hari lalu aku menjejak bumi
aku bersandar tanah kini
terlihat kaki kaki
berlalu ke sana dan kemari
semua bergegas
langkah lebar menebar
buru buru
peluru ....
sepasang kaki bersandal merah
diam saja ditengah
lambat pelepas alas
tak perduli jalan panas
sekelebat tetap terlihat
diantara langkah-langkah tak lambat
datanglah hujan lebat
tapi kaki tetap di tempat
dia mendekat
kamu sedang apa sobat ?
Aku sedang istirahat
berdiam diantara waktu yang jahat.
30 November 2001
surat untuk seorang kawan
apa kabarmu kawan? hari-harimu baikkah atau burukkah? sesungguhnya mereka nyaris sama, terkadang
aku menyadari itu, terkadang lagi aku lupa dan terlarut. saat ini aku hanya ingin membiarkan
jariku menari-nari membuat beberapa catatan. entah penting entah lenting aku tak tahu, aku hanya
ingin menulis sesuatu. untuk kau mengerti ataupun tidak.
aku sudah menjejakkan lagi tanah ini. pulau jawa kata mereka tapi bagiku tanah itu sama, tak bernama
dan tak berasal. bukankah kita juga dari tanah ini. tanah yang berwarna merah ini, begitu pekat begitu
lekat seperti bau darah. darah kita dan juga darah-darah mereka. semuanya merah. aku tak ingat sejak
kapan aku menjadi begitu menyukai warna merah...
aku rindu bunyi angin semilir yang mencumbu daun-daun pepohonan begitu rupa. ini sore hari, aku terbang
dengan burung-burung. kotaku ini tidak banyak berubah kawan, seruku dari secercah secerah potongan langit
sore ini. mungkin kau bertanya-tanya kemana diriku menghilang walau hanya baru seminggu-dua minggu. aku
sedang lepas kawan, entah melepas, dilepas atau terlepaskan. yang kutahu hanya aku lepas. tubuhku sejenak
ringan, walau kepalaku tiba-tiba menjadi berat.
beberapa hari terakhir badanku tak enak. terbatuk-batuk tanggung. kering. namun terkadang tenggorakanku
mengeluarkan cairan-cairan hijau. lengket dan tak berbau. seperti nanah setengah matang. mungkin aku sakit,
mungkin saja aku tahu kepalaku memang sakit. badanku kadang-kadang aku merasa tak begitu mengenalnya.
badanku sebenarnya seperti haus. lidahku seperti ingin menari-nari di antara mulut-mulut dan kerongkongan,
inikah birahi? tidak desahku, ini perayaan. lihat saja bekas-bekas pagutan itu yang sudah kutinggalkan. sejenak
aku melihat kedepan, ketika aku menoleh tak ada pagutan yang kulihat hanya luka. luka yang kubuat, yang akan dan
yang sudah. inikah goresan? tidak belaiku, ini percintaan. memang aku tidak lajang, tetapi jalang. itu jawabku
di setiap akhir persetubuhan.
kawan, aku masih ingin hilang...
apa kabarmu kawan? hari-harimu baikkah atau burukkah? sesungguhnya mereka nyaris sama, terkadang
aku menyadari itu, terkadang lagi aku lupa dan terlarut. saat ini aku hanya ingin membiarkan
jariku menari-nari membuat beberapa catatan. entah penting entah lenting aku tak tahu, aku hanya
ingin menulis sesuatu. untuk kau mengerti ataupun tidak.
aku sudah menjejakkan lagi tanah ini. pulau jawa kata mereka tapi bagiku tanah itu sama, tak bernama
dan tak berasal. bukankah kita juga dari tanah ini. tanah yang berwarna merah ini, begitu pekat begitu
lekat seperti bau darah. darah kita dan juga darah-darah mereka. semuanya merah. aku tak ingat sejak
kapan aku menjadi begitu menyukai warna merah...
aku rindu bunyi angin semilir yang mencumbu daun-daun pepohonan begitu rupa. ini sore hari, aku terbang
dengan burung-burung. kotaku ini tidak banyak berubah kawan, seruku dari secercah secerah potongan langit
sore ini. mungkin kau bertanya-tanya kemana diriku menghilang walau hanya baru seminggu-dua minggu. aku
sedang lepas kawan, entah melepas, dilepas atau terlepaskan. yang kutahu hanya aku lepas. tubuhku sejenak
ringan, walau kepalaku tiba-tiba menjadi berat.
beberapa hari terakhir badanku tak enak. terbatuk-batuk tanggung. kering. namun terkadang tenggorakanku
mengeluarkan cairan-cairan hijau. lengket dan tak berbau. seperti nanah setengah matang. mungkin aku sakit,
mungkin saja aku tahu kepalaku memang sakit. badanku kadang-kadang aku merasa tak begitu mengenalnya.
badanku sebenarnya seperti haus. lidahku seperti ingin menari-nari di antara mulut-mulut dan kerongkongan,
inikah birahi? tidak desahku, ini perayaan. lihat saja bekas-bekas pagutan itu yang sudah kutinggalkan. sejenak
aku melihat kedepan, ketika aku menoleh tak ada pagutan yang kulihat hanya luka. luka yang kubuat, yang akan dan
yang sudah. inikah goresan? tidak belaiku, ini percintaan. memang aku tidak lajang, tetapi jalang. itu jawabku
di setiap akhir persetubuhan.
kawan, aku masih ingin hilang...
29 November 2001
28 November 2001
27 November 2001
25 November 2001
Langganan:
Postingan (Atom)