ia sedang membunuh Tuhan
dalam dirinya secara pelan-pelan
11 Maret 2003
Disuatu senja..........
ketika aku tersadar bahwa aku mencintaimu lebih dari apapun
hingga membencimu saja aku tak sanggup......
Disuatu senja..........
ketika aku tersadar mungkin saja hatimu telah dimiliki orang lain
atau masih tetap dimiliki oleh "nya"
hingga kamu......begitu berbeda..........
Disuatu senja..........
ketika aku tersadar bahwa aku mencintaimu lebih dari apapun
hingga mengexpresikannya saja aku tak bisa.......
Disuatu senja.........
ketika aku ingin kamu tau.....
seperti itulah cintaku.......
Meski ternyata..........
Cintaku mungkin tak cukup untuk membuatmu bertahan,
berbahagia....disisiku.....
Nabire Desember 2002
ketika aku tersadar bahwa aku mencintaimu lebih dari apapun
hingga membencimu saja aku tak sanggup......
Disuatu senja..........
ketika aku tersadar mungkin saja hatimu telah dimiliki orang lain
atau masih tetap dimiliki oleh "nya"
hingga kamu......begitu berbeda..........
Disuatu senja..........
ketika aku tersadar bahwa aku mencintaimu lebih dari apapun
hingga mengexpresikannya saja aku tak bisa.......
Disuatu senja.........
ketika aku ingin kamu tau.....
seperti itulah cintaku.......
Meski ternyata..........
Cintaku mungkin tak cukup untuk membuatmu bertahan,
berbahagia....disisiku.....
Nabire Desember 2002
09 Maret 2003
08 Maret 2003
Bibirku ingin menyumpahimu dalam doa doaku,
atas luka perih yang kau goreskan..........
supaya kau juga....suatu saat merasakan yang seperti aku rasa,
bahwa kau tidak akan pernah bisa benar benar bahagia........
Tapi yang keluar dari hatiku......
dalam doa doaku itu adalah untuk kebahagiaanmu.........
bahwa kebahagiaanmulah yang aku inginkan...........
bahwa dengan melihatmu bahagialah..............
akupun bahagia.....
bahwa dibanding kebahagiaanku.....
kebahagiaanmulah yang aku utamakan.......
Mengapa hatiku menghianati bibirku,Tuhan......?
Jogjakarta Februari '03
atas luka perih yang kau goreskan..........
supaya kau juga....suatu saat merasakan yang seperti aku rasa,
bahwa kau tidak akan pernah bisa benar benar bahagia........
Tapi yang keluar dari hatiku......
dalam doa doaku itu adalah untuk kebahagiaanmu.........
bahwa kebahagiaanmulah yang aku inginkan...........
bahwa dengan melihatmu bahagialah..............
akupun bahagia.....
bahwa dibanding kebahagiaanku.....
kebahagiaanmulah yang aku utamakan.......
Mengapa hatiku menghianati bibirku,Tuhan......?
Jogjakarta Februari '03
Ia membangunkanku dengan sebuah kecupan
Tahukah kamu hal yang terindah di dunia? Aku akan berbagi cerita untukmu. Beri waktu untuk mendengarkannya sejenak, kelak aku tak mampu mengulanginya. Sebab binar mataku akan lenyap bersama bayangan yang kian entah ke mana. Jangan takut waktumu akan terbuang, ini rahasia hidup yang kelak berguna bagimu. Aku takkan bertele-tele, ceritaku tak seperti cerita-cerita lain yang disusun dengan banyak kata-kata mubajir demi membuat pembacanya terjebak dalam alur yang berjalan. Justru itu akan menimbulkan rasa bosan, nalar kadang lelah melompat-lompat membuat cerita bagai tarian tak sejiwa dengan nada. Sebelum engkau bertambah bosan, aku mulai saja ceritanya.
Menurutku, hal yang terindah di dunia adalah menerima sebuah kecupan di pagi hari. Aku katakan di sini menerima sebuah cium bukan saling berciuman, sebab saling berciuman menyiratkan kesadaran. Dan menerima ciuman yang ku maksud adalah dalam kondisi ketaksadaran, walau ada juga dalam kondisi sadar seperti perawan yang tercengang ketika bibirnya dikecup pertama kali.
Peristiwa ini ku alami pertama kali oleh sebab kecerobohanku, yang lupa mengunci pintu kamarku di sebuah apartemen. Seperti biasa, ia hadir di saat-saat itu. Menyiapkan sarapan kami sebelum sama-sama pergi menuju kantor yang kebetulan letaknya di gedung yang sama.
