05 Mei 2002

engkau adalah mutiara
yang tercipta dari segala kinerja otot jantungku
engkau adalah embun
dari air yang meresap membasuh setiap pori-pori

dan aku adalah setiap kata yang terbungkam
dari pepohonan yang tertebang
dan aku adalah setiap penyesalan
dari tiap rencana yang terbuang
aku mencintaimu sesaat ketika pandangan kita bertemu
aku mencintaimu sesaat ketika langit merah berubah hitam di senjakala
aku mencintaimu sesaat di kesenyapan sebelum badai datang
dan aku merindukanmu
ya, aku merindukanmu, seperti padang pasir merindukan air
seperti biji-bijian musim dingin menantikan musim semi
seperti artefak budaya purba menantikan saat bercerita di sudut-sudut altarnya

04 Mei 2002

Tuhan, sungguh Kau maha indah
Aku masih mencintaimu
Tapi kenapa aku yang paling **bego** disini =)
Tuhan, sungguh kau maha indah
aku hampir mencintaimu
tapi kenapa aku tak bisa menulis seperti zaM =)
Tuhan, sungguh kau maha indah
aku hampir mencintaimu
tapi kenapa aku selalu membohongimu =)
tanganku masih berlumuran darah
keringatku masih terlihat jelas di bajuku
nafasku masih tak teratur, dadaku naik turun

tuhan...
aku telah membunuhnya!!!

matanya memerah, tatapannya tiba-tiba kosong, antara ada dan tiada.
lusuh bajunya dibiarkan begitu saja. oh, kini air matanya jatuh. tuhan, dia mulai lupa siapa dia,
mulai tak ingat siapa aku. hujan belum lagi reda. halilintar masih sambar menyambar.
tak ada lagi pelangi... mustahil, katanya.
lihat, kini ia genggam sebuah pisau..

"matahari...kubunuh kamu!" teriaknya, lima senti dari telingaku...
kata-kata menjadi cermin-cermin masa-masa lalu
masa-masa depan cermin-cermin dari detik-detik
yang tercipta sebagai momentum-momentum
di saat-saat kehadirannya dalam hidup-hidup
tiap-tiap orang yang selalu saja menyisakan
makna-makna beragam yang kadang berseberang-
seberangan meski dalam momentum yang sama

kadang juga seperti ini: pengulangan-pengulangan yang memuakan!

03 Mei 2002

ah mengapa jadi gelisah...padahal kisah ini sudah menginjak tengah-tengah halaman sebuah buku. lunglai aku melihatmu dengan sepotong matamu yang selalu bergema-gema di langit-langit kamar. kantuk sudah semua gundah, tertidur di sebuah kamar dengan tembok putih yang baru saja dicat kelupasnya. kisah ini sepertinya akan mati sebelum mencapai kata-kata penghabisan.
perenungan itu semakin dekat...

01 Mei 2002

melangkah...menyusuri... tepian pantai, ditemani semilir angin yang berhembus dan teriakan-teriakan ombak seakan merasakan galaunya hati. saat terindah untuk berbagi segala angan yang terselip dalam angan namun tak seorang pun akan mendengar.
Dikejauhan lembayung senja tersenyum memandang anak manusia yang sedang gulana menatap setiap langkahnya yang gontai...langkah kaki itu terhenti tatkala terdengar desahan dan isak tangis...
dengan keingintahuan yang bersumber dari kodrat manusia langkah kaki menuju suara-suara... isak dan tawa...
Kecut hati melangkah, miris memandang tubuh indah bersimbah keringat... yang bersusah payah mendobrak pintu-pintu air kota...
di kesunyian alam, di keremangan senja tergolek tubuh penuh darah... yang dikorbankan untuk membuka terowongan rahasia kehidupan...

di kedalaman laut tak terkira... masih adakah kehidupan yang tak ada pengorbanan...? langkah kakipun terus berjalan menyusuri pekatnya kehidupan malam, diiringi kilauan cahaya bintang bagai permata yang ditebarkan ke langit luas.. namun sang malam harus berkorban untuk sebuah kehidupan yang rela di campakkan saat siang datang...