30 Desember 2004

kita makin renta...
sementara aku ingin jadi highlander
"i am immortal..."

mau tidak mau tapi renta

29 Desember 2004

kadang-kadang telepon itu memang tidak berbunyi sama sekali
sementara aku terus menerus menekan urutan tombol tombol yang kukenal
nihil
tak ada jawaban
yang kudapat hanya sunyi yang sunyi

kali lain yang kudengar hanya nada panggil
sementara sudah lelah jemari
mungkin cukup aku kirim sms sms kecil



aku katakan akan kuberi
kan kuberikan tanpa pamrih
tapi kok kusimpan juga semua bukti
bukti aku pernah memberi
buat kujadikan pengurang pajakku nanti

28 Desember 2004

:untuk kawan-kawan di yogyakarta khususnya

PENGGALANGAN BANTUAN KEMANUSIAAN UNTUK ACEH

Bantuan dapat disalurkan ke:
Posko Bencana Alam Aceh
BOULEVARD UGM
Yogyakarta

Semua bentuk sumbangan dan dana yang terkumpul saat ini dan sampai waktu yang tidak dapat ditentukan sesegera mungkin akan dikirimkan ke Aceh. Barang berupa: makanan (jika bisa kering dan siap makan seperti biskuit atau indomie), air minum, baju layak pakai, obat-obatan, kain kafan, sarung tangan, kantong mayat, AMAT DIBUTUHKAN!

KOMITE KEMANUSIAAN UNTUK ACEH
Kontak: 081328200798 (Fauzan)
No. Rekening: 1 - 027 - 411001, BII Cabang Sudirman - Yogyakarta, a/n: T. Fauzansyah

27 Desember 2004

Turut Prihatin dan Berduka Cita sedalam-dalamnya
atas Kerugian dan jatuhnya korban jiwa dalam bencana gempa dan tsunami yang melanda daerah Aceh dan Sumut.

Semoga negeri ini tabah dan kuat menghadapi cobaan dan bangkit dari keterpurukan.

21 Desember 2004

Tubuh ini berada di dalam satu bilik dengannya. Dan bilik itu adalah keretanya. Dan aku terlihat akan kita saling berkucupan. Lembut. Takut.

Tapi kamu sedang memandu. Dan kita tidak berkucupan.

Kerana satu saat saja akan memusnahkan. Segalanya.

20 Desember 2004

sepi 01

Sepi menyapa lagi. Sepi sedar lagi. Bila kan sepi itu rebah, supaya dapat saja mesra terus menerus menyelubungi kita? Supaya cinta itu dapat saja terus menerus menari dalam girang hari? Hati mau saja meletup, hampir bosan dgn getar kecewa. hmm.. Lalikah aku kini? Mungkin hati semakin hampir dalam jayanya - bisiknya, kau kurang dalam sayangmu terhadap aku.

Perjuangan sabarku kian lemah. Titik-titik air panas masih senang jatuh tapinya.

Jangan sehingga tawar cintaku. jangan sampai air menitik saja dari mata saat otakku menghentam cerita tentang betapa satunya kita. Jangan.. kerana sayangku terlampau hebat.

Rugi andai kau sia-siakan.

17 Desember 2004

Semalam sepasang telinga mendengarkan angin meniupkan suara fitnahnya. Hembusannya membuat roda api didalam kepala terus berputar, kian mengencang dan tak ada satu pun yang mampu memadamkannya. "Itu sama sekali tak benar..." Kata sepasang bola mata yang melihat perselingkuhan malam dengan hujan. Ditengah-tengahnya ada seekor gagak yang sedang berkoak keras. Gagak itu ingin menyampaikan naasnya dikarena ada sayatan luka didada kirinya.

Malam itu, pemberontakan terjadi dibalik kesendirian dalam kamar. Halilintar terus memaki dan menampar lewat kilatan petirnya, diwajah balkon. Ada air yang membanjir diseluruh gang, ada juga air yang menggenang di seisi rumah hingga ke setiap dinding berserta sudutnya. Air itu adalah air mata yang tak tertahankan, hingga jatuh tertumpah dari mangkuk liat yang telah penuh tertiris, olehnya, olehmu, oleh mereka, oleh dunia dan oleh semesta.

Namun mengapa juga hujan masih enggan untuk reda? Sedangkan air yang dikencingnya telah membendung, hampir seluruh isi kota. Dan dia, sedang menari panas didalam dunia gemerlapnya. Aku juga tahu, kalau disana ada tubuh lain yang berada didalam dekapan tubuhnya, dan dia memeluknya dengan erat sembari berdansa, tak pernah menghiraukan apa pun yang terjadi. Lantas... Apakah tubuh ini telah dianggap kotoran sampah yang telah berbau busuk olehnya?

Terlalu keji, bila didalam terik bulu dadamu selalu saja berusaha mencari kepuasan perutmu semata. Siapa yang menjadi engkau jadikan kurban hanya karena ingin memenuhi kepuasan birahi bejatmu? Jikalau bukan akulah satu-satunya pelampiasan keinginan biadabmu. Ingin sekali aku mencari kembara hidupku. Agar malam pun tak pernah lagi menghujankan air matanya, dikarena gunturmu. Yang telah menghanguskan setiap jamak yang tertera di prasasti hatiku.

dimana sangrilla itu?
mereka mencarinya dipegunungan tibet
akan tetapi apa yang mereka temukan?
hanya kekosongan dibalik penderitaan kesunyian,
dan sangrilla tak pernah ada.

kemudian mereka pun menerawang langit sepanjang malam,
yang ada hanyalah bulan yang tinggal separuh
dan sisanya termakan oleh awan merah dibalik kegelapan,
bintang-gemintang pun terhapus
semua terusir malam mendung.

terus lihat...
mereka pun coba membuat mesin waktu dengan tembikar,
mimpi apa lagi mereka semua?
karena sangrilla tak pernah ada sama sekali!

15 Desember 2004

Suatu saat sayapku melepuh terbakar panas
dan hanya terbang iring angin kemana saja membawa
saat sore memuram rantinglah sandaran
bintanglah hiasan anginlah laguan
hari-hari bergegas tanpa toleh berlambat
kewajiban semesta dalam langkahnya sendiri
kulirik dadaku yang semakin berlubang semakin dalam
dan menghita mmalam adalah diriku lelah menjadi pagi
kubiarkan bumi menarik tubuh tanpa kembangan sayap
menyusuri kerendahan dekati abu tanah
saat itulah engkau datang tangan rikih
menangkap tubuh air mata
menolak runtuh
"bukan seperti ini bertolak sauh"

Kau membawaku ke kaki pelangi
mengintip air dan matahari bersetubuh
sejak itu
kau dan aku tidak ada
kita setubuh.

12 Desember 2004

dikegelapanku
ada lumut yang tergenang diatas air keruh,
capung-capung yang terbaring kehilangan sayap,
hari ke hari hanyalah malam buta...
kosong!

inikah arti kehidupan?
yang t'lah engkau bawakan didalam hidupku
hingga malam ini aku pun masih menunggu datangnya pagi
yang tak pernah kunjung tiba dari dulu...

ratusan rangkak,
ribuan derap langkah,
jutaan sungkur,
kini masih belum berakhir...
hadiahmu: "musibah berserta malapetaka
"hari ke hari kian merapuh raga
dan perlahan-lahan melemahkan sepasang tuas kaki..."
sampai kapan ini?"