Kali ini tubuhku tak diguncang, tapi ku bangun oleh kecupannya. Sesuatu yang hangat pelan-pelan menyentuh sisi bibirku, sedikit melumat tepi bibirku. Entah aliran apa namanya membuat kebekuan kian mencair. Selanjutnya hidungku merasakan sebuah wangi yang tak selalu dikenakan angin. Mendapatkan aroma yang segar nan memikat. Melaju bagai anak-anak panah yang manja terbang menuju otakku. Dan otakku menamainya wangi gadisku. Lalu lamat-lamat mata terperintahkan menguak, bersamaan itu pula, saraf-saraf tubuhku menjadi kian hangat. Pipiku tersentuh oleh hangat nafasnya, nafas yang tak memburu. Ketulusan menyelusup pada pori-pori wajahku.
Yang pertama ku tatap adalah bola mata hitam dikelilingi yang putih. Sejenak kemudian kian meredup, menampakkan bulu-bulu halus yang sungguh lentik. Ada sebuah kepasrahan tanpa menyembunyikan ingin. Bibirku latah bergetar, getarnya lamat-lamat mengikuti gerak bibirnya. Kudapati dinding-dinding halus yang entah mengapa juga ikut bergetar. Dan nafasku kini bukan lagi nafas yang lalu. Bibir kami telah sebibir dan hela nafas menjadi detik-detik waktu.
Semenjak itu kami selalu melakukannya. Ya, di pagi hari. Tapi bukan berarti pula ku jaga sifat cerobohku agar ia bisa melakukannya tanpa perlu mengetuk pintu. Karena di pagi itu, saat ia pertama kali membangunkanku dengan kecupan, di meja makan ia melemparkan kata-kata. Berserak di udara bagai badai menampar jendela. Ia marah oleh pintu yang tak dikunci. Tapi apakah ia tahu, kecerobohan itu menelurkan sebuah rahasia hidup. Bermulanya nikmat yang tak bernama.
Aku menduplikatkan kunci pintu, agar ia bisa hadir tanpa mengetuk pintu. Sungguh bodoh mengenyahkan sebuah nikmat. Oleh pagi yang indah, ku bisa lalui hari dengan penuh semangat. Karena kebangkitanku di pagi hari lahir dari sebuah kecupan. Layaknya kecupan agung milik Romeo dan Juliet.
Walau yang terindah adalah saat ia datang bagai angin, tetapi seringkali pula ia tak perlu membuka pintu. Tubuhnya telah terbaring telanjang di sisiku, di malam-malam itu. Sisa lelah senggama kemarin malamnya tak pernah membuatnya alpa untuk memberi kecupan. Aahhhh…. api neraka akan padam oleh cemburunya pada gelora asmara milik kami.
* * * * *
Kali ini bibirnya adalah bibir indah yang terkuak sedikit, menampilkan barisan gigi-gigi putih yang telah rapi. Dulu aku sering mengejeknya, akan kawat gigi yang mengikat erat. Lidahku akan merasa asing pada mahluk yang memagari giginya. Tapi syukurlah, sejak kawat gigi itu dilepas senyumnya kian indah mengukir di wajah yang berpoles kecerdasan.
Saat ini, aku bukan ingin mendahuluinya untuk memberi kecupan. Karena memang dialah yang selalu bangun terdahulu. Tapi kini tidak. Wajahku telah menunduk di atasnya, kini tak ada ruang di antara bibir-bibir kami. Menyentuhnya. Pelan melumat. Nafasku memberi hangat yang berpendar, terhampar di pipinya yang halus. Membasahi tepi bibirnya dengan bibirku. Bibirnya tak latah oleh bibirku. Aku menatap matanya yang terpejam, bukan oleh nikmat atau rasa malu milik wanita. Biarlah ia tetap begitu, tak usah membuka mata. Biar aku yang menaburi kasih. Kini, tak perlu lagi ia susah-susah membangunkanku dengan sebuah kecupan. Cukuplah bibirku yang menemuinya di tiap pagi. Kasihku akan tetap jujur seperti dulu. Walau mungkin kecupanku tak akan mampu bangunkan ia, setelah ku temukan dirinya telanjang memelukku seminggu yang lalu, tanpa menyimpan jiwa lagi. Kekasihku adalah kekasih yang akan kutemukan di pagi hari.
jakarta, 4maret2003
Tahukah kamu hal yang terindah di dunia? Aku akan berbagi cerita untukmu. Beri waktu untuk mendengarkannya sejenak, kelak aku tak mampu mengulanginya. Sebab binar mataku akan lenyap bersama bayangan yang kian entah ke mana. Jangan takut waktumu akan terbuang, ini rahasia hidup yang kelak berguna bagimu. Aku takkan bertele-tele, ceritaku tak seperti cerita-cerita lain yang disusun dengan banyak kata-kata mubajir demi membuat pembacanya terjebak dalam alur yang berjalan. Justru itu akan menimbulkan rasa bosan, nalar kadang lelah melompat-lompat membuat cerita bagai tarian tak sejiwa dengan nada. Sebelum engkau bertambah bosan, aku mulai saja ceritanya.
