06 Juni 2003
sudah cukup lama dari perjumpaan terakhir kita,
kuhitung-hitung .. hmm, kurasa hampir dua belas purnama..
masih saja teringat, sedang apa kamu disana?
adakah kamu disela letihmu masih menyisakan sepotong waktu untuk kau hadiahkan untukku?
adakah kamu disela lelahmu menjajah dunia masih menyisakan secuil senyum untuk sekadar mengenangku?
yah,
mungkin tak banyak yang tersisa .. karena kalaupun bisa dirunut, perjumpaan terakhir kita tak banyak menimbulkan suka,
kukira ada tamparan yang membekas di hati, ludah-ludah yang memerawani jiwa .. dan satu dua perih yang masih saja tidak bisa terbalut
lalu aku ingat ada ciuman terakhir yang kita lakukan di pintu kamarmu ..
lelaki berbaju putih dan wanita berbaju biru .. wajah masai, titikan peluh dan celana dalam yang bahkan masih menyimpan bau manimu
(bibirku masih memar, dan masih kuingat dengan jelas gigitan lembutmu yang menandai payudaraku) ...
percakapan percakapan bodoh,
lelucon lelucon, argumentasi demi argumentasi, atau bahkan hanya cumbuan cumbuan yang terbang melintasi kota ..
(aku rindu, sungguh ...)
katamu, "cinta itu hanya racun yang diinfuskan ke dalam otak kecil kita untuk kemudian membuat kita kalah dan hancur lebur"
kurasa benar, karena sampai saat ini, tak ada yang mampu membuatku kembali menengadah
(entah, segala sesuatu menjadi begitu berbeda tanpamu, dan aku masih saja tidak terbiasa dengan semua ini)
kadang aku berpikir, kalau saat ini aku punya sayap, akankah aku terbang menghampirimu ..
menatap kembali matamu, mungkinkah aku masih saja terpesona dengan segala hal yang kutemukan di dalamnya?
(ada yang berubah, banyak mungkin ... tapi lebih banyak lagi yang tetap sama)
Tidak tahu,
mungkin juga tidak akan pernah tau ..
bila bisa kembali bersimpangan denganmu?
(Yang kemudian kudengar hanya lagu kesayangan pemberianmu, "mungkin memang hanya Tuhan yang bisa menjelaskan segalanya")
Mungkin memang seharusnya tidak menulis malam ini,
Mungkin memang seharusnya tidak menangis malam ini,
Mungkin memang seharusnya tidak lagi mencintaimu .. dengan cinta yang membuat tak pernah terucap kata itu lagi dari mulut bibir tanah liat ini
*matahari, tetaplah disana .. bakar semua yang tersisa, jadikan abu .. jadikan debu, tak ada lagi yang cukup berarti tanpamu*
kuhitung-hitung .. hmm, kurasa hampir dua belas purnama..
masih saja teringat, sedang apa kamu disana?
adakah kamu disela letihmu masih menyisakan sepotong waktu untuk kau hadiahkan untukku?
adakah kamu disela lelahmu menjajah dunia masih menyisakan secuil senyum untuk sekadar mengenangku?
yah,
mungkin tak banyak yang tersisa .. karena kalaupun bisa dirunut, perjumpaan terakhir kita tak banyak menimbulkan suka,
kukira ada tamparan yang membekas di hati, ludah-ludah yang memerawani jiwa .. dan satu dua perih yang masih saja tidak bisa terbalut
lalu aku ingat ada ciuman terakhir yang kita lakukan di pintu kamarmu ..
lelaki berbaju putih dan wanita berbaju biru .. wajah masai, titikan peluh dan celana dalam yang bahkan masih menyimpan bau manimu
(bibirku masih memar, dan masih kuingat dengan jelas gigitan lembutmu yang menandai payudaraku) ...
percakapan percakapan bodoh,
lelucon lelucon, argumentasi demi argumentasi, atau bahkan hanya cumbuan cumbuan yang terbang melintasi kota ..
(aku rindu, sungguh ...)
katamu, "cinta itu hanya racun yang diinfuskan ke dalam otak kecil kita untuk kemudian membuat kita kalah dan hancur lebur"
kurasa benar, karena sampai saat ini, tak ada yang mampu membuatku kembali menengadah
(entah, segala sesuatu menjadi begitu berbeda tanpamu, dan aku masih saja tidak terbiasa dengan semua ini)
kadang aku berpikir, kalau saat ini aku punya sayap, akankah aku terbang menghampirimu ..
menatap kembali matamu, mungkinkah aku masih saja terpesona dengan segala hal yang kutemukan di dalamnya?
