Bergelap-gelaplah dalam terang, Berterang teranglah dalam gelap
(Tan Malaka, pejuang yang mati dalam kesepian)
Atau Revolusi yang Kesepian ??
:))
04 Juli 2002
Mimpi
Kelebatan manusia hitam putih menjalari dinding dinding tepian hidup
tarian nafas isi perut bergelombang dibibir pantai sedak dan sengau
"Mengapa kau masih hadir di malam-malam ku?"
Kutakut menemuimu di ujung sadar mataku
cakarmu masih menancap dan mataku hilang pandang
Jangan taburi aku dengan serpihan bayang-bayang
cukup sudah kau gilas aku diujung pagi
Disaat hidup menjadi orok merah
"Jangan beri aku mimpi"
Puaskan saja aku dengan angin dipenggalan langkahku
Mata hatiku sejauh mata kakiku yang terus berdebu
Nadiku mengalir dalam kesepian bulir-bulirnya
"Mungkinkah mati di jalan kesepian, tanpa mimpi?"
Bila kenaifan ditebing getas digerus irama kekalahan
Dupa busuk cemari hari dijalan nafas cintaku
Kepedihan berputar, beriak ditarian ketaksadaran
Seperti pagi harus merindukan kokok ayam
Kepedihanpun tak patut dipersalahkan
Tak ada nafas yang lurus
Mungkin akan mati di jalan kesepian
Mungkin harus mati di jalan kesepian
Tapi hidup itu jalan menguji nyali dan keberanian
"Hadapi saja anak KU !"
Kelebatan manusia hitam putih menjalari dinding dinding tepian hidup
tarian nafas isi perut bergelombang dibibir pantai sedak dan sengau
"Mengapa kau masih hadir di malam-malam ku?"
Kutakut menemuimu di ujung sadar mataku
cakarmu masih menancap dan mataku hilang pandang
Jangan taburi aku dengan serpihan bayang-bayang
cukup sudah kau gilas aku diujung pagi
Disaat hidup menjadi orok merah
"Jangan beri aku mimpi"
Puaskan saja aku dengan angin dipenggalan langkahku
Mata hatiku sejauh mata kakiku yang terus berdebu
Nadiku mengalir dalam kesepian bulir-bulirnya
"Mungkinkah mati di jalan kesepian, tanpa mimpi?"
Bila kenaifan ditebing getas digerus irama kekalahan
Dupa busuk cemari hari dijalan nafas cintaku
Kepedihan berputar, beriak ditarian ketaksadaran
Seperti pagi harus merindukan kokok ayam
Kepedihanpun tak patut dipersalahkan
Tak ada nafas yang lurus
Mungkin akan mati di jalan kesepian
Mungkin harus mati di jalan kesepian
Tapi hidup itu jalan menguji nyali dan keberanian
"Hadapi saja anak KU !"
Gabe, aku ingat ketika Maradu diinterview,
"Mengapa anda ingin bergabung dengan kami, kaum Kapitalis?"
Saat ini nuraniku ditanya juga........
Improvisasi Jazz di Pagi Hari
oleh Ahmad Yulden Erwin
"Tak ada revolusi tanpa cinta!" teriak Che Guevara, dari atas kudanya, berselempang senjata, memasuki gerbang Havana.
Tapi, di sini, tak ada Guevara, atau Tan Malaka. Mereka hanya simbol-simbol sementara, agar revolusi memiliki makna. Atau barangkali, sekedar imajinasi. Tapi, di sini, aku merasa teramat sendiri.
Sejarah selalu dipenuhi dengan kisah-kisah heroik, korban pembantian, plus kebohongan. Pengkhianat atau pahlawan, hanya terminologi yang gampang terlupakan. Tetapi, penindasan akan selalu berulang, dan perlawanan akan bangkit dari jalan-jalan, dari ruang-ruang tahanan, juga kandang-kandang rakyat jelata.
Pagi ini, kulupakan Che, juga Tan Malaka. Kuhirup kopi, sambil membaca Koran pagi: presiden berkunjung ke Kuba, korupsi merajalela di sekretariat negara, harga kopi jatuh di pasaran dunia, hei, ada juga puisi dari seorang kawan di Jakarta.
Apa arti pengangguran di dunia ketiga?
Apa arti kemiskinan di negara-negara utara?
Apa arti penindasan di surga?
Apa arti keadilan di neraka?