Menurutku, hal yang terindah di dunia adalah menerima sebuah kecupan di pagi hari. Aku katakan di sini menerima sebuah cium bukan saling berciuman, sebab saling berciuman menyiratkan kesadaran. Dan menerima ciuman yang ku maksud adalah dalam kondisi ketaksadaran, walau ada juga dalam kondisi sadar seperti perawan yang tercengang ketika bibirnya dikecup pertama kali.
Peristiwa ini ku alami pertama kali oleh sebab kecerobohanku, yang lupa mengunci pintu kamarku di sebuah apartemen. Seperti biasa, ia hadir di saat-saat itu. Menyiapkan sarapan kami sebelum sama-sama pergi menuju kantor yang kebetulan letaknya di gedung yang sama.
Kali ini tubuhku tak diguncang, tapi ku bangun oleh kecupannya. Sesuatu yang hangat pelan-pelan menyentuh sisi bibirku, sedikit melumat tepi bibirku. Entah aliran apa namanya membuat kebekuan kian mencair. Selanjutnya hidungku merasakan sebuah wangi yang tak selalu dikenakan angin. Mendapatkan aroma yang segar nan memikat. Melaju bagai anak-anak panah yang manja terbang menuju otakku. Dan otakku menamainya wangi gadisku. Lalu lamat-lamat mata terperintahkan menguak, bersamaan itu pula, saraf-saraf tubuhku menjadi kian hangat. Pipiku tersentuh oleh hangat nafasnya, nafas yang tak memburu. Ketulusan menyelusup pada pori-pori wajahku.
Yang pertama ku tatap adalah bola mata hitam dikelilingi yang putih. Sejenak kemudian kian meredup, menampakkan bulu-bulu halus yang sungguh lentik. Ada sebuah kepasrahan tanpa menyembunyikan ingin. Bibirku latah bergetar, getarnya lamat-lamat mengikuti gerak bibirnya. Kudapati dinding-dinding halus yang entah mengapa juga ikut bergetar. Dan nafasku kini bukan lagi nafas yang lalu. Bibir kami telah sebibir dan hela nafas menjadi detik-detik waktu.
Semenjak itu kami selalu melakukannya. Ya, di pagi hari. Tapi bukan berarti pula ku jaga sifat cerobohku agar ia bisa melakukannya tanpa perlu mengetuk pintu. Karena di pagi itu, saat ia pertama kali membangunkanku dengan kecupan, di meja makan ia melemparkan kata-kata. Berserak di udara bagai badai menampar jendela. Ia marah oleh pintu yang tak dikunci. Tapi apakah ia tahu, kecerobohan itu menelurkan sebuah rahasia hidup. Bermulanya nikmat yang tak bernama.
Aku menduplikatkan kunci pintu, agar ia bisa hadir tanpa mengetuk pintu. Sungguh bodoh mengenyahkan sebuah nikmat. Oleh pagi yang indah, ku bisa lalui hari dengan penuh semangat. Karena kebangkitanku di pagi hari lahir dari sebuah kecupan. Layaknya kecupan agung milik Romeo dan Juliet.
Walau yang terindah adalah saat ia datang bagai angin, tetapi seringkali pula ia tak perlu membuka pintu. Tubuhnya telah terbaring telanjang di sisiku, di malam-malam itu. Sisa lelah senggama kemarin malamnya tak pernah membuatnya alpa untuk memberi kecupan. Aahhhh…. api neraka akan padam oleh cemburunya pada gelora asmara milik kami.
* * * * *
Kali ini bibirnya adalah bibir indah yang terkuak sedikit, menampilkan barisan gigi-gigi putih yang telah rapi. Dulu aku sering mengejeknya, akan kawat gigi yang mengikat erat. Lidahku akan merasa asing pada mahluk yang memagari giginya. Tapi syukurlah, sejak kawat gigi itu dilepas senyumnya kian indah mengukir di wajah yang berpoles kecerdasan.
Saat ini, aku bukan ingin mendahuluinya untuk memberi kecupan. Karena memang dialah yang selalu bangun terdahulu. Tapi kini tidak. Wajahku telah menunduk di atasnya, kini tak ada ruang di antara bibir-bibir kami. Menyentuhnya. Pelan melumat. Nafasku memberi hangat yang berpendar, terhampar di pipinya yang halus. Membasahi tepi bibirnya dengan bibirku. Bibirnya tak latah oleh bibirku. Aku menatap matanya yang terpejam, bukan oleh nikmat atau rasa malu milik wanita. Biarlah ia tetap begitu, tak usah membuka mata. Biar aku yang menaburi kasih. Kini, tak perlu lagi ia susah-susah membangunkanku dengan sebuah kecupan. Cukuplah bibirku yang menemuinya di tiap pagi. Kasihku akan tetap jujur seperti dulu. Walau mungkin kecupanku tak akan mampu bangunkan ia, setelah ku temukan dirinya telanjang memelukku seminggu yang lalu, tanpa menyimpan jiwa lagi. Kekasihku adalah kekasih yang akan kutemukan di pagi hari.