(ada yang berubah, banyak mungkin ... tapi lebih banyak lagi yang tetap sama)
Tidak tahu,
mungkin juga tidak akan pernah tau ..
bila bisa kembali bersimpangan denganmu?
(Yang kemudian kudengar hanya lagu kesayangan pemberianmu, "mungkin memang hanya Tuhan yang bisa menjelaskan segalanya")
Mungkin memang seharusnya tidak menulis malam ini,
Mungkin memang seharusnya tidak menangis malam ini,
Mungkin memang seharusnya tidak lagi mencintaimu .. dengan cinta yang membuat tak pernah terucap kata itu lagi dari mulut bibir tanah liat ini
*matahari, tetaplah disana .. bakar semua yang tersisa, jadikan abu .. jadikan debu, tak ada lagi yang cukup berarti tanpamu*
aku benci malam,
karena malam membawa pergi mimpi2ku
menyisakan sepasang binar mata dan sehirup aroma cologne lelakiku
aku benci malam,
dia membuang jauh - jauh semua harapan,
menerbangkan desah, menggantinya dengan pekat yang bahkan tak pernah sanggup menghapus jejak bibirnya
aku benci malam,
langkah langkah sunyi yang tak pernah jelas terpetakan
alunan gending yang bertalu talu, bunyi jangkrik yang mengeret dedaunan
sementara tak jua kutemukan peluk yang begitu kurindu
aku benci malam, karena tak hanya dia menenggelamkan sebentuk matahari, tak hanya dia menutupi ibu surya dengan jubahnya,
dia juga mengingatkanku pada malam malam panjang dengan tangisan di dinding dinding kamar
-bahkan tokek tak lagi mau bersahutan, .... sepi-
karena malam membawa pergi mimpi2ku
menyisakan sepasang binar mata dan sehirup aroma cologne lelakiku
aku benci malam,
dia membuang jauh - jauh semua harapan,
menerbangkan desah, menggantinya dengan pekat yang bahkan tak pernah sanggup menghapus jejak bibirnya
aku benci malam,
langkah langkah sunyi yang tak pernah jelas terpetakan
alunan gending yang bertalu talu, bunyi jangkrik yang mengeret dedaunan
sementara tak jua kutemukan peluk yang begitu kurindu
aku benci malam, karena tak hanya dia menenggelamkan sebentuk matahari, tak hanya dia menutupi ibu surya dengan jubahnya,
dia juga mengingatkanku pada malam malam panjang dengan tangisan di dinding dinding kamar
-bahkan tokek tak lagi mau bersahutan, .... sepi-
Perempuan itu terkulai di pojok sudut ruangan, ruangan yang penuh coretan akan makna sebuah kemerdekaan. Sebuah kemerdekaan yang menjadi hantu-hantu. menjadi sebuah ketakutan dalam kehidupan yang penuh makna.
perempuan itu... terperangkap dalam sebuah makna merdeka... ketika tangan-tangan menggoyahkan penyangga-penyangga kehidupan, menyisakan nuansa-nuansa semuanya yang tak berarti.
Perempuan itu kehilangan kemerdekaan, yang tersisa hanyalah retak-retakan yang menghiasi kehidupan penuh arti. yah.. dia kehilangan sebuah arti kemerdekaan, kemerdekaan diantara hidup dan mati. Dia kehilangan arah.. kehilangan tujuan, yang tersisa hanyalah sebuah titik cristal yang memantulkan cahaya mengalir menuju penjara-penjara yang tersembunyi dalam lorong-lorong norma dan nilai-nilai.
perempuan itu... terperangkap dalam sebuah makna merdeka... ketika tangan-tangan menggoyahkan penyangga-penyangga kehidupan, menyisakan nuansa-nuansa semuanya yang tak berarti.
Perempuan itu kehilangan kemerdekaan, yang tersisa hanyalah retak-retakan yang menghiasi kehidupan penuh arti. yah.. dia kehilangan sebuah arti kemerdekaan, kemerdekaan diantara hidup dan mati. Dia kehilangan arah.. kehilangan tujuan, yang tersisa hanyalah sebuah titik cristal yang memantulkan cahaya mengalir menuju penjara-penjara yang tersembunyi dalam lorong-lorong norma dan nilai-nilai.
