Ijinkan aku untuk memetikmu
Saat kau melayu
aku akan sertamu
ipuh durimu penuhi darahku
11 Januari 2002
10 Januari 2002
dan dia masih berdiri-diri disana, tertawa terkikik menakuti takuti. seperti sesuatu yang tumbuh dalam pesakitan dan kematian, karena kematian pun bukan hanya diam. mungkin dia hanya mengalami akhir dari kegilaan yang termakan dari permainannya sendiri. dia tak menyangka sebutir nafsu pun bisa menikam hati begitu dalam. maka masihkah engkau menjelajahi tubuh-tubuh itu?
09 Januari 2002
08 Januari 2002
karena aku tahu kawanku yang tercinta, kita pernah menjelajahi rerumputan itu pada suatu malam yang sepi. dimana suara sepeda motor sesekali berlalu lalang. lalu peluh yang masih mengalir harus sejenak berhenti, karena hatimu sejenak serasa mati. atau hanya waktu yang berhenti berkejap-kejap? suara jantungnyakah? yang tertidur nyenyak di seberang sana, kau mendengarnya. aku mendengarnya. dan dia juga mendengarnya dalam mimpi-mimpi muda kita. kamu ingat kita yang pernah bergoresan mimpi. hijau, biru dan merah? tak ada putih kawan, juga tak ada hitam. hanya tiga warna belaka. warnanya, warnaku dan warnamu. pilihan kita masing-masing. adakah jalan ini berujung? kita masih duduk bersisian di antara rumput-rumput yang berpeluh.
maka darimu tumbuh bunga-bunga indah bertangkai dan berduri, ah kawan sebegitu besarnyakah luka? lihat dada itu, lihat dada itu, yang kau tusuk bertombak-tombak. kuambil kassa putih dan sedikit arak, kututup lukamu. kubalut dan kubiarkan matamu mengalir perih. hatiku pedih. kau tak bersuara hanya mengenang-genang, seperti kubangan-kubangan air di tepi jalanan ini. tubuhku lalu berdiri dan menari-nari berkecipakan air. tumpahkan segala, tumpahkanlah segala karena kawanku, mendung itu membawa hujan datang beribu-ribu... dan apa salahnya menari di atas luka, menginjak-injak hati dan mati merdeka?
seperti kupu-kupu malam ataukah kunang-kunang, kita yang menari-nari disini. di bawah langit dan di atas bumi. tidak dilarang dan juga tidak dipandang, peduli apa peduli apa pada sisi-sisi kita yang berkikisan. jika bintang pun dibangun dari berjuta-juta kunang-kunang yang mengelilingi bumi. sama seperti kita yang bermain-main di dalamnya. tersamarlah gelak tawa kita seperti lima tahun lamanya hidup di dunia. gelak-gelak yang pernah hilang dikubur di tanah ini. dunia yang tak pernah suci dan tak akan pernah suci. lalu mengapa ia meminta kesempurnaan? kawanku sayang, kita tidak pernah sempurna.
hujan berhenti di sekian ribu curahannya. berkacalah kita pada sungai yang berwarna kecoklatan, dapatkah bayangan kita terpantul disana? larilah ke danau di pulau selatan, dapatkah bayangan kita terpantul disana, kawan? mungkin pada laut, pada laut hitam kita dapat melihatnya. kita adalah mahkluk-mahkluk dalam misteri yang tak berdasar.
maka darimu tumbuh bunga-bunga indah bertangkai dan berduri, ah kawan sebegitu besarnyakah luka? lihat dada itu, lihat dada itu, yang kau tusuk bertombak-tombak. kuambil kassa putih dan sedikit arak, kututup lukamu. kubalut dan kubiarkan matamu mengalir perih. hatiku pedih. kau tak bersuara hanya mengenang-genang, seperti kubangan-kubangan air di tepi jalanan ini. tubuhku lalu berdiri dan menari-nari berkecipakan air. tumpahkan segala, tumpahkanlah segala karena kawanku, mendung itu membawa hujan datang beribu-ribu... dan apa salahnya menari di atas luka, menginjak-injak hati dan mati merdeka?