jakarta, 4maret2003
Cinta Itu Membebaskan Cinta
Ketika angin berlari menuruni bukit, sepasang kaki tua masih melangkah di antara ilalang. Jubah putihnya melambai pelan oleh sentuhan tangan-tangan usil milik sang angin yang berkejaran di antara kedua kakinya. Tongkat kayu penuntun langkah berjalan di depan, menyentuh bebatuan dan padang nan luas. Matanya cekung menatap arah, sinar matahari masih pongah tersenyum. Kening yang basah oleh bulir keringat sedikit mengernyit, menampakkan guratan milik sang wajah tua. Akankah di depan sana perhentian akan berakhir?
Sesampai di kaki bukit ia menemukan sebuah taman. Ia coba menghilangkan penat untuk semusim perjalanan. Di bawah sebuah pohon hijau nan rindang ia duduk di sebuah batu. Dan kakinya coba menyejukkan diri pada air yang mengalir di dekatnya. Sungai itu elok membelah taman. Tak disia-siakannya bening air buat pelepas dahaga, membasuh kepala. Air menetes dari wajahnya yang telah basah, bergelantungan pada janggut lebat yang memutih. Rambut tua yang panjang berkilau oleh butir-butir air yang menempel diterpa garis-garis sinar matahari yang menyelusup dari celah-celah dedaunan pohon rindang tempat bernaung.
Ia menatap takjub pada mahluk hitam yang terbang dan hinggap di atas dahan pohon. Gagah dengan sayap terkembang.
“Siapakah engkau yang terbang tinggi? Agungnya dirimu yang telah mengitari segala lekuk bumi di antara hembusan angin yang berlari,” tanya lelaki tua itu pada mahluk itu. Matanya menatap lekat.
“Aku hanyalah sang Rajawali. Petualang sejati yang mengarungi angkasa. Aku dapatkan kebebasan pada jagat yang mengerami bumi dengan waktu tiada pernah henti,” jawabnya sambil menatap ke bawah.
“Sungguh hebat dirimu wahai mahluk yang cerdas. Engkau tahu rahasia alam dari semua ketinggian. Di matamu tak ada ketidaktahuan. Di bola matamu terhampar segala prilaku hidup. Engkau tak dungu oleh tipuan alam. Aku jatuh cinta padamu, maukah kau jadi kekasihku?” Lelaki tua itu terpesona olehnya, kejujurannya mengucap jernih.
“Wahai lelaki tua, aku adalah bangsa pengembara sepertimu. Aku telah menyaksikan segala dusta pada cinta. Tak ada kesempurnaan pada cinta. Sekuat-kuatnya bertahan pada cinta, tubuh lain selalu mencoba mengganggu sang kekasih. Aku tak patut sombong oleh kecerdasanku, tapi aku menjadi saksi, oleh cinta banyak orang terluka. Jadi buat apa kita mati oleh cinta. Carilah yang lebih hebat dari diriku, carilah kekasih yang mau tinggal bersamamu. Aku tak mau menjadi bodoh oleh cinta, aku mahluk bebas,” ucap sang Rajawali.
“Tapi sang Rajawali, tidakkah kau sadar, kau pun mahluk sombong yang lemah. Di saat engkau lelah terbang jauh, kau pun harus turun ke bumi untuk hinggap di batang-batang pohon,” kata lelaki tua, ada nada sindiran pada ucapnya.
“Pohon-pohon memang kekasihku, tapi mereka adalah mahluk lemah yang bisa diperbudak. Aku tak pernah hiraukan ratap mereka, karena cakarku bisa menancap di dahan manapun. Pesonaku akan melunakkan hati mereka. Selamat berdungu ria dengan pencarian cintamu kawan,” kata sang Rajawali. Sayapnya mulai terkepak dan melayang terbang sebelum mulut tua milik lelaki itu mengucap tanya yang lain.
Makin ke tengah taman, ia jumpai kuntum-kuntum bunga mawar yang tertawa ceria. Binal bergoyang ke sana ke mari, sangat menggoda. Menampakkan helai-helai daun dan bunga yang bermantel bulir-bulir air. Wanginya terbang bersama angin, menepis resah pencarian yang tak kunjung tiba milik sang penglana itu. Mata lelaki tua itu terbelalak oleh lekuk yang sunguh sangat erotis, liurnya menetes kotori janggutnya. Kesempurnaan susunan kelopak bunga, dan mahkota yang bertuliskan keanggunan memikat hati bagi yang memandang padanya.
