LALU AKU TAK JADI PAMIT MATI
aku dan dirimu tenggelam dalam asa
dan tak ingin lari
tanggalkan rasa ini
cobalah entaskan
pastikan lepas atau terus
semoga perih terbang tinggi di awan
(Dewa19 - Aku Disini Untukmu)
Suara seruling yang seperti malam kemarin terdengar lagi. Kali ini terbawa besertanya, aroma hujan dari kejauhan yang lalu mengumpul di langit-langit kamarku, tetap menghilang sumbernya ketika aku mencari-cari dimana, dan muncul kembali setiap aku berhenti mencari. Padahal hujan sendiri pun belum muncul untuk bertegur sapa melalui tetes-tetesnya di halaman depan, maupun pada genting bocormu. Dan aku merinding, telapak kakiku membasah, rasanya badai tercipta di dalam sini dan membanjiri karpet.
Mengapa yang kutunggu tidak muncul lagi?
Sinar matahari pamit mati sebelum sempat membakar genangan di ruangan ini menjadi mengering pudar. Aku takut, karena tidak pernah bisa berenang di tempat dalam, takut nanti tenggelam, terkubur di dalam tanah dan tak bisa berada disini lagi bahkan untuk melihatmu menjauh. Namun dirimu belum pernah kembali lagi.
Kicau burung juga pamit mati sebelum sempat kuiringi dengan kerjap-kerjap mataku yang silau kelilipan sinar dari langit, yang menembus jendela sewaktu aku bangun pagi. Dapat kulihat debu terseret-seret berputar pada udara dan cahaya yang membuatnya ke-emasan. Dan dirimu masih juga belum kembali.
Kemana semua yang pamit pergi dan berjanji akan kembali? Mengapa tak hadir lagi kau datang, mengetuk pintu kamar atau apa saja yang berada di dekatku, sebagai tanda bahwa kau ada. Dan kau memang masih ada. Walau kau tak kunjung ingin kembali.
"Ya ya aku disini, tak kemana" katamu lalu, di hari ketika langkahmu terdengar lagi dari kejauhan, membawa serta duniamu yang selalu meninggalkan jejak-jejak di dalam sini. Seperti juga bau tubuhmu sayang. Dan senyumku mengembang lalu tidak jadi pamit mati. Aku berlari menyambutmu dengan telapak tangan terbuka menghadap ke atas seakan meminta sesuatu, lalu air mulai menetes, dan menggenang kembali: berwujud dirimu.
Kugenggam yang hanya bisa kurasakan hadirnya tapi tidak dapat tetap disana. Telapak tanganku tak mampu menahan kubangan air yang makin meriak dan tumpahannya meluber kemana-mana, maka kubiarkan saja membasah. Kuberikan wajahku padanya, dan kusatukan yang hangat dengan yang gigil, yang lambat laun pun mengering sejuk, menjadi udara tak hampa yang aku akan hirup dan membuatku tetap hidup, lalu aku tak jadi pamit mati.
Lalu aku mengerti, bahwa kau bahkan tidak pernah pergi dari sini. Dari dalamku. Kau terus disana dan menetap. Menghuni ruangan di pojok sendiri pada apa yang kau sebut hati. Dan kurasakan darahku tetap mengalir tak berhenti, sesampainya kau di depan pintu kamarku, maupun seperginya kau dari sana. Kini kau lebur seperti tiap udara yang kuhirup, menyelusup bebas bagai air yang tak pernah bisa tertangkap genggaman tanganku.
Ah hei, sore ini memang akhirnya hujan tak lagi mengkhianati kehidupan pada tanah Tuhan. Sudah kuterima pesan kedatangannya dalam telapak tanganku yang meminta tadi. Kukatakan yang ini: datanglah lagi bersama warna kelabu yang sama, biar kali ini kulingkarkan tanganku pada lehermu, dan kucium bibir itu hingga bersatu setiap yang memiliki jeda dan ruang kosong di antara. Lalu kehendak-kehendak dimatirasakan. Pada doaku, pada minta-mintaku yang terlempar-lempar memantul ke seluruh penjuru ruangan yang tidak memar juga tubuh-tubuh kata dibuatnya. Hanya roh-mu akan terus meludah tak sudah, muntah darah menahan ingin. Inginku.
