buat Bapak
alam memberikan tanda tanda
bahwa engkau dimilikinya
ingin ku tinju
tapi tanganku dibuatnya
tetes peluh mu
kuminum bersama tuak
asa mu
kubuat berlari dalam mimpi
ini keringatku
hiruplah , Pak ...
ini darahku ...
hisaplah , Pak ...
(harapku...)
Sini,
aku gantikan menyapu jalan
cuci tanganmu
mandilah
(inginku ...)
11 Maret 2002
10 Maret 2002
09 Maret 2002
08 Maret 2002
fragmen-fragmen cerita ini untuk seorang laki-laki*
Dia adalah sebuah misteri yang datang dan pergi. Aku bertemu dengan misteri itu pada sebuah senja yang mendung, udaranya pekat, juga lengket khas dengan bau hujan yang menjadi prolog. Waktu itu ia mengenakan sweater merah pucat dengan sablon di dada kiri berwarna putih, samar dan tak terbaca, singkatnya nyaris hilang dan celana jeans biru muda dengan lubang di lutut kanan. Matanya seperti elang langsung menatap langsung dan menusuk, hidungnya bangir, kulitnya coklat kehitaman, rambutnya cukup pendek tetapi tidak rapi seperti cukuran standard seorang serdadu. Tetapi dia bukanlah seorang serdadu, dia seorang pecinta yang datang untuk menagih sebuah hati.
Dia datang untukku. Hatiku.
Ruang tamu rumah itu, kursi-kursinya cukup tua sehingga kempis dan bantalannya agak melesak ke dalam. Dia duduk di pojokan salah satu kursi dan aku menempatkan diri di hadapannya. Tangannya menyentuh dagu sewaktu aku melewatinya. Aku mengamatinya, tajam matanya, kulit sawo matangnya, dadanya, pundak dan detil-detik tubuhnya. Entah kapan aku menjadi begitu jalang dalam liarnya tatapan, terutama padanya, si pecinta berbaju merah pucat.
Aku pun seorang pecinta, dan aku datang untuknya, tetapi kemejaku kotak-kotak warna krem dan celanaku hitam. Itulah yang membedakan kami.
Dan kami tiba di tempat itu untuk bercinta, satu hari satu malam, dimana-mana. Senja sudah menagih janji kami untuk bercinta, karena malam akan tiba dan waktu akan menjadi semakin pendek. Tetapi cinta bukanlah sekedar basa-basi, waktu mengujinya. Lalu kami bercinta dengan kata, dengan udara, dengan ciuman, dengan tubuh, dengan jiwa, masih dimana-mana.
Si pecinta pergi keesokan harinya, meninggalkan satu amplop coklat yang berisi sebuah foto pribadi, tumpukan pembatas buku dan segenggam kartu nama. Aku lari mengejar kereta, untuk pergi dan kembali. Karena dia masih sebuah misteri, juga aku.
Sebulan kemudian aku kembali, masih dengan kereta yang itu-itu juga melewati jalur yang itu-itu juga. Kota itu masih sama, dan si pecinta masih datang dengan keagresifan yang sama, dengan tatapan yang sama dan dengan hati yang sama. Aku datang membawa diriku seorang, demi sebuah penjagalan yang diatur oleh waktu setahun kemudian.
Dia menyambut dengan senyum, kubalas dengan senyum. Kami ingin mati di buaian matras bermalam-malam berikutnya sambil mengali lubang kuburan dalam kamarnya yang tak begitu dalam tetapi menembus langit malam. Kamar itu tidak kutemukan sebulan kemudian, melainkan sebuah kamar yang merah karena luka, mungkin oleh bekas darah.
“Dimana kuburan kita?” aku bertanya pada si pecinta.
“Sudah hilang karena harga sewanya semakin mahal, aku membakarnya tadi malam lalu kutebar di dalam kabut merah untuk mewarnai kamar ini. Setahuku kau suka merah, bukankah begitu?”
Kamar itu kuciumi, masih segar memang dengan api yang membara dan merah yang begitu menawan. Dia kuciumi, masih segar dengan bau sabun setelah mandi jam lima sore..............
(bersambung)
*semoga bisa berlanjut menjadi sebuah buku
Dia adalah sebuah misteri yang datang dan pergi. Aku bertemu dengan misteri itu pada sebuah senja yang mendung, udaranya pekat, juga lengket khas dengan bau hujan yang menjadi prolog. Waktu itu ia mengenakan sweater merah pucat dengan sablon di dada kiri berwarna putih, samar dan tak terbaca, singkatnya nyaris hilang dan celana jeans biru muda dengan lubang di lutut kanan. Matanya seperti elang langsung menatap langsung dan menusuk, hidungnya bangir, kulitnya coklat kehitaman, rambutnya cukup pendek tetapi tidak rapi seperti cukuran standard seorang serdadu. Tetapi dia bukanlah seorang serdadu, dia seorang pecinta yang datang untuk menagih sebuah hati.