“Sunguh nyaman di dekatmu wahai sang bunga mawar. Tak pernah ku jumpai kuntum sepertimu di sepanjang perjalananku, kuntum bunga yang ramah tersenyum. Tak ada kesombongan akan keindahan diri, akan kekayaan mahkota yang melekat pada dirimu. Engkau kaya akan damai bukan keindahan fisik belaka. Aku jatuh cinta padamu,” ucap sang lelaki tua pada bunga-bunga mawar yang merekah di tengah taman. Matanya memancarkan berbinar-binar, bagai surya bangun di pagi hari.
“Aku mahluk tak berpemilik. Aku memberikan cinta pada mereka yang meminta. Aku mahluk bebas yang tak mau dikekang. Ditawan oleh cinta sama saja dengan mati di keterasingan jiwa. Bagiku hidup itu indah bila kita semua bisa saling memiliki tanpa ada yang merasa jadi pemilik,” ucap sang bunga mawar, tubuhnya yang dihinggapi duri-duri begoyang pelan.
Belum sempat ia bertanya lagi, seekor kumbang telah hinggap di atas mahkota bunga itu. Mereka berpagutan sungguh mesra. Tak ada yang berontak, tak ada yang dipaksa. Setelah itu kumbang-kumbang pun berpindah pada pesona-pesona yang lainnya.
Tidakkah sang bunga sadar, dirinya hanya menjadi persingahan kumbang-kumbang, hanya untuk menikmati cintanya sesaat dan kemudian berlalu. Sungguh bodoh, batin lelaki tua.
Lelaki itu melangkah kian gegas, matanya meniupkan rasa muak dan mual. Ia tak ingin berlama-lama hidup sendiri, cukuplah sudah sepi menyelimuti hari-hari yang lalu. Untuk waktu yang akan bergulir ke depan, ia butuh kekasih tempatnya menambat jiwa.
Di kejauhan dilihatnya seorang perempuan berjalan ke arahnya. Langkahnya anggun menapak tanah. Tubuhnya yang sempurna memancing perhatiannya. Kian nyata di jarak yang tak lebih dari beberapa langkah darinya.
“Apa gerangan yang membawa sang puan ke sini?” tanya lelaki tua, matanya terbelalak penuh keheranan.
“Angin yang membaui resah dirimu hingga jejakmu ku kenali sebagai jejak yang meracau. Adakah yang kau cari di perhentian ini?” tanya sang puan sambil tersenyum manis. Rambutnya tergerai dipermainkan angin. Lehernya yang jenjang sungguh indah dipandang.
“Aku hanyalah sang musafir yang melangkah di jalan waktu. Matahari menemaniku dan sang rembulan tempat aku bercerita. Mengapa kau ada di taman ini sendiri?” tanya lelaki tua mencari tahu, rasa herannya belum sirna.
“Aku menanti sang kekasih yang kelak datang dan tinggal di hatiku,” kata sang puan.
“Aku datang untukmu, maukah kau jadi kekasihku. Aku sayang kamu,” ucap lelaki tua. Kejujurannya mengucap jernih.
“Secepat itu kau ucap sayang. Apa yang menyebabkan kau mengatakan itu?” tanya sang puan penuh rasa heran.
“Aku sayang padamu di detik saat kita berjumpa tadi. Rasa sayangku timbul oleh ketakutan akan kehilanganmu. Karena aku sadar, aku sang musafir yang ditakdirkan terus melangkah di bawah awan, kelak aku akan meninggalkan taman ini, meninggalkanmu. Tak mendapatkanmu di sisiku akan membuatku sangat kehilangan. Ketika rasa kehilangan itu hadir, tubuh ini akan kian remuk redam. Tak kunjung selesai rindu yang kian membengkak memenuhi dadaku. Nafasku akan sesak oleh rindu dan langkahku akan tertatih, terjerembab. Engkau ada di hatiku saat ini dan nanti,” ucap lelaki tua itu.
“Engkau mengatakan sebelum melakukan. Pergilah ke ujung dunia. Bila engkau terjerembab oleh rindu yang menggunung, kembalilah padaku. Ujilah dahulu rindu milikmu. Tempatmu di sini, bukan di langkah-langkah yang tak kunjung jelas,” ucap sang puan.
“Aku lelaki yang tak ingin di tawan oleh sang puan. Tempatku bukan di sini, tempatku di langkah-langkah waktu. Aku tak ingin terpenjara oleh cinta. Aku tak ingin dungu oleh cinta. Atau maukah sang puan hadir bersama langkahku di pengembaraanku?” tanya lelaki tua penuh harap.
“Tempatku di sini, tempat memenjarakan kaum lelaki yang terpikat olehku. Karena rantai cintaku akan mengekangnya,” ucap sang puan ketus.
