08 Juni 2002

......dan kau tahu betapa aku menyayangimu
asal kau tahu....aku menyayangimu lebih dari yang kau tahu.

06 Juni 2002

......dan sebuah perjumpaan terasa lebih perih
dari perpisahan itu sendiri.


"selamat datang di ibukota"

05 Juni 2002

ORANG ASING
(Goenawan Mohamad, 2001)

Di kulit tubuh itu ia temukan sebentuk gambar biru, dan orang asing itu berkata,
Aku pernah melupakan seseorang, tapi aku tak tahu setiap orang melupakan seseorang".

(apa kabarmu Songbird? kicaumu mana?)
aku hanya lapar
pada setiap kata-kata
yang tiada
tidakkah kau juga ?

03 Juni 2002

........dan kita tak lagi merenda kata,
bahkan dalam bentuk paling sederhana dari sebuah sapa
Pagi juga berarti keragu-raguan

Arakan asap putih itu memaksaku merapatkan kedua lengan ke dada. Padahal bau hangat matahari telah tercium dari tadi di timur laut dan cahanya mulai menelanjangi bumi. Itu bukan asap sang penikmat tembaku atau lolongan kereta api pagi.
Pagi adalah saat waktu harus berawal dan gelap lari ke barat. Ada aroma kebangkitan, aroma penantian dan aroma perhentian.

“Pagi juga berarti keragu-raguan”. Lelaki dengan uban yang dipelihara itu menyadarkan lamunanku. Sorotan matanya menerobos aliran yang berputar di otakku. Tak sadar tubuh tua itu telah lama bersandar di kursi ini dan getaran kaki kirinya bukanlah usilnya tusukan dingin pagi. Mungkin syaraf tuanya tidak bisa diajak kompromi.
“Kereta api terlambat seperti biasanya. Dan perhentian pagi ini membawa segerbong kerinduan. Penantian yang telah lama kutunggu, bertahun-tahun”. Senyum di pipi yang hitam memandang ke arah datangnya para pengais pagi. Penjual makanan, tukang becak, ojek,dan penjaja koran dengan beritanya yang sudah basi.
“Menantikan anak?” tanyaku, walau sedikit terusik oleh getar kaki kirinya di kursi panjang ini.
“Putriku satu-satunya. Kedua abangnya pergi menuju Gusti Allah. Pagi hari delapan tahun lalu diculik dan dihabisi. Guru pesantren yang dituduh dalang terbakarnya kebun tebu. Mereka bilang api itu bukan milik tentara, yang mereka miliki senjata api.” Tak ada tersirat rasa sedih dimukanya. Guratan tua itu menelan kerasnya kenyataan hidup yang disimpannnya. Tiada niat bertanya lagi, kenangan itu mungkin terlalu berat baginya.

“Yang ini kesayangan Mboknya. Kerasnya desa mengeraskan niatnya ke kota, ke Jakarta. Sudah dua belas tahun tak kembali, mungkin usianya sudah 30 tahun. Kuliah dan jadi kuli tinta. Dan dua belas tahun pula tak selembar uang kukirim. Dia pergi ditelan pagi tanpa aku tau alamatnya. Dari surat-suratnya ku tahu dia bekerja di percetakan koran bersama temannya, dan syukurlah bisa kuliah.” Tawaran panganan dari penjaja itu menghentikannya. Tanpa tanggapan sang penjaja berlalu sambil ngedumel.
“Anak yang mandiri dan keras hati”kataku. Terbayang oleh ku teman wanitaku di kamar petak di sebuah gang, tak hentinya menagih uang membeli lipstik, celana dalam yang katanya sudah bolong dan robek karena ulahku.
“Kiriman kabar dan uangnya tak bisa menghiburku. Dalam 6 tahun terakhir ini, sudah banyak negara yang dikunjunginya. Cantiknya pakaian di Perancis, indahnya tanah penjajah para Londo, negerinya Abah Aliong si tukang beras di Tiongkok, entah apa lagi. Katanya banyak berita yang bisa dicari biar mata kita celik. Nggak hanya bangga dijuluki punya negeri makmur, subur, tapi nggak mampu ngolah, miskin”.