05 Juni 2003
04 Juni 2003
aku akan datang malam ini
"aku akan datang malam ini"
dan aku mematut diri. mengeringkan lautan luas yang masih menggenang. ombaknya menjilati cermin, kian retak oleh deburan yang entah berjarak peristiwa apa. kilau nakal fajar mengetuk-ngetuk sejarah, berbingkai kata dengan lumut yang kian menenung diri. tersisa debu-debu menebal bersama kelam dan saat resah mendaki, kerikil kemungkinan menjungkirbalikkan penat, meluncur bebas menebas onak peraduan. perih....... menerbangkan debu. pada dasarnya aku meraba peti tua, tertoreh sebuah mantra, kata tua 'kasih'. ku teteskan liur pada setiap akhir suku kata dari doa-doa yang menganga. mencari tepi kebodohan jiwa yang terentang di setiap langkah berpijak. budak biarlah hengkang dari penjaranya dan kekasihku meraja di gelisah yang telah kurajang di menit-menit lalu. dan kembali aku mematut diri. di wajah tiada lagi lukisan, senyumku kini adalah kejujuran janji tiada berselingkuh galau.
"aku akan datang malam ini"
bersama pinta-pinta yang melambai-lambai, ku buka tingkap-tingkap sepi. menguapkan bulir-bulir gigil yang onani. tak ada lagi mimpi dan hayal. mentari telah menikam kesadaran. tepat di ujung belatinya. ku susun setiap tapak menjadi bahasa baru. baku bagai detik-detik yang berbaris menuju menit. dan berdentang. buumm..... oh itu sebuah palu godam. menghantam kerdilnya rancangan hari. sendi-sendiku gemeretak memikul otak yang berpusar cepat. ini bukan rancanganku. istana kartu-kartu tarot menelan bom waktu. telah lama membius menjadi materai nafas-nafas. dan di sudutnya laba-laba hitan menenun diri, suntuk pada keruwetannya. rumah jiwa berdinding logika, di setiap pertemuannya ada moral yang memaku. dilaburi pekatnya ideologi yang kini abu-abu, mencoba menjaga dari rayap-rayap zaman. tapi mengapa masih ada hampa? ruang tak bermata, arah yang dituntun si buta. sementara tongkat hanyalah nasib yang menjilati jejak-jejak. ku harus membakar hening dan sampah-sampah diri yang teronggok di setiap kesal yang pasrah. bersama tingkap-tingkap yang telah menganga, asapnya menjadi pertanda dari kubur sepi. di detik yang terkulai, berjuta merpati merangsek masuk. pada cakar-cakarnya terselip berjuta carik kertas, dari kitab-kitab tua, samar tertulis 'damai'
"aku akan datang malam ini"
ya, kekasihku akan datang malam ini. mengetuk pintu yang duduk manis menunggu. saat terkuak, perapianku akan memberi terang menghempas pekat di luar sana. percikannya memberi nada-nada, lagu yang indah buat tarian kita. tarian jiwa yang tak lagi meracau. namun jelaga malam kian sirik dan angin meniupkan kesal membawa rintik-rintik penat penantian. jam di dinding berdentang sombong tak ada niat untuk melayat. penantian telah mendinginkan santapan di meja persembahan. meracuni anggu-anggur yang kini mulai terasa asam. kelu di bibir bergetar menyusun harap. pelan menghantar akal pada peraduan hening, lelap di pangkuan kursi tua. seperti kemarin, kekasihku hadir di mimpi dan berucap, "Aku telah datang malam ini. di hatimu. saat rumah jiwa telah bersih dari luka semusim. manjakan Aku sebagai imanmu."
"aku akan datang malam ini"
dan aku mematut diri. mengeringkan lautan luas yang masih menggenang. ombaknya menjilati cermin, kian retak oleh deburan yang entah berjarak peristiwa apa. kilau nakal fajar mengetuk-ngetuk sejarah, berbingkai kata dengan lumut yang kian menenung diri. tersisa debu-debu menebal bersama kelam dan saat resah mendaki, kerikil kemungkinan menjungkirbalikkan penat, meluncur bebas menebas onak peraduan. perih....... menerbangkan debu. pada dasarnya aku meraba peti tua, tertoreh sebuah mantra, kata tua 'kasih'. ku teteskan liur pada setiap akhir suku kata dari doa-doa yang menganga. mencari tepi kebodohan jiwa yang terentang di setiap langkah berpijak. budak biarlah hengkang dari penjaranya dan kekasihku meraja di gelisah yang telah kurajang di menit-menit lalu. dan kembali aku mematut diri. di wajah tiada lagi lukisan, senyumku kini adalah kejujuran janji tiada berselingkuh galau.
