dialmonolog
*: belum
*: lagi ngetik ajah.. ga ganggu
*: ngetik buat blog ajah. hasil buah pikiran=) tadi jenguk sodara
*: belum.. stuck idenya hehe
*: ho oh neh. kalau lg d niatin mau nulis ga keluar deh ide. tapi kalau lg ga ada angin, jari ga mao berenti
*: iya seh.. belum bobo
*: udah ga. mamped. pengen nulis tentang nikah muda. hahaha
*: gyahaha. bukan. aku ga pernah mimpi untuk nikah muda. yang ingin aku kupas adalah kematangan mental orang-orang yang menikah di saat usia relatif muda. banyak yang salah jalur
*: nah bukan itu yang aku permasalahkan. klau orang tua sudah bisa bicara bagaimana cara yang terbaik untuk membesarkan anak berarti dia sudah punya kesadaran dan kuat mental dan finansial. yang aku mau kupas adalah mereka yang terlalu muda dan belum siap mental dan finansial sama sekali untuk mempunyai anak tapi nekad untuk nikah dan beranak.
*: nah kita sudah bicara terlalu jauh. gubug dan tikar tak apa kalau kita mau kerja keras. tadi aku bilang aku bicara tentang menikah muda bagi mereka yang belum siap apa-apa. yaitu mereka yang menikah tapi tidak mengerti kewajiban sebagai orang tua, mereka yang menikah ahanya karena INGIN menikah, bukan karena sudah SIAP. itu beda lo
*: lingkungan dan budaya. kalau memang mau open ya open, jangan setengah-setengah. kalau memang berani berhubungan bebas ya tanggung jawab, atau setidaknya tahu trik untuk mencegah. buat apa kondom atau alat-alat yang lainnya di ciptakan kalau mereka yang mau bebas terlalu malas untuk mencegah. dan nantinya malas untuk bertanggung jawab.
*: btw. kenapa jadi serius begini seh?.. hehehe
*: yah itu kita bicara bagi mereka yang mau bebas. kalau bagi mereka yang ga mau, yah simple aja tunggu ampe waktu menikah dan bisa mempertanggung jawabkan. ganti topik, terlalu serius untuk jam segini.=P
06 April 2004
Eksibisionis!
: sebuah catatan kecil BuRuLi
Jangan menjadi eksibisionis! Teriak ibumu, bapakmu, kakak dan adikmu bahkan tetanggamu. Eksibisionis yang mengumbar ceria di depan orang -orang yang sedang lupa apa itu bahagia. Nanti kau dikutuki. Di sumpah-serapahi. Rasakan! Kalau kau besok tak merasakan bahagia lagi!
Idih! Kenapa, sih?
Seperti kita yang meski saatnya sedang tidak puasa hampir selalu tak bisa makan dengan tenang disaat bulan puasa. Wah. Sebenarnya kita kan tidak lantas menunjuk-nunjukkan. Kadang kita sudah duduk manis di wilayah meja makan. Memang tempatnya. Masih salah juga?
Kalau kau sedang jatuh cinta, lalu matamu berpendar ceria indah seperti bintang yang menggantung di atap surga, apa itu salah?
Kenapa jadi salah?
Dimana salahnya?
Kita tak sedang memamerkan baju baru di depan orang-orang yang tak sanggup punya baju!
Seorang kanak-kanak baru saja menyelesaikan gambar ikan mas kokinya. Warna-warni. Sangat ceria. Jangan kau bayangkan sebagai sebuah gambar sempurna sebagaimana guratan seorang dewasa. Ia hanya mengguratkan warna, kemudian meneriakkan judul “gambarnya” :
“INI GAMBAR IKAN MAS KOKI SAYA!”
Seandainya kau tak punya keberanian sebesar dia untuk memamerkan sebuah karya, maka diamlah dan duduklah manis tanpa mengganggu kebahagiaanya. Ia cuma kanak-kanak, yang selalu mudah untuk menjadi riang dengan sendirinya.
Kenapa kita tak mulai belajar turut berbahagia atas kebahagiaan orang-orang di sekitar kita? Memberi mereka doa agar kebahagiaan itu selalu ada dan semoga menular pula ke sekelilingnya.
Membayar tawa dengan tawa, pelukan dengan pelukan, tangan-tangan yang selalu bergandengan. Selamat! Selamat atas kebahagiaanmu. Maukah kau turut berdoa buatku? Agar aku bisa seberuntung kamu?
Manis sekali!
(BuRuLi, LeBul: 06.04.2004)
: sebuah catatan kecil BuRuLi
Jangan menjadi eksibisionis! Teriak ibumu, bapakmu, kakak dan adikmu bahkan tetanggamu. Eksibisionis yang mengumbar ceria di depan orang -orang yang sedang lupa apa itu bahagia. Nanti kau dikutuki. Di sumpah-serapahi. Rasakan! Kalau kau besok tak merasakan bahagia lagi!