“Adakah cinta yang tak mengekang? Aku mencari cinta yang membebaskan cinta,” tanya lelaki tua.
“Carilah dia di jalan tak berujung. Di sana akan kau jumpai tembok tebal yang tinggi dan di baliknya seonggok pembebas menanti manusia sejenismu. Mungkin hanya dia yang layak bagi manusia bebas sepertimu. Benturkan kepalamu pada temboknya, biarlah darah yang mengucur akan melumerkan dinding itu. Dan pengorbananmu akan memikatnya. Atau kau akan mati kehabisan darah sebelum kau rasakan cinta sejati miliknya,” ucap sang puan.
Dan tanpa menunggu masa, lelaki tua itu berjalan pergi ke arah mana telunjuk sang puan menghunjuk. Meninggalkan sang puan dengan rumah tahanannya. Lelaki tua melangkah pasti di kebebasan cinta miliknya.
bekasi,8maret2003
Ketika angin berlari menuruni bukit, sepasang kaki tua masih melangkah di antara ilalang. Jubah putihnya melambai pelan oleh sentuhan tangan-tangan usil milik sang angin yang berkejaran di antara kedua kakinya. Tongkat kayu penuntun langkah berjalan di depan, menyentuh bebatuan dan padang nan luas. Matanya cekung menatap arah, sinar matahari masih pongah tersenyum. Kening yang basah oleh bulir keringat sedikit mengernyit, menampakkan guratan milik sang wajah tua. Akankah di depan sana perhentian akan berakhir?
Sesampai di kaki bukit ia menemukan sebuah taman. Ia coba menghilangkan penat untuk semusim perjalanan. Di bawah sebuah pohon hijau nan rindang ia duduk di sebuah batu. Dan kakinya coba menyejukkan diri pada air yang mengalir di dekatnya. Sungai itu elok membelah taman. Tak disia-siakannya bening air buat pelepas dahaga, membasuh kepala. Air menetes dari wajahnya yang telah basah, bergelantungan pada janggut lebat yang memutih. Rambut tua yang panjang berkilau oleh butir-butir air yang menempel diterpa garis-garis sinar matahari yang menyelusup dari celah-celah dedaunan pohon rindang tempat bernaung.
Ia menatap takjub pada mahluk hitam yang terbang dan hinggap di atas dahan pohon. Gagah dengan sayap terkembang.
“Siapakah engkau yang terbang tinggi? Agungnya dirimu yang telah mengitari segala lekuk bumi di antara hembusan angin yang berlari,” tanya lelaki tua itu pada mahluk itu. Matanya menatap lekat.
“Aku hanyalah sang Rajawali. Petualang sejati yang mengarungi angkasa. Aku dapatkan kebebasan pada jagat yang mengerami bumi dengan waktu tiada pernah henti,” jawabnya sambil menatap ke bawah.
“Sungguh hebat dirimu wahai mahluk yang cerdas. Engkau tahu rahasia alam dari semua ketinggian. Di matamu tak ada ketidaktahuan. Di bola matamu terhampar segala prilaku hidup. Engkau tak dungu oleh tipuan alam. Aku jatuh cinta padamu, maukah kau jadi kekasihku?” Lelaki tua itu terpesona olehnya, kejujurannya mengucap jernih.
“Wahai lelaki tua, aku adalah bangsa pengembara sepertimu. Aku telah menyaksikan segala dusta pada cinta. Tak ada kesempurnaan pada cinta. Sekuat-kuatnya bertahan pada cinta, tubuh lain selalu mencoba mengganggu sang kekasih. Aku tak patut sombong oleh kecerdasanku, tapi aku menjadi saksi, oleh cinta banyak orang terluka. Jadi buat apa kita mati oleh cinta. Carilah yang lebih hebat dari diriku, carilah kekasih yang mau tinggal bersamamu. Aku tak mau menjadi bodoh oleh cinta, aku mahluk bebas,” ucap sang Rajawali.
“Tapi sang Rajawali, tidakkah kau sadar, kau pun mahluk sombong yang lemah. Di saat engkau lelah terbang jauh, kau pun harus turun ke bumi untuk hinggap di batang-batang pohon,” kata lelaki tua, ada nada sindiran pada ucapnya.
“Pohon-pohon memang kekasihku, tapi mereka adalah mahluk lemah yang bisa diperbudak. Aku tak pernah hiraukan ratap mereka, karena cakarku bisa menancap di dahan manapun. Pesonaku akan melunakkan hati mereka. Selamat berdungu ria dengan pencarian cintamu kawan,” kata sang Rajawali. Sayapnya mulai terkepak dan melayang terbang sebelum mulut tua milik lelaki itu mengucap tanya yang lain.