Dia datang untukku. Hatiku.
Ruang tamu rumah itu, kursi-kursinya cukup tua sehingga kempis dan bantalannya agak melesak ke dalam. Dia duduk di pojokan salah satu kursi dan aku menempatkan diri di hadapannya. Tangannya menyentuh dagu sewaktu aku melewatinya. Aku mengamatinya, tajam matanya, kulit sawo matangnya, dadanya, pundak dan detil-detik tubuhnya. Entah kapan aku menjadi begitu jalang dalam liarnya tatapan, terutama padanya, si pecinta berbaju merah pucat.
Aku pun seorang pecinta, dan aku datang untuknya, tetapi kemejaku kotak-kotak warna krem dan celanaku hitam. Itulah yang membedakan kami.
Dan kami tiba di tempat itu untuk bercinta, satu hari satu malam, dimana-mana. Senja sudah menagih janji kami untuk bercinta, karena malam akan tiba dan waktu akan menjadi semakin pendek. Tetapi cinta bukanlah sekedar basa-basi, waktu mengujinya. Lalu kami bercinta dengan kata, dengan udara, dengan ciuman, dengan tubuh, dengan jiwa, masih dimana-mana.
Si pecinta pergi keesokan harinya, meninggalkan satu amplop coklat yang berisi sebuah foto pribadi, tumpukan pembatas buku dan segenggam kartu nama. Aku lari mengejar kereta, untuk pergi dan kembali. Karena dia masih sebuah misteri, juga aku.
Sebulan kemudian aku kembali, masih dengan kereta yang itu-itu juga melewati jalur yang itu-itu juga. Kota itu masih sama, dan si pecinta masih datang dengan keagresifan yang sama, dengan tatapan yang sama dan dengan hati yang sama. Aku datang membawa diriku seorang, demi sebuah penjagalan yang diatur oleh waktu setahun kemudian.
Dia menyambut dengan senyum, kubalas dengan senyum. Kami ingin mati di buaian matras bermalam-malam berikutnya sambil mengali lubang kuburan dalam kamarnya yang tak begitu dalam tetapi menembus langit malam. Kamar itu tidak kutemukan sebulan kemudian, melainkan sebuah kamar yang merah karena luka, mungkin oleh bekas darah.
“Dimana kuburan kita?” aku bertanya pada si pecinta.
“Sudah hilang karena harga sewanya semakin mahal, aku membakarnya tadi malam lalu kutebar di dalam kabut merah untuk mewarnai kamar ini. Setahuku kau suka merah, bukankah begitu?”
Kamar itu kuciumi, masih segar memang dengan api yang membara dan merah yang begitu menawan. Dia kuciumi, masih segar dengan bau sabun setelah mandi jam lima sore..............
(bersambung)
*semoga bisa berlanjut menjadi sebuah buku
Sebuah cuplikan yang bagus sekali dari novel "Ziarah"
karya Iwan Simatupang...
-------------------------------------------------------
Bekas pelukis mengejar sang mandor.
"Ada apa?" tanya mandor, kesal, gerah, lapar.
"Saya ingin bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Saya... ingin menanyakan kuburan seseorang yang semasa
hidupnya adalah isteri saya."
Sang mandor tercengang. Baik susunan kalimat ini,
maupun artinya, sangatlah asing bagi pendengarannya.
Tapi dia segera dapat menyembunyikan perasaannya.
Tentulah dia ini seorang sarjana, atau dulu pernah jadi
dosen, pikirnya. Orang-orang dari lingkungan
universitas suka bicara begituan.
"Siapa nama isteri Saudara?"
Bekas pelukis tertawa.
"Saudara boleh percaya atau tidak, tapi saya sendiri
tak tahu."
Mandor mulai merasa kesal. Ah! pikirnya, ini cuma
olok-olok saja. Olok-olok dari orang-orang perguruan
tinggi. Adakah dia, seorang mandor sederhana, harus
meladeni tingkah orang angkuh seperti ini? Lagi pula,
hari telah mulai kelam, dan isterinya menunggu dengan
makan malam di rumahnya.
"Kalau begitu, bagaimana saya dapat menunjukkan kepada
Saudara di mana kuburan isteri Saudara itu?"
"Barangkali saya dapat memberi keterangan sedikit. Dia
meninggal belum berapa lama berselang dan..."
"Berapa lama persis?"
Kembali bekas pelukis menyeringai. Persetan! pikirnya,
aku selama ini hidup tanpa memperhatikan waktu. Bila,
ya bila dia dikubur? Dia menyeringai terus. Sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya dia berkata lagi:
"Saudara boleh percaya atau tidak, tapi saya tak tahu."