"aku akan datang malam ini"
bersama pinta-pinta yang melambai-lambai, ku buka tingkap-tingkap sepi. menguapkan bulir-bulir gigil yang onani. tak ada lagi mimpi dan hayal. mentari telah menikam kesadaran. tepat di ujung belatinya. ku susun setiap tapak menjadi bahasa baru. baku bagai detik-detik yang berbaris menuju menit. dan berdentang. buumm..... oh itu sebuah palu godam. menghantam kerdilnya rancangan hari. sendi-sendiku gemeretak memikul otak yang berpusar cepat. ini bukan rancanganku. istana kartu-kartu tarot menelan bom waktu. telah lama membius menjadi materai nafas-nafas. dan di sudutnya laba-laba hitan menenun diri, suntuk pada keruwetannya. rumah jiwa berdinding logika, di setiap pertemuannya ada moral yang memaku. dilaburi pekatnya ideologi yang kini abu-abu, mencoba menjaga dari rayap-rayap zaman. tapi mengapa masih ada hampa? ruang tak bermata, arah yang dituntun si buta. sementara tongkat hanyalah nasib yang menjilati jejak-jejak. ku harus membakar hening dan sampah-sampah diri yang teronggok di setiap kesal yang pasrah. bersama tingkap-tingkap yang telah menganga, asapnya menjadi pertanda dari kubur sepi. di detik yang terkulai, berjuta merpati merangsek masuk. pada cakar-cakarnya terselip berjuta carik kertas, dari kitab-kitab tua, samar tertulis 'damai'
"aku akan datang malam ini"
ya, kekasihku akan datang malam ini. mengetuk pintu yang duduk manis menunggu. saat terkuak, perapianku akan memberi terang menghempas pekat di luar sana. percikannya memberi nada-nada, lagu yang indah buat tarian kita. tarian jiwa yang tak lagi meracau. namun jelaga malam kian sirik dan angin meniupkan kesal membawa rintik-rintik penat penantian. jam di dinding berdentang sombong tak ada niat untuk melayat. penantian telah mendinginkan santapan di meja persembahan. meracuni anggu-anggur yang kini mulai terasa asam. kelu di bibir bergetar menyusun harap. pelan menghantar akal pada peraduan hening, lelap di pangkuan kursi tua. seperti kemarin, kekasihku hadir di mimpi dan berucap, "Aku telah datang malam ini. di hatimu. saat rumah jiwa telah bersih dari luka semusim. manjakan Aku sebagai imanmu."
03 Juni 2003
Pagi itu tiba tiba kau datang lagi
setelah sekian lama menghilang
lenyap tertelan cakrawala
berbekal sekarung entah penyesalan
entah kepalsuan yang kau gantung dipundakmu
nanar matamu menatapku
aku bertanya "untuk apa kau datang?"
kau berkata "aku membawa sekarung penyesalanku
untuk kupersembahkan padamu..."
aku bertanya lagi "untuk apa semua itu?"
dan matamu sayu...nanar...berkilau memerah...
"aku mau pamit" ujarmu lirih
buat apa? bathinku.
toh sebelumnya,saat peluh peluh birahiku belum mengering,
saat dinding dinding kamar memantulkan desahan desahan kita,
saat ranjang disisikupun belum benar benar dingin,
kau telah pergi....
tanpa kecupan selamat tinggal...
tanpa pamit...
toh sebelumnya,saat aku terkulai tak berdaya dipagi buta dikamar hotel itu,
saat genangan darah itu belum menjadi beku,
saat luka rajaman pada tubuhku belum mengering,
saat sprei putih bersih yang kini menjadi merah karna "prakarya"mu
belum sempat dicuci oleh cleaning service,
kau telah pergi...
tanpa menengok...
sekali lagi tanpa pamit...
lalu untuk apa saat ini kau datang?
terduduk disampingku dengan sekarung penyesalan katamu
yang didalamnya terselip tawa kebahagiaanmu,
lalu untuk apa saat ini kau datang?
menangis sesenggukan diatas pusara yang telah kering,
membuat peziarah lain terharu menatapmu,
untuk apa lagi kau datang?
apa kau benar benar membutuhkan ijin dariku?
Memuakkan!!