Aku ingin mendengar huruf A sampai Z mengatakannya lagi. Bahwa kita sakit karena menyimpan cinta dan asa sekaligus. Bahwa kita sakit karena kita masih saja dua orang berbeda, yang bertukar rindu dengan punggung saling memunggungi yang lain. Bahwa kita sakit karena masih saja berjalan saling menjauhi dengan jari-jemari masih menggenggam terkait, ingin terus selalu bersentuhan bertukar bau tubuh, dan galau memikirkan bahwa kita diharuskan melenyapkan satu sama lain. Bahwa kita sakit karena masih saja menjadi yang utara dan selatan, dan tidak pernah jadi pamit mati. Yang selalu tak bisa aku abaikan: berwujud dirimu.
Mungkin hanya aku yang sakit, dan kamu akan selalu baik-baik saja sayang, seperti lirik-lirik lagu yang kau susun pada pendengaranmu. Lalu dimana pantasnya kata adil hadir disini? Ketika kamu bahkan tak pernah benar-benar pergi, dan aku...tak pernah benar-benar melepasmu?
Nah. Sampai nanti kalau begitu.
Jangan lupa untuk kembali.
...sederhana.
Itu hanya karena aku menunggumu.
Dan aku, juga kamu, tidak akan pernah pamit mati.
15 Februari 2005
14 Februari 2005
Sudah hancur gubuk milik kita dibibir pantai itu
tergulung ombak,tersapu bersih
hanya tinggal buih buih dan puing puing
Sudah tak ada lagi impian tentang
menikmati secangkir kopi diteras gubuk kita
sambil bercengkrama dan bercerita
tentang bintang bintang yang akan kita petik
untuk malaikat malaikat kita
Sudah tak terdengar lagi nyanyian camar dipagi hari
menyambut datangnya rutinitas hidup kita
Sunyi!
Sendiri!
Aku tak mampu lagi teriak
airmatapun tlah kering
semenjak badai mimpi buruk menghantam gubuk impian kita
yang tersisa hanya isak.sesak.sakit.luka.trauma.
tanpa airmata.
Aku hampir tak mampu bertahan seorang diri
disekelilingku hanyalah kesunyian
hingga jemari mungil malaikat malaikat mimpi
menyentuh lembut pipiku
Ya! aku masih bisa bertahan
aku masih bisa kembali merajut impian
impaianku untuk malaikat malaikat kecilku
karna aku tau...
aku tak sendiri....
Januari 05
tergulung ombak,tersapu bersih
hanya tinggal buih buih dan puing puing
Sudah tak ada lagi impian tentang
menikmati secangkir kopi diteras gubuk kita
sambil bercengkrama dan bercerita
tentang bintang bintang yang akan kita petik
untuk malaikat malaikat kita
Sudah tak terdengar lagi nyanyian camar dipagi hari
menyambut datangnya rutinitas hidup kita
Sunyi!
Sendiri!
Aku tak mampu lagi teriak
airmatapun tlah kering
semenjak badai mimpi buruk menghantam gubuk impian kita
yang tersisa hanya isak.sesak.sakit.luka.trauma.
tanpa airmata.
Aku hampir tak mampu bertahan seorang diri
disekelilingku hanyalah kesunyian
hingga jemari mungil malaikat malaikat mimpi
menyentuh lembut pipiku
Ya! aku masih bisa bertahan
aku masih bisa kembali merajut impian
impaianku untuk malaikat malaikat kecilku
karna aku tau...
aku tak sendiri....
Januari 05
12 Februari 2005
09 Februari 2005
baju merah, celana merah, bakiak merah,
searak imlek penuh nuansa merah,
semanis buah delima dewa,
berdarah tetapi diisi dengan tawa,
berduka tetapi disambut dengan bahagia...
kue, kerupuk, kuaci, permen, asinan, manisan,
masih menjadi pokok acara bertandang
dan amplop merah,
masih tetaplah rebutan setiap anak-anak,
bahkan orang dewasa sekalipun.
maka tidaklah salah dijadikan akbar
peristiwa sekali didalam setahun.....
selamat hari imlek 2556,
GONG XIE FAT CHOI.
searak imlek penuh nuansa merah,
semanis buah delima dewa,
berdarah tetapi diisi dengan tawa,
berduka tetapi disambut dengan bahagia...
kue, kerupuk, kuaci, permen, asinan, manisan,
masih menjadi pokok acara bertandang
dan amplop merah,
masih tetaplah rebutan setiap anak-anak,
bahkan orang dewasa sekalipun.
maka tidaklah salah dijadikan akbar
peristiwa sekali didalam setahun.....
selamat hari imlek 2556,
GONG XIE FAT CHOI.