seperti kupu-kupu malam ataukah kunang-kunang, kita yang menari-nari disini. di bawah langit dan di atas bumi. tidak dilarang dan juga tidak dipandang, peduli apa peduli apa pada sisi-sisi kita yang berkikisan. jika bintang pun dibangun dari berjuta-juta kunang-kunang yang mengelilingi bumi. sama seperti kita yang bermain-main di dalamnya. tersamarlah gelak tawa kita seperti lima tahun lamanya hidup di dunia. gelak-gelak yang pernah hilang dikubur di tanah ini. dunia yang tak pernah suci dan tak akan pernah suci. lalu mengapa ia meminta kesempurnaan? kawanku sayang, kita tidak pernah sempurna.
hujan berhenti di sekian ribu curahannya. berkacalah kita pada sungai yang berwarna kecoklatan, dapatkah bayangan kita terpantul disana? larilah ke danau di pulau selatan, dapatkah bayangan kita terpantul disana, kawan? mungkin pada laut, pada laut hitam kita dapat melihatnya. kita adalah mahkluk-mahkluk dalam misteri yang tak berdasar.
06 Januari 2002
awan putih dasar biru
padanya tergambar wajahmu
ucap lirih pada bibirku :
"aku kangen kamu"
Ini terlalu indah ...
kuragu kata mampu tampung
rasa yang tumpah ruah
aku mengapung ...
pelangi hanya mendekati
melebihi ejakulasi
melampaui segala fantasi
semua ekstasi
Ku pejam mata
ku tak butuh indra
karena semesta
tlah pindah dalam dada
padanya tergambar wajahmu
ucap lirih pada bibirku :
"aku kangen kamu"
Ini terlalu indah ...
kuragu kata mampu tampung
rasa yang tumpah ruah
aku mengapung ...
pelangi hanya mendekati
melebihi ejakulasi
melampaui segala fantasi
semua ekstasi
Ku pejam mata
ku tak butuh indra
karena semesta
tlah pindah dalam dada
04 Januari 2002
03 Januari 2002
menerobos tirai dari langit
berpangkal pada awan berat
lewati genangan dengan berjinjit
digigit kerasnya angin barat
Tiga duduk santai
bercakap sekedar ber - "hai-hai"
tak perduli hati ber-"duh"
di balik tatapan teduh
terlintas sadari rindu tubuh
suara - suara melenguh
badai nafas beludru
gerak memeluru
gigil menggigil
di pojok terpencil
raga mengastral
rindu mengkristal.
berpangkal pada awan berat
lewati genangan dengan berjinjit
digigit kerasnya angin barat
Tiga duduk santai
bercakap sekedar ber - "hai-hai"
tak perduli hati ber-"duh"
di balik tatapan teduh
terlintas sadari rindu tubuh
suara - suara melenguh
badai nafas beludru
gerak memeluru
gigil menggigil
di pojok terpencil
raga mengastral
rindu mengkristal.
02 Januari 2002
sinar bintang purba
temui sepasang mata
jarak bermilyar laksa
kekalnya sebuah kembara
sendainya dia bisa bicara
aku akan bertanya
segala tentang semesta
segala di luar sana
"bagaimana rasanya tembusi aurora"
"mencium menggelut venus"
"hinggapi matahari membara"
"temani lingkaran uranus"
katakan padaku semua ini
tidak lah sia sia belaka
dibalik semua hidup kini
tersimpan sebuah makna
seandainya aku adalah cahaya
ku ingin ikut berkelana
perjalanan tanpa bahasa
tanpa harus merasa ada
memunguti kembali semua cinta
yang terserak diluar dunia
kelak kan kutebar di atas Indonesia
tutupi tumpahan darah dan air mata.
temui sepasang mata
jarak bermilyar laksa
kekalnya sebuah kembara
sendainya dia bisa bicara
aku akan bertanya
segala tentang semesta
segala di luar sana
"bagaimana rasanya tembusi aurora"
"mencium menggelut venus"
"hinggapi matahari membara"
"temani lingkaran uranus"
katakan padaku semua ini
tidak lah sia sia belaka
dibalik semua hidup kini
tersimpan sebuah makna
seandainya aku adalah cahaya
ku ingin ikut berkelana
perjalanan tanpa bahasa
tanpa harus merasa ada
memunguti kembali semua cinta
yang terserak diluar dunia
kelak kan kutebar di atas Indonesia
tutupi tumpahan darah dan air mata.
01 Januari 2002
Langganan:
Postingan (Atom)