Habislah sabar sang mandor. Teka-teki silang yang
disodorkan kepadanya ini, tak mau dia terima lebih lama
lagi.
"Kalau begitu, apa yang Saudara ketahui?!"
Teriaknya, menggema ke seluruh pekuburan yang telah
kelam sama sekali itu. Suara serangga-serangga malam
telah mulai kedengaran.
Sungguh terkejut bekas pelukis dibuat mandor berteriak
itu. Apa haknya membentaknya sedemikian rupa? Apa
kesalahan yang telah dilakukannya? Adakah di luar
kaidah-kaidah kesusilaan atau tata krama menanyakan
kuburan sesama manusia, terlebih bila sesama manusia
itu di masa hidupnya adalah kenalan kita, bahkan isteri
kita sendiri? Isteri kita yang...
Air yang teramat panas membasahi sudut-sudut matanya.
Tidak! Penghinaan di malam kelam ini tak dapat
diterimanya. Tak mesti diterimanya. Satu hasrat
berteriak, ya untuk juga berteriak seperti mandor tadi,
padat hadir dalam dadanya. Berteriak sekuat-kuatnya,
seperti yang belum pernah dilakukannya dalam hidupnya.
"Saudara bertanya apa yang saya ketahui, hah? Dengarkan
baik-baik, hai kawan! Yang saya ketahui adalah, dan
hanyalah: SAYA MENCINTAI ISTERI SAYA-A-A-A........!!!"
karya Iwan Simatupang...
-------------------------------------------------------
Bekas pelukis mengejar sang mandor.
"Ada apa?" tanya mandor, kesal, gerah, lapar.
"Saya ingin bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Saya... ingin menanyakan kuburan seseorang yang semasa
hidupnya adalah isteri saya."
Sang mandor tercengang. Baik susunan kalimat ini,
maupun artinya, sangatlah asing bagi pendengarannya.
Tapi dia segera dapat menyembunyikan perasaannya.
Tentulah dia ini seorang sarjana, atau dulu pernah jadi
dosen, pikirnya. Orang-orang dari lingkungan
universitas suka bicara begituan.
"Siapa nama isteri Saudara?"
Bekas pelukis tertawa.
"Saudara boleh percaya atau tidak, tapi saya sendiri
tak tahu."
Mandor mulai merasa kesal. Ah! pikirnya, ini cuma
olok-olok saja. Olok-olok dari orang-orang perguruan
tinggi. Adakah dia, seorang mandor sederhana, harus
meladeni tingkah orang angkuh seperti ini? Lagi pula,
hari telah mulai kelam, dan isterinya menunggu dengan
makan malam di rumahnya.
"Kalau begitu, bagaimana saya dapat menunjukkan kepada
Saudara di mana kuburan isteri Saudara itu?"
"Barangkali saya dapat memberi keterangan sedikit. Dia
meninggal belum berapa lama berselang dan..."
"Berapa lama persis?"
Kembali bekas pelukis menyeringai. Persetan! pikirnya,
aku selama ini hidup tanpa memperhatikan waktu. Bila,
ya bila dia dikubur? Dia menyeringai terus. Sambil
menggeleng-gelengkan kepalanya dia berkata lagi:
"Saudara boleh percaya atau tidak, tapi saya tak tahu."
Habislah sabar sang mandor. Teka-teki silang yang
disodorkan kepadanya ini, tak mau dia terima lebih lama
lagi.
"Kalau begitu, apa yang Saudara ketahui?!"
Teriaknya, menggema ke seluruh pekuburan yang telah
kelam sama sekali itu. Suara serangga-serangga malam
telah mulai kedengaran.
Sungguh terkejut bekas pelukis dibuat mandor berteriak
itu. Apa haknya membentaknya sedemikian rupa? Apa
kesalahan yang telah dilakukannya? Adakah di luar
kaidah-kaidah kesusilaan atau tata krama menanyakan
kuburan sesama manusia, terlebih bila sesama manusia
itu di masa hidupnya adalah kenalan kita, bahkan isteri
kita sendiri? Isteri kita yang...
Air yang teramat panas membasahi sudut-sudut matanya.
Tidak! Penghinaan di malam kelam ini tak dapat
diterimanya. Tak mesti diterimanya. Satu hasrat
berteriak, ya untuk juga berteriak seperti mandor tadi,
padat hadir dalam dadanya. Berteriak sekuat-kuatnya,
seperti yang belum pernah dilakukannya dalam hidupnya.
"Saudara bertanya apa yang saya ketahui, hah? Dengarkan
baik-baik, hai kawan! Yang saya ketahui adalah, dan
hanyalah: SAYA MENCINTAI ISTERI SAYA-A-A-A........!!!"