07 Februari 2005
walah... kata mobil sedan itu
aku tak pantas duduk diatas joknya,
busyet... memang dia kira dia itu siapa?
cuman seekor ayam betina saja lagaknya tak karuan,
bah-bah-bah...
dasar antek-antek pengincar tua bangka...
kau kira tanah airmu adalah las vegas?
tubuhmu hanya seharga lima cent,
ohhh... malangnya bidadariku...
mengapa kau melorotkan busana berharga dirimu?
lihatlah... kini engkau malu,
kau menutupi wajahmu dengan wajan
diatas tikar tanpa sehelai bulu pun
yang membungkus ragamu dari sorotan kamera obskura...
aku tak pantas duduk diatas joknya,
busyet... memang dia kira dia itu siapa?
cuman seekor ayam betina saja lagaknya tak karuan,
bah-bah-bah...
dasar antek-antek pengincar tua bangka...
kau kira tanah airmu adalah las vegas?
tubuhmu hanya seharga lima cent,
ohhh... malangnya bidadariku...
mengapa kau melorotkan busana berharga dirimu?
lihatlah... kini engkau malu,
kau menutupi wajahmu dengan wajan
diatas tikar tanpa sehelai bulu pun
yang membungkus ragamu dari sorotan kamera obskura...
03 Februari 2005
JEDA
nafas tersengalku memiliki jeda pada hadirnya
membatasi tatapan terpanaku ketika bersikukuh menyentuhmu
sendirian dalam tiada
lalu jedaku terpelanting tak kuasa
menemukan banyak hal yang tak biasa pada bayangan kabur
dimana sebab-sebab tidak lagi memiliki karena
seperti nadi tanpa darah dan rongga tanpa biji mata
alasan mulai menyuram
kunyanyikan separuh degup jantungku untukmu: boku no angel
setelah apa yang terbaca sewaktu bibirku berkata-kata pada lidahmu
menjadi catatanku pada kertas-kertas tak bertubuh
membirahikan badan telanjangku pada udara yang kau hirup
hingga berjeda pada kalimat-kalimat tanyamu: boku no angel
i'll sing for you
and I love you so
the people ask me how
how I’ve lived till now
I tell them, "I don’t know"
(Don McLean: And I Love You So)
nafas tersengalku memiliki jeda pada hadirnya
membatasi tatapan terpanaku ketika bersikukuh menyentuhmu
sendirian dalam tiada
lalu jedaku terpelanting tak kuasa
menemukan banyak hal yang tak biasa pada bayangan kabur
dimana sebab-sebab tidak lagi memiliki karena
seperti nadi tanpa darah dan rongga tanpa biji mata
alasan mulai menyuram
kunyanyikan separuh degup jantungku untukmu: boku no angel
setelah apa yang terbaca sewaktu bibirku berkata-kata pada lidahmu
menjadi catatanku pada kertas-kertas tak bertubuh
membirahikan badan telanjangku pada udara yang kau hirup
hingga berjeda pada kalimat-kalimat tanyamu: boku no angel
i'll sing for you
and I love you so
the people ask me how
how I’ve lived till now
I tell them, "I don’t know"
(Don McLean: And I Love You So)
27 Januari 2005
kupersembahkan padamu tiga batang dupa
dan dua lilin putih yang telah meleleh
sebagai ungkapan terdalam rasa turut duka citaku
atas kepergianmu bersama gelombang badai tsunami.
hari ini adalah hari imlek,
tetapi tak ada tarian barongsai disekitar jalanan lagi,
tiada kata "GONG XIE FAT CHOI" lagi...
karena keharuman aroma cendana telah memudar
digapura kesedihanku yang berair mata diatas layar pusaramu,
dan kini... berubah menjadi bau amis tanah merah
meratapi tempatmu tujuh hari disemayamkan.
mereka sedang berpesta pora dengan meriahnya disana,
sedangkan aku disini menunggu kepulangan arwahmu
dimana hari ke empat puluh sembilan tragedi tsunami
yang bertepatan jatuh pada hari imlek tahun ini...
dan dua lilin putih yang telah meleleh
sebagai ungkapan terdalam rasa turut duka citaku
atas kepergianmu bersama gelombang badai tsunami.
hari ini adalah hari imlek,
tetapi tak ada tarian barongsai disekitar jalanan lagi,
tiada kata "GONG XIE FAT CHOI" lagi...
karena keharuman aroma cendana telah memudar
digapura kesedihanku yang berair mata diatas layar pusaramu,
dan kini... berubah menjadi bau amis tanah merah
meratapi tempatmu tujuh hari disemayamkan.
mereka sedang berpesta pora dengan meriahnya disana,
sedangkan aku disini menunggu kepulangan arwahmu
dimana hari ke empat puluh sembilan tragedi tsunami
yang bertepatan jatuh pada hari imlek tahun ini...
