07 Maret 2002

aku adalah bara yang melompat
dari letupan kayu bakar yang basah
serpihan serpihan besi renta
yang coklat termakan karat

dan aku adalah daun gugur
diatas tanah melebur

06 Maret 2002

kadang kau terlalu banyak bicara
terlalu banyak suara
padahal kadang kita hanya perlu mencerna
mendengar makna
yang hendak diutarakan suasana
satu percakapan malam yang gila
pagi yang terlalu pagi
untuk sepasang puncak kerinduan
lalu nafsu yang tergantung pada gagang telpon

tepat jam satu pagi
tubuh kita berdentang

05 Maret 2002

dia memancarkan cahaya kehidupan
raut warnanya membiaskan sebuah arti
dia berdiri tegak laksana karang yang terhempas ombak
didera angin laut yang tidak kenal kasihan
menghancurkan ukiran-ukiran alam
meninggalkan retakan-retakan

kini dia berada dalam gemgamanku
dengan sejuta guratan menghiasi tubuhnya
ya.. tubuhnya begitu rapuh
dihempas ombak-ombak nakal yang tidak bertanggungjawab
mengoyakkan selaput kehidupan yang melingkupi seluruh tubuhnya

ya... aku sekarang memilikinya
sebuah GUCCI yang penuh dengan retakan
seseorang meninggalkannya untukku kala senja mulai turun
sekarang aku tahu... tidak ada yang bisa aku perbuat
hanya menjaga agar dia tidak hancur ditangan manusia yang usil
aku akan menjaganya... menyimpan didalam hati...
demi sebuah rasa...

(untuk yang menggoreskan guratan cinta... indriaty-maureen.. hehe

04 Maret 2002

sebetulnya bisa saja kalau kau mau
membunuhku dengan pisau
yang ada di balik kelopak matamu

atau membutakanku saat malam
dengan api yang bersemayam
yang kau samarkan rambutmu hitam

atau mungkin mencekikku
dengan wangi parfum
yang walau kau tak disitu,
tetap mengharum

tapi tidak
kau tidak, aku tidak
aku masih disini
dan kau masih disini

kemudian malam berlalu
berjinjit menjinjing sepatu
Jiwa Terkepal
-Pablo Neruda-
terjemahan guwe :D

Kita bahkan kehilangan keremangan ini
Tak seorangpun malam ini melihat kita saling bergenggam tangan
sementara malam yang biru jatuh ke bumi

Aku melihat dari jendelaku
pestapora matahari terbenam di puncak pegunungan yang jauh

Suatu ketika, sekeping matahari
terbakar seperti koin di tanganku

Aku mengenangmu dengan jiwaku terkepal
di dalam kesedihanku yang kau kenal

Dimana kau ketika itu?
Siapa lagi yang ada disitu?
Kata apa?
Mengapa kemauan-cinta menghampiriku tiba-tiba
ketika aku sedih dan merasa kau jauh?

Buku yang selalu tertutup di senjakala itu, jatuh
dan baju hangatku bergelung seperti anjing terluka di kakiku

Selalu, selalu kau surut menembus malam
kearah arca-arca yang menghapuskan remang
Celana (3)

Ia telah mendapatkan celana idaman yang lama
didambakan, meskipun untuk itu ia harus
berkeliling kota dan masuk ke setiap toko busana.

Ia memantas-mantas celananya di cermin
sambil dengan bangga ditepuk-tepuknya pantan tepos
yang sok perkasa. "Ini asli buatan Amerika,"
katanya kepada si tolol yang berlagak
di dalam kaca.

Ia pergi juga malam itu, menemui kekasih
yang menunggunya di pojok kuburan. Ia memamerkan
celananya: "Ini asli buatan Amerika."

Tapi perempuan itu lebih tertarik pada yang
bertengger di dalam celana. Ia sewot juga.
"Buka dan buang celanamu!"

Pelan-pelan dibukanya celananya yang baru, yang
gagah dan canggih modelnya, dan mendapatkan burung
yang selama ini dikurungnya sudah kabur entah ke mana.

(1996)
-dikutip dari kumpulan puisi Joko Pinurbo "Celana"(1999)

Ranjang (10)

Pada suatu petang ia datang ke taman
yang terhampar hijau di atas ranjang.

Ia mencopot baju, menyalakan lampu
kemudian membaca buku di atas makam.

"Ini tempat suci. Dilarang membaca buku porno
di sini," kata seseorang dari balik nisan.

Ia lari tunggang langgang sebelum sempat
mengenakan kembali pakaian.

Ia perempuan gila, dulu pernah memperkosa Adam
dan menghabisinya di atas ranjang.

(1998)
Joko Pinurbo

-dikutip dari kumpulan puisi Joko Pinurbo "Celana"(1999)

Poster Setengah Telanjang
-untuk AM

Si kecil yang suka makan es krin itu sudah besar
dan perawan, sudah tidak pemalu dan ingusan
Ia gemar melucu dan pintar juga menggodamu
"Kau penyair ya? Kutahu itu dari kepalamu yang
botak dan licin seperti semangka."

Kau tergoda dan ingin lebih lama terpana ketika
matanya mengerjap dan bulan muncrat di atas
rambutnya yang hitam pekat.

Malam heboh sekali. Orang-orang mulai
resah menunggu kereta.
"Perempuan, kau mau ikut?"
"Emoh ah,"katanya.

Kereta sudah siap. Para pelayat berjejal di dalam
gerbong sambil melambai-lambaikan bendera.
"Perempuan, ikutlah bersama kami.
Kita akan pergi menyambut revolusi."

"Ah revolusi. Revolusi telah kulipat
dan kuselipkan ke dalam beha."

"Lancang benar ia. Berani menantang kita
dengan senyumnya yang sangat subversif.
Ia sungguh berbahaya."

Lonceng terakhir telah selesai menyanyikan
Sepasang Mata Bola. Tinggallah malam yang redam,
langit yang diam. Tinggallah air mata yang menetes
pelan ke dalam segelas bir yang menempel pada
dada yang setengah terbuka, setengah merdeka.

(1997)
Joko Pinurbo

-dikutip dari kumpulan puisi Joko Pinurbo "Celana"(1999)
imam
bumi sedang bercinta dengan sang waktu
keringat meleleh, tersumbat sumpah serapah,
kerinduan tak terlunasi, kekasih yang hilang musnah
akhirnya hanya ada 'satu'
langit merekah merah
membara berdarah
air matanya membanjir
benar benar membanjir
dan kita hanyut, dalam genggaman bulan yang terkapar
pucat menggelepar