Cerita yang mengalir bagai ejekan buatku. Kebanggan jadi mahasiswa membuatku tetap bertahan di tahun ke sembilan. Mungkin cita-cita kanakku dulu mahasiswa. Kiriman yang tak pernah cukup apalagi dibagi dua dengan siluman itu. Setan!
Asap putih itu sedikit mengganggu. Bukan embun atau asap rokok daun jagung. Si kepala hitam dengan deretan pengikutnya dengan pongahnya menjerit penuh penat. Seperti ada tenaga udara pagi menahan laju dari kecepatan awalnya. Dan ritme gerit roda pada sambungan rel yang melambat semakin mempercepat keraguanku. Kepergianku pagi ini, seperti embun yang mengering. Tinggalkan keegoisan bapakku di desa ini, kembali ke kehidupanku di kota.
Si bapak tua itu menghampiri pintu gerbong. Aku masih duduk disini mengamati manusia pagi. Dari kusamnyanya kaca jendela, cahaya lampu menyirami wajah-wajah penumpang. Ada yang tersenyum di kantuk yang belum menghilang. Ada yang resah memikirkan perjalanan berikutnya. Satu persatu turun dan si Bapak hanya tersenyum di tepi pintu.

Sang Masinis menyapanya seakan sudah kenal lama. Diajaknya menuju gerbong yang lain. Dan enam orang menyambutnya seakan sebuah pengawalan agung. Senyum itu masih terkembang ketika enam orang itu mengawal dan membawa anak gadisnya. Bapak itu menyambut dengan senyum pada anaknya, pada putrinya, pada peti itu. Kerinduan yang menggumpal dibaluti dengan ketabahan. Tiada tangis di muka tua itu. Hanya getar di kaki kiri tuanya.
Iringan berlalu dan si bapak tua berjalan sambil mengelus peti itu.

Pagi adalah saat waktu bermula ada aroma kebangkitan, aroma penantian dan perhentian. “Pagi juga berarti keragu raguan..” kata bapak itu sejam yang lalu.

Ibu aku ingin pulang!
Apa kabarmu yang meminta pada bulan?

Apa kabarmu yang meminta pada bulan?

Dimatanya malam hening bergumam. Penghuni bumi menikmati ilusi mimpi setelah hari terbakar matanya siang.
Bumi berkeringat dan berpendar oleh cahanya.
Semua akal dan kepongahan beristirahat, sementara sel-sel tak mau mengalah diam.

Ingatan yang menyiksa akan dirimu.
Tapi tersisakah bagimu?

Dulu ada jejak pada sebuah taman, tempat kau mendekapku.
Katamu, aku ada karena bulan.
Dengan pagutmu kau tunjukan syukur pada malam. Pada malam yang bersih, kunikmati sempurna liukmu di cerminnya bulan.
Tubuhmu mengkristal oleh embun yang turut campur.
Kau peluk tubukku dan ku merasukimu.

Tapi kau masih terus bertanya tentang bulan.
Adakah warna lain dibaliknya?

Mungkin ada rasa bosan diritual bulan purnama yang kesekian puluh kalinya. Bermandi di cahaya yang sama.

Pencarian akan kemustahilan.
Warna yang ada hanyalah merahnya muka ayahmu. Dikeritingnya nalar tentang kita.
Kilau pedangnya kalahkan bulan , tarik kau ke kastil keraguan.
Pasungin cinta pada jarak berabad-abad.

Mungkin cinta kita adalah akarnya pohon ditaman.
Menembus ke bawah di guanya tanah, mencapai langit-langit dicengkraman mahluk malam.
Janji tersimpan rapi dilorongnya, dipekatnya. Membesar bagai batu berlumut.
Bayangan tak ada tempat untuk sembunyi.
Hanya pada malam kau berlindung. Tapi hidup bukan hanya untuk malam.

Cinta bagai kata kata yang bergema.
Seperti kerikil yang jatuh di sumur kosong.
Dimana harapan terkubur dalam
Dan jawab yang tiada pernah utuh.

Apa kabarmu yang meminta pada bulan?

(selamat ultah buat " I ")
:pacarmerah

Mungkin aku memang kurang ajar, nyaris sebulan penuh pergi hanya meninggalkan jejakku di suatu pelataran stasiun kereta api. Memang mungkin aku pantas dirajam setelah menyiksamu dengan rindu berhari-hari, berjam-jam, menit dan juga detik. Ah, perasaanmu yang membuatku kehilangan banyak kosakata setelah sembilan belas tahun lebih satu bulan hidup di muka bumi. Ini memang bukanlah surat, pemberian kabar, ini hanyalah sebuah tulisan yang tercipta di suatu ruang yang diisi olehmu. Ruang yang sampai saat ini aku tak mengerti dimana letaknya, dimana maknanya. Setajam inikah kata?