Munafiiiikkkk!!!!
setelah sekian lama menghilang
lenyap tertelan cakrawala
berbekal sekarung entah penyesalan
entah kepalsuan yang kau gantung dipundakmu
nanar matamu menatapku
aku bertanya "untuk apa kau datang?"
kau berkata "aku membawa sekarung penyesalanku
untuk kupersembahkan padamu..."
aku bertanya lagi "untuk apa semua itu?"
dan matamu sayu...nanar...berkilau memerah...
"aku mau pamit" ujarmu lirih
buat apa? bathinku.
toh sebelumnya,saat peluh peluh birahiku belum mengering,
saat dinding dinding kamar memantulkan desahan desahan kita,
saat ranjang disisikupun belum benar benar dingin,
kau telah pergi....
tanpa kecupan selamat tinggal...
tanpa pamit...
toh sebelumnya,saat aku terkulai tak berdaya dipagi buta dikamar hotel itu,
saat genangan darah itu belum menjadi beku,
saat luka rajaman pada tubuhku belum mengering,
saat sprei putih bersih yang kini menjadi merah karna "prakarya"mu
belum sempat dicuci oleh cleaning service,
kau telah pergi...
tanpa menengok...
sekali lagi tanpa pamit...
lalu untuk apa saat ini kau datang?
terduduk disampingku dengan sekarung penyesalan katamu
yang didalamnya terselip tawa kebahagiaanmu,
lalu untuk apa saat ini kau datang?
menangis sesenggukan diatas pusara yang telah kering,
membuat peziarah lain terharu menatapmu,
untuk apa lagi kau datang?
apa kau benar benar membutuhkan ijin dariku?
Memuakkan!!
Munafiiiikkkk!!!!
rendezvous
di kotamu aku menjadi layanglayang, menjelajahi cakrawala yang senandungnya
menggetarkan ombakombak parangtritis. di persimpangan itu, kutatap kembali
sosok hitammu yang semula hanya mimpi. seperti layaknya pertemuan
kau dan aku berjabat dalam bahasa paling sederhana
: seulas senyummu masih saja menyimpan luka - pemakluman akan rasa sakit
yang bersemayan sejak lama
menyusuri jalanan kotamu, ada rindu yang berebut ingin diucapkan. ada damai
yang menyelusup ke setiap pori, seperti matahari yang diamdiam menyimpan
gigitannya pada setiap inci tubuh. ada senandungmu yang membiarkan seluruh
letihku berdiam di punggung kesabaran
hanya engkau yang mampu memaknai resah ini. seperti juga telah kumaknai
sisa perjalananmu setelah kematian itu satu demi satu kau cecap, meski akhirnya
kau harus lahir kembali
inilah aku dalam usia senjamu
telah kau cipta rumah di mataku. agar kelak jika kau ingin pulang, akan ada tempat
untuk kembali merebahkan diri, mempersiapkan perjalanan baru
inilah aku dalam usia senjamu
menjadi rumah, menunggumu melangkahkan kaki
pulang dengan karungkarung ingatan yang suatu saat akan kau kisahkan padaku
dalam diam, dalam hening tanpa kata
pertemuan kita menjadi upacara kedua, tempat seluruh harapan dibakar api unggun
asapnya membumbung ke udara sebagai do`a.
yogya, 25 mei 2003
di kotamu aku menjadi layanglayang, menjelajahi cakrawala yang senandungnya
menggetarkan ombakombak parangtritis. di persimpangan itu, kutatap kembali
sosok hitammu yang semula hanya mimpi. seperti layaknya pertemuan
kau dan aku berjabat dalam bahasa paling sederhana
: seulas senyummu masih saja menyimpan luka - pemakluman akan rasa sakit
yang bersemayan sejak lama
menyusuri jalanan kotamu, ada rindu yang berebut ingin diucapkan. ada damai
yang menyelusup ke setiap pori, seperti matahari yang diamdiam menyimpan
gigitannya pada setiap inci tubuh. ada senandungmu yang membiarkan seluruh
letihku berdiam di punggung kesabaran
hanya engkau yang mampu memaknai resah ini. seperti juga telah kumaknai
sisa perjalananmu setelah kematian itu satu demi satu kau cecap, meski akhirnya
kau harus lahir kembali
inilah aku dalam usia senjamu
telah kau cipta rumah di mataku. agar kelak jika kau ingin pulang, akan ada tempat
untuk kembali merebahkan diri, mempersiapkan perjalanan baru
inilah aku dalam usia senjamu
menjadi rumah, menunggumu melangkahkan kaki
pulang dengan karungkarung ingatan yang suatu saat akan kau kisahkan padaku
dalam diam, dalam hening tanpa kata
pertemuan kita menjadi upacara kedua, tempat seluruh harapan dibakar api unggun
asapnya membumbung ke udara sebagai do`a.