Apa arti menjadi manusia yang merdeka?
"Setelah Jawa, Sumatera akan berjaya!" seru Tan Malaka, sambil terus menuliskan kalimat-kalimat perlawanan, mencatat sejarah pahit pergerakan, dari penjara ke penjara.
Apa arti reformasi bagi petani-petani jagung di desa?
Apa arti revolusi bagi gembel-gembel di kota?
Apa arti …..
"….. Wonderful World," mengalun sayup dari CD tetangga.
"Ada panggilan kerja dari pabrik Coca Cola," seru istriku, sambil menyiapkan sarapan pagi, tanpa telur dan rokok Amerika.
"Mengapa anda ingin bergabung dengan kami, kaum Kapitalis?"
Saat ini nuraniku ditanya juga........
Improvisasi Jazz di Pagi Hari
oleh Ahmad Yulden Erwin
"Tak ada revolusi tanpa cinta!" teriak Che Guevara, dari atas kudanya, berselempang senjata, memasuki gerbang Havana.
Tapi, di sini, tak ada Guevara, atau Tan Malaka. Mereka hanya simbol-simbol sementara, agar revolusi memiliki makna. Atau barangkali, sekedar imajinasi. Tapi, di sini, aku merasa teramat sendiri.
Sejarah selalu dipenuhi dengan kisah-kisah heroik, korban pembantian, plus kebohongan. Pengkhianat atau pahlawan, hanya terminologi yang gampang terlupakan. Tetapi, penindasan akan selalu berulang, dan perlawanan akan bangkit dari jalan-jalan, dari ruang-ruang tahanan, juga kandang-kandang rakyat jelata.
Pagi ini, kulupakan Che, juga Tan Malaka. Kuhirup kopi, sambil membaca Koran pagi: presiden berkunjung ke Kuba, korupsi merajalela di sekretariat negara, harga kopi jatuh di pasaran dunia, hei, ada juga puisi dari seorang kawan di Jakarta.
Apa arti pengangguran di dunia ketiga?
Apa arti kemiskinan di negara-negara utara?
Apa arti penindasan di surga?
Apa arti keadilan di neraka?
Apa arti menjadi manusia yang merdeka?
"Setelah Jawa, Sumatera akan berjaya!" seru Tan Malaka, sambil terus menuliskan kalimat-kalimat perlawanan, mencatat sejarah pahit pergerakan, dari penjara ke penjara.
Apa arti reformasi bagi petani-petani jagung di desa?
Apa arti revolusi bagi gembel-gembel di kota?
Apa arti …..
"….. Wonderful World," mengalun sayup dari CD tetangga.
"Ada panggilan kerja dari pabrik Coca Cola," seru istriku, sambil menyiapkan sarapan pagi, tanpa telur dan rokok Amerika.
03 Juli 2002
02 Juli 2002
01 Juli 2002
Tentang sebuah gerakan
tadinya aku pengin bilang:
aku butuh rumah
tapih lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang!
aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian
aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku
aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?
eh ini tulisan wiji thukul yah ?
tadinya aku pengin bilang:
aku butuh rumah
tapih lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang!
aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian
aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku
aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?
eh ini tulisan wiji thukul yah ?
lihatlah .....
matahari sudah meninggi...
bangunlah burung kecilku
bangunlah... burung yang terlambat bangun akan kehabisan ulat-ulat untuk makanannya
berkicaulah... berkicaulah ... semarakkan hari dengan suara merdumu...
agar semua bisa merasakan, agar semua bisa bersemangat...
terbanglah...
langit biru membentang
menghiasi mimpi-mimpimu
lihatlah...
padang rumput menghijau...
hutan luas membentang..
tidakkah kau tahu... disana beribu ulat menunggumu...
yang siap berkorban untuk segala mimpi-mimpimu
matahari sudah meninggi...
bangunlah burung kecilku
bangunlah... burung yang terlambat bangun akan kehabisan ulat-ulat untuk makanannya
berkicaulah... berkicaulah ... semarakkan hari dengan suara merdumu...
agar semua bisa merasakan, agar semua bisa bersemangat...
terbanglah...
langit biru membentang
menghiasi mimpi-mimpimu
lihatlah...
padang rumput menghijau...
hutan luas membentang..
tidakkah kau tahu... disana beribu ulat menunggumu...
yang siap berkorban untuk segala mimpi-mimpimu
Langganan:
Postingan (Atom)