Makin ke tengah taman, ia jumpai kuntum-kuntum bunga mawar yang tertawa ceria. Binal bergoyang ke sana ke mari, sangat menggoda. Menampakkan helai-helai daun dan bunga yang bermantel bulir-bulir air. Wanginya terbang bersama angin, menepis resah pencarian yang tak kunjung tiba milik sang penglana itu. Mata lelaki tua itu terbelalak oleh lekuk yang sunguh sangat erotis, liurnya menetes kotori janggutnya. Kesempurnaan susunan kelopak bunga, dan mahkota yang bertuliskan keanggunan memikat hati bagi yang memandang padanya.
“Sunguh nyaman di dekatmu wahai sang bunga mawar. Tak pernah ku jumpai kuntum sepertimu di sepanjang perjalananku, kuntum bunga yang ramah tersenyum. Tak ada kesombongan akan keindahan diri, akan kekayaan mahkota yang melekat pada dirimu. Engkau kaya akan damai bukan keindahan fisik belaka. Aku jatuh cinta padamu,” ucap sang lelaki tua pada bunga-bunga mawar yang merekah di tengah taman. Matanya memancarkan berbinar-binar, bagai surya bangun di pagi hari.
“Aku mahluk tak berpemilik. Aku memberikan cinta pada mereka yang meminta. Aku mahluk bebas yang tak mau dikekang. Ditawan oleh cinta sama saja dengan mati di keterasingan jiwa. Bagiku hidup itu indah bila kita semua bisa saling memiliki tanpa ada yang merasa jadi pemilik,” ucap sang bunga mawar, tubuhnya yang dihinggapi duri-duri begoyang pelan.
Belum sempat ia bertanya lagi, seekor kumbang telah hinggap di atas mahkota bunga itu. Mereka berpagutan sungguh mesra. Tak ada yang berontak, tak ada yang dipaksa. Setelah itu kumbang-kumbang pun berpindah pada pesona-pesona yang lainnya.
Tidakkah sang bunga sadar, dirinya hanya menjadi persingahan kumbang-kumbang, hanya untuk menikmati cintanya sesaat dan kemudian berlalu. Sungguh bodoh, batin lelaki tua.
Lelaki itu melangkah kian gegas, matanya meniupkan rasa muak dan mual. Ia tak ingin berlama-lama hidup sendiri, cukuplah sudah sepi menyelimuti hari-hari yang lalu. Untuk waktu yang akan bergulir ke depan, ia butuh kekasih tempatnya menambat jiwa.
Di kejauhan dilihatnya seorang perempuan berjalan ke arahnya. Langkahnya anggun menapak tanah. Tubuhnya yang sempurna memancing perhatiannya. Kian nyata di jarak yang tak lebih dari beberapa langkah darinya.
“Apa gerangan yang membawa sang puan ke sini?” tanya lelaki tua, matanya terbelalak penuh keheranan.
“Angin yang membaui resah dirimu hingga jejakmu ku kenali sebagai jejak yang meracau. Adakah yang kau cari di perhentian ini?” tanya sang puan sambil tersenyum manis. Rambutnya tergerai dipermainkan angin. Lehernya yang jenjang sungguh indah dipandang.
“Aku hanyalah sang musafir yang melangkah di jalan waktu. Matahari menemaniku dan sang rembulan tempat aku bercerita. Mengapa kau ada di taman ini sendiri?” tanya lelaki tua mencari tahu, rasa herannya belum sirna.
“Aku menanti sang kekasih yang kelak datang dan tinggal di hatiku,” kata sang puan.
“Aku datang untukmu, maukah kau jadi kekasihku. Aku sayang kamu,” ucap lelaki tua. Kejujurannya mengucap jernih.
“Secepat itu kau ucap sayang. Apa yang menyebabkan kau mengatakan itu?” tanya sang puan penuh rasa heran.
“Aku sayang padamu di detik saat kita berjumpa tadi. Rasa sayangku timbul oleh ketakutan akan kehilanganmu. Karena aku sadar, aku sang musafir yang ditakdirkan terus melangkah di bawah awan, kelak aku akan meninggalkan taman ini, meninggalkanmu. Tak mendapatkanmu di sisiku akan membuatku sangat kehilangan. Ketika rasa kehilangan itu hadir, tubuh ini akan kian remuk redam. Tak kunjung selesai rindu yang kian membengkak memenuhi dadaku. Nafasku akan sesak oleh rindu dan langkahku akan tertatih, terjerembab. Engkau ada di hatiku saat ini dan nanti,” ucap lelaki tua itu.
“Engkau mengatakan sebelum melakukan. Pergilah ke ujung dunia. Bila engkau terjerembab oleh rindu yang menggunung, kembalilah padaku. Ujilah dahulu rindu milikmu. Tempatmu di sini, bukan di langkah-langkah yang tak kunjung jelas,” ucap sang puan.