yogya, 25 mei 2003
02 Juni 2003
menatap anak anak
aku terdiam seperti angin yang gamang dengan gaung di lembah
kemana ia mengembarakan remajanya menelusup kemanakah
ia berjanji sanggup memegang tatap kanaknya
aku cari ia dan aku jumpai cermin diri di wajahnya yang birahi
datang temui aku yang sepi
apa aku harus membunuh rusa untuk mengutarakan cinta
atau haruskah aku membuatmu cemburu
aku tersenggal di lempar angin yang kembali diam
hanya tisu yang kau lempar
hanya asap rokok yang kau semburkan
dapatkah aku tawar menawar denganmu
dapatkah aku bercengkerama dari waktu ke waktu
ia berjalan dengan cepat tak melewati jalanku
dagunya diangkat tidak seperti tundukku
aku bersembunyi dalam bising kata ini
ketika kau burung hantu yang menjerit jerit di dahan dahan
ketika kau kucing yang terus mengeong ngeong di pelataran
tapi suara suara ku mendapati dirinya pada batang batang batang tebu yang rubuh
seseorang yang mengepak akan menaruhnya dalam truk membawanya ke pabrik
mungkin kita akan berjumpa lagi ketika habis magrib mungkin juga tidak
mungkin kau orang yang kumintai api dan menolak
tapi di gelap itu jangan ancam aku dengan tatapan sekenanya
undang saja aku dengan denting tatap mata yang kocak
dengan gumam ku tawar dengan kata kata ku layu
dengan pengharapan yang tiada berbalas
usai perjalanan mei 2003
aku terdiam seperti angin yang gamang dengan gaung di lembah
kemana ia mengembarakan remajanya menelusup kemanakah
ia berjanji sanggup memegang tatap kanaknya
aku cari ia dan aku jumpai cermin diri di wajahnya yang birahi
datang temui aku yang sepi
apa aku harus membunuh rusa untuk mengutarakan cinta
atau haruskah aku membuatmu cemburu
aku tersenggal di lempar angin yang kembali diam
hanya tisu yang kau lempar
hanya asap rokok yang kau semburkan
dapatkah aku tawar menawar denganmu
dapatkah aku bercengkerama dari waktu ke waktu
ia berjalan dengan cepat tak melewati jalanku
dagunya diangkat tidak seperti tundukku
aku bersembunyi dalam bising kata ini
ketika kau burung hantu yang menjerit jerit di dahan dahan
ketika kau kucing yang terus mengeong ngeong di pelataran
tapi suara suara ku mendapati dirinya pada batang batang batang tebu yang rubuh
seseorang yang mengepak akan menaruhnya dalam truk membawanya ke pabrik
mungkin kita akan berjumpa lagi ketika habis magrib mungkin juga tidak
mungkin kau orang yang kumintai api dan menolak
tapi di gelap itu jangan ancam aku dengan tatapan sekenanya
undang saja aku dengan denting tatap mata yang kocak
dengan gumam ku tawar dengan kata kata ku layu
dengan pengharapan yang tiada berbalas
usai perjalanan mei 2003
01 Juni 2003
dimanakah kau letakkan kerinduanku,lelakiku...
saat pucuk pucuk bunga itu bermekaran
membentuk sebungkah tawa
dimanakah kau letakkan mimpiku,lelakiku....
saat jelaga jelaga memburamkan pandang mataku
membuyarkan selaksa jingga pada mimpiku
dimanakah kau letakkan hatiku,lelakiku....
saat darah darah itu mulai mengering
dan pecahannya kembali merekat
dimanakah kau letakkan aku,lelakiku....
saat tubuhku dingin membeku
menanti sentuhanmu
dimana.........??
saat pucuk pucuk bunga itu bermekaran
membentuk sebungkah tawa
dimanakah kau letakkan mimpiku,lelakiku....
saat jelaga jelaga memburamkan pandang mataku
membuyarkan selaksa jingga pada mimpiku
dimanakah kau letakkan hatiku,lelakiku....
saat darah darah itu mulai mengering
dan pecahannya kembali merekat
dimanakah kau letakkan aku,lelakiku....
saat tubuhku dingin membeku
menanti sentuhanmu
dimana.........??
Langganan:
Postingan (Atom)