06 April 2003

:Lollies

seperti segalanya,
yang tidak pernah punya jeda seperti ini,
kelam kelam pucat, lorong lorong waktu, penantian tanpa akhir
ah .. cuma sepasang cicak bercanda melewati malam

seperti masa silam,
saat mata terjaga tak mau lelap,
detak detak jam dinding, boneka yang basah oleh airmata
entah mengapa, seperti suatu dejavu yang menulisi angan

seperti tiada,
rindu yang mengigiti hati ..
malam larut, bunyi jangkrik yang bercinta, biru yang tersaput kelam
ada dan tiada, siapa bisa menerka?

dan seperti waktu,
yang masih saja terpasung menjadi tua di tengah semuanya
memoar tentang masa lalu, genggam tangan yang entah sampai kapan menopang
aku masih saja disini .. ternyata, entah menanti apa ..

05 April 2003

aku mendengar suara-suara itu mengalir dari kegelisahan-kegelisahan dibalik pintu ketika semuanya membisu aku terus saja berjalan cacing-cacing dijalanan mati kehabisan cairan aku masih mencarimu daun-daun gugur berserakan kemudian belalang coklat menemuiku dan berkata bahwa kau sudah meninggalkan kota ini lama sebelum aku pergi lebih lama dari kematian ayahmu lebih lama dari kematian penduduk kota ini satu-persatu ah kita masih saja harus menerima kemarau ini jalanan ini yang tak lagi berliku semua rata dengan sisa-sisa rumah terkutuk serbuan bom kita masih saja harus menerima peperangan-peperangan itu entah berapa banyak darah pernah tumpah di sepanjang jalan ini aku masih bisa mencium udara itu yang selalu mengingatkanku pada bau mesiu dan darah menjadi satu ... ah kemana dirimu tak ada siapa-siapa lagi disini selain batu dan para tentara yang tak pernah kita kenal siapa mereka darimana asalnya ... mengapa keserakahan tak juga tiada .... aku harus meneruskan perjalanan ini mencarimu mencarimu

04 April 2003

terlalu banyak kata kata tak berguna...
yang hanya hadir untuk sesaat...
nyata lalu tiada...
tak ada yang kekal...
kecuali...
diam...
karena keheningan itu abadi...
sssttt.....
: abimanyu

kita telah samasama menghidupkan seribu makhluk dalam batin, sebab kesadaran telah dibangun pada padang pikiran yang luas. kesadaran akan hidup telah mengalirkan ribuan sungai dalam darah, menghijaukan gurun pada jantung dan aorta. maka perjalanan adalah membaca peta, menafsirkan isyarat tuhan yang dikirim angin juga senja

"telah kumasuki dunia baru, setelah perbincangan resahku dan gelisahmu menjelma pintu, menuju dunia harapan," ucapmu pada malam kelam, tempat rembulan bermukim. udara semakin beku ketika mata semutku menangkap cahaya dari kunangkunang yang dipancarkan dada malammu.

kita kembali menggali sepi dari kuil para pengembara, mencari hikmah yang tuhan sisipkan diantara kisahkisahnya.

lihat!
mungkin esok, akan ada musafir yang singgah pada ruang batinmu.

BumiAllah, 17 Nopember 2002

03 April 2003

Masih kuingat saat saat itu
ketika pisau tajam menusukku pada satu malam
dan darah segarku berceceran
menggenangi kamar malam

Lalu kau membersihkannya
dengan tetesan lara diwajahmu
dengan kesakitan dimatamu
ketika menatapku yang terbujur kaku tak bergerak
dengan segala kasih dihatimu,
kau berbisik " serahkan hidupmu pada-Nya "
sembari tersenyum dan mencium keningku
kau lalu menutupi tubuhku dengan selimut tebal
berharap kehangatan bisa membuatku kembali hidup

Hawa dingin,panas,gelap,hitam,
menusuk nusuk nyeri lukaku semakin dalam
menutup jiwaku,hatiku
kecuali mataku yang tak bisa lagi terpejam
bibirkupun terkatup,tak bisa berbicara
bahkan hanya untuk mengucapkan sepatah kata buatmu

ketika kulihat kau keluar dari kamar malam
meninggalkanku sendiri
dengan kegelapan yang masih terus mencacah jiwaku


Jogjakarta 2 April 03

P.S : Bunda,how are you today?
i missed you so........ :)


02 April 2003

:joned

sebutlah, kisahmu sebagai soemantri dan soekrosono. tetapi benar-benar caramu menyakiti kata adalah melalui gerak badan, caramu menyakiti adalah melalui semua bunyi dan juga dengan tembang-tembang. caramu menyakiti memang dengan cara-cara masoischtis sejati. pertunjukanmu mengingatkanku dengan sade, dirimu mengingatkanku semua bentuk kekerasan akan mencapai titik muak, seperti dunia yang sedang mencapai titik muak.

sebutlah, dirimu sebagai mas mantri dengan adikmu soekrosono. lalu kisah kalian adalah tentang kesetiaan dan pertanyaan-pertanyaan. mengapa harus ada kesetiaan? mengapa imej, mengapa martabat, mengapa keluarga, mengapa kedudukan, mengapa harus setia, mengapa dan mengapa selanjutnya. sebuah pertanyaan yang ditujukan pada masyarakat kita yang terlanjur berada di jebakan semua bentuk kemunafikan.

sebutlah dirimu, sebagai seseorang yang berdiri di tengah panggung, memukau segala penjuru ring pertunjukan. tubuhmu yang basah oleh semua keringat hasil gerakmu, kemilau yang menganggu mata dan rasaku. begitulah adanya, caramu yang meminjam segenap perhatianku. bahkan berhasil menjauhkan diriku dari cinta yang duduk di sebelahku.

jauh dari cinta, jauh dari kesetiaan...

sebutlah dirimu lagi, soemantri yang ingin memindahkan taman sriwedari ke kraton maospati. sebutlah soekrosono mencari dan membantumu. sebutlah dirimu terbelah. sebutlah soekrosono rebah dan mati. sebutlah soemantri si pengkhianat kesetiaan yang tinggal dalam kesepian.

sebutlah aku mencari kesepian itu.