Idih! Kenapa, sih?
Seperti kita yang meski saatnya sedang tidak puasa hampir selalu tak bisa makan dengan tenang disaat bulan puasa. Wah. Sebenarnya kita kan tidak lantas menunjuk-nunjukkan. Kadang kita sudah duduk manis di wilayah meja makan. Memang tempatnya. Masih salah juga?
Kalau kau sedang jatuh cinta, lalu matamu berpendar ceria indah seperti bintang yang menggantung di atap surga, apa itu salah?
Kenapa jadi salah?
Dimana salahnya?
Kita tak sedang memamerkan baju baru di depan orang-orang yang tak sanggup punya baju!
Seorang kanak-kanak baru saja menyelesaikan gambar ikan mas kokinya. Warna-warni. Sangat ceria. Jangan kau bayangkan sebagai sebuah gambar sempurna sebagaimana guratan seorang dewasa. Ia hanya mengguratkan warna, kemudian meneriakkan judul “gambarnya” :
“INI GAMBAR IKAN MAS KOKI SAYA!”
Seandainya kau tak punya keberanian sebesar dia untuk memamerkan sebuah karya, maka diamlah dan duduklah manis tanpa mengganggu kebahagiaanya. Ia cuma kanak-kanak, yang selalu mudah untuk menjadi riang dengan sendirinya.
Kenapa kita tak mulai belajar turut berbahagia atas kebahagiaan orang-orang di sekitar kita? Memberi mereka doa agar kebahagiaan itu selalu ada dan semoga menular pula ke sekelilingnya.
Membayar tawa dengan tawa, pelukan dengan pelukan, tangan-tangan yang selalu bergandengan. Selamat! Selamat atas kebahagiaanmu. Maukah kau turut berdoa buatku? Agar aku bisa seberuntung kamu?
Manis sekali!
(BuRuLi, LeBul: 06.04.2004)
05 April 2004
03 April 2004
ternyata ada resep kematian ramuan penghuni kuburan
dilantai berkeset baja yang penuh darah beku
dan sepotong daging busuk yang telah berulat
dikerat-kerat beberapa ekor serigala hutan,
mereka bersulang dengan beberapa gelas arak
sembari merokok mereka melakukan ritual penyambutan
kedatangan pecundang kiamat yang telah mulai terlihat,
dialah dewa ajal beristrikan malam yang mati
dikawal jutaan kelabang dan tarantula pencinta bangkai,
bersama mereka memperkosa dan membunuh rembulan,
bahkan mereka menganiaya dan membantai bintang-gemintang,
halimun kosong yang menyesakkan sukma
menjadi bukti dan saksi kedatangannya,
misteri gaib kiamat akan datang memusnahkan roda kehidupan
dibalik mistiknya alam yang telah kehilangan ramah-tamahnya.
dengan aroma tengik datang menjamu sesosok mayat
yang tewas penasaran dan membanal dibawah pohon kapas
tanpa mengetahui dimana keberadaan tempat tinggalnya,
dan sebuah gubuk beratap rumbia yang rusak
kini pun menjadi tempat terbaik untuk berteduh
walaupun hanya beralaskan tumpukkan jerami lembab...
jutaan laron-laron menyerang sebuah lampu neon
diatas langit-langit penuh bercak rembesan air hujan
menjadi saksi ketakutan cahaya kunang-kunang yang redup
diantara tepian sungai yang telah pasang surut...
apakah benar rumah adalah tempat tebaik untuk mati?
atau kematian hanyalah kesengsaraan yang telah berakhir
setelah melewati penyiksaan-penyiksaan kehidupan...
kemana lagi perginya roh perana kehidupan?
apakah mereka akan mendapatkan jaminan sebuah rumah
untuk berteduh setelah kematian-kematian?
ataukah dia hanya akan dianiaya
dengan lebih tak berprikemanusiaan didalam dunia fana
yang terus membuatnya penasaran tiada berkesudahan...
setelah itu, kehidupan dan kematian pun ada hal yang sama!
arti sebuah dendam yang berdiam terselubung
dibalik seorang perempuan berkumis
dengan helai-helai janggut penderitaan beruntun
didalam langkah-langkah kakinya
bersama sepasang sepatu bertumit patah
menggembleng anak-anak asa
yang telah terpatah-patah didalam rahim,
air ketuban yang terus mengalir tiada henti
dari janin-janin perawan dosa
membasahi tiap-tiap jalanan yang pernah terlewati
diiringi air mata kesumat yang jatuh
tertiris diantara kedua telapak tangan yang pecah...
sembari hanya meratap keatas langit malam
yang hampa tanpa bintang rembulan,
sungguh perjalanan sebuah dendam kesumat
yang terus berkelanjutan...
hingga berakhir diterminal stasiun ajal
dan kereta api kematian yang datang menjemput
detik-detik kehidupan...
Langganan:
Postingan (Atom)