DISKUSI PENULIS MUDA
"ketika suatu pagi Gregor Samsa terbangun dari mimpi yang buruk,
ia mendapati dirinya telah berubah menjadi FRANZ KAFKA."
Komunitas Sastra Bumi Manusia,
Komunitas Budaya Musyawarah Burung,
dan Eksotika Karmawibhangga Indonesia
dalam rangka peluncuran tiga buku karya para penulis muda:
- Kitab Yang Tidak Suci (Puthut EA)
- Beatniks, dan puisi-puisi lainnya (Nuruddin Asyhadie)
- Bumi Manusia 1: Ini ... Sirkus Senyum (antologi tulisan)
menyelenggarakan diskusi bertema "Satu Senyum Bagi Satu Penulis Muda"
dengan pembicara:
- Linda Christanty (Komunitas Bumi Manusia)
- Eka Budianta (penulis, pengamat Sastra)
moderator:
- Agung Yudhawiranata (Komunitas Budaya Musyawarah Burung)
hari Kamis, 14 Maret 2002, mulai jam 16.00 wib
di Studio 2 EKI
Jl. Padang no.30 Jakarta Pusat
(belakang Pasaraya Manggarai)
"Memang menyenangkan menjadi penulis hebat bagaikan Kafka, meski
sekedar mimpi.
Tapi itu bisa diraih, dan bisa bukan sekedar mimpi.
Di sinilah, kita, belajar menulis bersama."
Untuk konfirmasi hubungi:
Agung Yudhawiranata (0812-9538431)
Astrid Reza Widjaja (0816-4822074)
"ketika suatu pagi Gregor Samsa terbangun dari mimpi yang buruk,
ia mendapati dirinya telah berubah menjadi FRANZ KAFKA."
Komunitas Sastra Bumi Manusia,
Komunitas Budaya Musyawarah Burung,
dan Eksotika Karmawibhangga Indonesia
dalam rangka peluncuran tiga buku karya para penulis muda:
- Kitab Yang Tidak Suci (Puthut EA)
- Beatniks, dan puisi-puisi lainnya (Nuruddin Asyhadie)
- Bumi Manusia 1: Ini ... Sirkus Senyum (antologi tulisan)
menyelenggarakan diskusi bertema "Satu Senyum Bagi Satu Penulis Muda"
dengan pembicara:
- Linda Christanty (Komunitas Bumi Manusia)
- Eka Budianta (penulis, pengamat Sastra)
moderator:
- Agung Yudhawiranata (Komunitas Budaya Musyawarah Burung)
hari Kamis, 14 Maret 2002, mulai jam 16.00 wib
di Studio 2 EKI
Jl. Padang no.30 Jakarta Pusat
(belakang Pasaraya Manggarai)
"Memang menyenangkan menjadi penulis hebat bagaikan Kafka, meski
sekedar mimpi.
Tapi itu bisa diraih, dan bisa bukan sekedar mimpi.
Di sinilah, kita, belajar menulis bersama."
Untuk konfirmasi hubungi:
Agung Yudhawiranata (0812-9538431)
Astrid Reza Widjaja (0816-4822074)
07 Maret 2002
langkah ku terhenti di sebuah warung pojok
di bilangan daerah Blok P...
teh botol ini tak menghilangkan dahaga ku
sebungkus kacang pun tak jua menghilangkan lapar ku
ku sulut sebatang rokok hanya untuk mengingatkan ku
akan kehadiran mu...
AKAN KEHADIRAN MU.....!!!
warung yang juga tempat tinggal
bagi sepasang suami istri ini
rasanya tidak terlalu besar untuk ditempati berdua
kasurnya pun hanya cukup untuk satu orang,
dan aku bisa melihat jelas
dapur dan kamar mandi yang mereka punya...
tapi berbahagialah mereka,
karna mereka tidak dipersulit
oleh masalah tempat dan waktu
Ku bunuh saja rindu ku ....ya????
di bilangan daerah Blok P...
teh botol ini tak menghilangkan dahaga ku
sebungkus kacang pun tak jua menghilangkan lapar ku
ku sulut sebatang rokok hanya untuk mengingatkan ku
akan kehadiran mu...
AKAN KEHADIRAN MU.....!!!
warung yang juga tempat tinggal
bagi sepasang suami istri ini
rasanya tidak terlalu besar untuk ditempati berdua
kasurnya pun hanya cukup untuk satu orang,
dan aku bisa melihat jelas
dapur dan kamar mandi yang mereka punya...
tapi berbahagialah mereka,
karna mereka tidak dipersulit
oleh masalah tempat dan waktu
Ku bunuh saja rindu ku ....ya????
Langganan:
Postingan (Atom)