-seusai menonton.nobody wants to kill.gardanalla & don anung theatre performance-

:untuk w

Senin pagi yang biadab, lampu-lampu berhenti di semua warna kuning. Tetapi tidak ada wajahmu disitu, bahkan di bau jalanan dan bau karet ban yang terbakar, tiada sepercik pun ditinggalkan. Aku mendapatkanmu masih terkapar di tempat tidur di siang yang sama, lelah, lalu pergi tanpa mencium jejak-jejakku seperti biasa.

Hari itu memang harus dirayakan sebagai pesta kebiadaban. Awal-awal dari ketololan perang berabad-abad lamanya. Aku tertawa melihat kotak-kotak televisi yang sudah dibakar dari neraka peradaban dan dihidangkan di piring sarapan pagi, hangat-hangat.

Lalu aku melihat lukisanmu yang merah merona, seperti bibir laki-laki yang tertinju berdarah. Hasil dari semua kegilaanku padamu, begitu sahutmu menanggapi persoalan kematian kita yang begitu dekat.

Kenapa kita begitu dekat? Kucari jawabku di seluruh alur keringat tubuhmu, dan aku menemukan tangismu yang tidak terdengar disitu. Mendengar seorang lelaki menangis adalah seperti mengiris bawang di tengah jantung kita. Apalagi mendengar tangisan yang tidak terdengar? Belah saja hatiku, seperti mimikmu yang sudah kehilangan jujurnya urat muka.

Aku menemukan punggungmu dalam satu mimpiku suatu malam. Ia bergerak tanpa kusadari, bergerak tanpa kesadaranku. Kukira hanyalah sebuah mimpi yang mempermainkan ingatanku seperti bola sepak. Tapi lagi, itu hanyalah satu bentuk penyangkalanku akan mimpi-mimpi yang sudah terjadi. Mimpi-mimpi yang terjadi ketika jari-jarimu menyentuh dan membongkarku bagaikan kardus mainan kecilmu yang kautemukan di pojokan gudang. Namun kita tidak sedang berada di sana. Kita sedang berada di bawah satu meja untuk menghindari silaunya lampu yang menganggu tidur kita.

Kita sedang membongkar semua kebusukan kita dalam malam-malam yang diciptakan untuk bulan bulat penuh. Di saat yang sama, kita merutuki hujan yang selalu saja menghalangi kita untuk menemukan jalan pulang masing-masing. Bersama Tuhan, kita mencari bentuk kita dalam tampilan televisi kabel dengan empat puluh dua chanel. Doa-doa diucapkan dengan secangkir teh hangat dan bungkusan-bungkusan rokok yang tercecer. Seperti dupa katamu suatu ketika, asap-asap dan sisa abu itu.
pada jiwa

lubang menganga

sedalam

Tuhan
en,

aku akan selalu mencintai sejuk kotamu halaman yang lebar dengan pohon pohon salak
selang selang plastik yang selalu mengalirkan air menuju kolam disamping rumah
bagaimana kabar bapakmu kabar ibumu kabar abangmu
aku telah gagal untuk tidak mengingat ingat kenangan meski ia telah lari sebagai ayam hutan
aku akan berusaha untuk mencintai kotamu terlebih bayang bayang
memandang deret toko toko yang kusam juga deret toko toko emas ada sesuatu yang lepas
dimana cincin di jemarimu
kali kali yang miskin air mengalirkan pasir dan batu batu dari merapi
mengapa aku tetap merindu wajah kanak kanakmu
ketika sore ingin menjadi kabut yang turun membatasi pandangan
aku tiba di teras penginapan dan berjejal kenangan turun
borobudur masih jauh tapi ku dengar batu batu terpahat dengan dentingan yang masih lekat
di situ mungkin kau pernah mengutuk aku menjadi kabut dan mencintai bayang bayang
en
aku akan selalu datang kekotamu dengan segala cemburu dan hati yang patah

muntilan 2003

01 April 2003

Suatu pagi dikotamu
ketika bising suara lalu lintas menggugah mimpiku...
lalu setiap tarikan nafas dalam tidurmu
laksana melodi...
dan hangat pelukanmu
menyejukan sukmaku...

tiba tiba gelisah itu menghampiri..
berdiri dengan gagah
persis didepan tempat tidur kita,
menyentuhku....lembut...
tapi getarannya melemahkan sel sel darahku

kekasih.....
akankah esok pagi aku masih bisa melihat senyummu
saat kau masih terlelap?


~dalam 3 pertemuan kita~
Sometimes, we just want the best for some one else.
How we force our beliefs and will to make others a better person
How we judge them before our eyes with options created by our selves.

Sometimes, what we thought is the best, can become the worst.
What we feel inside, is not what others feel
What we know is right, is another’s mistake

Because we forgot....

We forgot to ask them,.... what they really want.

Do not judge others before yourself