Hari-hariku kulewati dengan banyak perenungan, kegelisahan dan bacaan-bacaan. Terkadang pun penuh dengan dialog-dialog baik yang terjadwal maupun seenak waktu, tetapi beginilah kota ini dan aku mulai terbiasa kembali. Sesuatu dalam diriku terasa lebih bebas tetapi ada juga yang terasa ingin terbebas. Sebabnya mungkin bisa kupikirkan karena aku baru saja memenjarakan diriku di dalam rutinitas enam jam yang kurasa hanya pembodohan tetapi aku terpaksa melakukannya. Dan, sialan! Aku sudah muak di hari pertama. Aku masih ingin liar.

Tetapi aku mencintai kota ini, dalam kenangan yang lama baikpun yang baru, yang menyenangkan baikpun yang menyedihkan. Salahkah aku jika aku begitu mencintai kota ini? Dari warung angkringan, teh tubruk yang kental, pribadi-pribadi beragam yang kukenal, sampai pada fragmen-fragmen pemandangan. Walau terkadang banyak juga hal-hal yang menyebalkan seperti peringatan jam malam, laskar-laskar moral yang dungu dan juga munafik sampai kepada para pencopet. Yang terakhir agak pribadi, dompetku baru saja menjadi korban mereka. Kau ingat, dompet coklat kulitku itu? Satu-satunya yang penuh kenangan cukup sentimentil yang masih membuatku merasa sendu mengingatnya. Uangku hanya enam ribu rupiah, ktp dan atmku hilang. Dan, kurasa aku perlu melengos mengeluh, foto-fotoku, foto kita itu pun lenyap. Aku bisa membayangkan kemungkinan berada dimanakah dompet lapuk itu, di tumpukan sampah mungkin. Sudahlah, agaknya memang tak baik untuk menjadi terikat pada sesuatu yang bersifat kebendaan.

Beberapa hari lalu aku menemui sebuah pantai, Teleng Ria namanya, ombaknya begitu menggodaku untuk ikut bergulung. Pantai yang indah dan merindukan di antara bukit-bukit dan pegunungan. Beberapa minggu yang lalu aku juga menyapa padang pasir Parangtritis atau singkatnya Paris, bersama seorang teman, dengan lensa kamera tentunya. Sejumlah foto-foto eksperimen itu sudah tercetak, tidak begitu mengecewakan kukira untuk seorang pemula, aku jadi mengetahui dimana letak kesalahan-kesalahanku. Kukira akan ada yang kukirimkan untukmu, fotoku dan foto yang diambil oleh temanku. Aku mengejar terbenam dan terbitnya matahari di kota ini, pernahkan kita memandang senja atau subuh begitu rupa sehingga kita berdua tertidur di depannya? Seingatku kita hanya bisa melakukannya di antara genteng rumah perkotaan, ah, kita terkadang berada di tempat yang salah tetapi itu semua tidak mengapa, keindahan tetaplah keindahan dimanapun tempatnya.

Disini terkadang aku seperti tidak mempunyai tempat tinggal, sepertinya aku lebih nyaman hidup beramai-ramai walau sekali waktu akupun tersadar masih butuh kesendirian. Seringkali kulewati malam-malam bersama kawan-kawan, ramai dengan kopi, teh, dan rokok. Dengan diskusi ataupun sekedar bercanda ria, seringkali dengan menyanyi bersama, dan terkadang membaca puisi-puisi di bawah bulan purnama. Juga sudah setumpuk buku terbaca, tertulis beberapa potong tulisan, dan pemikiran-pemikiran yang nyaris hilang muncul kembali. Dunia sejenak terasa begitu nyaman. Warna-warna kegelisahan mulai terungkap, hal-hal baru sepertinya akan mulai terlahirkan. Akhir-akhir ini kami terasa mual-mual hamil, entah penuh kemuakan atau menunggu kelahiran sesuatu. Sebuah perubahan!

