kusam entah milik siapa. tapi, benarkah ini rahasia? goresan rahasia? menganggapmu tak punya mata, dan jemari hangat yang memegang kunci segala rahasia ini? jiwa yang buta, nurani yang lemah, kepekaan, sensitifitas, rasa yang sigap…yang seakan tak pernah kau miliki? (inilah goresan ketiga dariku, tak membuka apapun barangkali, goresan paling iblis yang keluar di atas meja ini, di dekat gelas kopi tanpa ampas!) malam malu-malu, mengendap mencari pagi. membentuk sudut di ruang pengap ini, sembilanpuluh derajat, siku tempatku bersandar, dan mulut yang siap muntah—cacing-cacing dendam, keganasan ular benci, di akar pohon kemurkaanku. gambarmu kututup, di manapun. di batok kepala yang retak, di segumpal daging hitam yang usang, di dinding-dinding, di pintu masuk, di langit-langit, di atas meja; dan aku tersadar, betapa banyak gambarmu kulekatkan di sini. gambar yang akan musnah kepanasan sebentar lagi, menjadikanmu asap yang membumbung, yang diceraiberaikan angin, tiap-tiap selmu, yang dilupakan, yang dimusuhi. (jadilah kau musuh, segala penolakan seribu penjuru, pintu-pintu yang tertutup rapat-rapat). dan inilah kesialan itu. Rahasia paling gelap, iblis yang menyamar, duri-duri mawar: aku mencintaimu, dengan hati yang penuh jahitan dan dendam yang sesat. karena tubuhmu barangkali, yang adalah piramid tak berujung, horizon paling jauh, gumpalan keselarasan, puncak kesenian yang abadi, sejarah yang cuma sekali, sinar yang tidak memantul tapi diserap. atau sukmamu… gulungan-gulungan halus lembut, asap tanpa api yang lugu, lingkaran hidup sejati, metamorfosa segala kemuliaan, adidaya, belulang yang bukan putih tapi hidup, magnet… pusat… titik tengah! inilah goresan ketiga dariku, rahasia dari tempat paling berliku. yang bersemburan saat bintang cuma satu, karena jendela lupa kututup. racun paling buas dari mulut yang paling busuk, matang yang terlalu. mencintaimu adalah neraka, anyir darah sobekan luka, karena surga ternyata omong kosong…

keparat, aku mencintaimu… mencintaimu… mencintaimu!!!
dan kau akan menolakku, seperti tanah yang menolak tetes hujan siang tadi, yang akan diserapnya nanti. nanti…

Jatinangor, 26 januari 2002


Surat Untuk E

Aku hanyalah seorang lelaki yang cemburu. Bayangkan, aku--yang bagimu mungkin bukan apa-apa-- cemburu. Aku cemburu bila kau bicara padanya. Aku cemburu bila kau mengkritiknya. Aku bahkan cemburu bila kau memandangnya, BAYANGKAN! Betapa lancangnya aku untuk cemburu padanya.

Entah apakah kau lihat atau tidak, tapi aku mulai merasakan sikutnya di rusukku, dan kurasa, akupun mulai menyiapkan sikutku untuk didaratkan di rusuknya. Kata-kata kami adalah pisau yang saling menyayat. Dan luka-luka yang disajikan adalah mawar-mawar yang menghantar diatas setapakmu.


Entahlah

Aku sudah pernah mencinta. Dan maafkan, kalau aku tak mengumandangkan kata-kata seperti di novel-novel romantis. Maafkan kalau aku tak akan pernah berkata padamu; "Aku tak pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya, engkau berbeda," atau semacamnya. Karena bagiku, itu terlalu muluk, terlalu cengeng, terlalu gombal. Dan tentu saja, karena bagiku itu tak benar; setiap kisah cintaku tak pernah serupa, tak pernah tak istimewa, bukan karena kau tak berbeda dan tak istimewa bagiku.

Maafkan pula bila aku tak sanggup mengucapkan, "kau adalah cinta terakhirku." Aku sudah pernah mengucapkannya pada wanita lain, di kurun hidup yang lain, dan aku mengingkarinya. (dan bagaimana pula aku bisa mengatakannya bila aku tak tahu apakah kau mencintaiku atau tidak?).

Yang bisa dan sanggup aku katakan padamu saat ini mungkin terlalu sepele untuk kutawarkan padamu; tak pernah lewat watu malam pun --dalam beberapa waktu terakhir ini-- aku terlelap tanpa sebelumnya mereka-reka rencana untuk bertemu lagi denganmu. walau sekejap saja, walau sekedipan mata, sejabatan tangan. Dan bila kau mencintaiku saat ini, aku akan menghabiskan masa bersamamu berusaha membuatmu tersenyum.

27 Januari 2002

pada noda merah
jaket-jaket bernoda darah
hati-hati yang marah
kau masih mengatakan jika kita
malaikat-malaikat kecil penggerutu
yang bermimpi revolusi pada suatu pagi
siapa yg dihinggapi
bunga yang sedang merekah kah
seutas helainya jatuh
ditelan bumi

menikam
lalu menerjang
dirimukah?

26 Januari 2002

di antara kerlipan mata dan lidah, udara pun terasa indah
juga bintang pagi yang sendiri