“Aku lelaki yang tak ingin di tawan oleh sang puan. Tempatku bukan di sini, tempatku di langkah-langkah waktu. Aku tak ingin terpenjara oleh cinta. Aku tak ingin dungu oleh cinta. Atau maukah sang puan hadir bersama langkahku di pengembaraanku?” tanya lelaki tua penuh harap.
“Tempatku di sini, tempat memenjarakan kaum lelaki yang terpikat olehku. Karena rantai cintaku akan mengekangnya,” ucap sang puan ketus.
“Adakah cinta yang tak mengekang? Aku mencari cinta yang membebaskan cinta,” tanya lelaki tua.
“Carilah dia di jalan tak berujung. Di sana akan kau jumpai tembok tebal yang tinggi dan di baliknya seonggok pembebas menanti manusia sejenismu. Mungkin hanya dia yang layak bagi manusia bebas sepertimu. Benturkan kepalamu pada temboknya, biarlah darah yang mengucur akan melumerkan dinding itu. Dan pengorbananmu akan memikatnya. Atau kau akan mati kehabisan darah sebelum kau rasakan cinta sejati miliknya,” ucap sang puan.
Dan tanpa menunggu masa, lelaki tua itu berjalan pergi ke arah mana telunjuk sang puan menghunjuk. Meninggalkan sang puan dengan rumah tahanannya. Lelaki tua melangkah pasti di kebebasan cinta miliknya.
bekasi,8maret2003
07 Maret 2003
Kata mereka tawaku masih renyah....
senyumku masih cerah
kata mereka sapakupun masih tetap ramah
tapi,mereka tidak tau...
bahwa hatiku mulai payah....
jiwaku kian gelisah
mereka tidak tau asakupun makin melemah
aku kembali harus mengalah.......
biar mengalah bukan untuk kalah...
tapi......
adakah yang bisa ku lakukan selain pasrah..?
([SkyRose] titipan arie, tolong admin untuk di invite)
senyumku masih cerah
kata mereka sapakupun masih tetap ramah
tapi,mereka tidak tau...
bahwa hatiku mulai payah....
jiwaku kian gelisah
mereka tidak tau asakupun makin melemah
aku kembali harus mengalah.......
biar mengalah bukan untuk kalah...
tapi......
adakah yang bisa ku lakukan selain pasrah..?
([SkyRose] titipan arie, tolong admin untuk di invite)
06 Maret 2003
dimana hilangnya
rasa kemanusiaan dari jiwa kita
saat kerakusan menyelimuti hati kita
tanpa bisa berbuat apa-apa
melihat saudara-saudara kita
tertimpa musibah
gombal !
sekelompok manusia
berteriak tentang moral dan keadilan
sedang sekelompok manusia
bertindak dan bertingkah dengan kebinatangan
kawan makan kawan . teman makan teman
itu hal yang sudah wajar
untuk hidup manusia sekarang
dan akhirnya rasa kemanusiaan itu
hilang melayang dan hanya menjadi angan-angan
gombal !
bila hukum harus ditegakkan
sedang sang penegak hukum menjadi mucikari
dari penjualan hukum itu sendiri
dan kebenaran perlu di pertanyakan
gombal !
dan hanya gombal !
bila prostitusi beserta WTS nya di bubarkan
bila para kyai mulai melacurkan diri
dengan agama dijadikan topeng
maka yang haram dengan sendirinya dihalalkan
gombal !
dan hanya gombal !
karena kita semua telah kerasukan setan
maka semua kesalahan dicarikan sebuah pembenaran
gombal dan hanya seribu gombal !
rasa kemanusiaan dari jiwa kita
saat kerakusan menyelimuti hati kita
tanpa bisa berbuat apa-apa
melihat saudara-saudara kita
tertimpa musibah
gombal !
sekelompok manusia
berteriak tentang moral dan keadilan
sedang sekelompok manusia
bertindak dan bertingkah dengan kebinatangan
kawan makan kawan . teman makan teman
itu hal yang sudah wajar
untuk hidup manusia sekarang
dan akhirnya rasa kemanusiaan itu
hilang melayang dan hanya menjadi angan-angan
gombal !
bila hukum harus ditegakkan
sedang sang penegak hukum menjadi mucikari
dari penjualan hukum itu sendiri
dan kebenaran perlu di pertanyakan
gombal !
dan hanya gombal !
bila prostitusi beserta WTS nya di bubarkan
bila para kyai mulai melacurkan diri
dengan agama dijadikan topeng
maka yang haram dengan sendirinya dihalalkan
gombal !
dan hanya gombal !
karena kita semua telah kerasukan setan
maka semua kesalahan dicarikan sebuah pembenaran
gombal dan hanya seribu gombal !
Langganan:
Postingan (Atom)