Tidurku menjadi berkurang begitu juga dengan makanku. Harus kuceritakan kau satu hal karena daging anjing dan juga belalang adalah sebuah konsumsi kehidupan. Aku belum sanggup memakannya, apalagi anjing, kau tahu bagaimana aku menyayangi jenis binatang itu. Aku pun sempat memasak tahu-tempe pedas dan ternyata cukup enak, walaupun menu cukup vegetarian, daging memang mahal untuk terbeli dan dimakan beramai-ramai. Terkadang ada pesta, kukira setiap pesta memang mempunyai kesan purba semodern atau semewah apapun pesta itu. Pesta kali ini diwarnai botol-botol tetapi tidak ada kemabukan, hanya rasa hangat karena hawa yang dingin dan semuanya menjadi cepat tertidur. Itu saja. Karena kami manusia-manusia malam yang sekali waktu ingin beristirahat seperti manusia kebanyakan.

Masih ada permainan perasaan, keanehan, kesenduan, kebahagiaan, kepiluan yang bercampur jadi satu. Emosi memang masih mewarnai hatiku tetapi ada suatu pembelahan yang mungkin menuntut ketegasan yang sudah berulang-ulang kusadari. Kepalaku terkadang terasa pecah karena memikirkan arti dari lima huruf yang selalu hadir di kehidupan itu. Hatiku, ah...sepertinya dia sedang enggan, dia ingin sendiri merasakan.

Aku sedang merasakan sebuah kesedihan seorang kawan, adik perempuan tersayangnya baru saja meninggal kemarin sore. Setelah koma selama seminggu karena kecelakaan motor. Dia begitu tak tenang beberapa hari ini, itu semua kurasakan karena kami akhir-akhir ini berbicara dekat dan menumpahkan rasa-rasa yang ada di dalam hati serta pikiran. Ketika mendengar kabar itu kemarin sore setelah mendadak malam sebelumnya ia kembali ke kotanya, aku benar-benar kehilangan kata-kata walaupun aku sudah menduganya. Ada kesedihan meliputi dia, aku, kami semua kukira.

Kau ingat film Lorca? Film yang kau begitu suka, sampai nyaris tiga kali kau menontonnya. Aku baru saja membuat resensi yang agak slengean, akan kuperlihatkan kepadamu jika sudah terbit di media on/off edisi keempat. Kau tunggu saja. Aku juga sedang menterjemahkan puisi-puisinya dan juga Neruda, sudah bertambah beberapa. Sebuah naskah Neruda terjemahan lama baru saja diserahkan kepadaku, aku sedang mengetik ulangnya. Aku pun baru saja menyelesaikan layout untuk buku puisi seorang kawan dekat, untuk pernikahannya. Pun, dalam tahap mengerjakan situs sastra yang akan dikelola bersama dan juga membantu layout sebuah majalah. Terdengar dinamiskah di telingamu? Kegilaan dan ketidakteraturan yang menyenangkan ini.

Aku saat ini sedang memikirkanmu di antara buku-buku yang sudah terlewat terbaca, foto-foto yang tercetak terpajang dan juga sebuah lagu berformat mp3. Beberapa hari yang lalu sebuah nomor yang kutahu itu adalah dirimu tercatat di ponselku, kau rindu? Jadi beginilah ini semua yang tertuliskan setelah itu, kata-kata dan cerita-cerita yang tak sempat kusampaikan di antara kabel dan pulsa telfon yang terus melambung itu. Maafkanlah aku karena keterbatasanku dan kekurangajaranku ini, karena aku belum melupakanmu, belum melupakanmu.

Yogyakarta, 3 Juni 2002
7.16 PM

02 Juni 2002

terlalu banyak yang ditawarkan membuat aku semakin bingung. mana yang harus kupilih. seandainya aku dapat memilih maka aku akan memilih sesuai dengan katahatiku..

01 Juni 2002

cermin itu mulai terang memantulkan wajahmu
matahari pun mulai tajam terpantulkan
perlahan, benar-benar perlahan
lalu apa yang akan kau lakukan?
cegah kilauannya membutakan matamu
gua ikutan posting lirik yah..

Here, There and Everywhere
- Lennon - McCartney

To lead a better life I need my love to be here...

Here, making each day of the year
Changing my life with the wave of her hand
Nobody can deny that there's something there

There, running my hands through her hair
Both of us thinking how good it can be
Someone is speaking but she doesn't know he's there

I want her everywhere and if she's beside me
I know I need never care
But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share
Each one believing that love never dies
Watching her eyes and hoping I'm always there

I want her everywhere and if she's beside me
I know I need never care
But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share
Each one believing that love never dies
Watching her eyes and hoping I'm always there

I will be there and everywhere
Here, there and everywhere