24 Januari 2005
23 Januari 2005
kesombongan
hembusan angin yang merinding kuduk
telah membawa serta laras bersenapan luka
diantara desau murung pepohonan yang memancung raga
dan tulang kering dedaunan yang menyunting silam
akan kedatangan sebuah ilusi kematian...
pria itu telah melafalkan sesajak nafasnya,
yang terengah-engah membisu didalam bisiknya
hingga keringatnya pun membintik debu-debu diantara embun,
bersama sebatang puntung rokok yang mengabu
diantara asbak kekosongan...
selanjutnya,
penantian angkuh yang tak pernah kunjung tiba
tertebar disepanjang pelabuhan angkara
dengan mempertahankan sesudut kekerasan jiwa
yang masih saja penuh dengan ungkapan kesombongan...
hembusan angin yang merinding kuduk
telah membawa serta laras bersenapan luka
diantara desau murung pepohonan yang memancung raga
dan tulang kering dedaunan yang menyunting silam
akan kedatangan sebuah ilusi kematian...
pria itu telah melafalkan sesajak nafasnya,
yang terengah-engah membisu didalam bisiknya
hingga keringatnya pun membintik debu-debu diantara embun,
bersama sebatang puntung rokok yang mengabu
diantara asbak kekosongan...
selanjutnya,
penantian angkuh yang tak pernah kunjung tiba
tertebar disepanjang pelabuhan angkara
dengan mempertahankan sesudut kekerasan jiwa
yang masih saja penuh dengan ungkapan kesombongan...
08 Januari 2005
ternyata suara pukulan kentongan sekalipun
masih belum berkuasa menemukan jasadmu...
sedangkan disana lonceng kencana masih terus berdentang,
dan menjuntaikan sepasang tirai putih
disepanjang kota tempat bau anyirmu menyebar...
'By'...kemana lagi mustinya langkah kakiku menginjak?
kepada siapa lagi hatiku menggugat
kembalinya arwah beserta tubuhmu?
lihatlah...
kini tubuhku menangis terlentang diantara tubuhmu
yang dijejerkan diantara tubuh mereka,
engkau telah berpulang, meninggalkan ribuan kasta
yang masih menjadi pelayat dibundaran dunia kita,
kini sudah membekuk seluruh roh perana kematian
bersabda diatas ringkikan kuda dan embikan domba,
lengkingan suara tangis yang keriut
menggaung ditengah balai-balai kehancuran...
'By'...
apakah kini engkau sedang duduk bersila dipekarangan taman firdaus?
sebab pesanmu tergurat dibatu-batu berlumur darahmu.
doaku, berbahagialah engkau disana...
setelah jeram tsunami menjerangmu,
mengarungimu, menggugah arah tujuan hidupmu
untuk segera menjelang eden!!!
masih belum berkuasa menemukan jasadmu...
sedangkan disana lonceng kencana masih terus berdentang,
dan menjuntaikan sepasang tirai putih
disepanjang kota tempat bau anyirmu menyebar...
'By'...kemana lagi mustinya langkah kakiku menginjak?
kepada siapa lagi hatiku menggugat
kembalinya arwah beserta tubuhmu?
lihatlah...
kini tubuhku menangis terlentang diantara tubuhmu
yang dijejerkan diantara tubuh mereka,
engkau telah berpulang, meninggalkan ribuan kasta
yang masih menjadi pelayat dibundaran dunia kita,
kini sudah membekuk seluruh roh perana kematian
bersabda diatas ringkikan kuda dan embikan domba,
lengkingan suara tangis yang keriut
menggaung ditengah balai-balai kehancuran...
'By'...
apakah kini engkau sedang duduk bersila dipekarangan taman firdaus?
sebab pesanmu tergurat dibatu-batu berlumur darahmu.
doaku, berbahagialah engkau disana...
setelah jeram tsunami menjerangmu,
mengarungimu, menggugah arah tujuan hidupmu
untuk segera menjelang eden!!!
Langganan:
Postingan (Atom)